Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Menahan Ego
Dengung konstan dari mesin monitor di ruang medis perlahan-lahan merayap masuk ke dalam kesadaran Carson. Kelopak matanya terasa berat saat ia mencoba membukanya. Hal pertama yang ia tangkap adalah langit-langit berwarna abu-abu pucat, disusul oleh aroma antiseptik yang pekat.
Carson menggerakkan rahangnya sedikit. Masih linu, tetapi denyut nyeri yang membakar seperti tadi pagi sudah jauh berkurang. Suplemen energi dari Avnan tampaknya bekerja dengan baik.
Ia menolehkan kepala ke samping. Di sana, di atas kursi lipat logam, Avnan masih setia duduk. Kacamata bacanya bertengger di pangkal hidung, dan jemarinya bergerak lincah di atas layar tablet digital yang memancarkan pendar cahaya kebiruan.
"Sudah bangun?" suara Avnan terdengar rendah, hampir seperti bisikan. Pria itu langsung menurunkan tabletnya dan memajukan posisi duduknya. "Gimana keadaanmu? Ada yang mati rasa gak? Jantungmu aman? Gak ada debar-debar aneh, kan?"
Carson menarik napas dalam-dalam, lalu memosisikan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang. "Aku aman. Cuma agak kaku sedikit."
"Ya jelas kaku, badanmu itu dialiri listrik mikro semalaman," dengus Avnan, bangkit berdiri untuk memeriksa refleks pupil mata Carson dengan senter kecil. "Untung saja jantungmu itu sekokoh batu karang. Kalau tidak, kamu mungkin sudah kena aritmia."
Carson menepis pelan tangan Avnan yang memegang senter. "Aku mau pulang, Avnan."
Avnan mengerutkan dahi, menaruh kembali senter kecilnya ke saku jas lab. "Pulang? Sekarang? Kamu baru tidur sekitar tiga jam, Carson. Kondisimu belum pulih seratus persen."
"Aku tidak akan bisa fokus bekerja dengan kondisi seperti ini," jawab Carson datar, sambil menurunkan kakinya ke lantai. Rasa pening sempat mendera, namun ia berhasil menguasai diri. "Lagi pula, Panglima Huwky juga sudah memberiku izin untuk pulang awal hari ini. Lebih baik aku istirahat di apartemen."
Avnan menatap sahabatnya selama beberapa saat, menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Ya sudah, kalau itu maumu. Tapi, aku ikut. Aku antar kamu sampai apartemen."
Carson menoleh, menatap baju lab Avnan yang masih melekat. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Avnan terkekeh, melambaikan tangan kanannya yang memegang tablet dengan gaya meremehkan. "Pekerjaan? Itu mah gampang Carson. Kamu seperti tidak tahu saja. Pekerjaan kita itu bisa kita kerjakan di mana saja dan kapan saja. Selagi tablet ini masih ada di tanganku, semuanya akan aman."
"Terserah kamu saja," gumam Carson, walau dalam hati ia bersyukur, setidaknya ada orang yang akan menolongnya jika terjadi sesuatu di tengah jalan. Karena jujur, saat ini kondisinya benar-benar tidak baik.
...***...
Di sudut lain Sektor Empat, terik matahari di siang hari mulai membakar aspal beton. Namun, hawa panas itu sama sekali tidak mengalihkan fokus dari empat petugas patroli yang sedang berjalan beriringan.
Nezha berjalan di sebelah kiri Jena, sementara dua petugas yang lain, Yuan dan Finke, berjalan tegap di depan sebagai pembuka jalur. Perangkat pemindai portabel di tangan Yuan sesekali berbunyi, memancarkan gelombang sonar pendek untuk memindai identitas dari setiap warga sipil yang mereka lewati di trotoar.
"Blok B aman. Tidak ada anomali kerumunan," ujar Finke melalui mikrofon yang terpasang di kerah seragamnya.
"Lanjut ke arah Blok C, area pemukiman," sahut Yuan dari depan, menunjuk kompleks apartemen tua bertingkat yang berjejer di ujung jalan.
Melihat rute yang dituju, jantung Nezha berdegup sedikit lebih kencang. Itu adalah kompleks apartemen tempat tinggalnya dan juga apartemen Carson. Sepanjang jalan sejak dari kantor, pikiran Nezha benar-benar terbagi. Titik merah koordinat Carson yang ia lihat di monitor pagi tadi terus membayangi benaknya.
"Hei, Nezha, kamu oke?" bisik Jena, menyenggol lengan Nezha pelan agar tidak memancing perhatian Finke dan Yuan. "Langkahmu agak lambat dari tadi. Kalau pusing, bilang ya."
"Aku aman, Jen. Cuma silau saja," bohong Nezha, mengeratkan pegangannya pada sabuk kulit di pinggangnya.
Saat mereka berbelok di persimpangan menuju gerbang utama Blok C, refleks mata Nezha langsung menyapu area lobi apartemen. Dan di sanalah, di antara kerumunan warga yang berlalu-lalang, matanya menangkap sesuatu.
Sebuah taksi baru saja berhenti di depan lobi. Dari pintu penumpang, sesosok pria melangkah turun dengan sangat perlahan.
Nezha menghentikan langkahnya selama setengah detik. Napasnya tertahan di tenggorokan.
'Carson?'
Meskipun jarak mereka terpisah sekitar lima puluh meter, Nezha mustahil salah mengenali postur tubuh itu. Namun, pemandangan di depannya membuat dada Nezha seketika bergemuruh. Carson tidak berjalan seperti biasanya. Langkahnya kaku, dan bahunya tampak merosot lemas. Dari arah berlawanan, sosok pria yang tidak ia kenali keluar dengan terburu-buru, lalu dengan cekatan memapah Carson, kemudian membantu Carson berjalan menyusuri anak tangga lobi. Pria itu adalah Avnan.
Saat Carson menoleh sekilas untuk memposisikan tubuhnya, Nezha bisa melihat dengan jelas lebam biru keunguan yang kontras di rahang kiri Carson, serta bercak luka yang mengering di sudut bibirnya.
Rasa lega yang luar biasa karena akhirnya ia bisa melihat Carson seketika bertubrukan dengan rasa ngeri dan amarah yang membakar di dalam dada Nezha.
'Siapa yang tega melakukan itu padamu, Carson?'' batin Nezha, jemarinya bergetar di balik sarung tangan taktisnya. Air mata hampir saja lolos dari sudut matanya, namun ia buru-buru mengerjapkan mata, menelan paksa seluruh gejolak emosi itu.
Rasanya saat ini juga Nezha ingin berlari memisahkan diri dari timnya, menerobos lobi, dan langsung memeluk Carson di dalam kamarnya. Ia ingin memeriksa setiap luka di tubuh kekasihnya, menanyakan apa yang terjadi, dan memastikan bahwa pria itu baik-baik saja.
Namun, logika berpikirnya langsung menampar keinginannya.
Tidak boleh. Jangan sekarang.
"Nezha? Kenapa berhenti?" Yuan menoleh ke belakang, menyadari salah satu anggotanya tertinggal beberapa langkah.
Jena dan Finke ikut berhenti, menatap Nezha dengan pandangan bertanya-tanya.
Nezha memaksakan dirinya untuk menarik napas panjang, mengalihkan pandangannya dari sosok Carson dan Avnan yang kini sudah menghilang di balik pintu lobi apartemen.
"Tidak apa-apa," suara Nezha terdengar agak serak, namun ia berhasil membuatnya terdengar tegas. "Tadi pistol kejutku hampir terjatuh. Sekarang sudah aman."
Jena menatap Nezha dengan pandangan menyelidik, sempat melirik ke arah lobi apartemen namun tidak menemukan hal yang aneh selain beberapa warga sipil biasa. "Ya sudah, ayo. Kita harus selesaikan pemindaian di area Blok C sebelum jam makan siang."
"Siap," jawab Nezha pendek.
Ia kembali melangkah, menyelaraskan ritme jalannya dengan tim patroli. Setiap langkah yang ia ambil menjauh dari bangunan apartemen terasa seperti siksaan fisik yang nyata. Otaknya terus berputar liar, membayangkan kondisi Carson yang sedang terluka saat ini. Namun, Nezha tahu betul, jika ia bertindak impulsif sekarang, ia malah akan dicurigai. Sekarang, dia hanya bisa bersabar hingga jam kerjanya selesai.
'Tunggu aku, Carson,' bisik Nezha dalam hatinya, menatap lurus ke depan jalanan Sektor Empat.
i ini panglima berbuat baik