Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Keheningan yang luar biasa mencekam seketika merayap dan membekukan seluruh penjuru toko kue mewah itu. Kata-kata mutlak yang baru saja lolos dari bibir Dixon seolah menggantung di udara, bergaung berulang kali di dalam kepala setiap orang yang mendengarnya.
Cia terpaku di tempatnya berdiri. Sepasang matanya membelalak sempurna, menatap lurus pada rahang tegas Dixon yang masih mengeras menahan amarah dan cemburu. Jantungnya berdegup luar biasa kencang—kali ini bukan hanya karena akting, melainkan karena ia tidak menyangka umpan yang ia tebar akan langsung ditelan bulat-bulat oleh sang singa dalam waktu secepat ini.
Namun, Cia dengan cepat menguasai dirinya kembali. Topeng Valencia—gadis lugu, miskin, dan penuh harga diri—harus tetap terpasang dengan kokoh.
Cia menarik napas dalam-dalam, lalu memundurkan langkahnya dua langkah hingga punggungnya membentur rak kayu tempat penyimpanan kotak kue. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Dixon dengan tatapan yang dibuat bercampur aduk antara rasa tidak percaya, terluka, dan tersinggung.
"Jangan bercanda, Tuan Dixon..." ucap Cia dengan suara yang bergetar lirih, hampir berupa bisikan yang sesak. Kedua tangannya meremas ujung celemek linennya begitu kuat hingga kain itu kusut. "Tolong, berhenti mempermainkan saya. Pernikahan bukan sebuah lelucon yang bisa Tuan jadikan bahan taruhan hanya untuk memenangkan perdebatan atau memuaskan ego Tuan yang tinggi!"
Air mata buatan Cia kembali menggenang di sudut matanya, membuat penampilannya terlihat begitu rapuh namun keras kepala di saat yang bersamaan. "Saya tahu saya hanya rakyat jelata, seorang mantan pegawai yang Tuan pecat, dan sekarang hanya pelayan toko kue rendahan. Tapi bukan berarti Tuan bisa menginjak-injak harga diri saya dengan melamar saya secara asal-asalan seperti ini!"
Melihat air mata gadis itu kembali menetes, dada bidang Dixon mendadak berdenyut nyeri. Rasa bersalah yang asing, bercampur dengan ego purba yang menolak dilepaskan, justru membuat keyakinannya semakin terkunci rapat.
Dixon memajukan tubuh tegapnya, menumpu kedua telapak tangan kekarnya di atas meja konter marmer, menatap Cia dengan tatapan elang yang teramat intens, dalam, dan mengunci mati pergerakan gadis itu.
"Aku tidak sedang bercanda, Valencia," jawab Dixon. Nada suaranya kini melow, berubah menjadi sangat rendah, berat, namun sarat akan penekanan yang mutlak. "Setiap kata yang keluar dari mulutku adalah perintah dan kenyataan. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, terutama di depanmu."
"Dixon!"
Suara pekikan yang penuh ketegasan dan rasa syok mendalam itu seketika memotong konfrontasi intim di antara mereka.
Nyonya Elena Alessandro melangkah maju dengan tergesa-gesa. Anggunnya langkah sang matriark kini berganti dengan kepanikan yang nyata. Sepasang matanya membelalak sempurna menatap putra tunggalnya, lalu beralih menatap Cia yang sedang menangis, dan kembali lagi pada Dixon. Tubuh Elena bahkan sedikit gemetar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengarannya.
Elena berdiri tepat di samping tubuh raksasa putranya, menepuk lengan jas tegap Dixon dengan keras untuk menyadarkan pria itu.
"Dixon Luca Alessandro! Apa-apaan ucapanmu tadi?!" tanya Elena dengan rentetan kalimat yang menuntut penjelasan segera. Suaranya melengking di dalam toko yang sepi. "Mama tidak salah dengar, 'kan? Kamu... kamu baru saja mengatakan akan menikahi gadis ini? Pelayan toko kue ini?!"
Elena menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sebelum kembali menginterogasi. "Kemarin Mama membawakanmu lusinan portofolio wanita karier, anak-anak konglomerat, dan gadis berpendidikan tinggi, tapi kamu menolaknya mentah-mentah sampai kita bertengkar! Lalu sekarang, di depan Mama, kamu mendadak melamar seorang gadis asing yang bahkan tidak Mama ketahui asal-usulnya? Siapa dia, Dixon? Ada hubungan apa kamu dengan gadis ini sebenarnya?!"
Dihujani pertanyaan beruntun yang bertubi-tubi dari ibu kandungnya, Dixon seketika terdiam.
Rahang tegas pria berusia 39 tahun itu mengatup rapat. Sudut bibirnya yang kokoh ditarik lurus. Sepasang mata elangnya yang tadinya berkilat penuh amarah cemburu kini meredup, menyisakan tatapan kaku yang membeku. Dixon melirik Elena sekilas, lalu kembali menatap Cia yang masih menundukkan kepala sembari menyeka air matanya di balik konter.
Dixon terjebak di dalam labirin pikirannya sendiri. Ia tidak mungkin mengatakan sejujurnya kepada sang ibu bahwa gadis di depannya ini adalah wanita yang telah ia tiduri di hotel beberapa malam lalu. Ia juga tidak mungkin mengaku bahwa ego maskulinnya hancur berantakan hanya karena membayangkan tubuh suci Valencia disentuh oleh pria lain. Bagi seorang penguasa Luca Group yang terkenal rasional dan kejam di dunia bisnis, mengakui hal itu di depan ibunya sama saja dengan menelanjangi kelemahannya sendiri.
Keheningan yang pekat kembali merayap. Dixon tetap bungkam seribu bahasa, berdiri tegak bagai patung es yang kokoh namun memendam gejolak lahar panas di dalamnya.
Sementara itu, di balik tundukan kepalanya yang tampak gemetar karena takut, Cia menyembunyikan sebuah senyuman iblis yang teramat puas. Rencananya tidak hanya berjalan mulus, melainkan melesat bak peluru kendali. Kini, ia tidak hanya berhasil memikat sang singa, tetapi juga berhasil memancing perhatian sang matriark tertinggi keluarga Alessandro. Pintu gerbang menuju pusat kehancuran Amora kini telah terbuka lebar untuknya.
Melihat Dixon yang mendadak bungkam seribu bahasa di bawah interogasi ibunya, Cia tahu ini saatnya ia kembali memainkan peran sebagai protagonis yang tertindas. Ia harus segera meredam suasana agar tidak terlihat seperti wanita yang sengaja memanfaatkan situasi untuk panjat sosial, sekaligus untuk menjaga simpati dari Nyonya Elena.
Cia buru-buru melangkah maju, sedikit keluar dari balik meja konter marmer. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Elena, memperlihatkan gestur tubuh yang sangat sopan, tahu diri, dan penuh rasa hormat.
"M-Mohon maaf, Nyonya..." sapa Cia dengan suara yang dibuat gemetar dan lirih, seolah-olah ia hampir menangis karena ketakutan. "Tolong jangan salah paham pada saya. Apa yang dikatakan Tuan Dixon tadi pasti hanya karena beliau terbawa emosi melihat pelanggan lain yang membuat keributan di toko ini. Saya... saya sangat sadar diri, Nyonya. Saya hanya seorang pelayan toko kue rendahan. Tidak mungkin saya berani bermimpi, apalagi berniat untuk masuk ke dalam keluarga terhormat seperti keluarga Anda. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."
Cia meremas jemarinya yang sengaja dibuat dingin di depan dadanya. Di dalam hatinya, ia sudah bersiap menerima tatapan sinis atau cacian merendahkan dari Elena, tipikal respons dari seorang ibu konglomerat saat melihat putranya melamar wanita kelas bawah.
Namun, respons yang keluar dari bibir Elena justru di luar perkiraan siapa pun.
Nyonya Elena tidak marah. Alih-alih mengeluarkan kalimat makian, sepasang mata wanita paruh baya itu justru berbinar cerah. Langkah kakinya yang anggun mendekati Cia, lalu tanpa ragu, Elena mengulurkan kedua tangannya yang dihiasi cincin berlian untuk menggenggam lembut jemari Cia yang gemetar.
"Tidak, Nak. Jangan berkata seperti itu," ucap Elena dengan senyuman yang teramat hangat dan tulus di wajah cantiknya yang matang. Ia menatap Cia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh kepuasan. "Mama justru merasa sangat, sangat senang mendengarnya. Kalau kamu yang menjadi istri Dixon, Mama akan langsung menyetujuinya hari ini juga!"
Deg.
Mendengar penuturan spontan dari sang matriark, Cia seketika tersentak. Kepalanya mendongak cepat, dan matanya membelalak sempurna. Rasa syok yang kini terpancar di wajah cantiknya benar-benar nyata, bukan lagi sekadar bagian dari skenario aktingnya.
“Tunggu... apa-apaan ini? Neneknya Amora malah kegirangan?! Kenapa alur ceritanya jadi melenceng sejauh ini?” jerit Cia panik di dalam hatinya. Rencana awalnya adalah memicu konflik keluarga agar ia bisa menyelinap di antara celah tersebut, namun sekarang ibu Dixon justru menyambutnya dengan tangan terbuka.
Dixon pun tidak kalah terkejut. Pria berusia 39 tahun itu langsung menatap tajam ke arah sang mama dengan dahi yang bertaut rapat. "Ma, apa yang Mama bicarakan?" tanya Dixon dengan suara baritonnya yang ketat dan dingin.
Elena mengabaikan protes putranya. Ia menoleh ke arah Dixon dengan senyum kemenangan yang tertuju telak pada putranya yang selama ini sedingin es.
"Mama serius, Dixon. Kamu sendiri yang bilang ingin menikahinya di depan Mama, bukan? Mama tidak akan membiarkanmu menarik kata-katamu lagi," ujar Elena tegas, sebelum pandangannya kembali beralih pada Cia dengan tatapan menimbang-nimbang.
Elena memperhatikan wajah polos Cia yang tampak begitu muda dan segar, sangat kontras dengan guratan tegas dan matang di wajah Dixon.
"Kalau Mama perhatikan... usia kalian berdua memang lumayan jauh, ya," gumam Elena dengan nada santai, sedikit menggoda putranya. Ia mengetuk dagunya pelan dengan jari lentiknya. "Mama rasa, Nak Valencia ini usianya masih sangat muda, bahkan mungkin seusia dengan anak perempuanmu, Amora. Kamu seperti sedang membawa pulang daun muda, Dixon."
Mendengar nama Amora disebut, tubuh Cia seketika menegang kaku di tempatnya berdiri. Kobaran api dendam di dadanya kembali tersulut, mengingatkan dirinya pada tujuan utama mengapa ia berada di sini.
Elena terkekeh pelan melihat ekspresi kaku putranya yang tampak semakin salah tingkah karena disindir masalah usia. Namun, Elena segera menepuk bahu tegap Dixon dengan mantap, memberikan restu mutlaknya yang tak terbantahkan.
"Tapi tidak apa-apa! Usia bukan masalah besar dalam pernikahan. Yang paling penting adalah kamu akhirnya mau membuka hatimu untuk seorang wanita setelah belasan tahun membeku," ucap Elena penuh kebahagiaan, suaranya terdengar begitu final di dalam toko kue yang sepi itu. "Menikahlah, Dixon. Mama merestui kalian berdua. Mama akan segera mengurus persiapan pertemuan keluarga kita!"
Pernyataan mutlak dari sang ibu membuat atmosfer di sekitar mereka terkunci rapat. Dixon terdiam dengan rahang mengeras, sementara Cia hanya bisa mematung dengan jantung yang berdegup liar. Jaring takdir yang ia tebar kini telah mengikat dirinya sendiri ke dalam inti dari keluarga Alessandro, selangkah lebih dekat untuk menyeret Amora ke dalam kehancuran yang sesungguhnya.
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
biar si duda karatan kelabakan