NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30 aneh

Pagi itu suasana rumah keluarga Mahendra masih diselimuti duka yang mendalam. Ruang keluarga yang biasanya ramai kini dipenuhi keheningan. Foto almarhum ayah Adrian yang dihiasi pita hitam diletakkan di atas meja, sementara aroma dupa dan bunga masih memenuhi setiap sudut ruangan. Tidak seorang pun benar-benar memiliki selera makan, termasuk ibu Adrian yang sejak semalam hanya meminum sedikit air putih.

Anna turun ke lantai bawah dengan wajah yang terlihat jauh lebih serius daripada biasanya. Semalaman ia hampir tidak tidur memikirkan cangkir kopi yang ditemukannya di dapur. Semakin dipikirkan, semakin ia yakin ada sesuatu yang tidak beres sebelum ayahnya jatuh dari tangga.

Begitu melihat beberapa asisten rumah tangga sedang merapikan meja makan, Anna langsung menghampiri mereka.

"Semalam siapa yang membuatkan kopi untuk Ayah?"

tanyanya tegas.

Para pembantu saling berpandangan dengan bingung.

"Kopi, Nona?"

ulang salah seorang dari mereka.

"Iya."

suara Anna mulai meninggi.

"Cangkir Ayah masih ada bekas kopi di dapur. Siapa yang membuatnya?"

Seisi dapur mendadak hening.

Salah satu pembantu yang paling senior segera menggeleng kuat.

"Kami tidak membuat kopi untuk Tuan."

jawabnya jujur.

"Dokter sudah melarang beliau minum kopi sejak lama. Kami semua tahu itu."

Pembantu lain ikut mengangguk.

"Kalau untuk Tuan Adrian memang sering kami siapkan kopi setiap pagi, tapi semalam tidak ada yang meminta."

"Setelah makan malam kami langsung membereskan dapur lalu beristirahat."

Anna mengerutkan kening.

"Jadi tidak ada satu pun dari kalian yang membuat kopi?"

"Tidak, Nona."

jawab mereka hampir bersamaan.

Rasa dingin perlahan menjalar di punggung Anna.

Kalau bukan para pembantu...

Lalu siapa yang membuat kopi itu?

Keributan kecil di dapur membuat ibu Adrian keluar dari ruang tengah. Wajah wanita itu masih pucat, matanya bengkak akibat terlalu banyak menangis sejak kemarin.

"Ada apa lagi, Anna?"

tanyanya lemah.

Anna segera menghampiri ibunya.

"Bu, semalam ada yang membuat kopi untuk Ayah."

"Tapi semua pembantu bilang mereka tidak melakukannya."

Ibu Adrian terdiam beberapa saat.

Tatapannya kosong.

Kemudian ia menghela napas panjang.

"Sudahlah."

ucapnya lirih.

"Ibu tidak sanggup memikirkan semua itu sekarang."

"Tapi Bu..."

potong Anna.

"Ayah tidak mungkin minum kopi."

"Aku merasa ada sesuatu yang janggal."

Ibu Adrian perlahan memegang tangan putrinya.

"Anna."

suaranya bergetar.

"Ayahmu sudah pergi."

"Ibu tidak ingin mencari-cari kemungkinan yang hanya akan membuat keluarga ini semakin hancur."

"Kita sudah kehilangan Ayah."

"Jangan buat Ibu kehilangan ketenangan yang tersisa."

Mendengar itu, Anna hanya mampu menundukkan kepala. Ia memahami kondisi ibunya, tetapi firasat buruk di dalam hatinya sama sekali tidak menghilang.

Di saat suasana masih dipenuhi kesedihan, Bianca keluar dari kamarnya dengan langkah pelan. Meski wajahnya terlihat pucat karena kehamilan dan kelelahan, ia tetap berusaha menghampiri ibu mertuanya.

"Bu..."

ucap Bianca lembut.

"Bianca sudah membuatkan teh hangat."

"Biar Bianca temani Ibu sarapan sedikit."

Ia kemudian membantu menarikkan kursi dan meletakkan secangkir teh di depan ibu Adrian.

Wanita paruh baya itu mengangguk pelan sebagai bentuk terima kasih, tetapi sorot matanya tetap kosong.

Bianca berusaha menunjukkan perhatian dengan mengambilkan makanan dan meminta ibu mertuanya menjaga kesehatan.

Namun di sudut ruangan, Anna memperhatikan semua itu dalam diam.

Bukan karena ia membenci Bianca semata.

Melainkan karena pikirannya masih dipenuhi bayangan cangkir kopi bergambar wajah ayahnya.

Entah mengapa, semakin banyak orang mencoba menganggap kematian ayahnya sebagai kecelakaan biasa, semakin kuat keyakinan Anna bahwa ada potongan teka-teki yang belum terungkap. Dan ia mulai merasa, jika tidak ada yang mencari jawabannya, maka kebenaran itu akan terkubur bersama kepergian ayahnya.

Keributan kecil di dapur akhirnya menarik perhatian Adrian yang baru saja turun dari lantai atas. Wajahnya masih terlihat lelah, matanya sembap karena kurang tidur, sementara kemeja yang dikenakannya tampak kusut seolah semalaman ia tidak benar-benar beristirahat. Begitu melihat Anna terus mendesak para pembantu, Adrian segera menghampiri dengan langkah cepat.

"Ada apa lagi, Anna?"

tanyanya dengan nada datar.

Anna langsung menoleh.

"Kak, semalam ada yang membuat kopi untuk Ayah."

"Padahal Ayah sama sekali tidak boleh minum kopi."

"Semua pembantu mengaku tidak ada yang membuatkannya."

Adrian melirik sekilas ke arah cangkir yang masih berada di atas meja dapur. Ekspresinya nyaris tidak berubah, namun sorot matanya sempat bergetar sesaat sebelum kembali tenang.

"Mungkin cangkir itu dipakai orang lain."

jawabnya singkat.

"Tidak."

Anna langsung membantah.

"Itu cangkir Ayah."

"Aku sendiri yang membuat seluruh cangkir di rumah ini."

"Tidak mungkin aku salah mengenali ukiran wajah yang kubuat."

Suasana kembali hening.

Para pembantu memilih menundukkan kepala, sementara Bianca dan ibu Adrian hanya memperhatikan percakapan kakak beradik itu dengan wajah tegang.

Adrian mengembuskan napas panjang.

"Anna."

ucapnya pelan namun tegas.

"Berhentilah mencari-cari sesuatu yang tidak ada."

"Dokter sudah menjelaskan penyebab kematian Ayah."

"Beliau jatuh dari tangga."

"Itu kecelakaan."

Anna mengepalkan kedua tangannya.

"Tapi semuanya terasa janggal."

balasnya.

"Malam sebelum kejadian aku melihat Kakak keluar dari ruang kerja Ayah."

"Terus pagi ini aku menemukan cangkir Ayah berisi bekas kopi."

"Bagaimana aku bisa menganggap semua itu kebetulan?"

Kalimat terakhir membuat wajah Adrian sedikit menegang.

Hanya sepersekian detik.

Namun perubahan itu tidak luput dari perhatian Anna.

"Aku ke ruang kerja hanya untuk mengambil beberapa dokumen."

jawab Adrian cepat.

"Ayah juga mengetahuinya."

"Lalu soal kopi, mungkin memang ada yang salah meletakkan cangkir."

"Jangan membangun tuduhan tanpa bukti."

Nada suaranya mulai meninggi.

"Ayah sudah meninggal."

"Biarkan beliau beristirahat dengan tenang."

Anna menatap kakaknya tanpa berkedip.

Entah mengapa, semakin Adrian berusaha menghentikannya, semakin besar rasa curiga yang tumbuh di dalam hatinya.

"Aku tidak sedang menuduh siapa pun."

ucap Anna perlahan.

"Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Ia menoleh ke arah lorong rumah.

"Lagipula..."

"Rumah ini dipasang CCTV hampir di setiap sudut."

Kalimat itu membuat jantung Adrian seolah berhenti berdetak.

Anna melanjutkan dengan tatapan penuh keyakinan.

"Aku akan mengecek rekaman CCTV."

"Kalau memang Ayah benar-benar jatuh karena kecelakaan, aku akan menerimanya."

"Tapi kalau ada sesuatu yang disembunyikan..."

Anna menghela napas panjang.

"Aku tidak akan berhenti sampai menemukan kebenarannya."

Suasana mendadak membeku.

Bianca menatap Adrian yang kini terlihat jauh lebih tegang daripada sebelumnya. Rahang pria itu mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal di balik saku celana.

Untuk pertama kalinya sejak kematian ayah mereka, Adrian benar-benar merasa terancam.

Bukan oleh tuduhan.

Melainkan oleh kemungkinan bahwa rekaman CCTV dapat membuka kejadian yang selama ini hanya diketahui oleh dirinya.

Anna bergegas menuju ruang keamanan di lantai bawah dengan harapan rekaman CCTV dapat menjawab semua pertanyaan yang sejak semalam memenuhi kepalanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meminta petugas keamanan membuka rekaman dari hari sebelum ayahnya terjatuh.

Namun beberapa menit kemudian, wajah petugas itu berubah canggung.

"Maaf, Nona..."

ucapnya pelan.

"Rekaman hari itu tidak ada."

Anna langsung mengernyit.

"Kenapa tidak ada?"

"Sistem CCTV sedang mengalami gangguan sejak pagi. Teknisi sudah dihubungi, tapi baru dijadwalkan datang keesokan harinya. Jadi pada hari kejadian, seluruh kamera tidak merekam."

Kalimat itu membuat dada Anna semakin sesak.

"CCTV rusak... tepat di hari Ayah mengalami kecelakaan?"

gumamnya pelan.

Ia tidak langsung menarik kesimpulan apa pun, tetapi rangkaian kejadian itu membuat firasatnya semakin kuat. Terlalu banyak hal yang menurutnya terjadi pada waktu yang bersamaan tanpa penjelasan yang memuaskan.

Dengan langkah pelan Anna keluar dari ruang keamanan. Saat melewati dapur, salah seorang pembantu senior menghampirinya sambil melihat ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

"Nona Anna..."

bisiknya hati-hati.

"Ada satu hal yang baru saya ingat."

Anna segera menoleh.

"Apa?"

Pembantu itu tampak ragu sebelum akhirnya berkata pelan.

"Sebelum kejadian... Tuan memang memakai cangkir bergambar wajah beliau."

Anna mengangguk.

"Itu yang kutemukan."

"Tapi..."

lanjut pembantu itu.

"...yang saya buatkan bukan kopi."

Anna membeku.

"Maksudmu?"

"Saya melihat Nona Bianca yang mengantarkan teh hangat untuk Tuan sore itu."

"Setelah itu, Tuan sempat meminumnya."

Pembantu itu buru-buru menambahkan,

"Setahu saya hanya teh biasa. Tuan juga terlihat baik-baik saja saat itu."

Anna terdiam, mencoba menyusun potongan-potongan informasi di kepalanya.

Pembantu itu kembali berbisik lebih pelan.

"Itulah yang membuat saya bingung, Nona."

"Kalau terakhir yang diminum Tuan memang teh..."

"Kenapa ketika malam hari justru ada bekas kopi di cangkir yang sama?"

Anna memandang pembantu itu tanpa berkedip.

Pertanyaan itu sama persis dengan yang sejak semalam terus menghantuinya.

Kalau memang ayahnya terakhir minum teh menggunakan cangkir tersebut, lalu kapan isi cangkir itu berubah menjadi kopi?

Siapa yang menggunakan cangkir itu setelahnya?

Dan yang paling penting...

Apakah semua itu memang berkaitan dengan kecelakaan di tangga, atau hanya kebetulan yang menyesatkan?

Anna menarik napas panjang. Ia sadar bahwa sejauh ini ia belum memiliki bukti untuk menuduh siapa pun. Namun semakin banyak pertanyaan muncul, semakin yakin ia bahwa masih ada bagian dari peristiwa malam itu yang belum terungkap. Ia pun memutuskan untuk mencari fakta dengan hati-hati, tanpa terburu-buru menyimpulkan atau menuduh seseorang sebelum kebenarannya benar-benar terbukti.

1
Mundri Astuti
mudah"an cepet terungkap semuanya...pengen tau reaksi Adrian klo tau dalang dibalik semua adalah Bianca ..perempuan yg dibela mati"an
Mundri Astuti
fix ni mah kerjaan Bianca, keliatannya lemah ni org, tapi liciknya luar biasa
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!