DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bencana di pagi hari
## BAB 30 - Bencana di Pagi Hari
"Lho... Itu kan Mbah Cahyo? Ngapain si Mbah pagi-pagi buta sudah berdiri di sana? Apa jangan-jangan dia sengaja datang ke sini untuk mengambil upeti ayam cemani?" gumam Rahmat dengan dahi mengkerut heran, menatap lurus ke arah gerbang melalui kaca depan mobil.
"Iya, Mas... Ganjil sekali. Gak biasanya Mbah Cahyo mau datang mengambil upeti sendiri langsung ke rumah kita. Biasanya kan Mas yang selalu mengantarkannya langsung ke rumah si Mbah," sahut Ratna dengan suara lemas, ikut merasa heran sekaligus merinding melihat sosok dukun tua itu berdiri kaku di tengah kabut pagi.
Rahmat tidak menjawab lagi. Ia segera menginjak pedal gas, membawa mobil mewahnya melewati gerbang yang terbuka hingga terparkir dengan manis di dalam garasi rumah yang luas. Setelah mematikan mesin, dengan perasaan campur aduk antara segan dan penasaran, Rahmat dan Ratna langsung turun dari mobil lalu melangkah cepat menghampiri Mbah Cahyo yang masih bergeming di tempatnya.
"Maaf, Mbah... Mari kita masuk saja dulu, tidak enak mengobrol di luar dingin-dingin begini. Kita bicara di dalam saja," ujar Rahmat dengan nada suara yang teramat sopan dan membungkuk segan.
"Hahahaha... Iya, iya. Maaf jika kedatangan Simbah yang mendadak di pagi buta seperti ini membuat kalian berdua kaget," sahut Mbah Cahyo disertai tawa renyahnya yang terdengar berat, mengikis sedikit ketegangan di antara mereka.
Mereka bertiga pun melangkah bersama memasuki rumah mewah yang tampak sunyi itu. Rahmat dengan sigap langsung mengarahkan dan membawa Mbah Cahyo menuju ke ruang tamu utama, sementara Ratna memilih untuk memisahkan diri, melangkah perlahan dengan tubuh lemasnya menuju ke arah dapur untuk membuatkan minuman hangat bagi tamu tak diundang tersebut.
Suasana di dalam ruang tamu mewah itu sempat hening sejenak, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang memecah kesunyian pagi. Sampai akhirnya, Rahmat pun membuka suara untuk memecah kecanggungan di antara mereka berdua.
"Maaf sebelumnya, Mbah... Kalau boleh tahu, apakah Simbah sengaja datang ke sini sepagi ini untuk mengambil uang upeti beserta ayam cemani?" tanya Rahmat tanpa basa-basi lagi karena rasa penasarannya sudah tak tertahankan.
"Hahaha... Iya, Le. Simbah memang memerlukan ayam cemaninya sekarang juga untuk keperluan ritual gaib Simbah hari ini," sahut Mbah Cahyo sembari mengelus janggutnya yang memutih.
Belum sempat Rahmat membalas ucapan dukun tua itu, Ratna muncul dari balik sekat ruangan dengan membawa sebuah nampan kayu berisi dua gelas kopi hitam yang mengepulkan asap tipis, lengkap dengan beberapa piring kecil camilan tradisional.
"Monggo, Mbah, kopinya silakan diminum," ujar Ratna dengan nada santun sembari perlahan menurunkan gelas-gelas tersebut dan menaruh nampannya di atas meja kaca.
Saat pertama kali Mbah Cahyo melihat kehadiran Ratna di ruang tamu, sepasang mata tua yang semula redup itu mendadak melebar ganjil. Pandangan sang dukun sama sekali tidak lepas melirik ke arah Ratna, terus mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh arti. Sepertinya, Mbah Cahyo benar-benar tertarik dan terpikat oleh pesona yang memancar dari tubuh Ratna sekarang.
Memang tidak bisa dimungkiri, sejak mengikuti pesugihan hitam ini, penampilan fisik Ratna telah berubah total seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Garis wajah dan lekuk tubuhnya kini tampak begitu menawan, setara dengan model papan atas atau bintang film terkenal. Walaupun saat ini ia tengah hamil besar dan wajahnya tampak agak pucat akibat kelelahan pasca-ritual semalam, aura kecantikan yang memancar dari dirinya terasa begitu alami, pekat, dan seolah memiliki daya pikat magis yang mampu menyihir siapa saja yang memandangnya.
"Kalau begitu, saya siapkan dulu upeti beserta ayam cemaninya di luar ya, Mbah," ujar Rahmat mencoba memecah lamunan ganjil Mbah Cahyo yang terus-menerus menatap istrinya.
"Oh... Nanti saja, Le. Taruh saja dulu ayamnya. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang ingin Simbah bicarakan kepada kalian berdua sekarang," sahut Mbah Cahyo sembari menahan langkah Rahmat, tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan pekat.
"Ada urusan apa, Mbah?" tanya Rahmat dan Ratna secara bersamaan, saling lempar pandang karena diliputi rasa penasaran sekaligus firasat yang mendadak tidak enak.
Mbah Cahyo memajukan posisi duduknya, menatap lurus ke dalam bola mata Rahmat. "Apakah kalian mau kekayaan dan kejayaan yang kalian miliki saat ini menjadi abadi? Sampai tujuh turunan pun tidak akan pernah habis... Apakah kalian mau?" ujar Mbah Cahyo, mengubah nada bicaranya menjadi teramat serius dan penuh penekanan mistis yang berat.
"Mau, Mbah! Jelas saya sangat mau!" sahut Rahmat dengan sangat cepat tanpa berpikir panjang, matanya langsung berbinar begitu mendengar kata kekayaan abadi.
"Hahahaha... Bagus, bagus. Tapi, ada satu ritual khusus lagi yang harus kalian penuhi dan tepati sebagai syarat mutlaknya," jawab sang dukun tua diiringi tawa misteriusnya.
Rahmat mengernyitkan dahi, dilingkupi rasa heran. "Hah? Ritual lagi? Memangnya ritual apa lagi yang harus kami lakukan, Mbah?" tanya Rahmat kebingungan, mengingat ritual malam Kliwon saja sudah sangat menguras tenaga mereka.
Mbah Cahyo menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang sudah menghitam. Tatapan mesumnya kini mengunci sepenuhnya pada wajah pucat Ratna.
"Hehehehe... Ritualnya mudah, Le. Istrimu ini... dia harus mau Simbah gauli terlebih dahulu. Hanya itu satu-satunya cara sebagai ritual penyempurna agar harta kalian abadi," ujar Mbah Cahyo dengan nada tegas, dingin, dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mendengar ucapan biadab dari mulut dukun tua itu, Rahmat dan Ratna sontak terkejut setengah mati. Tubuh Ratna seketika bergetar hebat dilingkupi rasa jijik dan takut, sementara darah Rahmat langsung berdesir panas. Untungnya, di balik segala ketamakan hartanya selama ini, Rahmat masih memiliki rasa cinta dan harga diri yang mendalam sebagai seorang suami. Ia sama sekali tidak sudi jika tubuh istrinya disentuh atau dinodai oleh orang lain, terlebih oleh dukun cabul di hadapannya.
"Apa?! Simbah mau menyetubuhi istri saya?! Simbah sudah gila!" bentak Rahmat dengan wajah yang memerah padam akibat murka yang tak lagi bisa dibendung.
Ia langsung berdiri, menunjuk ke arah pintu keluar. "Sekarang juga Simbah pergi dari rumah ini! Dan jangan pernah berharap bisa menyentuh istriku, termasuk mendapatkan uang upeti lagi dari saya!"
Mbah Cahyo tidak ketakutan, ia justru tertawa terkekeh, suara tawanya terdengar sangat parau dan bergaung mistis memenuhi ruangan.
"Hahahaha... Kamu berani mengusir Simbah, Le? Baik, Simbah akan keluar dari rumah ini sekarang juga. Tapi ingat, seluruh kekayaan, kejayaan, dan kelancaran bisnis bakso yang kamu dapatkan selama ini... akan Simbah tarik kembali sampai tidak tersisa!" ancam Mbah Cahyo dengan tatapan mata yang mendadak menyala merah penuh kebencian.
"Terserah! Ambil saja semuanya! Saya tidak peduli lagi dengan harta itu, yang penting istri dan calon anakku tidak menjadi korban dari niat bejatmu!" sahut Rahmat dengan nada suara yang memuncak, berdiri tegap melindungi Ratna yang mulai menangis di belakang punggungnya.
"Baik jika itu keputusanmu, kalian tanggung sendiri akibatnya," sahut Mbah Cahyo dingin, sembari melangkah pergi meninggalkan mereka berdua yang terpaku di dalam ruangan itu.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁