NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

empat belas

Xavier masih tak habis pikir, kemana suami diandra pergi, mengapa rumahnya terkunci. Dan juga rumah itu, terlalu sederhana rasanya, jika melihat penampilan mereka tempo hari.

"rumah itu sepertinya, tidak ada laki-laki dewasa di dalamnya" gumamnya lirih.

Dinding rumah diandra tadi, sekilas ia melihat tidak ada bingkai foto pernikahan. Yang ada di sana hanya foto killian.

"apakah diandra dan pria tempo hari bukan suami istri?"

Xavier terkejut sendiri, matanya membelalak seketika.

"apa mungkin diandra belum menikah?"

Senyumnya seketika merekah indah, jika memang diandra belum menikah berarti ia masih memiliki kesempatan untuk mendekati wanita itu.

Xavier masih tersenyum, wajahnya juga terlihat cerah saat ia memarkirkan mobilnya di carport.

Langkahnya terasa ringan, senyum tipis terlihat dikulum di bibirnya.

"xavi..." panggil omanya, saat xavi hendak menaiki tangga ke lantai 2

Xavier menoleh, omanya itu melambai memanggilnya.

"sini deh!, ada yang ingin oma tunjukkan"

Xavier menghampiri omanya yang memegang sebuah foto.

"ini foto kamu waktu masih berusia 5 tahun..."

Nyonya wina mengulurkan sebuah foto, senyum tuanya mengembang indah.

"itu saat kamu masih di inggris menemani mamamu mengambil program magisternya"

Xavier menatap tak berkedip, gambar diri dengan mamanya. Xavier sampai terperangah, pria kecil di foto itu kenapa mirip dengan putranya diandra.

Rambut gondrong sampai menutupi telinga, hidungnya yang bangir. Seandainya foto ini xavier tunjukkan pada killian, pasti bocah itu mengatakan kalau anak yang ada di foto ini adalah bocah itu.

"oma..." panggilnya masih dengan mata membeliak lebar, terlihat jelas wajah xavier tak percaya.

Nyonya wina mengangguk, " oma juga heran, mengapa putra chef diandra bisa sangat mirip denganmu waktu kecil"

Xavier menjatuhkan tubuhnya di sisi nyonya wina, terlihat kilatan matanya masih merasa takjub.

"apakah kamu pernah berhubungan dengan chef itu, xavi?"

Xavier menggeleng ragu, setahu dia, dalam keadaan sadar, ia tidak pernah mengenal diandra.

Namun rasa penasaran dan kini semakin yakin, kalau diandra adalah wanita malam itu, wanita yang meninggalkannya bagai seonggok kotoran tak berharga.

"seandainya chef itu pernah jadi pacar kamu, oma yakin kalau bocah itu putramu"

Xavier menatap lekat omanya, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang.

"oma.." panggilnya lirih, kepalanya sesaat menunduk ragu.

"oma tahu kan apa sebab aku tak mau menikah?"

Omanya menggeleng pelan, wanita sepuh itu menatap teduh.

"aku punya trauma oma!"

"trauma?" tanya omanya mengernyitkan keningnya penasaran.

"trauma apa?"

"6 tahun lalu.." ujar xavier memulai penjelasannya, desah nafasnya berat mengiringi.

"saat oma tidak mengijinkan aku menikahi cathy, oma ingat?"

Nyonya wina mengangguk, tentu saja ia sangat mengingat saat itu, seminggu xavier menghilang, tidak pulang sama sekali ke rumah.

Cucunya semata wayangnya ini, kecewa padanya saat itu. Namun xavier tidak marah padanya, hanya saja cucunya itu sempat menghilang tanpa kabar seminggu lamanya.

Dan sejak itu nyonya wina menyadari cucunya itu berubah, tak lagi seliar biasanya.

"aku melampiaskan kekesalanku dengan mabuk-mabukan.." sambung xavier lirih, perlahan ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.

"hingga aku meminta seorang mucikari mencarikanku seorang perempuan.."

"xavi.." terdengar suara omanya kecewa.

"aku tahu oma, aku memang bejat. Dan mungkin itu karma yang harus aku tanggung karenanya"

"karma?apa maksudmu?" kembali nyonya wina mengernyitkan keningnya penasaran.

"hhhhhhhhh" xavier menghembuskan nafasnya yang terasa menyesakkan dadanya.

"malam itu oma, aku tidak mengenali perempuan yang aku gauli itu, karena pengaruh alkohol yang kuminum"

Nyonya wina menegakkan tubuhnya, sorot matanya kini terlihat sangat penasaran.

"sampai wanita itu pergi keesokkan paginya, aku sama sekali tak melihatnya, oma. Dan sampai sekarang aku tak mengenali perempuan itu"

Bola mata nyonya wina terbelalak lebar, mulutnya terbuka, sepertinya ingin bertanya, namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.

"wanita sialan itu pergi meninggalkanku begitu saja, oma. Seakan tidak pernah ada yang terjadi sebelumnya, wanita itu tidak meninggalkan apapun petunjuk untukku"

Nyonya wina kembali terperangah, tiba-tiba wanita sepuh itu terkekeh.

"apakah itu yang membuat kamu trauma?, kamu merasa pesona seorang xavier pratama tidak berguna pada perempuan itu?"

Xavier diam saja, tidak mengangguk ataupun menjawab. Tapi apa yang omanya katakan barusan itu benar.

Harga dirinya seakan diinjak-injak sampai tak berbentuk lagi, rasa percaya dirinya yang luar biasa hancur lebur perlahan tak berbentuk lagi.

"xavi..., apakah sampai sekarang trauma itu masih menghantuimu?"

Kali ini xavier mengangguk, "sejak malam itu oma, aku tak bisa menyentuh wanita"

Nyonya wina tersentak kaget, menatap lekat cucunya itu. Seakan mencari kejujuran dari apa yang barusan xavier katakan.

"kamu serius?"

Lagi-lagi xavier mengangguk, "serius oma. Dan aku juga sudah ke psikiater"

"lalu apa saran psikiatermu itu?" tanya omanya tak sabaran.

Mata xavier menerawang langit-langit rumah yang tinggi, hembusan nafasnya yang berat, serta wajahnya yang sendu. Nyonya wina yakin, cucunya itu benar-benar gelisah.

"dokter itu memintaku mencari perempuan itu, menanyakan alasan mengapa wanita sialan itu meninggalkanku begitu saja, katanya bisa menyembuhkan trauma ini, oma."

"dan menurut oma, kamu merasa kalau chef tadi adalah wanita itu, bukan?"

Xavier mengangguk lemah, " sejak aku melihat diandra, oma. Detak itu kembali lagi, detak 6 tahun lalu yang hilang kembali lagi"

"lalu kenapa kamu tak mencoba mendekati wanita itu, xavi. Dan mencari tahu mana tahu mungkin saja memang dia wanita yang kamu cari-cari selama ini?, tapi..."

Nyonya wina terdiam sesaat, menatap lekat bola mata kebiruan milik cucunya itu," kalau kamu yakin diandra adalah wanita itu, untuk apa kamu tadi mengajak aldine tunangan?"

Xavier menegakkan tubuhnya, kedua jemarinya saling tertaut.

"sepertinya diandra sudah menikah, oma!"

"kamu yakin?" tanya omanya dengan senyum menghiasi bibirnya.

"oma nggak ada lihat cincin di jemarinya sama sekali"

"diandra itu chef, oma. Mana mungkin dia memakai cincin pernikahannya"

"xavi..." panggil nyonya wina menggeleng tak setuju.

"sebuah pernikahan adalah identitas, cincin pernikahan bertujuan untuk menunjukkan itu. Seorang wanita akan sangat bangga menunjukkannya, terlepas apapun pekerjaannya"

"tapi oma.." sela xavier, namun lagi-lagi omanya menggeleng.

"seandainya ia melepasnya saat memasak, pasti setelah selesai, wanita itu akan menyematkannya lagi"

Xavier terdiam, masuk akal apa yang omanya jelaskan barusan.

"cari tahu tentang mereka!, kalau memang diandra adalah wanita itu, oma terserah kamu!"

"maksud oma?" xavier mengerutkan keningnya.

"ya.." angguk nyonya wina cepat, "kamu mau mendekati wanita itu, atau tetap menikahi geraldine, itu semua oma serahkan ke kamu, tapi satu yang pasti, kalau bocah tampan putra chef tadi adalah putramu, oma pastikan anak itu harus memakai nama pratama di belakangnya, dan harus hidup sebagai penerus pratama berikutnya"

Xavier tercekat, menelan salivanya. Sorot mata tua omanya terlihat berbinar-binar, sungguh xavier gugup jadinya.

Bersambung...

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!