NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11: Titik Balik di Lapangan Hijau

BAB 11: Titik Balik di Lapangan Hijau

Gemuruh sorak-sorai dari tribun Stadion Mini Jakarta Timur belum sepenuhnya reda ketika striker Tim Merah Marun berlari histeris ke arah sudut lapangan. Dia tidak langsung merayakan golnya sendirian, melainkan berbalik dan menunjuk ke arah Velix dengan mata berbinar penuh rasa tidak percaya.

"Umpan gila, Vel! Gua cuma tinggal naruh kaki!" teriaknya sebelum melompat memeluk Velix.

Satu per satu pemain Tim Merah Marun datang mengerumuni Velix, merayakan gol penyeimbang itu dengan sukacita yang meluap-luap. Di tengah kepungan kegembiraan anak-anak remaja itu, Velix melepaskan mode monster di dalam lapangannya sejenak. Dia tersenyum hangat, menepuk-nepuk punggung rekan setimnya dengan ramah.

"Kerja bagus. Penyelesaianmu tadi top kelas," puji Velix tulus, membuat sang striker makin membusungkan dadanya bangga.

Namun, begitu Velix berbalik untuk kembali ke lingkaran tengah lapangan, senyum hangat itu memudar secara instan. Tatapan matanya kembali mengunci fokus, dingin dan sedingin es. Kedewasaan mentalnya mengingatkan bahwa skor 1-1 belum berarti apa-apa. Ini baru awal dari babak pertama.

Di seberang lapangan, para pemain SMP 14 tampak tegang. Pelatih mereka di pinggir lapangan terus berteriak histeris, memaki lini tengahnya yang dengan begitu mudah dilewati oleh satu gerakan spin dari Velix.

[Statistik Diperbarui setelah Assist:]

[Teknik - Operan (Passing): 43.5 -> 44.1 / 100]

[Tingkat Sinkronisasi Skill "Sentuhan Pertama Sutra": 8% -> 11%]

Velix melirik pembaruan stat dari Sistem di sudut matanya. 'Bagus, tingkat sinkronisasinya merangkak naik. Setiap kali aku menggunakannya dalam pertandingan resmi dengan tensi tinggi, memori otot tubuh ini beradaptasi lebih cepat.'

Prreeettt! Pertandingan dilanjutkan.

SMP 14 yang merasa kecolongan mencoba menaikkan tempo permainan menjadi lebih agresif dan kasar. Mereka tidak lagi membiarkan Velix menerima bola dengan nyaman. Setiap kali bola mengalir ke arah Velix, gelandang bertahan mereka yang bertubuh gempal langsung menempel ketat, sesekali menggunakan sikut dan dorongan fisik yang sengaja tidak ditiup oleh wasit.

Pada menit ke-35, Velix menerima umpan pantul dari Danu. Belum sempat dia memutar tubuh, gelandang gempal nomor 6 lawan langsung menerjangnya dari belakang dengan tekel terlambat.

Dug!

Kaki Velix ditebas keras hingga dia terjatuh berguling di atas rumput stadion yang agak keras.

"Woi! Pelanggaran itu, Wasit!" teriak Danu emosi, langsung berlari menghampiri pemain nomor 6 lawan dengan wajah memerah. Anak-anak SMP lain dari kedua tim langsung berdatangan, saling dorong dan adu mulut. Suasana di lapangan mendadak panas khas laga usia muda yang mudah tersulut emosi.

Pak Joko di pinggir lapangan sudah berteriak cemas, takut Velix mengalami cedera parah atau malah terkena kartu karena ikut berkelahi.

Namun, di tengah keributan itu, Velix justru bangkit berdiri dengan sangat tenang. Dia mengibaskan debu tanah yang menempel di celananya, lalu menarik baju Danu dari belakang untuk menjauhkannya dari kerumunan.

"Danu, mundur. Jangan kepancing," kata Velix dengan suara baritonnya yang tenang namun penuh penekanan dewasa.

"Tapi dia sengaja nebas lu, Vel! Lu bisa cedera!" protes Danu masih dengan napas memburu.

"Gua nggak apa-apa. Biarin wasit yang ngasih kartu. Kalau lu ikut emosi dan dapet kartu merah, kita yang rugi," balas Velix datar, matanya menatap lurus ke arah pemain nomor 6 lawan yang sedang diperingatkan wasit. Tidak ada rasa takut atau amarah di mata Velix; yang ada hanyalah kalkulasi taktis.

Melihat Velix yang menjadi korban justru bersikap sedingin es, emosi Danu dan anak-anak Merah Marun lainnya mendadak padam. Mereka merasa segan. Pemain lawan nomor 6 itu pun memandang Velix dengan tatapan aneh—dia berharap anak nomor 11 ini akan mengamuk, tetapi ketenangan Velix justru memberikan tekanan psikologis yang jauh lebih menakutkan.

Wasit akhirnya merogoh saku dan memberikan kartu kuning kepada pemain lawan. Tim Velix mendapatkan hadiah tendangan bebas di sepertiga area pertahanan SMP 14.

[Misi Sampingan Tiba-tiba Terdeteksi!]

[Eksekusi Tendangan Bebas: Cetak gol langsung melalui skema tendangan bebas ini.]

[Kalkulasi Jarak: 28 Meter dari gawang.]

[Hadiah: 10 System Points (SP), +1.0 Tembakan (Shooting).]

[Penalti Gagal: Tidak ada.]

Mata Velix langsung melebar melihat notifikasi Sistem. Sepuluh poin! Ditambah peningkatan stat tembakan yang saat ini merupakan kelemahan terbesarnya (hanya 31/100). Jika dia berhasil menambah 10 SP, total poinnya akan menjadi 61 SP—artinya, setelah pertandingan ini selesai, dia akhirnya bisa membeli skill permanen pertamanya di Toko Tier Perunggu!

Sisi pencinta sepak bola di dalam diri Velix mendidih hebat karena antusiasme.

Velix berjalan mendekati titik pelanggaran, mengambil bola, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas rumput. Danu berjalan mendekatinya. "Vel, lu yang ambil? Biasanya Bagas yang ambil tendangan bebas."

Velix menatap Danu, mode seriusnya terkunci rapat. "Biar gua yang ambil, Dan. Gua liat pagar betis mereka punya celah di sisi kanan."

Danu melihat keyakinan yang luar biasa di mata Velix. Dia mengangguk dan mundur, memberikan ruang penuh untuk sang jenderal lapangan tengah.

Velix mundur lima langkah ke belakang, lalu mengambil sudut dua langkah ke kiri—posisi ancang-ancang klasik yang sangat diahafalnya dari video-video maestro tendangan bebas dunia nyata. Dia menarik napas dalam-dalam, mengunci fokusnya 100% pada sudut atas gawang yang dijaga kiper SMP 14.

Kiper lawan mulai berteriak mengatur pagar hidup yang diisi empat pemain bertubuh tinggi. Di mata Velix yang tajam, berkat ketenangan mentalnya, waktu seolah berjalan melambat.

Prreeettt! Wasit meniup peluitnya.

Velix mulai berlari kecil mendekati bola. Kakinya menapak kokoh di samping bola, dan kaki kanannya berayun dengan sentuhan bagian dalam yang bertenaga, memberikan efek putaran dalam (curve) yang tajam.

Plak!

Bola karet berlapis kulit itu melambung indah di udara, melewati bagian atas kepala pagar betis yang melompat, lalu menukik tajam secara dramatis ke sudut kiri atas gawang. Kiper SMP 14 sempat melompat dengan tangan menjulur, namun bola melaju terlalu presisi di pojok mati yang tak terjangkau.

Sret!

Bola merobek jaring gawang dengan telak.

Gol! Skor berbalik menjadi 2-1 untuk keunggulan Tim Merah Marun di penghujung babak pertama!

Stadion Mini Jakarta Timur seketika meledak oleh gemuruh sorakan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Pak Joko sampai melompat dari bench sambil mengepalkan kedua tangannya ke udara.

Di tengah lapangan, Velix hanya mengepalkan tangannya dengan senyuman lebar yang penuh kepuasan. Papan skor digital di benaknya meledak bersama notifikasi yang paling dia nanti-nantikan.

[Misi Sampingan Selesai!]

[Anda mendapatkan: 10 System Points (SP) & +1.0 Tembakan (Shooting).]

[Total SP Anda saat ini: 61 SP. Anda sekarang dapat mengakses Toko Tier Perunggu untuk membeli Skill Permanen!]

Cetak biru masa depannya kini telah mengumpulkan pondasi pertamanya. Pintu menuju kekuatan yang sesungguhnya telah terbuka lebar bagi Velix Purnama.

1
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!