NovelToon NovelToon
Dipaksa Nikah, Suamiku Ternyata Orang Terkaya

Dipaksa Nikah, Suamiku Ternyata Orang Terkaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat
Popularitas:74.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

"""Kamu tidak perlu disukai semua orang. Cukup aku yang menyukaimu.""

Berawal dari sebuah jebakan yang memaksanya bangun di ranjang Arka Surya, hidup Lina Chen seketika berubah 180 derajat. Dari seorang anak ""pembawa sial"" menjadi seorang ratu yang bertatah di kerajaan Surya.

Meski terduduk di kursi roda, pewaris muda konglomerat itu mampu melindungi Lina dari setiap serangan, baik itu dari ibunya yang kejam, mantan tunangan brengsek, hingga musuh-musuh tersembunyi.

Namun, semua itu malah menumbuhkan rasa curiga di hati Lina dan semakin menguat ketika Lina bangun dengan pinggang remuk setelah malam pernikahannya. Bagaimana bisa seseorang yang cacat begitu gesit?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Tidak Sengaja Menelepon Mantan

Jam istirahat, Lina naik ke balkon kecil di belakang gedung sekolah.

Tempat itu biasanya dipakai guru untuk menenangkan diri. Ada beberapa pot tanaman, kursi plastik, dan pemandangan lapangan tempat anak-anak berlari. Hari ini, suara tawa murid terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain.

Pipi Lina masih nyeri. Namun yang lebih sakit adalah pertanyaan murid tadi.

Benar Ibu suka menggoda papa murid?

Ia sudah menghadapi hinaan orang dewasa. Ia bisa membalas Mama Chen, Madam Hong, bahkan Ibu Raka. Tapi ketika seorang anak bertanya dengan polos, Lina merasa seluruh profesinya ditarik ke tanah.

Ponselnya bergetar.

Nomor Madam Hong.

Lina sebenarnya ingin menolak, tetapi jari-jarinya menekan terima.

"Bagaimana hari pertamamu di kelas baru?" suara Madam Hong terdengar puas.

Lina menggenggam pagar balkon. "Jadi itu video Tante."

"Video? Aku hanya membantu orang melihat kebenaran."

"Kebenaran dari mulut pembantu yang dibayar?"

Madam Hong tertawa pelan. "Pembantu sering lebih dipercaya daripada perempuan yang menikahi paman mantan tunangannya."

Darah Lina mendidih. "Tante benar-benar tidak punya batas."

"Aku sudah bilang akan menghancurkan karier dan namamu. Kamu pikir aku bercanda?"

"Saya bisa melaporkan Tante."

"Silakan. Saat proses berjalan, orang tua murid sudah terlanjur takut. Sekolahmu tidak akan menunggu polisi menyelesaikan kasus. Mereka akan memilih aman. Mereka akan menyingkirkanmu."

Lina menutup mata.

Madam Hong tahu titik paling sakitnya.

"Kenzie akan pulang sebentar lagi," lanjut Madam Hong. "Sebelum dia pulang, aku ingin dia melihat kamu sudah hancur. Supaya dia tahu perempuan seperti kamu memang tidak pantas diperjuangkan."

"Kenzie sudah bukan urusan saya."

"Benarkah? Kalau bukan urusanmu, kenapa kamu menangis setelah dia melamarmu nanti?"

Lina mengerutkan dahi. "Apa maksud Tante?"

Madam Hong tertawa. "Tunggu saja. Anak baik seperti Kenzie selalu ingin memperbaiki kesalahan. Sayang, kamu sudah terlalu kotor untuk diperbaiki."

Lina mematikan telepon sebelum dirinya meledak.

Tangannya gemetar. Ia ingin menelepon Arka. Namun layar ponsel masih berada di daftar panggilan terakhir. Jarinya bergerak terlalu cepat, terlalu marah.

Nomor yang terpanggil bukan Arka.

Kenzie.

Lina membeku ketika sadar.

Ia hendak mematikan, tetapi panggilan sudah tersambung.

Yang menjawab bukan Kenzie.

"Halo?" suara perempuan terdengar. "Ini siapa?"

Lina tidak langsung bicara.

Suara itu. Suara yang malam itu memanggil Kenzie dari belakang.

Dewi.

"Halo? Kak Kenzie sedang mandi. Kalau ada pesan, nanti saya sampaikan."

Kak Kenzie sedang mandi.

Kalimat itu seperti jarum kecil yang menusuk sisa-sisa kebodohan Lina. Bukan cemburu. Bukan lagi ingin kembali. Hanya rasa muak pada kenyataan bahwa pria yang dulu membuatnya menunggu kabar berhari-hari kini membiarkan perempuan lain menjawab ponselnya dengan nada seakrab itu.

"Tidak perlu," kata Lina pelan.

"Maaf, ini siapa?"

Lina mematikan panggilan.

Ia menatap layar beberapa detik. Lalu sesuatu di dalam dirinya pecah. Bukan tangis keras. Bukan teriakan. Hanya rasa hampa yang tiba-tiba terlalu luas.

Madam Hong menyerang pekerjaannya.

Anak murid mempertanyakan moralnya.

Kenzie, masa lalu yang pernah ia jadikan pegangan, bahkan tidak ada untuk memberi penutupan yang pantas.

Dan satu-satunya orang yang ingin ia cari adalah Arka.

Kesadaran itu datang begitu jelas sampai Lina hampir takut.

Ia tidak ingin menelepon. Ia ingin melihatnya. Ingin memastikan pria itu nyata, bukan hanya pesan di layar atau suara di telepon. Ingin masuk ke ruangannya dan, untuk sekali saja, tidak perlu menjelaskan dirinya dari awal.

Lina turun dari balkon.

Mega melihatnya di koridor dan langsung berdiri. "Lin, kamu mau ke mana?"

"Aku harus pergi sebentar."

"Sekarang? Kelasmu?"

"Tolong bilang aku izin ke UKS. Aku... aku harus menemui Arka."

Mega menatap wajahnya, lalu tidak bertanya lagi. "Pergi. Aku urus."

Lina mengambil tas dan berjalan cepat keluar gerbang belakang. Sopir Arka tidak ada karena ia memang meminta hari ini berangkat sendiri. Ia membuka aplikasi GoJek dengan tangan gemetar.

Tujuan: kantor kecil Arka.

Alamat itu pernah dikirim Reza sebagai cadangan. Bukan kantor utama Surya Group yang megah, melainkan perusahaan kecil yang Arka pakai untuk mempertahankan persona rendah hati di depan beberapa orang. Lina tidak peduli tempatnya. Ia hanya perlu menemukan Arka.

Motor datang dalam lima menit.

"Bu Lina?" tanya pengemudi.

"Iya."

Ia memakai helm, duduk di belakang, dan membiarkan motor melaju menembus macet BSD menuju Jakarta. Angin memukul pipinya yang masih sakit. Air mata akhirnya jatuh, tetapi tertutup kaca helm.

Di sepanjang jalan, ponselnya terus bergetar. Mega. Bu Mei. Nomor tidak dikenal. Mungkin orang tua murid. Mungkin Madam Hong lagi.

Lina tidak menjawab.

Ia hanya membuka chat Arka.

Aku mau ketemu kamu.

Pesan itu terkirim, tetapi centang belum berubah biru.

Mungkin Arka sedang rapat.

Mungkin ia tidak melihat.

Lina menggenggam ponsel erat.

Di kantor kecil itu, Arka sedang berdiri.

Bukan duduk di kursi roda. Berdiri.

Reza ada di depan meja, membawa laporan video fitnah. Bayu duduk di sofa, wajahnya jarang sekali terlihat seserius itu.

"Akun penyebar pertama dari jaringan Madam Hong," kata Reza. "Tapi video pembantu Chen yang membuat orang tua murid bergerak."

Arka menatap layar besar. Di sana, seorang pembantu perempuan menangis palsu dan menyebut nama Lina.

Wajah Arka gelap.

"Tarik semua data. Siapkan bantahan resmi. Dan cari pembantu itu."

Bayu baru hendak menjawab ketika pintu kantor tiba-tiba terbuka.

Lina berdiri di ambang pintu dengan helm di tangan, mata merah, pipi bengkak, napas berantakan.

Arka masih berdiri.

Reza membeku.

Bayu langsung bereaksi lebih cepat daripada otaknya. Ia melompat dari sofa dan menendang lutut Arka dari samping.

Bruk!

Arka jatuh ke kursi roda yang kebetulan berada dekat meja, wajahnya berubah dari dingin menjadi kaget.

Lina terperangah.

Bayu menahan napas, lalu tersenyum kaku. "Kak Lina! Kebetulan sekali. Pak Arka baru saja... hampir latihan terapi."

Reza menutup mata sebentar.

Sandiwara paling kacau baru saja dimulai.

Lina menatap Arka yang kini duduk miring di kursi roda, lalu menatap Bayu yang wajahnya terlalu polos untuk dipercaya.

"Latihan terapi?" tanyanya.

Bayu mengangguk cepat. "Iya. Terapi jatuh."

Reza berbisik, "Pak Bayu."

"Maksud saya terapi keseimbangan."

Arka menatap Bayu seolah ingin mengirimnya ke pulau terpencil, tetapi ketika ia melihat wajah Lina lagi, semua amarah itu runtuh. Pipi Lina bengkak. Matanya merah. Helm di tangannya bergetar.

"Lina," katanya.

Satu kata itu cukup.

Lina berjalan cepat menghampirinya. Semua pertanyaan tentang kenapa Arka tampak seperti berdiri hilang di bawah beban hari itu. Ia berlutut di depan kursi roda dan memeluk pinggang Arka tanpa meminta izin.

Arka membeku, lalu segera memeluknya.

Tangis Lina pecah. Tidak keras, tetapi dalam. Seperti sesuatu yang ia tahan sejak pagi akhirnya menemukan tempat jatuh.

"Aku capek," katanya terputus-putus. "Aku capek sekali."

Arka menatap Reza dan Bayu. Keduanya langsung keluar tanpa suara.

Di ruangan itu, hanya ada Lina yang menangis dan Arka yang menahannya seolah dunia di luar pintu bisa ia kunci sementara.

"Ceritakan," katanya pelan. "Semua."

Lina menggeleng di dadanya. "Aku tidak tahu mulai dari mana."

"Dari yang paling sakit."

Lina memejamkan mata. "Anak muridku bertanya apakah aku menggoda papa murid."

Tangan Arka di punggungnya berhenti.

Suhu ruangan seperti turun.

Namun suaranya tetap lembut ketika ia bertanya, "Kamu ingin aku melakukan apa?"

Lina mengangkat wajah basah air mata. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak perlu menjadi guru, anak baik, atau perempuan kuat. Ia hanya menjadi Lina.

Dan Arka menunggu jawabannya.

1
sitanggang
bener2 gak jelas jalan cerita yg sangat buruk
sitanggang
jalan ceritanya AMBIGU 🙄
sitanggang
hadeuhhhhh kok bisa bodoh bgt keterusan bodohnya kina ini🤣🤣🤣🤣
sitanggang
lagi2 kek kebo🤣
sitanggang
terlalu lemah dan mudah dikendalikan org lain ... kek kebo dungu dicucuk hidungnya🤣🤣🤣🤣🤣
sitanggang
kukira MC pintar , tegas. masalah madam Hong saja gak kelar2, gak lucu🤣🤣
sitanggang
Lina terlalu lemah, bodoh lagi cupu sok jual mahal, mudah ditindas tak tau terima kasih
Wirda Wati
😂😂😂😂😂
Wirda Wati
lucu. kamu Reza .nyawa juga penting 🤣🤣🤣🤣
Wirda Wati
lanjuuut
Wirda Wati
untung dpt suami yg baik dan pengertian
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂
ceritamu kereeen thort
Wirda Wati
kereeeen❤️
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣❤️👍
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤭
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂😂
Wirda Wati
❤️
Wirda Wati
Maya dan Roja sama gilanya 😂
Wirda Wati
Kereeen lina👍
Biar Maya belajar dari kesalahannya.
Wirda Wati
Dasar mata ngga tau malu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!