BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinju Pertama Setelah Kembali
Panas matahari siang itu terasa membakar kulit, memantulkan kilau silau di atas lantai semen lapangan basket terbuka SMA Mahardika High School. Bunyi gesekan sepatu kets dan pantulan bola jingga yang menghantam lantai dug, dug, dug bergaung memecah udara yang kering. Biasanya, lapangan ini menjadi tempat paling riuh di mana para siswa melepaskan penat, berteriak mendukung tim kelas mereka, atau sekadar tebar pesona. Namun siang ini, keriuhan itu memiliki nada yang sangat berbeda. Ada ketegangan yang merayap di pinggir lapangan, sebuah keheningan canggung yang selalu tercipta ke mana pun sosok tertentu melangkah.
Rayyan berdiri di dekat garis tiga angka. Kedua tangannya memegang sebiji bola basket yang permukaannya sudah agak aus. Ia hanya ingin merasakan kembali berat bola itu di tangannya, merasakan tekstur kasarnya, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih menjadi bagian dari dunia yang nyata ini. Ia ingin melarikan diri sejenak dari pengapnya ruang kelas dan tatapan-tatapan menghindar dari teman-temannya yang sejak pagi memperlakukannya seperti seonggok udara kosong.
Namun, pelarian itu tampaknya tidak akan berjalan mudah. Di sekeliling lapangan, puluhan siswa yang sedang duduk di tribun semen tidak lagi fokus pada permainan yang sedang berlangsung. Mata mereka bergerak tidak nyaman, melirik ke arah Rayyan, lalu saling berbisik di balik telapak tangan. Desas-desus tentang arwah yang belum sadar dirinya mati yang disebarkan oleh akun anonim di forum angkatan telah meracuni pikiran mereka sepenuhnya.
Dari arah koridor penghubung, langkah kaki yang santai namun sarat akan keangkuhan terdengar mendekat. Kerumunan siswa di pinggir lapangan otomatis terbelah, memberikan jalan bagi Dion yang berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Di belakangnya, dua orang pengikut setianya mengekor dengan senyuman sinis yang sudah sangat familier.
Dion menghentikan langkahnya tepat di batas garis tepi lapangan. Sepasang matanya yang sipit dan dingin menatap lurus ke arah Rayyan yang sedang bersiap melempar bola ke arah ring. Sudut bibir Dion terangkat, membentuk sebuah senyuman meremehkan yang sarat akan provokasi. Ia sengaja mengeraskan volume suaranya agar bisa didengar oleh seluruh orang yang ada di area terbuka tersebut.
"Eh, hantu bisa main basket juga?" ejek Dion dengan nada suara yang sarkastis dan memotong keheningan lapangan.
Kalimat itu meluncur seperti anak panah yang beracun. Seketika itu juga, permainan basket di tengah lapangan terhenti. Bola yang tadinya melambung kini menggelinding liar tanpa ada yang memedulikan.
Mendengar ejekan yang begitu terang-terangan, beberapa siswa yang duduk di tribun secara refleks melepaskan tawa renyah. Tawa yang sebagian besar lahir dari rasa canggung, rasa takut untuk tidak ikut serta dalam lelucon sang penguasa opini kelas, atau mungkin karena mereka benar-benar menganggap ejekan Dion sebagai sebuah hiburan yang aman di tengah ketakutan mistis mereka. Tawa-tawa kecil itu menyebar cepat, menciptakan dengung yang menyakitkan di telinga.
Rayyan membeku di tempatnya berdiri. Bola basket di tangannya diremas dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia memejamkan matanya rapat-rapat selama satu detik, mencoba meredakan denyutan menyakitkan yang mendadak kembali menghantam bagian belakang kepalanya. Ia mendengar tawa itu. Ia merasakan hinaan itu. Namun, Rayyan memilih untuk diam.
Ia menurunkan bola basketnya perlahan, membiarkan tubuhnya tetap tegap membelakangi Dion. Rayyan tahu betul, menjelaskan kebenaran bahwa dirinya masih hidup dan memiliki darah yang mengalir panas kepada orang-orang yang sudah dibutakan oleh rumor sampah adalah hal yang sia-sia. Di mata mereka, setiap pembelaan yang ia ucapkan hanya akan dianggap sebagai bentuk penyangkalan dari sesosok arwah penasaran. Jadi, ia memilih menelan bulat-bulat rasa perih itu sendirian.
Melihat Rayyan yang hanya diam menunduk, Dion merasa berada di atas angin. Ia maju dua langkah ke dalam lapangan, siap melayangkan rentetan kalimat provokatif berikutnya untuk semakin menjatuhkan mental remaja di depannya.
Namun, Dion tidak pernah mendapatkan kesempatan itu.
Suara langkah kaki yang teramat sangat cepat dan berat mendadak terdengar dari arah pintu masuk lapangan. Sebuah aura intimidasi yang luar biasa pekat dan berbahaya tiba-tiba merangsek masuk, menyapu bersih sisa-sisa tawa ejekan yang tadi sempat menggema di tribun. Udara siang yang terik mendadak terasa mencekam, persis seperti detik-detik sebelum badai besar meruntuhkan langit.
Itu Revan.
Remaja jangkung itu berjalan dengan langkah-langkah lebar yang mematikan. Wajahnya tampak sangat gelap, dengan rahang yang mengeras begitu rapat hingga urat-urat di sekitar pelipisnya menonjol tajam. Sepasang matanya yang hitam legam menyalang begitu mengerikan, terkunci lurus tanpa berkedip sedikit pun pada satu target: wajah Dion. Amarah yang sejak di halaman belakang tadi membakar dadanya kini telah mencapai titik didih yang siap meledak.
Tanpa banyak bicara, tanpa memberikan peringatan verbal, dan tanpa menghentikan kecepatan langkah kakinya sama sekali, Revan langsung menerobos jarak di antara mereka.
Bug!
Suara hantaman keras yang teramat sangat brutal bergaung nyaring ke seluruh penjuru lapangan basket. Pukulan tangan kanan Revan yang terkepal kuat melayang cepat di udara, mendarat dengan akurasi yang mematikan tepat di atas rahang kiri Dion. Kekuatan dari tinju yang didorong oleh kemarahan murni itu begitu dahsyat.
Seluruh lapangan basket langsung gempar seketika. Pekikan kaget dari beberapa siswi di tribun memecah keheningan, disusul oleh suara riuh rendah dari para siswa yang melompat berdiri dari tempat duduk mereka karena tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Tubuh Dion terlempar ke samping akibat efek kejut dari pukulan tersebut. Ia kehilangan keseimbangan sepenuhnya dan jatuh terduduk di atas lantai semen lapangan basket yang keras dengan bunyi berdebam yang cukup ngilu. Ponsel yang tadi sempat dipegang oleh salah satu temannya di belakang bahkan hampir saja terlepas karena keterkejutan yang luar biasa.
Dion terengah-engah, memegangi rahang kirinya yang kini terasa sangat kebas dan berdenyut menyakitkan. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan setitik darah segar yang langsung ia seka dengan punggung tangannya yang gemetar. Ia menatap ke atas dengan pandangan yang dipenuhi oleh campuran antara rasa sakit yang luar biasa, keterkejutan yang teramat sangat, dan syok murni. Ia tidak pernah menyangka, sama sekali tidak pernah menduga bahwa pukulan fisik ini akan datang dari orang yang paling tidak mungkin melakukannya.
Revan berdiri menjulang tepat di depan Dion yang masih terduduk tak berdaya di atas lantai semen. Napas sang preman sekolah itu memburu dengan ritme yang tidak beraturan, dadanya naik turun dengan cepat, dan kepalan tangan kanannya masih bergetar hebat menahan sisa-sisa adrenaline yang bergolak. Buku-buku jarinya tampak memerah, menjadi bukti nyata dari kerasnya hantaman yang baru saja ia layangkan.
Revan menatap tajam ke arah Dion. Tatapan matanya begitu dingin, menusuk, dan sarat akan ancaman mematikan yang bisa membuat siapa pun menciut seketika.
"Mulut lu dijaga," ucap Revan. Suaranya terdengar sangat rendah, parau, namun memiliki resonansi yang begitu menekan hingga mampu membungkam setiap bisik-bisik yang ada di sekeliling lapangan.
Kevin yang baru saja tiba di tepi lapangan setelah mengejar Revan dari halaman belakang langsung menghentikan langkahnya dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia menatap Revan, lalu menatap Dion, dan akhirnya menatap Rayyan dengan pandangan yang benar-benar bingung. Di sudut tribun, Chelsea menutupi mulutnya dengan kedua tangan, sementara Naomi hanya bisa membelalakkan matanya tidak percaya.
Momen itu seketika tercatat sebagai anomali terbesar dalam sejarah SMA Mahardika High School.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun masa sekolah mereka... Revan Sanjaya membela Rayyan di depan semua orang. Cowok yang selama ini dikenal sebagai musuh bebuyutan Rayyan, orang yang selalu mencari perkara dan merundung Rayyan hingga babak belur, kini justru menjadi orang pertama yang melayangkan tinjunya demi melindungi Rayyan dari hinaan orang lain.
Revan tidak memedulikan tatapan shock dari ratusan pasang mata yang kini mengarah padanya. Ia tidak peduli jika besok ia harus kembali berhadapan dengan Pak Herman di ruang kepala sekolah atau menerima surat skorsing berikutnya. Baginya, kehangatan nadi yang ia rasakan di leher Rayyan tiga hari lalu adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak boleh dipertanyakan atau dijadikan bahan lelucon oleh siapapun di sekolah ini. Rayyan bukan hantu. Rayyan nyata. Dan siapa saja yang berani memperlakukannya seperti makhluk mati, harus bersiap menghadapi kepalan tangannya terlebih dahulu.
Rayyan sendiri masih berdiri terpaku di posisinya, beberapa meter di belakang Revan. Bola basket di tangannya perlahan terlepas, membalul pelan di atas semen sebelum akhirnya berhenti. Ia menatap punggung lebar Revan yang berdiri kokoh melindunginya dengan perasaan yang teramat sangat campur aduk sebuah kebingungan baru yang jauh lebih besar kini mulai merayap di dalam dadanya, melihat sang musuh bebuyutan yang kini menjelma menjadi perisai pertamanya setelah kembali dari kegelapan kematian.