NovelToon NovelToon
Untuk Kehidupan Kedua Kami

Untuk Kehidupan Kedua Kami

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Fantasi / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: sila

Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.

Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.

Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.

secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

"Luis?"

nada ragu-ragu itu membuat si pria membuka tudung jubahnya hingga tampaklah wajah tampan dengan ekspresi datar dan dinginnya.

Caily tersentak pelan, ia tidak mengenali siapapun didunia ini yang memiliki wajah setampan dia.

Gadis itu tidak mendekat, ia mundur menjaga jarak dengan waspada dan berhati-hati.

"Siapa?"

Pertanyaannya diabaikan, pria itu hanya diam dengan tatapannya yang lurus pada wajah cantik Caily yang waspada.

"Kenapa kau bisa memasuki gunung ini?" Caily kembali bertanya.

Pria itu bergeming, lalu perlahan mengangkat tangannya kearah puncak gunung, menunjuk kearah bangunan tunggal yang berdiri kokoh disana.

Caily memahaminya, hanya saja ia masih waspada terhadap keberadaannya, ia diam-diam memerintah semua kuda-kudanya agar segera naik gunung lebih dulu.

"Ada perlu apa?"

"Ingin bertemu Thalgor."

Nama yang baru saja disebutkan oleh pria itu membuat Caily mengernyitkan dahinya, ia tidak pernah mendengar nama seperti itu.

"Kau tidak tahu nama gurumu?"

Celetukan pria itu membuat Caily membelalakkan matanya, benar, ia tidak tahu siapa nama orang yang telah merawat dan kini menjadi gurunya.

"Thalgor?" Gumam Caily seolah ingin mengkonfirmasi nya.

Pria itu mengangguk. "Ya, aku ingin bertemu Thalgor."

Dan setelah verivikasi dua langkah itu, Caily menatap pria itu dengan mata melotot, ia merasa ada yang salah dari kata-katanya.

"kamu siapa? kenapa kau membuat ini terdengar akrab? kau bahkan langsung menyebut namanya."

Cerocos Caily yang membuat pria itu mendengus pelan.

"Thalgor ada disini?" Tanyanya mengabaikan pertanyaan Caily.

Caily menyilangkan tangannya dengan wajah sinis.

"Katakan padaku, siapa kau?" Ia masih kekeh ingin tahu siapa dia dan mengapa dia begitu lancang menyebut nama gurunya secara gamblang bahkan tanpa embel-embel tuan atau apapun itu.

"Maxbarent." Singkat pria itu menyebut namanya sendiri.

Caily memutar bola matanya sambil mendengus pelan.

"Maksudku, kau punya hubungan apa dengan guruku sampai kau berani memanggil namanya secara langsung?"

Sejenak Caily merasa canggung dengan kata 'punya hubungan apa dengan guruku' tapi ia tak tahu dimana letak keanehan nya.

"Kau masih kecil, dijelaskan sekalipun kau mungkin tidak akan mengerti."

Balasan Max membuat Caily kesal, gadis itu mengangkat tangannya dan mengacungkan jari tengah pada Max, tapi tentu saja Max tidak mengerti jadi dia mengabaikan hal itu.

Namun karena ia juga merasa penasaran, akhirnya ia mempersilakan Max mengikutinya ke puncak.

"Guru mungkin akan pulang telat, kau tunggu saja dirumah."

Katanya dengan ketus.

Max hanya diam sambil mengikuti langkah kaki Caily yang menurutnya terlalu lambat.

"Kau lambat sekali, tidak makan berapa tahun?"

Komentar Max membuat Caily semakin merasa jengkel padanya, gadis itu berbalik dan menginjak kakinya dengan keras.

"Kau cerewet sekali."

Lalu pergi begitu saja, ia dengan sengaja mengambil langkah lebar dan panjang, menurutnya sendiri.

Max? Pria itu hanya mengangkat bahunya lalu kembali mengikuti langkah Caily tanpa tenaga lebih.

Dan Caily semakin merasa kesal karena langkah kaki Max ternyata lebih panjang darinya, kini Max bahkan sudah berada tepat disampingnya seolah semua usahanya mengkhianatinya.

.

.

.

Disisi lain, Rosetta menginjakkan kakinya dilantai Istana setelah beberapa Minggu tidak pernah pulang ketempat mewah itu.

Dan tetap saja, tidak ada pelayan atau prajurit yang menyambut kedatangannya, dan ia tidak berharap sedikitpun.

Namun saat ia melewati lorong panjang istana, ia berpapasan dengan Emyna Ress, bangsawan yang dijodohkan dengan Chalios.

Gadis itu membungkuk dan memberikan salam pada Rosetta.

"Putri, ini pertama kalinya anda pulang setelah berminggu-minggu tinggal di asrama akademi."

Nadanya formal, tidak sama saat ia diakademi, ia menjalankan tugasnya sebagai seorang gadis bangsawan dengan baik, etiket nya sempurna.

Rosetta tersenyum tipis. "Ada sesuatu yang ingin aku ambil."

Emyna Memiringkan kepalanya dan memandang dengan tatapan minat.

"Apakah itu gaun? uang atau ingin memastikan sesuatu?"

Kata-kata terakhirnya yang diucapkan dengan nada lembut membuat Rosetta tersentak pelan, ia tahu Emyna sedikit berbeda, gadis yang tidak gegabah.

"Yah... semuanya benar." Ungkap Rosetta dengan helaan napas pelan.

"Omong-omong, nona tampaknya tahu banyak, ya?" Katanya dengan sedikit candaan.

Dan Emyna hanya menyeringai sekilas, tangannya terangkat menuju ujung lorong yang gelap karena terlalu panjang.

"Nona Alisa berada ditaman, pesta teh bersama yang mulia Ratu."

Tetapi Rosetta hanya menganggukkan kepalanya, ia sudah tahu.

"Tapi sepertinya ada yang salah dari hari ke hari, yang mulia Ratu, ujung kukunya menggelap dan terkadang tidak fokus."

Emyna hanya menjelaskan apa yang dirinya lihat, namun bagi Rosetta, tidak ada yang tidak sederhana dari setiap kata-kata dan tingkah lakunya.

Emyna pasti mengetahui sesuatu, dan sebenarnya Rosetta pulang bukan semata-mata ingin mengambil gaunnya untuk dijual atau koin emas untuk kebutuhan hidupnya, ia juga ingin mencari tahu kondisi istana, buku ramalan miliknya menunjukkan adanya beberapa keanehan disaat nama Alisa tertulis dalam plot.

Tapi karena buku ramalan tidak menulis plot lagi, ia harus mencari tahu sendiri secara langsung.

"Putri, saya pamit undur diri." Emyna membungkuk lalu melangkah pergi.

Rosetta memandang punggungnya sejenak lalu mengangguk.

Ia kembali melanjutkan langkah kakinya, menelusuri lorong-lorong istana yang panjang hingga pemandangan terang benderang dari taman membuatnya menoleh sejenak, mendapati Alisa Dan yang mulia Ratu tengah duduk sambil mengobrol.

Ditengah meja, tersaji banyak kudapan dan teh mahal.

Keduanya mengobrol dengan riang, bahkan tampaknya yang mulia Ratu menyukainya dan mungkin tanpa pikir panjang akan menjadikannya menantu, entah menggantikan posisi Vione atau menjadikan Vione yang kedua mengingat latar belakang dan prestasi Vione, akan sangat merugikan jika gadis itu dibuang begitu saja.

Dan Rosetta menempatkan diri pada tebakan kedua, sebelum ia melanjutkan langkah kakinya, ia sempat melirik kearah tangan yang mulia Ratu, tepatnya pada ujung jari-jarinya.

Bukan hitam pekat seperti arang karena sudah pasti akan sangat mencolok, ia yakin warna hitam pudar diujung jari Ratu adalah sesuatu yang berkaitan dengan Alisa, tepatnya pada asap hitam yang disebut-sebut sebagai tuan, yang sempat ditulis oleh buku ramalannya.

Tapi ia tidak bisa mencari apapun sesuatu yang janggal, ia tidak bisa melakukan satu langkah pertama tanpa potongan ramalan, ia tidak ingin mengambil resiko bahkan jika dia adalah Ratu, ibu kandung dari tubuh yang ia tempati saat ini.

Akhirnya ia hanya pergi ke kamarnya, mengambil beberapa gaun mahal dan perhiasan serta koin emas miliknya 'yang dicuri dari gudang istana' lalu kembali ke akademi.

Emyna, yang ternyata masih berada digerbang istana hanya tersenyum tipis saat melihat kepergian Rosetta.

Namun sebelum kusir menarik tali kekang kudanya, suara familiar mendekatinya.

Itu Chalios, tunangan politiknya.

"No-"

"Sebaiknya pangeran jangan terlalu santai, aku menyarankan, periksa kesehatan yang mulia Ratu lebih sering."

Lalu menyuruh kusir segera menjalankan kereta kuda.

Kepergiannya membuat banyak pertanyaan muncul dibenak Chalios, sampai saat ini ia masih tidak tahu tentang gadis itu, ia masih tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan, masih tidak bisa menebak jalan pikirannya.

1
Dewiendahsetiowati
kapan ketahuan belangnya si biang kerok Alisa
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah untuk salah satu MC nya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dia Fitri
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!