Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Mis Selesai
Seluruh pengunjung restoran langsung bertepuk tangan riuh. Sang Manajer bernapas lega sambil mengelus dadanya.
Ting!
[Misi Berhasil!]
[Selamat Anda mendapatkan 500.000.000]
[Selamat Anda mendapatkan 5000 poin]
[Selamat Anda mendapatkan sebuah rumah mewah]
[Saldo 617.000.000]
[Insting penyembuhan:11%]
[Pendeteksi penyakit:11%]
[Kecerdasan:11%]
[Keberanian:11%]
[Keterampilan Tindakan:11%]
[Pengendali Energi:11%]
[Pengetahuan ramuan/obat-obatan:11%]
[Ketahan Mental:11%]
[Poin:11.000]
[Level 6]
Layar transparan berwarna emas berbinar di depan mata Arka.
Melihat tulisan itu, Arka mengembuskan napas panjang penuh kelegaannya. "Syukurlah, aku saat rumah, tidak perlu aku ngontrak lagi!" batinnya bersorak girang.
Pak Hartawan yang dibantu duduk oleh putrinya menatap Arka dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang mendalam.
"Anak muda..." panggil Pak Hartawan dengan suara serak. "Kamu... kamu yang sudah menyelamatkan nyawa tua saya ini?"
Arka tersenyum ramah sambil menepuk-nepuk tangannya yang berdebu. "Iya, Pak. Untung tadi responnya cepat. Lain kali, kurangi makan makanan yang berlemak tinggi ya, Pak. Sayangi jantungnya, uang banyak kalau nggak sehat kan kagak bisa dinikmati."
Putri Pak Hartawan menyapu air matanya, lalu menatap Arka penuh penyesalan. "Mas... maafin saya ya tadi sempat bentak-bentak dan meragukan Mas. Terima kasih banyak... kalau nggak ada Mas, saya nggak tahu Papi bakal gimana."
"Nggak apa-apa, Mbak. Namanya juga panik, saya paham kok," balas Arka santai.
Pak Hartawan memegang tangan Arka dengan erat. "Nama saya Hartawan. Dan ini putri saya, Clara. Boleh saya tahu nama pahlawan saya ini?"
"Saya Arka, Pak."
"Arka..." Pak Hartawan mengangguk-angguk. Ia kemudian menoleh pada sekretaris pribadinya yang baru saja berlari masuk ke restoran. "Beri kartu nama khusus saya pada Arka."
Sekretaris itu dengan sigap menyerahkan sebuah kartu nama berlapis plat perak eksklusif kepada Arka.
"Nak Arka," ujar Pak Hartawan tegas namun hangat. "Nyawa saya tidak bisa dinilai dengan uang. Mulai hari ini, kamu adalah tamu kehormatan di seluruh lini bisnis Grup Nusantara. Jika kamu butuh bantuan apa pun di kota ini, cukup sebut nama saya."
Arka menerima kartu nama itu. "Wah, terima kasih banyak Pak Hartawan. Tapi yang penting Bapak sehat dulu deh sekarang. Itu ambulansnya kayaknya udah sampai di luar."
Dua orang petugas medis masuk membawa tandu emergency. Pak Hartawan perlahan dibimbing untuk berbaring di atas tandu.
Sebelum dibawa keluar, Clara, putri Pak Hartawan, menoleh ke arah Arka, memberikan senyuman manis. "Mas Arka, boleh saya minta nomor teleponnya? Saya mau minta izin buat traktir Mas Arka makan secara pribadi sebagai rasa terima kasih keluarga kami."
Arka terkekeh pelan. "Boleh, Mbak. Tapi janji ya, tempat makannya jangan yang banyak lemaknya lagi."
Clara tertawa kecil. "Pasti, Mas. Ditunggu ya!"
Setelah rombongan medis dan Pak Hartawan pergi, suasana restoran kembali tenang. Arka melirik ke arah sudut meja tempat Rendi duduk.
Rendi tampak menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mulut melongo lebar, tak percaya bahwa pemuda kasual yang dulu sering ia ejek baru saja menyelamatkan salah satu orang terkaya di negara ini.
Arka mengedipkan sebelah matanya ke arah Rendi, lalu berjalan santai keluar menuju supercar-nya dengan siulan kecil.
"Selamat dari serangan jantung, selamat dari Pajak Global, dapet bonus lima ratus juta, plus dapet kontak anak konglomerat," gumam Arka sambil masuk ke dalam mobilnya. "Sistem, kayaknya gue mulai suka sama aturan main lo."