NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Dianggap

Istri Yang Tak Dianggap

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Patahhati / Perjodohan / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:775.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Darmaiyah

Istri yang Tak Dianggap

Sinopsis

Azkia gadis berlesung pipi, gadis penyuka warna abu-abu itu tidak bisa menolak, saat lelaki yang dipanggilnya ayah itu menjodohkannya dengan anak sahabatnya.

Lelaki bernama Herman mendatanginya dua hari sebelum pernikahannya digelar, dia meminta kepada Azkia, agar membatalkan perjodohan ini, Azkia yang ingin berbakti pada ayahnya, dan tidak ingin membuat malu keluarganya, tentu saja menolak keinginan Herman, Herman sangat kecewa dengan penolakan itu, dia pun akhirnya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya.

Anjeli gadis cantik, pacar Herman sekaligus sahabat Azkia, dia mendatangi Azkia, Anjeli sangat marah padanya, karena menganggapnya telah menjadi pengkhianat, di saat Anjeli menampar dan memakinya, Herman yang sudah sah menjadi suaminya, malah memaki dan menyalahkannya. Azkia hanya diam tertunduk atas tuduhan-tuduhan yang dihujatkan padanya. Anjeli bahkan mengacamnya, tidak akan membiarkannya hidup bahagia.

Bagaimana kehidupan Azkia selanjutnya
Ayo, kepoi di sini
Selamat membaca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmaiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan Untuk Riyan

"Maafkan aku, aku pergi darimu bukan karena aku tak setia, tapi aku lelah terlalu lama memantaskan diri berada di sisimu, aku menyerah, aku tak mampu lagi"

By Rajuk Rindu

💝💝💝💝

"Yuk kita makan, ntar keburu dingin." ujar Dev seraya membuka box nasi yang dibawanya.

"Hemmm, aromanya enak sekali." ujar Azkia, aroma ikan bakarnya sangat menggoda.

Dev sengaja tadi singgah ke cafe teras kayu, di sana banyak pilihan ikan bakar, dari ikan nila sampai ikan kakap, menunya pun beraneka ragam.

"Bisa hancur program dietku." ujar Kia lagi, sambil mencomot ikan bakar kesukaannya. Dev hanya tersenyum mendengar celotehan Azkia.

"Ihhhh, cuci tangan dulu." ujar Dev mengingatkan, Azkia emang suka lupa cuci tangan, kalau lihat makanan dah di depan mata.

"Tanganku masih bersih tahu." ujar Kia mengangkat telapak tangan kanannya mengarahkan ke Dev.

Melihat gaya Azkia begitu, mengingatkannya pada masa Azkia masih jadi kekasihnya, saking sukanya makan ikan bakar, setiap kali makan dia tidak akan pernah menyisakannya.

Dengan asiknya Azkia menyuap nasinya, hingga tak sadar kalau dari tadi Dev memperhatikannya. Azkia masih seperti dulu. Selalu ceria walaupun bias matanya tersirat luka.

"Ayuk, nasinya disuap, bukan dipandangi." ujar Azkia membuyarkan lamunan Dev.

Dev yang merasa kepergok menatap Azkia menjadi kikuk, dia pun melanjutkan aktifitas makannya, suasana menjadi kaku, mereka hanya saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan, sampai mereka menyelesaikan makan siangnya, Azkia berdiri menuju kamar mandi, kemudian mencuci tangannya.

Baru saja Azkia keluar dari kamar mandi, Naya datang tergesa-gesa.

"Ibu, tuan Riyan..." ujar Naya terputus-putus dengan wajah tegang dan pucat.

"Ada apa Naya?" tanya Azkia, sementara Dev masuk ke kamar mandi membersihkan tangannya.

"Anu bu, tuan Riyan.." Naya mengambil remote televisi dan menyalakannya.

Deg... detak jantung Azkia seakan berhenti seketika, saat mendengar berita di televisi, kalau pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak dengan nomor penerbangan SJ 182 yang ditumpangi Riyan terjatuh, setelah empat menit lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pukul 14.00 WIB.

"Riyan! Riyan!" Azkia berteriak histeris.

"Riyan! Riyan! hiks..hiks..hiks." Azkia terduduk lemas, Riyan, om Hadi dan istrinya juga ada di dalam pesawat itu.

Mendengar teriakan Azkia, Dev bergegas ke luar dari kamar mandi, dia merengkuh tubuh Azkia yang lembung ke lantai.

"Riyan bang, Riyan, hiks..hiks..hiks." Azkia menangis kencang hingga tubuh tergoncang hebat.

"Kamu yang sabar ya." kata Dev menarik tubuh Azkia dalam pelukannya, di biarkannya Azkia menumpahkan tangisannya.

****

Hari ini Arta sudah boleh pulang ke rumah, dan Herman juga mengizin Anjeli pulang ke rumahnya, dia berharap di hari-hari terakhir Anjeli bisa di habis dengan bahagia bersama putrinya.

"Arta sudah boleh pulang ke rumah, tapi ingat harus banyak rehat." kata dokter berpesan sebelum mereka meninggalkan ruang rawat, Arta hanya mengangguk.

Mereka keluar dari ruang rawat setelah membayar seluruh adminstrasi rumah sakit, dan mengucapkan terima kasih pada suster jaga.

Sambil mendorong kursi roda Arta, Wati memperhatikan gerak gerik wanita yang bernama Anjeli itu, semakin ke sini, dia semakin manja, Wati semakin muak melihatnya.

"Apa iya, dia betulan sakit, sepertinya biasa-biasa saja." batin Wati, yang menurutnya kalau Anjeli hanya pura-pura sakit untuk menarik simpati pak Herman.

"Apa nyonya Anjeli akan pulang ke rumah kita pak?" tanya Wati saat melihat Herman membukakan pintu depan untuk Anjeli.

"Iya, Anjelikan lagi sakit, tidak mungkin dia sendirian di rumah." ujar Herman menutup pintu mobil, kemudian memutar membuka pintu mobil dan masuk, duduk di depan stir, sementara Wati dan Arta duduk di bangku belakang.

Mobil pun meluncur meninggalkan rumah sakit, Arta yang masih terlihat lemah bersandar di bahu Wati. Dan Anjeli sesekali terdengar batuk manjanya.

"Dasar perempuan gatal." maki Wati dia meresa geram, saat melihat Herman menyudurkan dua helai tissu.

Tiga puluh menit kemudian mereka pun sampai, Herman berhenti sebentar, turun dan membuka pagar, kemudian naik lagi ke mobil, membawa mobil masuk dan memarkir di depan rumah.

Herman turun, membuka pintu mobil untuk Anjeli, baru pintu untuk Arta, Arta berlari turun dari mobil.

"Assalamualaikum, bunda! Arta pulang." teriaknya sambil menggedor-gedor pintu.

"Bunda! bunda!" serunya lagi.

"Mungkin bunda lagi di kantor sayang." ujar Herman seraya memasukkan anak kunci pintu.

Klik...

Pintu terbuka, Wati segera membawa Arta ke kamarnya, dengan ekor matanya Wati memperhatikan Anjeli yang bergelayut manja di lengan Herman.

"Sekarang, kamu istirahat ya." kata Wati menurunkan Arta dari gendongannya,meletakkan di atas kasur. Kemudian Wati keluar terus ke dapur menghidupkan kompor gas, memasak bubur untuk Arta.

Herman mengantar Anjeli ke kamar tamu, kemudian masuk ke kamar Azkia. Matanya membuat saat melihat ada selembar kertas berisikan coretan tangan Azkia.

Dear Herman.

Maafkan aku bang, aku pergi darimu bukan karena tak setia, tapi aku lelah terlalu lama memantaskan diri berada di sisimu, aku menyerah, aku tak mampu lagi.

Anjeli telah kembali, dia wanita yang abang cinta dan harapkan selama ini dan hanya dia yang bisa pantas berada di samping abang. Biarkan aku pergi agar tak ada duri lagi di antara abang dan Anjeli.

Bye Azkia

Harman meremas lembaran kertas itu, kemudian melemparkannya ke sudut kamar dengan kasar, dia duduk di tepi ranjang yang biasa digunakan Azkia untuk istitahat siang, karena malamnya Azkia tidur di kamar Arta.

"Kia, maafkan aku." batin Herman seraya meremas-remas kepala. Kemudian dia bangkit dan bergegas keluar, Herman meraih jaket, kunci motor dan hlem.

"Abang mau ke mana?" tanya Anjeli saat melihat Herman mengambil kunci motor yang tergantung.

"Aku ingin mencari Azkia." kata Herman.

"Ta-tapi bang... uhukkk...uhukkkk." Abjeli batuk-batuk seraya memegang kepalanya. Wati bergerak cepat mendekati Anjeli.

"Bapak pergilah cari ibu Azkia, biar nyonya Anjeli saya yang jaga." kata Wati, seraya menopangn tubuh Anjeli dengan ke dua lengannya.

"Terima kasih ya, Wati." ujar Herman keluar rumah, masuk garasi, naik ke atas motor dan meluncur meninggalkan rumah.

"Semoga ibu Azkia segera ditemukan dan pulang." batin Wati sambil menjauh dari Anjeli, dengan cepat Anjeli berdiri dengan sempurna, jika tidak dia pasti terjerembab ke lantai.

"Sial." umpat Anjeli dalam hati, dia merasa kesal dengan Wati, sementara Wati senyum-senyum karena bisa mengerjai Anjeli.

Herman sampai ke butik Kayra disambut oleh Narira.

"Ibu Kayra ada di dalam pak." ujar Narira mempersilahkan masuk.

"Herman! dasar kau lelaki jahat! sudah kau apa sahabatku Azkia! hah." maki Kayra saat Herman muncul di depan pintu ruangannya.

Herman terkejut dengan nada tinggi suara Kayra, dia yang merasa tidak melakukan apa-apa jadi bertanya-tanya.

"Apa yang sudah dikatakan Azkia padamu?" tanya Herman.

"Dia tidak bicara apa-apa, tapi tangisannya membuktikan kalau dia begitu terluka, dan semua itu karena ulahmu." ujar Kayra menatap tajam pada Herman.

Herman tertunduk, dia menarik napas dalam, kemudian mengusap wajahnya berkali-kali.

"Katakan padaku, di mana Azkia sekarang, aku ingin minta maaf." Herman menangkupkan kedua tangannya di dada.

"Jadi Azkia sudah meninggalkanmu?"

"Iya." ujar Herman mengangguk, seketika matanya berkaca-kaca.

"Kay, apa kau tahu di mana dia?" Kayra menggelengkan kepalanya.

"Bodoh! aku memang bodoh!" ujar Herman sembari memukul-mukul kepalanya dengan kasar.

"Harman!" teriak Kayra, namun Herman tak mendengarkannya.

"Plakkk." Kayra memberikan tamparan di pipi Herman, hingga membuatnya sadar.

"Tampar! tampar aku lagi! aku memang pantas mendapatkannya, hiks..hiks..hik." Herman menangis, hingga tubuh melorot ke lantai.

"Maafkan aku." ujar Kayra seraya memegang ke dua tangan Herman, dia tidak bermaksud menyakiti Herman.

"Emosi tidak akan menyelesaikan masalah, berpikirlah dengan kepala dingin." kata Kayra memberikan sebotol air mineral, berusaha membuat Herman tenang.

Herman menenggak air yang diberikan Kayra, setelah agak tenang, Kayra mengajaknya duduk di sofa, Herman pun menceritakan semua kehidupannya selama tujuh tahun bersama Azkia.

"Azkia memang betul-betul wanita yang sabar bang, sanggup bertahan selama tujuh tahun." ujar Azkia berdecak kagum pada sahabatnya itu, jika dia berada diposisi Azkia, dia pun akan melakukan hal yang sama, mungkin tidak selama Azkia sanggup bertahan selama tujuh tahun.

"Menjadi istri tak dianggap selama tujuh tahun, bukan hal yang gampang, bang!." ujar Kayra seraya geleng-geleng kepala, dia merasa salut pada Azkia, punya masalah seberat itu, dia tidak pernah bercerita sedikit pun. Semua seperti terlihat baik-baik saja.

*****

Jangan lupa like, komen dan Votenya ya para readers

Terima kasih🙏🙏

1
falea sezi
astaga kayaknya si semua novelnya peran cwek di buat bodoh semua pantes like dikit
falea sezi
kapok azab laki. tukang selingkuh
falea sezi
sibbangsat rani
falea sezi
Wati ne pembantu munafii
falea sezi
jijik laki. plin plan
falea sezi
masih boodh aja kau
falea sezi
bner g usah ngurusin anak pelakor
falea sezi
azkia gugat cerai deh jangan bodoh kau di jadiin baby sitter doank
falea sezi
azkia ne tololnya astaga cm di jadiin istri cadangan dia mau ya allah
Aulia Ananda
thor knp azkia dibikin sgt bod h jengkel aq thor
nand channel
gara2 si kuntilanak Anjeli kasihan Arta, anak sekecil itu di ombang ambingkan perasaan nya...
nand channel
ini yg goblok othor nya...segitu nya merendahkan azkia, ttp buat azkia menunggu lelaki sangat keparat itu, lelaki plinplan dan babgsat
nand channel
jijik mendengar herman sok berdebar2, lelaki plin plan dan mau enak mu aja
nand channel
wanita yang tak punya pendirian, wanita lemah
nand channel
baguslah azkia pergi dan mencari bahagia nya sendiri, pasti banyak yg mencintai nya
nand channel
yang benar aja thor, udah mau mati masih meluk2 suami orang, mau ditendang malaikat langsung ke neraka ntar...
nand channel
nohhhh...gak hanya gak di anggap sebagai istri di selingkuhin lg...pelihara terus bodoh mu azkia
nand channel
wanita lemah dan bodoh, menciptakan neraka sendiri di hidup nya...nikmatilah kebodohanmu bego.
udah gak dianggap suami, di rendahkan, di maki2, di sakiti, dikasari, di beri madu, jagain anak madu lagi...sempurna ketololan mu sbg wanita
nand channel
perempuan bodoh kau azkia
nand channel
ada ya manusia sebodoh azkia ini, nikmatilah penderitaan mu *bodoh*
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!