NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Konsekuensi

Intan berlari menuju rumah sakit setelah menerima telepon darurat. Nama yang disebutkan dalam panggilan itu membuatnya panik, Arin.

Begitu tiba di lobi, ia langsung menghampiri meja perawat.

"Suster, di mana Arin?" tanyanya dengan napas tersengal.

Perawat itu segera memahami siapa yang dimaksud dan menunjuk ke salah satu area tempat tidur pasien di ruang perawatan. Intan segera melangkah ke sana, melewati deretan ranjang yang diisi pasien lain.

Intan akhirnya menemukan Arin. Sahabatnya itu terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Wajahnya pucat, ada luka lebam di pipi dan bibirnya juga terluka.

"Arin… kau tidak apa-apa?" Intan bertanya begitu sampai di sisi tempat tidurnya.

Arin menoleh melihat Intan. "Maaf… aku merepotkanmu," suaranya pelan, penuh penyesalan. "Ini sudah malam, tapi aku tidak tahu harus menelepon siapa…"

Mendengar hal itu Intan langsung refleks memukul lengan Arin, tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya sadar.

"Kau ini bicara apa?! Kita sudah berteman begitu lama!" katanya dengan nada tinggi, membuat beberapa pasien dan perawat menoleh. Seorang perawat bahkan mendekat dan menegur mereka dengan suara pelan agar tidak mengganggu pasien lain.

Intan menghembuskan napas, mencoba menenangkan dirinya. Setelah hening beberapa saat, ia kembali memperhatikan wajah Arin, matanya menelusuri luka yang ada di sana.

"Kau dirampok? Seseorang memukulmu?" tanyanya, kali ini suaranya lebih lembut, tapi tetap penuh kekhawatiran.

"Apa aku boleh menginap di rumahmu malam ini?" tanya Arin tanpa menjawab pertanyaan Intan. Intan mengerti jika Arin belum ingin menjawabnya.

"Tentu… tentu kau boleh menginap di rumahku malam ini," ujar Intan, suaranya lembut. "Kita akan pergi setelah infusmu habis, oke?" Intan merapikan selimut di tubuh Arin dengan hati-hati.

Arin menatap sahabatnya, dan merasa sangat bersyukur memilikinya. Intan sudah cukup banyak menanggung beban dalam hidupnya, tiga adik yang masih sekolah, ibu yang bekerja keras menggantikan ayahnya yang terbaring sakit di rumah, dan di tengah semua itu, Intan juga ikut membantu perekonomian keluarganya.

Namun, meskipun hidupnya sendiri tidak mudah, hari ini dia tetap datang untuknya.

Karena itulah Arin selalu merasa berat untuk meminta bantuan pada Intan. Bahkan, selama ini ia tidak pernah benar-benar menceritakan kondisinya. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena ia tahu, beban di pundak Intan sudah terlalu berat.

...*****...

Suara gemerincing piring dan riuh obrolan dari ruang makan membangunkan Arin. Ia mengucek mata, lalu menoleh ke jam dinding di kamar Intan, pukul enam pagi. Tanpa berlama-lama, ia bangkit dan bergegas keluar.

"Arin... Maaf, kami berisik, ya?" ucap Intan sambil menata sarapan di meja.

Arin menggeleng, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Tidak, Aku sudah terbiasa bangun pagi. Biar aku bantu." Arin melangkah mendekat, tetapi ibu Intan segera menyergah.

"Tidak..tidak kau duduk saja ini sudah hampir selesai." Ibu Intan segera menarik kursi dan meminta Arin untuk duduk disana, dan Arin segera menurutinya.

"Kondisimu sudah lebih baik?" tanya Intan sambil menyantap sarapannya. Arin tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda dia sudah baik-baik saja.

"Kau buru-buru?" tanya Arin melihat Intan yang terburu-buru menyantap makanannya.

"Meeting pagi," ucap Intan dengan mulut penuh. "Ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan." Sesaat setelah menelan suapan terakhir, Intan tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah.., kemarin kau meneleponku dari nomor rumah sakit? Ponselmu hilang?" tanya Intan.

"Tidak, cuma ketinggalan di hotel. Aku juga harus berangkat kerja hari ini," jawab Arin sambil berdiri, bersiap menuju kamar untuk berganti pakaian.

"Kau tidak mau ambil cuti saja? Aku rasa kau masih butuh istirahat," Intan memandangnya dengan alis berkerut, tampak rasa khawatir di wajahnya.

"Aku baik-baik saja. Lagipula ada beberapa laporan yang harus ku selesaikan," ucap Arin meyakinkan Intan.

"Baiklah, kalau begitu kita berangkat bersama," jawab Intan. Arin bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian tidur yang dipinjamkannya sejak tadi malam. Saat akan pergi, ia mengucapkan terima kasih pada orang tua Intan sambil memeluk ibu Intan, sebelum akhirnya Arin dan Intan pergi bekerja.

...*****...

Saat Intan turun dari taksi, dia merapikan pakaian dan rambutnya sebelum melangkah masuk ke lobi hotel.

Arin merasakan sesuatu yang berbeda pagi ini. Beberapa staf meliriknya dari atas ke bawah, bahkan yang biasanya ramai menyapanya kini diam saja. Tak ada senyum hangat seperti biasa. Tanpa mempedulikannya, Arin terus berjalan menuju restoran hotel, ingat bahwa ponselnya tertinggal di sana.

Saat sampai di restoran suasana yang dia rasakan juga sama seperti saat dia memasuki lobi hotel.

"Ibu Arin… Ibu masuk?" tanya salah satu kasir yang menghampiri Arin. Mendengar pertanyaan itu Arin merasa bingung tapi dia memilih untuk mengabaikannya.

"Ponselku? Apa kau melihatnya? Kemarin aku meninggalkannya dekat kasir." Matanya menyapu sekeliling, tapi tak menemukan apa-apa.

"Ah, ada. Aku menyimpannya di sini." Sang kasir membuka laci dan menyerahkan ponsel itu padanya.

Baru saja ponsel itu menyentuh tangannya, ponselnya berdering. Nama General Manager terpampang di layar. Tanpa menunggu lama Arin segera mengangkat ponselnya.

"Baik, Pak. Saya akan segera ke kantor Bapak," jawab Arin menanggapi panggilan tersebut.

Tanpa menunda, Arin segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol tujuannya.

Begitu sampai pintu lift terbuka, Arin langsung bergegas ke ruang General Manager.

Arin mengetuk ruangan tersebut dan tak berapa lama General Manager mempersilahkannya masuk.

"Arin, duduklah." General Manager mempersilahkan Arin terlebih dahulu duduk. Ia lalu mengambil sesuatu dari mejanya dan duduk di hadapan Arin.

Sebuah amplop coklat digeser ke arah Arin. Ia bingung, tapi manajer memberi isyarat agar membukanya.

Arin mengambil amplop itu. Begitu melihat isinya, matanya membesar, surat pemberhentian kerja dari Regen Hotel terbentang di hadapannya. Dengan tangan gemetar, ia meletakkan surat itu perlahan di meja.

"Pak… Ini?" suaranya tertahan.

"Aku menelponmu dari tadi malam tapi kau tidak mengangkatnya. Pemberhentianmu sudah diumumkan di seluruh hotel. Mulai sekarang kau sudah tidak bekerja di sini. Untuk gajimu bulan ini akan dibayar penuh dan akan diberikan sejumlah uang untuk loyalitasmu karena sudah bekerja lama di sini," jelas Manager.

"Kenapa, Pak? Kenapa saya dipecat? Apa saya melakukan kesalahan? Tolong berikan saya penjelasan untuk pemecatan ini," tanya Arin yang masih tidak percaya apa yang barusan dia dengar.

"Pemecatanmu langsung perintah dari atas, iya itu Tuan Victor Regen. Mereka mengatakan padaku untuk tidak mengatakan ini. Tapi aku mengenalmu sangat lama, kau sudah bekerja di sini bahkan saat masih kuliah, pekerjaanmu juga sangat bagus. Aku terkejut saat menerima pemberitahuan untuk memecatmu. Apa kau membuat kesalahan pada Tuan Victor?" tanya General Manager sambil melihat Arin serius.

Arin terdiam mendengar penjelasan General Managernya. Ingatannya kembali ke tadi malam, saat Nathan Regen menariknya ke ruangan Private Dining Room. Tanpa mengatakan apa-apa, Arin pun berjalan keluar dari ruangan General Manager.

Seluruh tenaganya seakan akan hilang. Arin menyandarkan dirinya ke dinding, lalu menutup matanya sebentar sebelum akhirnya ia turun ke bawah, mengambil semua barang-barangnya, dan dengan berat hati keluar dari Regen Hotel.

...*****...

Tiga jam setelah Arin pergi, Nathan tiba di Regen Hotel. Dengan langkah cepat, dia masuk lift menuju ruangannya.

Telepon di meja Nathan berdering. Tangannya dengan cepat menangkap gagang telepon. Setelah percakapan singkat, dia mempersilahkan General Manager masuk.

"Ada apa Pak? Apa ada yang perlu saya bantu?" GM sudah berdiri di depan meja Nathan.

"Tadi aku menyuruh sekretarisku untuk memanggil Arin ke ruanganku, tapi kata resepsionis dia sudah tidak masuk. Apa maksudnya? Apa dia cuti?" tanya Nathan.

"Bapak tidak tahu? Manager Arin sudah dipecat hari ini," jawab General Manager, membuat Nathan terkejut.

"Atas perintah siapa? Aku tidak menyuruh kalian memecatnya!" tanya Nathan, wajahnya berkerut tanda kebingungan.

"Atas perintah Tuan Victor Regen, Pak. Tadi malam beliau menelpon saya agar Manager Arin segera diberhentikan."

Mendengar jawaban tersebut Nathan segera berdiri dari kursinya, raut wajahnya terlihat marah, ia segera mengambil jas yang tergantung di kursinya lalu pergi keluar dari ruangannya, meninggalkan GM yang tengah melihat kepergiannya.

Dengan langkah cepat, Nathan menuju basement dan segera masuk ke mobilnya. Tanpa membuang waktu, ia melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi menuju rumah megah Victor Regen. Tangannya mencengkeram setir erat, sementara rahangnya mengeras, memperlihatkan amarah yang semakin memuncak.

Sekitar satu jam perjalanan, amarah yang menggelora dalam diri Nathan tidak padam, malah semakin memuncak. Dengan cepat, Nathan turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu.

Setibanya di dalam, seorang pekerja yang mengenali Nathan segera tahu siapa yang dicari. Bibi tersebut langsung memberi tahu lokasi Victor Regen kepada Nathan.

"Apa yang ayah lakukan!? Apa harus begini!? Dia tidak melakukan kesalahan apapun!" teriak Nathan dengan penuh kemarahan, mendekati Victor Regen yang tengah duduk sambil merawat dan membersihkan daun dari tanaman kesayangannya di atas meja.

"Apa maksudmu?" tanya Victor Regen, tampak tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apapun, masih fokus pada daun-daun yang dibersihkannya.

"Ayah memecat Arin sebagai manajer di hotel. Kenapa ayah melakukan itu? Dia tidak melakukan kesalahan apapun! Aku yang menariknya ke dalam ruangan tadi malam!"

"Dia hanya seorang manajer biasa, kau tidak perlu marah. Hotel kita juga memberikan kompensasi yang cukup besar untuknya," jawab Victor. "Dengan pengalamannya bekerja di Regen Hotel, dia akan diterima dimanapun," lanjut Victor, tanpa menghentikan gerakan tangannya yang tetap membersihkan daun-daun tersebut.

Kelemahan Nathan muncul kembali. Inilah yang tidak disukai Nathan tentang dirinya sendiri. Sebagai Nathan Regen, orang-orang akan selalu memberinya hormat, tetapi hanya dia yang tahu bahwa semua tentang dirinya berada di bawah kendali ayahnya, Victor Regen.

Nathan berencana untuk meninggalkan ayahnya dan segera pergi dari sana, tetapi suara Victor menghentikannya lagi.

"Kemarin, kau membuat Tuan Dison marah besar. Kau mempermalukan keluarganya. Dia selalu membantu bisnis kita, di pelabuhan, dia membuat semuanya berjalan lancar agar bisnis kita tidak terganggu oleh politik apa pun. Kau tahu pengaruhnya terhadap ekspor dan impor kita."

Nathan hanya mendengarkan ayahnya, tetapi jauh di lubuk hatinya, dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya.

"Datang padanya, lalu minta maaf dan jelaskan tentang tadi malam. Ajak putrinya untuk keluar makan malam agar dia melupakan masalah tersebut," perintah Victor pada Nathan.

Nathan hanya diam, lalu pergi meninggalkan ayahnya yang tengah menatapnya. Saat Nathan sampai di pintu untuk keluar dari rumah, dia berpapasan dengan Andre. Namun, Nathan berniat pergi tanpa menyapa, seperti kebiasaan mereka berdua.

"Ayah menemukan calon istri yang cocok untukmu. Aku rasa kau akan segera menikah," tanya Andre, hanya untuk memastikan apakah pernikahan bisnis Nathan akan benar-benar terjadi.

"Kenapa? Kau takut?" ucap Nathan sambil menoleh dan tersenyum sinis melihat Andre. Dengan itu, dia segera masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah besar tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!