NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Di antara lembar kenangan

Cahaya matahari pagi perlahan menyelinap masuk ke dalam kamar melalui celah gorden yang masih tertutup rapat.

Ruangan itu terasa sunyi. Hanya suara samar kendaraan dari kejauhan yang sesekali terdengar menembus keheningan.

Tya yang sejak tadi duduk diam di tepi ranjang akhirnya bangkit perlahan. Langkahnya pelan saat menuju jendela besar yang menghadap keluar.

Tangannya terangkat, lalu menyibak gorden itu perlahan. Seketika cahaya keemasan pagi memenuhi kamar, membuat ruangan yang tadinya redup menjadi lebih terang.

Tya sedikit menyipitkan mata karena silau. Angin sejuk langsung menyentuh wajahnya ketika ia membuka pintu balkon yang berada tepat di samping jendela. Langkahnya berhenti di sana.

Dari balkon kamar, hamparan kota terlihat jelas di bawah sana. Gedung-gedung tinggi berdiri berjajar, kendaraan bergerak memenuhi jalan raya, dan aktivitas pagi mulai berjalan seperti biasa.

Tya menghela nafas pelan, pandangannya masih tertuju pada hiruk-pikuk kota di bawah sana. Semuanya berjalan tampak biasa, berbeda dengan dirinya.

Hari-harinya seakan berhenti sejak kepergian ibunya. Tya merapatkan kedua tangannya di depan tubuh. Angin pagi berhembus terasa sejuk, namun tidak mampu mengurangi ruang kosong yang masih mengendap di dadanya.

Hari ini, ia tidak akan pergi ke sekolah. Dan mungkin beberapa hari kedepan pun tidak. Ayahnya sudah mengurus izin untuknya. Setidaknya sampai hari ke-7 kepergian ibunya, Tya akan tetap berada di rumah.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu perlahan, ia berbalik meninggalkan balkon. Langkahnya kembali memasuki kamar yang kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Entah harus melakukan apa hari ini, Tya tidak memiliki tujuan yang harus dikejar. Tidak ada sekolah atau kesibukan yang bisa mengalihkan pikirannya, yang ada hanyalah waktu.

Perlahan, Tya membuka pintu kamar lalu melangkah keluar. Suasana rumah masih terasa tenang di pagi hari itu. Hanya ada suara samar yang terdengar dari lantai bawah.

Tya menuruni anak tangga satu persatu, langkahnya pelan. Semakin ia turun, suara itu semakin jelas.

Suara spatula beradu dengan wajan terdengar dari arah dapur. Disusul aroma makanan yang perlahan memenuhi udara rumah.

Tya sedikit mengangkat pandangannya. Di dapur, sosok ayahnya terlihat berdiri membelakangi ruangan. Pria itu mengenakan pakaian rumah sederhana sambil sibuk di depan kompor. Sesekali terdengar suara minyak yang berdesis pelan.

Gerakan ayahnya tampak tidak cekatan seperti biasanya. Bahkan beberapa kali ia terlihat diam sesaat sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

Kehilangan itu bukan hanya milik Tya, ayahnya pun sedang berduka. Wanita yang telah menemaninya bertahun-tahun kini telah pergi. Dan Tya tahu, sesakit apapun yang ia rasakan, ayahnya pasti merasakan hal yang sama, atau bahkan lebih.

Namun, ayahnya tetap berusaha menjalankan hal-hal yang harus dijalankan. Bukan karena sudah baik-baik saja, melainkan kini hanya mereka berdua yang tinggal.

Tya berdiri diam di ambang pintu dapur, memperhatikan punggung ayahnya beberapa saat. Entah mengapa pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

"Papa," panggil Tya pelan.

Gerakan ayahnya langsung berhenti. Ia menoleh ke belakang dan mendapati putrinya sudah berdiri di sana. Senyum kecil langsung terukir di wajahnya, senyum yang tampak lelah tapi hangat seperti biasanya.

"Tya udah bangun?" Tanya ayahnya lembut, sementara Tya hanya merespon dengan anggukan singkat.

"Ayo sarapan dulu," ujar ayahnya setelah mematikan kompor.

Tya melangkah mendekat ke meja makan. Di atas meja sudah tersedia sarapan sederhana. Tidak semewah biasanya, bahkan terlihat sedikit berbeda dari masakan ibunya.

Namun Tya tahu, ayahnya sudah berusaha. Dan itu saja sudah cukup membuat hatinya sedikit terasa hangat.

Ayahnya menarik salah satu kursi, "Duduk, nak."

Tya menurut tanpa membantah. Ia mulai mengambil sendoknya perlahan. Suapan pertama terasa hambar di lidahnya. Entah karena masakannya memang berbeda atau karena hatinya masih terlalu penuh untuk bisa menikmati rasa apapun.

Di seberangnya, ayahnya juga mulai makan. Namun sesekali ia melirik putrinya diam-diam.

Biasanya meja makan tidak pernah sesunyi ini. Biasanya Tya akan bercerita tentang banyak hal, hingga membuat ibunya tersenyum ketika mendengarnya. Kadang ibunya sampai harus mengingatkan Tya untuk makan lebih dulu sebelum berbicara.

Sekarang, gadis itu hanya duduk diam. Pandangannya lebih sering tertuju pada piring daripada ayahnya. Hal itu membuat hati ayahnya terasa perih.

"Tya," panggil ayahnya lembut.

Tya mengangkat wajahnya perlahan, "Iya Pa."

Ayahnya tersenyum kecil, "Habiskan ya, Papa gak mau kamu sakit."

Tya terdiam sesaat, jemarinya yang memegang sendok sedikit mengencang. Dulu, kalimat itu lebih sering terdengar dari mulut ibunya. Kini, kalimat yang sama terdengar dari ayahnya.

Perlahan, Tya menundukkan kepalanya. Ada rasa hangat yang menyelinap di tengah sesaknya dada.

"Iya Pa," jawab Tya pelan. Lalu, melanjutkan sarapannya.

Keheningan kembali menyelimuti meja makan. Tya memperhatikan sisa sarapan di piringnya, namun pikirannya melayang entah kemana. Sementara ayahnya menikmati sarapannya perlahan sambil sesekali memperhatikan putrinya tanpa banyak bicara.

"Pa," panggil Tya di sela-sela keheningan.

"Hmm," sahut ayahnya.

Tya menatap piringnya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara. Suaranya begitu pelan, hampir seperti bisikan. "Makasih ya, Pa."

"Makasih?" Ulang ayahnya.

Tya hanya mengangguk kecil. Setelahnya, gadis itu kembali terdiam. Seolah ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya. Begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan, tapi semuanya terasa terlalu sulit untuk diucapkan.

Ayahnya menatap Tya lama, lalu tersenyum. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Tya pelan.

"Gak perlu terima kasih sama Papa," ujar ayahnya.

Hanya kalimat itu, tapi entah mengapa membuat mata Tya langsung berkaca-kaca. Ia menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang.

"Baik, Pa." Ucap Tya dengan anggukan kecil.

Di tengah rumah yang kini terasa begitu beda, kehangatan itu masih ada. Meski tidak lagi lengkap seperti dulu.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Pagi itu berjalan lambat. Rumah kembali sunyi setelah sarapan. Ayahnya berada di ruang kerja untuk mengurus beberapa hal yang sempat tertunda sejak beberapa hari terakhir, sementara Tya memilih kembali ke kamarnya.

Awalnya Tya hanya ingin mencari sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Ia berjongkok di depan lemari kecil di sudut kamar.

Tangannya membuka salah satu laci, berniat mencari kunci gudang yang pernah disimpan di sana. Mungkin membereskan sesuatu akan membuat pikirannya sedikit lebih tenang.

Namun saat laci itu terbuka, gerakan tangannya perlahan berhenti. Matanya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di bagian paling belakang, sebuah album foto.

Tya membeku beberapa saat. Entah mengapa, dadanya semakin terasa sesak. Perlahan, ia mengambil album itu dari dalam laci. Jemarinya mengusap sampulnya pelan.

Tya mengenali album itu. Album yang dulu sering dibuka ibunya saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.

Ibunya selalu tertawa setiap kali melihat foto-foto lama Tya. Terkadang sampai menceritakan kejadian di balik foto bahkan sudah tidak diingat lagi oleh Tya sendiri.

Untuk sesaat, Tya hanya memandangi album itu dalam diam. Lalu perlahan, ia duduk di tepi ranjang sambil memangku album tersebut.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Karena ia tahu, begitu album itu dibuka, yang menunggunya bukan hanya foto-foto lama. Melainkan juga kenangan-kenangan yang selama ini tersimpan di dalamnya.

Tya membuka sampul album itu perlahan. Lembaran pertama menampilkan plastik bening yang sedikit menguning karena usia. Aroma khas album lama tercium, membawa serta kenangan yang sudah bertahun-tahun tersimpan.

Di halaman pertama, sebuah foto langsung menyambutnya, foto Tya saat masih bayi.

Pipinya bulat, matanya nyaris tertutup karena sedang tertawa. Tubuh mungilnya berada dalam gendongan ibunya yang tersenyum ke arah kamera.

Jemari Tya tanpa sadar menyentuh permukaan foto itu. Di foto itu, ibunya tampak jauh lebih muda. Rambutnya masih panjang, wajahnya belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang muncul karena berjuang melawan penyakit.

Tya memperhatikan foto itu lebih lama, ibunya terlihat begitu bahagia saat menggendongnya.

"Mama cantik ya," bisik Tya pelan, diselingi senyum kecil yang mulai bergetar.

Tya membalik halaman berikutnya. Foto demi foto memenuhi lembaran album itu. Ada foto saat dirinya masih belajar merangkak di ruang tamu. Ada foto ulang tahun pertamanya, lengkap dengan kue sederhana dan lilin yang bahkan belum ia mengerti bagaimana cara meniupnya. Ada pula foto ia duduk di bahu ayahnya ketika mereka pergi ke taman.

Di hampir setiap foto, ibunya selalu ada. Tya terus membalik halaman demi halaman. Sejenak, pikirannya sedikit teralihkan dari rasa sesak yang terus menghuni dadanya.

"Hah?"

Tya berhenti di satu halaman, sebuah foto yang tidak pernah ia lihat selama ini. Detik berikutnya, sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah tawa kecil lolos tanpa bisa ditahan.

"Hehe..."

Di foto itu, Tya yang masih balita berdiri di halaman rumah. Rambutnya sedikit berantakan, pakaiannya sedikit kotor. Dan yang paling mencolok, di tangannya ada seekor tokek berukuran cukup besar. Lebih parahnya lagi, ia sedang nyengir lebar ke arah kamera.

Tya langsung menutup wajahnya dengan satu tangan, "Ya ampun."

Tya kembali menatap foto itu. Semakin diperhatikan, semakin terlihat konyol. Ekspresi bangga di wajah balita itu membuat Tya ingin menghilang dari muka bumi.

"Kok aku pegang tokek, sih?" Gumamnya malu, lalu ia terkekeh lagi nyaris tak sadar.

Lalu perlahan, sebuah ingatan lama muncul di kepalanya. Ibunya pernah menceritakan kejadian itu. Di foto itu bahkan ibunya terlihat sedang berlari ke arahnya dengan wajah setengah panik.

Senyum di wajah Tya masih ada. Namun perlahan, matanya mulai kembali terasa panas. Karena di tengah kenangan lucu sekalipun, yang paling ia rindukan tetaplah orang yang selalu ada di dalamnya.

Tya mengusap sudut matanya pelan sebelum kembali membalik halaman album itu. Lembar demi lembar berlalu. Foto pertamanya saat SD, pentas seni sekolah, bahkan foto lomba mewarnai yang hasilnya sudah tidak Tya ingat lagi.

Seiring bertambahnya usia dalam foto-foto itu, wajah Tya mulai berubah sedikit demi sedikit.

Hingga akhirnya, album itu membawanya ke masa SMP. Tya membalik satu halaman lagi, lalu gerakannya terhenti. Matanya langsung terpaku pada sebuah foto berukuran cukup besar yang ditempel di tengah halaman.

Foto pengambilan raport, hari ketika ia meraih juara umum satu. Tya langsung mengenalinya. Saat itu aula sekolah lebih dengan murid dan orang tua karena pengambilan raport akhir semester memang harus didampingi wali murid.

Dan yang datang hari itu adalah ibunya. Di dalam foto, ibunya berdiri di sampingnya sambil memegang raport, senyum bangga terukir di wajahnya. Sementara Tya yang masih mengenakan seragam SMP memegang piala cukup besar.

Entah mengapa foto itu membuat nafas Tya tertahan sejenak. Jemarinya perlahan menyentuh permukaan foto. Tya tersenyum kecil. Di antara kenangan yang muncul ia masih mengingat jelas perkataan ibunya saat itu.

"Anak mama juara umum satu. Mama bangga sekali."

"Mama..."

Bibir Tya bergetar. Senyumnya perlahan berubah menjadi senyum yang rapuh. Matanya kembali memanas. Dadanya terasa semakin sesak, karena sebuah pikiran muncul begitu saja.

Saat foto itu diambil, ibunya terlihat sangat bahagia. Padahal saat itu Tya masih SMP, masih ada banyak hal yang ingin ia tunjukkan di masa depan. Masih ada mimpi yang ingin ia capai untuk membuat wanita itu tersenyum lebih bangga lagi.

Namun sekarang, kesempatan itu sudah tidak ada. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya jatuh ke atas album.

Tya menundukkan kepalanya, suaranya lirih. Begitu lirih hingga nyaris tenggelam dalam keheningan kamar.

"Kenapa Mama pergi duluan?" Bahu Tya mulai bergetar. "Tya belum sempat bahagiain Mama."

Air mata terus menetes membasahi pipinya, membiarkan dirinya menangis beberapa saat. Namun perlahan, tangis itu mulai mereda. Tya menyeka air matanya, nafasnya masih sedikit bergetar ketika ia kembali menatap foto di hadapannya.

"Mama pasti marah kalau liat Tya nangis terus," kalimat itu keluar begitu saja.

Tya menghela nafas panjang, dadanya masih terasa sakit. Dan mungkin rasa kehilangan ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Bahkan mungkin bertahun-tahun kemudian ia masih akan merindukan ibunya.

Namun Tya tahu satu hal, ia tidak boleh larut dalam kesedihan. Karena hidup akan terus bergerak maju. Dan ibunya selalu mengajarinya untuk menghadapinya.

Tya mengusap kembali air mata yang tersisa. Suaranya pelan, namun kali ini terdengar lebih mantap.

"Aku bakal berusaha, Ma. Aku bakal belajar kuat. Dan aku juga bakal bikin Mama bangga," ujarnya sambil kembali menatap foto itu.

Perlahan, Tya menutup album itu dan memeluknya di dada. Di antara lembar-lembar kenangan yang tersimpan di dalamnya, ia menemukan banyak hal hari ini.

Tawa, cerita, kasih sayang, dan jejak-jejak cinta seorang ibu yang ternyata tertinggal di begitu banyak sudut hidupnya.

Hari ini, Tya belajar satu hal. Kepergian seseorang tidak selalu berarti mereka benar-benar pergi. Karena terkadang, mereka tetap hidup dalam kenangan dan doa.

Dengan hati-hati, Tya meletakkan kembali album itu di atas meja samping ranjang. Seutas senyum tipis terukir di wajahnya, tidak sesedih sebelumnya.

"Mama," bisiknya pelan. "Terima kasih."

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!