Eldoria, yang berarti negeri kuno yang penuh berkah. Negeri yang dulunya selalu di sinari cahaya matahari, kini berubah menjadi negeri yang suram.
Ratusan tahun telah berlalu sejak peperangan besar yang menghancurkan hampir seluruh negeri Eldoria, membuat rakyat harus hidup menderita di bawah kemiskinan dan kesengsaraan selama puluhan tahun sampai mereka bisa membangun kembali Negeri Eldoria. Meskipun begitu bayang-bayang peperangan masih melekat pada seluruh rakyat Eldoria.
Suatu hari, dimana matahari bersinar kembali walau hanya untuk beberapa saat, turunlah sebuah ramalan yang membuat rakyat Eldoria kembali memiliki sebuah harapan.
"Akan terlahir 7 orang dengan kekuatan dahsyat yang dapat mengalahkan kegelapan yang baisa di sebut Devil, di antara 7 orang itu salah satu dari mereka adalah pemilik elemen es yang konon katanya ada beberapa orang istimewa yang bisa menguasai hampir semua elemen dari klan Es"
Siapakah ketujuh orang yang akan menyelamatkan negeri Eldoria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzaleaHazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Kini Liz dan Theresa saling berhadapan dengan jarak beberapa meter, bersiap untuk latih tanding. Untungnya mereka menerima penjelasannya dengan baik walaupun tadi sempat terkejut, jadi mereka tidak perlu khawatir tentang tempat ini yang tiba-tiba berubah.
"Apa kau siap, Liz?" Aphelion bertanya pada Liz, karena anak itu yang akan menerima serangan lebih dulu.
"Eung." Liz membalas dengan anggukan yakin.
"Baiklah, mari kita mulai!" Aphelion memberi aba-aba untuk keduanya agar saling bersiap.
Setelah mendengar aba-aba dari Aphelion, Liz mengeluarkan 3 kertas jimat pelindung tingkat menengah dan melemparkannya ke udara, tiga lapis barrier mulai terbentuk dan mengelilinginya seolah tidak memerikan celah sedikitpun pada Theresa untuk menyerang.
Semua orang yang ada di sana sangat terkejut saat Liz mulai mengeluarkan beberapa kertas dan melemparkannya ke udara, yang lebih membuat mereka tidak percaya adalah barrier perlahan tercipta setelah Liz melemparkan kertas itu. Bahkan Acrus dan Acresia saja tidak mengetahui tentang ini karena mereka jarang bertemu Liz.
Merasa tidak ada peluang, bahkan untuknya menyerang akhirnya Theresa mengangkat kedua tangannya. "Aku menyerah!" Melihat bagaimana kuatnya barrier milik Liz, membuat Theresa menyerah karena yakin jika ia tidak akan bisa menembusnya.
Mendengar Theresa menyerah membuat Liz mengerutkan alisnya, lalu berlari kearah gadis itu. Saat Liz berlari, barrier miliknya juga perlahan menghilang begitu ia menjauh.
"Kenapa kak There menyerah? Bahkan kita belum mulai?" Pertanyaan Liz lebih terdengar seperti protestan.
"Kau bertanya kenapa, huh? Sebenarnya seberapa besar kekuatanmu, anak kecil?" Theresa tidak habis pikir dengan Liz, karena kesal ia mencubit pipi bocah itu.
"Apwa mwaksudmu?" Tanya Liz polos. Jujur ia tidak tau dimana letak kesalahannya dan kenapa Theresa tiba-tiba menyerah.
Melihat kedua gadis itu ribut-ribut, Aphelion segera menghampiri mereka di ikuti Charlotte, Acrus dan Acresia di belakangnya. "Theresa kenapa kau mencubit pipi, Liz?" Ia terkejut saat sampai di dekat mereka matanya melihat Theresa yang sedang mencubit pipi Liz.
"Aku sangat kesal, bagaimana dia bisa bertanya kenapa aku menyerah." Adu Theresa pada Ayahnya. Ia melepaskan pipi Liz karena pipi bocah itu sudah memerah.
"Memangnya kenapa, apa aku membuat kesalahan?" Liz kembali bertanya dengan wajah polosnya yang membuat Theresa semakin gemas padanya.
"Liz, apa yang kau lemparkan ke udara tadi? Dan kenapa barrier itu bisa terbentuk tanpa kau mengeluarkan sihirmu?" Tanya Aphelion. Rasa penasarannya tidak bisa di tahan untuk tidak bertanya pada Liz.
Liz menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung bagaimana harus menjelaskannya. "Oh, itu.... Sebenarnya aku menggunakan kertas jimat yang sudah di tulis mantra sihir." Ia sempat menjeda ucapnya saat menjawab pertanyaan Aphelion, tapi apa yang ia katakan adalah kebenarannya.
"Darimana kau mendapatkannya dan sejak kapan kau menggunakannya?" Kini Acrus yang bersuara, bertanya pada Liz.
Melihat reaksi Acrus, Aphelion sadar jika pria itu tampaknya tidak mengetahui apapun tentang hal ini. Apakah Liz menyembunyikannya dari Acrus? Aphelion terus menerka-nerka dalam hatinya.
"Aku tidak ingat pasti, tapi mungkin sudah sekitar dua bulan. Dan juga aku membuatnya sendiri dengan bantuan Paman Gil dan paman Evans." Balas Theresa. Ia tidak berbohong, tapi mungkin waktunya tidak lebih dari dua bulan setelah ia mendapatkan jimat itu.
Jawaban Liz membuat Acrus terdiam, lebih tepatnya tidak bisa berkata-kata. Setidak tahu itukah dia tentang Liz? Tapi setelah di ingat-ingat lagi ia dan Acresia bahkan tidak bertemu dengan anak itu kecuali pagi hari atau terkadang saat malam hari jika Liz pulang latihan tidak terlalu larut. Lagi-lagi setiap perasaan aneh mulai menghampirinya, Acrus begitu tegas menolak mentah-mentah perasaan itu dan mengabaikannya seolah tidak pernah merasakannya.
Berbeda dengan Acrus, Aphelion dengan tatapan takjub melihat perkembangan Liz yang luar biasa. Melangkah pelan mendekati bocah itu dan langsung mengangkat tubuh mungilnya lalu memutarnya beberapa kali sampai membuat Liz tertawa.
"Bagaimana ini, Paman sangat takjub denganmu sampai tidak bisa berkata-kata. Kenapa anak sekecil ini memiliki kekuatan seperti monster, apakah kau monster kecil, huh?" Aphelion mengatakan semua itu masih dengan Liz yang berada di gendongnya, memutar gadis kecil itu ke udara.
"Tidak, aku bukan monster hahaha!"
Cukup lama Aphelion menggendong Liz, ia menurunkan bocah itu dengan perlahan. Berjongkok, menyesuaikan tingginya dengan Liz agar bisa melihatnya dengan baik. "Kak There sudah menyerah, lebih baik kita hentikan saja latih tandingnya, hm?" Aphelion berusaha membujuk Liz agar menghentikannya karena Theresa sudah benar-benar menyerah.
Liz menatap Aphelion dengan mata memohon. "Tapi aku sangat ini latih tanding saat ini juga." Ia lalu beralih menatap Theresa yang kini sudah ada di dekatnya. "Kak There, kenapa kau tidak mau melanjutkannya?"
"Melanjutkan katamu? Hey bocah! Apa kau pikir aku bisa menembus barrier milikmu itu?!" Protes Theresa tidak terima, ia mencubit pipi Liz karena merasa kesal dengan bocah itu.
"Memangnya tidak bisa ya?" Tanya Liz dengan wajah memelas.
"Tidak!" Balas Theresa tegas. Memang apa yang Liz pikirkan tentangnya? Sehebat itukah dia di mata bocah itu? Kini Theresa benar-benar sadar seberapa besar kekuatannya, itu membuatnya agak sedih, ada perasaan tidak terima karena merasa tidak bisa melindungi Liz dengan kekuatan yang ia miliki.
Melihat wajah sedih Liz, membuat Aphelion tidak tega. "Apa kau sangat menginginkan latih tanding ini, hm?" Ia bertanya setelah berpikir beberapa saat.
Liz mengangguk-anggukkan kepalanya. "Eung." Ia melakukan ini bukan semata-mata untuk kesenangan atau kepuasan diri, tapi ia ingin mencobanya langsung karena selama ini ia hanya bertarung dengan monster.
"Kenapa kalian berdua malah ribut-ribut begini?" Tanya Charlotte yang baru saja mendekati mereka bertiga, di ikuti oleh Acrus dan Acresia di belakangnya.
"Lihatlah, Bu, bocah ini masih ingin melanjutkan latihan tanding yang jelas-jelas sangat mustahil bagiku." Adu Theresa pada Charlotte seraya menunjuk kearah Liz yang masih memasang wajah sedihnya.
Charlotte menggelengkan kepalanya melihat keduanya, perlahan ia mengusap puncak kepala Liz, seolah sedang menenangkannya.
Aphelion mengusap bahu Liz lalu menunjuk kearah Theresa. "Lihat, kak There sudah menyerah. Bagaimana jika Paman saja yang menggantikannya untuk latih tanding bersamamu?" Ia mengajukan diri untuk menggantikan Theresa karena tidak tega melihat wajah sedih Liz.
Seketika wajah Liz langsung sumringah dengan mata berbinar. "Benarkah?!" Ia bertanya dengan semangat, membuat Theresa memutar bola matanya jengah, sedangkan Charlotte kembali menggelengkan kepalanya.
"Tentu, bagaimana jika kita mulai sekarang?" Tanya Aphelion seraya mengusap kepala Liz.
"Eung." Liz mengangguk dengan semangat. Perlahan ia melangkah, bersiap di posisinya seperti sebelumnya.
Melihat Liz yang tampak semangat, membuat Aphelion terkekeh. Meskipun begitu Aphelion tetap melakukan apapun asal gadis kecil itu kembali ceria. Kini keduanya sudah saling berhadapan dengan jarak beberapa meter.
"Sebaiknya kau jangan menahan kekuatanmu, Liz." Aphelion memperingatkan Liz agar tidak menahan kekuatannya karena ingin seberapa besar kemajuan Liz beberapa bulan ini.
"Begitu juga Paman." Balas Liz.
Melihat ekspresi wajah Liz mulai serius, membuat Aphelion tersenyum. Anak sekecil itu bisa-bisanya mengeluarkan aura sebesar ini, seberapa besar tekad yang ada di dalam dirinya? Melihatnya saja tanpa sadar Aphelion ikut bersemangat.
Charlotte memberi aba-aba pada keduanya, setelah itu Liz dan suaminya mulai saling menyerang. Charlotte menghela nafasnya melihat suaminya terlihat bersemangat dengan latihan tanding ini.
selalu semangat thor ...