Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Keira mengira makan siang selesai berarti acara utama sudah lewat.
Ternyata Mama Harto baru mulai.
"Rayhan, bawa Genki ke taman sebentar," kata Mama Harto sambil menutup album. "Papa kamu juga. Aiden, jangan ikut."
Aiden yang baru berdiri langsung menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa saya dilarang?"
"Karena kalau kamu ikut, kamu akan membuat komentar."
"Komentar saya kadang berguna."
Papa Harto berjalan melewatinya. "Kadang."
Genki turun dari sofa dan menggandeng tangan Rayhan. "Kak Kei tidak ikut?"
"Sebentar saja," jawab Mama Harto. "Oma mau bicara dengan Kak Kei."
Keira otomatis menegakkan punggung.
Rayhan menangkap perubahan itu. Ia menatap ibunya, lalu Keira. "Kei?"
"Tidak apa-apa." Keira memaksa tersenyum. "Aku di sini."
Genki masih ragu. "Kalau takut, panggil Genki."
"Iya."
Setelah suara langkah mereka menjauh ke taman belakang, ruang keluarga menjadi lebih sunyi. Mama Harto tidak langsung bertanya. Ia justru mengambil kotak jahit kecil dari meja samping dan menyerahkannya kepada Keira.
"Tadi Rayhan bilang kamu suka memperbaiki jahitan kecil."
Keira menerima kotak itu dengan bingung. "Saya bisa sedikit."
"Kancing baju Papa Harto lepas. Mataku sudah tidak terlalu enak kalau jahit yang kecil-kecil. Kamu keberatan bantu?"
Keira menggeleng cepat. "Tidak, Tante."
Ia membuka kotak itu. Benang putih, jarum, gunting kecil, dan satu kancing cadangan tersusun rapi. Permintaan itu anehnya membuatnya lebih mudah bernapas. Menjahit kancing jauh lebih aman daripada menjawab pertanyaan tentang masa lalu.
Mama Harto duduk di sampingnya. "Aku tidak akan bertanya hal yang belum ingin kamu ceritakan."
Jarum di tangan Keira berhenti.
"Aku cuma ingin bilang, rumah ini tidak butuh kamu membuktikan diri dengan berguna dulu."
Keira menunduk pada kancing di telapak tangannya.
Tentu saja Mama Harto bilang begitu setelah meminta tolong menjahit kancing, dan justru karena itu kalimatnya tidak terasa kosong. Ia meminta bantuan kecil yang manusiawi, bukan pengorbanan. Tidak ada nada seolah Keira harus membayar tempat duduknya di sofa ini.
"Saya terbiasa begitu," kata Keira pelan sebelum sempat menahan diri.
Mama Harto tidak menunjukkan wajah terkejut. "Terbiasa apa, Nak?"
"Kalau saya tidak membantu, rasanya saya tidak punya alasan untuk tinggal."
Keira menggigit bibir setelah berkata. Ia tidak pernah mengucapkan kalimat itu sejelas ini kepada siapa pun.
Mama Harto menatapnya lama, lalu menyentuh punggung tangannya. "Kalau begitu, mulai sekarang belajar tinggal karena kamu memang diinginkan."
Benang putih masuk ke lubang kancing dengan susah payah. Pandangan Keira sedikit kabur.
"Tante baru kenal saya."
"Benar." Mama Harto tersenyum. "Tapi Genki memilih orang bukan sembarangan. Rayhan juga tidak mudah membuka pintu. Dan aku cukup tua untuk tahu anak yang baik bukan hanya dari cerita panjang. Dari cara kamu memastikan Genki makan sebelum kamu sendiri, dari cara kamu menunggu orang selesai bicara, dari cara kamu meminta izin bahkan saat tidak perlu. Semua itu bercerita."
Keira tidak tahu harus menjawab apa.
Di taman belakang, Genki berteriak, "Papa kalah!"
Rayhan menjawab sesuatu yang tidak terdengar jelas. Aiden tertawa keras meski tadi dilarang ikut, berarti ia pasti menyusul diam-diam.
Mama Harto menghela napas. "Aiden tidak pernah patuh."
Keira tertawa lirih.
Setelah kancing selesai, Papa Harto kembali bersama Rayhan. Genki membawa daun kering seperti piala kemenangan. Aiden berjalan di belakang dengan ekspresi tidak bersalah.
"Kamu ke taman," kata Mama Harto kepada Aiden.
"Saya menjaga keselamatan Ko Ray."
"Dari daun?"
"Daunnya licin."
Papa Harto mengambil kemeja yang sudah diperbaiki dari tangan Keira. Ia memeriksa jahitannya, lalu mengangguk. "Rapi."
"Terima kasih, Om."
"Bukan hanya kancing. Cara kamu menjawab tadi di meja juga rapi. Tidak dibuat-buat." Papa Harto duduk di kursi seberang. "Aku tahu keluarga Yanto. Tidak dekat, tapi cukup tahu gaya mereka. Orang yang keluar dari rumah seperti itu dan masih bisa memperlakukan anak kecil dengan lembut biasanya punya tulang punggung yang lebih kuat daripada kelihatannya."
Keira terdiam.
Rayhan menatap ayahnya. Ia tidak menyangka Papa Harto akan bicara seterbuka itu.
"Om terlalu baik menilai saya."
"Tidak. Aku menilai seperlunya." Papa Harto meletakkan kemeja di samping. "Kalau kamu bersama Rayhan, mungkin hidupmu akan lebih sering disorot orang. Nama Harto tidak kecil. Tapi di rumah ini, kami tidak mencari perempuan yang hanya cocok berdiri di foto keluarga. Kami mencari orang yang bisa pulang tanpa takut."
Keira merasakan napasnya tersangkut.
Genki, yang tidak sepenuhnya memahami kalimat itu, memanjat sofa dan menyandarkan kepala di lengan Keira. "Kak Kei pulang sini?"
Mama Harto langsung menangkap peluang dengan senyum tenang. "Bisa. Kalau Kak Kei mau, kamar tamu di Vila Biru bisa dibuat lebih nyaman. Atau kalau ke rumah Oma, kamar dekat balkon kosong."
Keira menatap Rayhan.
Rayhan tidak memaksa. "Kamu tidak harus memutuskan sekarang."
Papa Harto menambahkan, "Tapi kamu harus tahu, tidak ada yang salah kalau kamu memilih tempat yang membuatmu aman."
Di kepala Keira, suara Meilan lama muncul samar: jangan lupa kamu hanya anak yang diambil. Jangan membuat diri terlalu penting.
Lalu suara Mama Harto menimpanya, lembut tetapi tegas: belajar tinggal karena kamu memang diinginkan.
Keira menggenggam daun kering yang diberikan Genki. Daun itu rapuh, tulangnya terlihat jelas, tetapi bentuknya masih utuh.
"Saya..." Suaranya nyaris hilang. "Saya senang di Vila Biru."
Genki langsung duduk tegak. "Berarti Kak Kei tinggal?"
"Genki," Rayhan mengingatkan pelan.
Keira menatap anak itu. "Tidak setiap hari dulu. Tapi lebih sering, boleh?"
Genki memeluk pinggangnya. "Boleh banget."
Mama Harto tersenyum kepada Rayhan, lalu kepada Keira. Tidak ada kemenangan di wajahnya, hanya lega yang hangat.
"Kalau begitu, nanti aku kirim beberapa selimut dan bantal tambahan ke Vila Biru. Kamar yang nyaman penting."
"Tante tidak perlu repot."
"Aku suka repot untuk hal begini."
Keira menunduk, tetapi kali ini bukan karena takut. Ia takut air matanya jatuh terlalu cepat di depan orang-orang yang baru saja memberinya sesuatu yang tidak pernah ia minta dengan berani: tempat.
Sore itu, ketika mereka pamit, Mama Harto membekali Keira dua kotak makanan. Satu untuknya, satu "khusus untuk kalau Rayhan pura-pura lupa makan". Aiden menyelipkan sepotong kue tambahan untuk Genki dan menyuruhnya tidak mengaku.
Di mobil, Genki tertidur sebelum keluar kompleks.
Keira memandangi kotak makanan di pangkuannya.
"Mereka baik sekali," katanya.
Rayhan menoleh dari kursi samping. "Kamu pantas diperlakukan baik."
Keira menatap jendela. Bayangannya di kaca tampak asing, lebih lunak.
"Aku masih belajar percaya."
"Aku tahu."
Rayhan tidak menambahkan janji besar. Ia hanya menaruh tangannya di antara mereka, terbuka.
Keira melihatnya sebentar, lalu menggenggamnya.
Di belakang mobil, rumah Harto mengecil pelan, tetapi rasa hangatnya tertinggal di telapak tangan Keira seperti alamat baru.