Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.
Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.
Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.
Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.
Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.
Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Yang Berat
"Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?!" Nada penuh penekanan dan lantang dikeluarkan oleh Amanda saat melihat ketiga siswinya yang sedang bertengkar hebat.
Raisa, Karina dan Sofia tengah saling bersiteru, menjambak bahkan memukul satu sama lain sebelum berakhir Karina mendorong tubuh Raisa hingga terjatuh yang mengakibatkan kepala Raisa terbentur tembok dan pundaknya terkena pecahan vas bunga yang tak sengaja tersenggol oleh tubuhnya.
"Aww.."
Raisa langsung meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya yang terbentur tembok dengan cukup keras itu. Beruntung tak ada darah yang menetes dari kepalanya, namun pundaknya terlihat terluka akibat terkena pecahan vas bunga.
"Karina! apa yang sudah kamu lakukan pada Raisa?" Amanda terkejut melihat Raisa di dorong oleh Karina dengan cukup keras.
"Ini semua salah dia, bu!" Elak Karina tak merasa bersalah.
"Kamu tidak boleh sekasar ini sama teman kamu Karina!!." Ucap Amanda sembari menghampiri Raisa untuk menolongnya.
"Dia yang mulai duluan, kok." Karina masih pada pendiriannya.
"Ibu melihat kamu mendorong Raisa, cepat minta maaf sekarang juga!!." Tekan Amanda dengan nada marah pada Karina.
"Untuk apa aku meminta maaf sama dia?" Karina menolak melakukannya dan terlihat menantang Amanda yang merupakan wali kelasnya sendiri.
Amanda menghela nafas panjang melihat sikap anak didiknya yang begitu angkuh dan tak menghormatinya itu.
"Kalian berdua, ikut ibu keruangan BK sekarang juga!!." Ucap Amanda agar Karina dan Sofia ikut keruangan BK.
"Aku tidak mau, aku tidak salah apapun tuh." Balas Karina tak merasa bersalah.
"Iya, aku juga tidak mau. Kita tidak merasa bersalah, tapi dia ini yang salah.." Timpal Sofia menunjuk Raisa dengan wajah kesal.
Raisa sendiri yang sudah dibantu berdiri oleh Amanda, menahan rasa sakitnya pada pundak dan kepalanya. Penampilannya sekarang benar-benar terlihat kacau. Ia yang kesakitan hanya mendengarkan Karina dan Sofia yang sedang dimarahi oleh wali kelasnya.
"Maka dari itu ibu meminta kalian ke ruangan BK untuk menjelaskan semuanya." Pinta Amanda sekali lagi.
"Bu, Raisa yang salah kenapa kita yang dipanggil?" Karina tetap kekeh tak mau disalahkan.
"Lebih baik ibu tanya saja sama dia deh, dia yang menyerang kita duluan kok." Balas Sofia menyerahkan semuanya pada Raisa.
Amanda menoleh menatap ke arah Raisa yang kesakitan.
"Saya tidak bersalah, bu. Justru mereka berdua yang memulai menyerang saya duluan." Raisa yang merasa disalahkan mencoba membela dirinya.
"Benar bu, Karina dan Sofia yang mencoba mencari masalah dengan Raisa." Tiba-tiba saja ada anak yang ikut menimpali, anak itu bernama Fitri yang tak lain adalah sahabat Raisa.
Mendengar Fitri ikut campur membuat Karina dan Sofia tak terima dan hendak menyerangnya sebelum dipisahkan kembali oleh Amanda.
"Cukup!!" Amanda menghentikan pertikaian mereka kembali dengan nada marah.
"Selain yang bersangkutan dilarang ikut campur! Jadi, semuanya silahkan masuk ke kelas masing-masing sekarang juga....!!!" Perintahnya pada murid lainnya yang tengah menonton dengan nada lantang.
Semua berhamburan masuk dan menyisahkan Raisa, Karina dan Sofia yang masih tertinggal.
"Raisa, kamu obati dulu luka kamu di UKS, nanti ibu akan memanggil kamu lagi setelah kamu selesai di obati." Pinta Amanda pada Raisa.
"Baik, bu." Jawab Raisa mulai menuju ruang UKS, yang kemudian dibantu oleh Fitri yang merasa kasihan melihat Raisa meringis kesakitan.
Amanda memperbolehkan Fitri membantu Raisa menuju ruang UKS saat Fitri mengajukan diri. Sebaliknya, Amanda masih ada yang harus diselesaikan pada Karina dan Sofia.
"Kalian berdua, ikut ibu keruangan BK sekarang juga!!." Kali ini Amanda memberi perintahnya pada Karina dan Sofia agar segera datang keruangan BK untuk mempertanggung jawabkan tindakan mereka.
"Saya tidak mau!." Namun, Karina enggan menuruti perintah Amanda, begitu pun dengan Sofia.
"Apa kalian mau diselesaikan dengan orang tua kalian dipanggil ke sekolah?" Ancam Amanda.
Karina tertawa meremehkan mendengar ucapan Amanda yang hendak membawa orang tua mereka ke sekolah.
"Memangnya hal itu bisa ibu lakukan?" Ujarnya sedikit meremehkan.
"Kalau begitu, ibu akan kirim surat ke orang tua kalian masing-masing." Ucap Amanda yang kemudian memilih pergi keruangan guru, seolah tak mau lagi beradu argumen dengan dua muridnya yang tak bisa di atur itu.
Sebuah tugas yang berat bagi Amanda yang ditunjuk sebagai wali kelas 1A. Yang ia hadapi adalah anak-anak SMA yang lagi masa puber, hal itu sempat membuatnya kewalahan dan stres, terlebih jika menyangkut murid yang susah untuk di atur.
Apalagi soal beberapa para wali murid tempatnya mengajar yang suka ikut campur, semakin membuatnya tertekan. Padahal dia hanyalah seorang guru biasa, namun tugasnya sangatlah berat.
Bukan hanya dituntut untuk mendidik murid-muridnya tapi juga diminta untuk menjaga sikap di depan muridnya sendiri agar tak menimbulkan masalah dengan para orang tuanya.
Hal itu sempat menimbulkan gelombang protes dari para guru karena menilai mereka terlalu ditekan dan di intimidasi.
Meski banyak guru yang protes dan menyampaikan keberatan, namun kepala sekolah seolah tak terlalu perduli dengan protes itu. Yang kepala sekolah perdulikan hanyalah soal menjaga perasaan beberapa wali murid yang dirasa penting untuknya karena telah banyak menyumbang donasi untuk sekolah. Mengingat ini adalah sekolah swasta, karena itu dana dari beberapa orang tua murid sangat dihargai oleh kepala sekolah. Meski harus menutup mata pada sikap murid yang bermasalah sekalipun.
Sekolah yang selalu menjadi tujuan siapapun untuk masuk dan menjadi salah satu sekolah swasta terbaik ini sepertinya sudah kehilangan arahnya.
Wibawa guru tiba-tiba hilang ditambah sikap murid yang semakin hari semakin kelewatan. Ada kemunduran dari beberapa tahun belakangan ini, terutama perihal pengabaian terhadap sikap murid yang bermasalah.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Amanda merenung memikirkan sikap seperti apa lagi agar bisa mendisiplinkan murid-muridnya yang semakin hari semakin tidak memiliki kesopanan terhadap para guru.