Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Barang-Barang yang Dikembalikan
Namun entah kenapa, hal pertama yang ia pikirkan justru: jika Rayhan tahu, ia akan salah paham lagi nanti.
Keira benar.
Rayhan tahu.
Laporan Farel datang keesokan pagi. Tidak banyak kalimat, tetapi setiap barisnya cukup untuk menyalakan kembali sesuatu yang gelap di mata Rayhan.
Keira Salim terdaftar sebagai Creative Consultant sementara di HEALER cabang Surabaya.
Safira Surya dipindahkan ke salah satu rumah sakit swasta di Surabaya dengan koordinasi internal HEALER.
Apartemen kecil di Surabaya dibeli atas nama pihak ketiga, tetapi sumber dananya terkonfirmasi dari rekening pribadi Keira.
Kevin Widjaja mulai menjabat sebagai Direktur Eksekutif cabang Surabaya.
Rayhan membaca baris terakhir dua kali.
"Kevin," katanya pelan.
Farel menunduk. "Ya, Pak."
"Sejak kapan?"
"Efektif dua hari setelah Bu Keira mulai masuk cabang Surabaya."
"Apartemennya?"
"Jaraknya dua belas menit dari kantor, dua puluh menit dari rumah sakit Safira. Akses atas nama pemilik lain, tapi pembayaran dari rekening Bu Keira. Tidak ada dana Kevin."
Rayhan mendengar detail itu seperti mendengar vonis kecil. Bahkan dalam kabur, Keira tetap memastikan tidak ada laki-laki lain yang bisa disebut membiayainya. Ia membersihkan dirinya dari Rayhan, dan juga dari Kevin. Ia berdiri sendirian dengan sangat rapi sampai Rayhan tidak bisa menemukan tuduhan yang cukup nyaman untuk dipegang.
Steven, yang sengaja datang pagi itu karena William memintanya mengawasi, langsung mengusap wajah. "Jangan mulai."
Rayhan tidak menjawab. Ia berjalan ke ruang tamu, tempat kotak-kotak pengembalian dari Keira masih belum dibereskan. Setelah Bab 30, tidak ada pelayan yang berani menyentuhnya. Kotak-kotak itu tetap terbuka seperti luka yang dibiarkan mengering.
Ia membuka satu kotak lagi.
Sertifikat properti sudah pernah ia lihat, tetapi kali ini ia membaca setiap halaman. Nama Keira tidak pernah ditambahkan ke dokumen utama karena ia belum sempat memaksa. Kartu kredit masih tersegel. Jam tangan belum pernah dipakai. Tas branded kembali dengan tag harga utuh.
Farel menyerahkan daftar inventaris.
"Semua lengkap, Pak. Tidak ada barang yang hilang."
Rayhan menatap daftar itu.
"Tidak ada?"
"Tidak ada."
Di lingkaran sosialnya, orang masih menyebut Keira kabur setelah menikmati kemewahan. Di depan Rayhan, semua kemewahan itu kembali dalam keadaan rapi, seolah Keira sengaja menampar narasi mereka satu per satu.
Ada satu kotak kecil berisi kunci cadangan mobil sport yang bahkan belum pernah Keira ambil dari showroom. Ada juga bukti pengembalian kartu kredit, disertai surat bank bahwa tidak ada transaksi selain aktivasi awal yang dilakukan staf Rayhan sendiri. Keira tidak hanya tidak membawa harta. Ia bahkan tidak menyentuhnya.
Steven mengambil salah satu dust bag, membuka sedikit, lalu menutupnya lagi. "Orang-orang di luar harus lihat ini."
"Tidak."
"Biar mereka berhenti memfitnah."
"Tidak perlu." Rayhan menatap kotak-kotak itu. "Dia tidak mengembalikan ini untuk dibela olehku. Dia mengembalikan ini supaya tidak punya utang padaku."
Kalimat itu membuat dadanya sendiri sakit.
Ia mengambil kalung berlian ombak dari Bali. Liontinnya kecil, dingin. Keira sempat memegang benda ini di tangannya sebelum memasukkannya kembali. Rayhan tahu itu tanpa perlu diberi tahu. Ada bekas tekanan halus pada busa kotaknya, sedikit berbeda dari posisi pabrik.
"Bakar semuanya," kata Rayhan.
Pelayan yang berdiri di dekat pintu terkejut. "Pak?"
"Semua barang ini. Bakar."
Steven berdiri. "Ray, jangan."
"Untuk apa disimpan?"
"Karena lo akan menyesal begitu api nyala."
Rayhan menatapnya. "Aku sudah menyesal sebelum api."
Ia menendang meja kaca di depan sofa. Kaca pecah dengan suara tajam. Pelayan menjerit kecil. Beberapa serpihan mengenai ujung sepatu Rayhan, tetapi ia tidak bergerak.
William masuk tepat saat itu, melihat pecahan kaca dan wajah Rayhan, lalu berkata pelan, "Ini bukan soal barang."
"Tentu bukan," jawab Rayhan dingin. "Barang tidak bisa menghapus sidik jariku dari pintu. Barang tidak bisa pergi bersama Kevin."
"Dia pergi bersama Safira," kata Steven. "Jangan hapus bagian itu."
Rayhan menatap Steven begitu tajam hingga ruangan kembali sunyi.
Pada akhirnya, barang-barang itu tidak dibakar. Pelayan tua, dengan keberanian yang mungkin hanya dimiliki orang yang sudah bekerja terlalu lama untuk keluarga Hartono, diam-diam memindahkannya ke ruang penyimpanan alih-alih halaman belakang.
Rayhan tahu.
Ia pura-pura tidak tahu.
Malamnya, Rayhan datang ke pesta kecil di rumah Pak Roni, seorang pengusaha yang terlalu ingin kembali masuk lingkaran Hartono. Musik pelan, minuman mahal, tawa palsu. Rayhan seharusnya tidak datang, tetapi Steven bilang berada di Estate hanya membuatnya menatap kotak sampai pagi.
Rumah Pak Roni di kawasan elite Jakarta Selatan penuh orang yang datang bukan karena suka, melainkan karena ingin terlihat masih dekat dengan pusat kuasa. Begitu Rayhan masuk, percakapan berubah lebih pelan. Orang-orang menilai wajahnya, mencari tanda apakah kabar Keira benar-benar menghancurkannya.
Seseorang berbisik, "Dia kelihatan biasa saja."
Steven mendengar dan tersenyum tipis tanpa humor. Orang yang berkata begitu tidak tahu bahwa Rayhan yang tampak biasa saja adalah versi paling berbahaya, karena semua kerusakan sedang ia simpan di tempat yang tidak terlihat.
Di tengah pesta, Pak Roni mendekat dengan senyum licin.
"Pak Rayhan, saya dengar Bapak sedang kurang hiburan. Saya kenalkan seseorang."
Steven langsung menegang. "Roni, jangan."
Terlambat.
Seorang perempuan muda masuk dari sisi taman.
Namanya Coral.
Gaunnya putih tulang. Rambutnya diikat rendah. Di ujung matanya, ada tahi lalat merah yang jelas digambar dengan riasan. Bahkan cara ia menunduk dibuat mirip Keira saat tidak ingin terlihat terlalu banyak.
Ruangan mendadak dingin.
Coral tersenyum gugup. "Selamat malam, Pak Rayhan."
Rayhan tidak bergerak.
Beberapa tamu yang tidak peka langsung mengangkat ponsel, mungkin berharap mendapat bahan gosip baru. Steven menatap mereka satu per satu sampai ponsel turun. William bergerak sedikit lebih dekat ke Rayhan, membaca posisi bahunya, napasnya, jari yang mulai menegang.
Pak Roni tampak bangga pada idenya sendiri. "Cantik, kan? Katanya mirip sekali dengan..."
Belati kecil keluar dari balik jas Rayhan.
Tidak ada yang sempat bernapas.
Rayhan melangkah mendekati Coral. Perempuan itu langsung mundur, wajahnya pucat. Ia jelas tidak mengerti bahwa pekerjaan kecil meniru seseorang bisa menyeretnya ke jurang yang bukan miliknya.
Steven bergerak cepat. "Ray."
Rayhan berhenti satu langkah dari Coral. Ujung belati tidak menyentuh kulitnya, tetapi cukup dekat untuk membuat semua orang membeku.
"Siapa yang menggambar tahi lalat itu?"
Coral gemetar. "Saya... saya disuruh, Pak."
"Hapus."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Coral mengusap ujung matanya dengan tangan gemetar. Riasan merah itu luntur, meninggalkan noda di jarinya.
Rayhan menatap noda merah itu seolah melihat penghinaan terhadap sesuatu yang paling rapuh di hidupnya.
"Jangan pernah memakai wajah orang lain untuk masuk ke hadapanku."
Pak Roni mencoba tertawa lemah. "Pak Rayhan, ini cuma hiburan..."
Rayhan menoleh.
"Hiburan?"
Satu kata itu cukup membuat Pak Roni mundur.
William yang datang bersama Steven akhirnya merebut pergelangan Rayhan dari samping. "Turunkan pisaunya."
Rayhan tidak langsung menurut.
"Dia bukan Keira," kata William.
"Aku tahu."
"Kalau tahu, jangan hukum orang yang bukan dia."
Kalimat itu masuk lebih dalam daripada yang diharapkan William. Rayhan menatap Coral lagi. Ketakutan perempuan itu nyata. Ia bukan Keira. Ia bukan pengkhianat. Ia bukan jawaban. Ia hanya orang kecil yang dikirim pria bodoh untuk menjilat kekuasaan.
Rayhan menurunkan belati.
Coral hampir jatuh karena lega.
"Keluar," kata Rayhan.
Coral berlari keluar tanpa menoleh.
Pesta selesai tanpa ada yang mengumumkan. Pak Roni memucat di sudut ruangan, mungkin baru memahami bahwa meniru Keira tidak membuat Rayhan terhibur. Itu membuatnya terlihat seperti orang yang menusuk luka terbuka lalu berharap dibayar.
Sebelum meninggalkan rumah itu, Rayhan berhenti di depan Pak Roni.
"Mulai besok, semua proposal dari perusahaanmu ditahan."
Pak Roni hampir jatuh. "Pak Rayhan, saya hanya ingin membantu..."
"Kamu ingin menjual wajah perempuan yang tidak ada di sini."
Tidak ada lagi permintaan maaf yang berguna. Orang-orang di ruangan itu akhirnya mengerti bahwa nama Keira tidak boleh dijadikan lelucon, pengganti, atau tiket masuk ke meja Rayhan.
Di mobil pulang, Steven duduk di samping Rayhan dan berkata dengan suara rendah, "Lo tadi hampir melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik."
Rayhan menatap kaca gelap.
"Aku tahu."
"Kalau Keira melihat?"
Nama itu membuat tangan Rayhan berhenti di atas belati yang sudah tertutup.
Jika Keira melihat, ia mungkin akan semakin yakin pergi adalah satu-satunya keputusan benar.
Untuk pertama kalinya malam itu, Rayhan tidak membantah. Ia melihat pantulan dirinya di kaca mobil: jas rapi, wajah dingin, belati di tangan, dan mata yang tampak seperti orang yang sedang kehilangan batas. Jika Keira duduk di depannya, ia tahu apa yang akan ia katakan.
Kamu belum berubah.
Tiga kata bayangan itu lebih tajam daripada belatinya.
Rayhan menutup mata.
Di ruang penyimpanan Hartono Estate, kotak-kotak pemberian yang dikembalikan tetap utuh.
Di salah satu kotak, kalung ombak Bali terbaring diam, tidak terbakar, tidak dipakai, hanya menunggu seseorang cukup berani mengakui bahwa kenangan tidak bisa dimusnahkan dengan api.
Rayhan belum berani mengakuinya.
Jadi malam itu, ia hanya menambah satu perintah lagi kepada Farel.
"Siapkan laporan penerbangan ke Surabaya."
Farel mengangguk. Kali ini, tidak ada yang berani menyebut Keira akan kembali sendiri.
Mereka semua sudah melihat jawabannya.