NovelToon NovelToon
Pembalasan Untuk Suami Munafik

Pembalasan Untuk Suami Munafik

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Zahra

Arsi harus menghidupi kedua anaknya setelah di tinggal suaminya bekerja di luar Kota, Suaminya tak pernah pulang dan tidak mengirimkan uang, hingga membuatnya harus membanting tulang untuk menghidupi kedua anaknya. Saat ia bertekad menyusul sang suami ia harus mendapatkan kenyataan pahit suaminya sudah menikah lagi, ia bahkan tak mau menolongnya saat ia terserang asma hingga meninggal.

Arsi berjanji di kehidupan yang akan datang dia akan membalas suaminya, dan Tuhan pun mendengar doanya, ia pun di berikan kesempatan kedua. Lalu bagaimana pembalasan Arsi kepada suaminya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diantara kematian

"Cla hamil di luar nikah, kami butuh seseorang untuk menikahinya. Kami akan memberikan apa pun yang diinginkan pria itu asal dia mau menikahinya."

Kalimat itu terus terngiang di kepala James. Ia masih duduk mematung di ruang tamu besar rumah keluarga Sasmita, menatap lantai marmer putih yang berkilau. Di hadapannya, duduk seorang pria tua dengan wajah kaku dan tatapan tajam. Dia ayah Clarisa, Sujatmiko Aryo Sasmita, seorang konglomerat yang juga pemilik partai terbesar negeri ini.

James menarik napas panjang. Dalam benaknya, bergulir bayangan ibunya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, tubuhnya semakin kurus karena kanker yang tak kunjung sembuh. Ia teringat biaya pengobatan yang menumpuk, cicilan rumah yang hampir macet, dan dirinya yang belum juga mendapatkan pekerjaan tetap setelah lulus kuliah.

Mimpi James sederhana, menjadi politikus yang bersih dan berpengaruh, membangun negeri ini dengan cara yang benar. Tapi tawaran itu membuat hatinya goyah. Ia bisa mendapatkan segalanya hanya dengan satu kata.

Namun harga yang harus dibayar begitu besar menikahi wanita yang bahkan tidak ia cintai, wanita yang sudah mengandung anak orang lain.

"Anak itu, akan menjadi tanggung jawabmu. Kami hanya ingin menjaga nama baik keluarga."

Suara berat sang ayah memecah keheningan.

James menunduk.

"Saya mengerti, Pak."

"Kalau kau setuju, kau akan mendapat posisi di partai setelah pemilu nanti. Ibumu akan saya bantu pengobatannya. Anggap saja ini bentuk kerjasama timbal balik."

Kata-kata itu menembus relung nuraninya. Ada rasa sesak di dada, tapi pada akhirnya ia mengangguk.

"Baik, Saya bersedia."

Hari itu, dunia James berubah selamanya

Pernikahan James dan Clarisa berjalan cepat, tanpa cinta, tanpa kebahagiaan. Semua disusun rapih seperti drama politik — pernikahan megah, pesta glamor, tamu-tamu penting, dan senyum palsu yang memantul di setiap kamera.

Namun di balik itu, Clarisa sama sekali tak menunjukkan rasa hormat.

Ia memperlakukan James seperti pembantu pribadi. Tidur pun terpisah sejak malam pertama.

"Jangan sentuh aku, James. Aku menikah denganmu bukan karena cinta. Kau tahu alasannya," ucap Clarisa dingin malam itu.

James hanya diam, menatap perempuan di depannya dengan mata teduh.

"Aku tahu. Tapi aku janji, aku tidak akan mempermalukan mu."

Sejak saat itu, Clarisa hidup dengan kebanggaannya sendiri. Ia menjadi model papan atas, selalu tampil glamor di depan publik. Sedangkan James, tetap menjalani hidup dengan kesabaran yang luar biasa. Ia memasak, mencuci, bahkan menyiapkan sarapan untuk Clarisa setiap pagi, meski wanita itu jarang sekali menyentuhnya.

Semua orang melihat mereka sebagai pasangan sempurna. Padahal di balik dinding megah rumah itu, ada jarak dingin yang memisahkan keduanya.

Hingga Clarisa melahirkan seorang bayi perempuan, Viola.

Tangis kecil itu menjadi satu-satunya suara kehidupan di rumah yang dingin.

Namun Clarisa tetap sama, ia bahkan menolak menyusui bayi itu.

"Payudar* ku ini aset kerja, James. Aku tidak mau bentuknya rusak hanya karena menyusui," katanya enteng sambil bercermin.

James hanya menatapnya dengan kecewa, lalu memeluk bayi mungil itu.

"Tidak apa-apa Nak, Daddy akan jadi segalanya buat kamu," bisiknya lembut.

Sejak hari itu, Viola tumbuh dengan kasih sayang James. Ia memanggilnya Daddy dengan manja, dan dunia James seolah menemukan arti baru.

Flashback off.

James duduk di tepi ranjang, menatap putrinya yang masih terbaring lemah. Viola menggeliat kecil, membuka matanya perlahan.

"Masih pusing?" tanya James lembut.

Vio mengangguk pelan. Wajahnya pucat, tapi senyum kecil tetap muncul di bibirnya.

"Kamu mau makan apa?"

Vio menggeleng lemah, lalu berbisik,

 "Aku mau digendong Daddy,"

James tersenyum.

"Tentu, sini."

Ia langsung mengangkat tubuh mungil Vio ke pelukannya, berjalan perlahan ke taman belakang. Udara pagi sejuk, dan sinar matahari menyentuh wajah keduanya.

"Kamu pasti bosan ya," kata James.

Vio mengangguk

"Dad, aku mau makan sushi,"

James tertawa kecil.

"Baik, Tuan Putri. Tapi janji ya, habis makan sushi kamu harus minum obat biar cepat sembuh?"

"Yess, Daddy paling baik sedunia!" seru Vio riang sambil mencium pipi ayahnya.

James tertawa kecil dan membalas pelukan itu. Namun dari kejauhan, seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan tajam.

Ada sesuatu yang bergejolak di dada wanita itu. Cemburu, iri,dan sedikit penyesalan.

Clarisa tahu, ia tak pernah benar-benar menjadi ibu bagi Vio. Selama ini, ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi saat melihat keakraban ayah dan anak itu, ada rasa bersalah yang tak bisa ia jelaskan.

Ia menatap jam tangannya.

"Vio mau sushi, kan?" gumamnya pelan.

Ia pun bergegas menuju restoran Jepang terdekat.

Namun saat ia pulang membawa sushi itu, kejadian yang tak ia sangka membuat hatinya hancur.

"Sayang, Mami beliin sushi buat kamu. Nih, salmon favorit kamu," katanya lembut.

Tapi Vio justru menggeleng.

"Aku mau nunggu Daddy aja. Daddy yang janji mau beli."

"Sayang, makan yang ini aja dulu, nanti Daddy juga pasti datang," Clarisa berusaha membujuk, tapi Vio tetap menggeleng keras.

"Momy ada maksud tertentu kan? Makanya tiba-tiba baik,"

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk dada Clarisa. Ia terdiam, kehilangan kata-kata.

Ia tahu Vio benar. Selama ini ia terlalu sibuk jadi wanita sempurna untuk dunia luar, sampai lupa jadi ibu yang hangat di rumah sendiri.

Ia menarik napas panjang dan meninggalkan kamar dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Aris tengah dirundung amarah.

Ia memandangi layar ponselnya berkali-kali, menunggu Arsi mengangkat panggilannya. Tapi perempuan itu tak juga menjawab.

"Ayo, Arsi, angkat!" geramnya.

Ponselnya akhirnya terhubung.

"Hallo Ar, kita perlu bicara. Ini penting banget!" suara Aris terdengar menahan emosi.

"Datang aja ke restoran Jepang dekat komplek. Aku ada di sana sekarang," jawab Arsi datar.

"Baik. Aku ke sana sekarang."

Aris langsung mematikan ponselnya dan tancap gas. Dalam hatinya, amarah bercampur ego membuat pikirannya gelap. Ia ingin menyelesaikan semua ini malam ini juga.

Restoran itu cukup sepi sore itu. Hanya ada beberapa pengunjung. Arsi duduk di pojok, mengenakan kemeja putih dan celana jeans. Wajahnya tampak tegar, tapi hatinya berdebar.

Tak lama kemudian, Aris datang.

Tatapan matanya tajam, langkahnya berat, penuh amarah.

"Dimana Arya?" tanya Aris tanpa basa-basi.

"Di rumah," jawab Arsi singkat.

"Bagus. Sekarang dengarkan aku. Aku mau kamu hapus semua postingan itu di Instagram. Dan kamu buat permintaan maaf."

Arsi menatapnya datar.

 "Kalau aku tidak mau?"

Aris mencondongkan tubuh, suaranya rendah tapi beracun.

 "Kamu harus mau, Arsi. Kalau tidak, kamu akan menyesal."

Ia mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan foto seorang anak kecil, Arya, disekap oleh dua pria bertopeng.

Darah Arsi seolah berhenti mengalir.

"Arya??" suaranya bergetar.

"Ya. Dan dia akan baik-baik saja kalau kamu menurut." jawab Aris

Arsi mengepalkan tangan. Matanya memerah, tapi ia berusaha tenang.

 "Kau bajingan, Aris. Anak kecil bahkan kau jadikan alat ancaman?"

"Jangan banyak bicara. Ayo ikut aku," ucap Aris sambil menggenggam pergelangan tangan Arsi keras-keras.

Arsi mencoba melawan, tapi kekuatan pria itu jauh lebih besar. Ia digiring keluar dari restoran dan dimasukkan ke dalam mobil.

Namun bukannya menuju rumah, Aris membawa Arsi ke sebuah apartemen tua di pinggiran kota.

Begitu pintu tertutup, suasana berubah mencekam.

Arsi memutar tubuh, menatap Aris dengan mata berkaca-kaca.

"Apa maumu sebenarnya?!"

Aris mendekat, suaranya berat dan menekan. "Aku cuma mau kau tunduk. Kau bikin aku malu di depan semua orang dengan postingan itu."

"Aku hanya bicara kenyataan. Kau yang selingkuh, kau yang menghancurkan rumah tanggaku!"

"DIAM!" teriak Aris, lalu meninju dinding keras-keras.

Arsi terkejut, tapi tetap berdiri tegak.

 "Kau pikir aku takut, Aris? Aku gak akan tunduk sama kamu. Sekalipun kamu sandera anakku, aku gak akan cabut kebenaran itu."

Ucapan itu membuat wajah Aris memerah. Ia melangkah cepat, menarik kerah baju Arsi hingga perempuan itu terdorong ke tembok.

"Kau pikir aku main-main?!"

Nafas Arsi tersengal. Tangannya berusaha menahan dada Aris yang mendorong kuat.

Namun ia tetap menatap lurus ke matanya. "Bunuh aku kalau itu yang kau mau. Tapi ingat, setiap luka yang kau buat, akan kembali padamu."

Aris semakin kehilangan kendali. Ia mencekik Arsi, membuat wajah perempuan itu memucat.

"Jangan paksa aku, Arsi! Jangan!!!"

Arsi mencoba berteriak, tapi suaranya tersendat. Air mata menetes di pipinya, tubuhnya melemah.

Dalam detik itu, kenangan tentang Arya melintas, tawa kecil anaknya, pelukan hangat sebelum tidur, dan suara lembut yang memanggil

"Mama,"

1
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Lydia
Bagus
Diah Susanti
kok 12 thn, kayaknya di bab 1 waktu masuk RS umur 7 thn, sedangkan arsi aja udah mengulang waktu
Ma Em
Aris itu akibat kamu zolim pada istri pertamamu Arsi karena setelah sukses kamu malah melupakan anak dan istrimu .
Murni Dewita
👣
Adi Sudiro
cerita bengok & tolol
Adi Sudiro
cerita mengulang hidup kembali tapi kok tolol
Ma Em
Aris kamu mau aman tapi kamu mengganggu ketenangan Arsi , harusnya biarkan Arsi aman karena Arsi benar bahwa kamu suaminya yg sah karena Aris terlena dgn kemewahan yg Aris rasakan sehingga Aris lupa dgn masa lalunya istri yg dia tinggalkan dikampung bahkan sama anaknya sendiri Aris sdh tdk peduli .
Ma Em
Semoga Arsi selalu dilindungi serta selamat dari niat jahat dari orang yg ingin mencelakai Arsi .
Ma Em
Mungkin Clarisa peduli pada Vio sehingga James benci pada Clarisa dan malah memilih Arsi .
Aquarius97 🕊️: Halo sahabat pembaca ✨ Aku baru saja merilis cerita baru berjudul CINTAKU MENTOK DI WANITA MALAM 🖤 Mampir yuk siapa tahu kamu tertarik nantinya 🤗 Dukung dengan Like dan komentar yah, karena setiap dukunganmu berarti buatku. Terimakasih.
total 1 replies
Ma Em
Semoga saja Clarisa orang baik jgn sampai Arsi terusir dari rumah yg sekarang Arsi tinggali , dan secepatnya Arsi mendapatkan pekerjaannya .
Ma Em
Arsi harus tegas lawan Aris dan Winda agar mereka tidak merendahkan Arsi lagi dan tdk berani macam2 kalau Arsi takut mereka nanti malah menjadi dan menginjak injak Arsi .
Bun cie
lanjut mom..menyimak🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!