NovelToon NovelToon
Ha Tan Wa

Ha Tan Wa

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romansa Fantasi
Popularitas:458.5k
Nilai: 5
Nama Author: Si_Ro

*Harta Tahta dan Wanita*
Prekuel dari novel 'Kutumbalkan Tubuhku'

Laras tidak pernah menduga, kalau semua kekayaan yang dia nikmati selama ini, didapat dengan cara paling laknat.

Sang suami tidak pernah mau bercerita banyak tentang pekerjaanya, walau dipaksa.

Hingga suatu malam...

Dengan mata dan kepalanya sendiri, Laras melihat sang suami tercinta masuk ke dalam satu-satunya kamar, yang sangat terlarang bagi semua penghuni rumah. Termasuk dirinya, tentu. Tubuh Laras langsung bergetar hebat, ketika dia berhasil mencuri lihat isi didalamnya, melalui lubang kunci.

Dan sejak malam itu, Laras bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh suaminya untuk mendapatkan semua kemewahan.

Keadaan semakin rumit, saat Laras mengetahui kalau di dalam rahimnya telah tumbuh benih cinta. Dia tidak mau kejadian lalu terulang, lagi. Cukup satu kali saja.

Laras tidak akan rela, kalau sang calon jabang bayi yang masih sucinya, ikut menanggung dosa. Lalu, langkah seperti apa yang akhirnya akan diambil oleh Laras?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HTW 30

“AYAH!!”

Mendapati Ayah yang ambruk mendadak, aku dan Nuri menjerit bersamaan. Kami panik bukan main, tatkala melihat warna merah menodai baju yang Ayah kenakan.

“Ayah? Bangun Yah! Ayah kenapa?” Aku menepuk-nepuk pipi Ayah.

Nuri berlari mendekat dengan air mata yang sudah mengalir deras. Dia menggenggam tangan Ayah dan menatap penuh tanya padaku. “Kak? Ayah kenapa, Kak? Kenapa Ayah berdarah, Kak?”

Darah? Iya benar. Warna yang menodai baju Ayah adalah darah. Tapi dari mana darah itu berasal?

“Tuan Besar… ada apa ini?”

Tiba-tiba Paman Agus sudah bersimpuh di sebelahku dan langsung memeriksa keadaan Ayah. Sementara Ibu dan Bi Mira berdiri dibelakang, dengan air mata yang siap meluncur.

“Ayah, Paman. Ayah berdarah. Bagaimana bisa Ayah seperti ini, Paman?” aku mulai merancau, karena panik.

“Tenangkan dirimu dulu, Nak Bram! Yang Tuan Besar butuhkan saat ini bukan air mata atau rasa panik, tapi ketenangan kita dalam bertindak! Tenangkan dirimu, dan bantu Paman untuk memberi pertolongan secepatnya. Kamu mengerti, kan?”

Untuk pertama kalinya, Paman Agus berani membentakku. Dan itu membuatku sedikit terkejut. Paman Agus mulai menggeser tangan Ayah yang memegang bagian perut. Lalu perlahan membuka kancing baju untuk memastikan apa yang dialami Ayah.

“Ayah kenapa, Paman?” Nuri kembali bertanya.

“Paman tidak bisa menjelaskannya sekarang, Nak Nuri. Tapi sebaiknya, kita harus cepat membawa Tuan Besar ke Rumah Sakit.”

Sikap tenang yang Paman Agus perlihatkan dalam menghadapai situasi mencekam seperti ini, rupanya menular. Aku menghela nafas dalam, dan berusaha untuk bertindak dengan kepala dingin. Sama persis dengan yang Ayah ajarkan padaku. Berkali-kali.

Tanpa banyak kata lagi, aku segera mengangguk setuju, lalu membopong tubuh Ayah masuk ke dalam mobil.

“Nuri ikut, Kak!” seru Nuri, begitu aku hampir menutup pintu.

“Cepat naik!” perintahku pada Nuri.

Nuri bergerak cepat. Aku pikir dia akan memilih kursi depan, dan duduk di samping Paman Agus. Tapi nyatanya dugaanku salah. Nuri malah menarik lenganku, dan menerobos masuk ke bagian belakang. Dia menggunakan pahanya, untuk menyanggah kepala Ayah.

Meski adikku itu terus terisak, tapi kehadirannya mungkin lebih dibutuhkan oleh Ayah. Karena keinginannya untuk bertemu Nuri, sudah tercapai. Dan inilah tujuan Ayah pulang ke kampung Nenek.

Sebelum menyusul masuk ke dalam mobil, aku sempat berbicara pada teman-teman Nuri untuk meminta pertolongan. Menatap mereka satu persatu, lalu berakhir pada mata bening Ajeng yang menatapku dengan penuh kecemasan.

“Apa diantara kalian ada yang bisa menyetir dan sudah punya SIM?”

Perhatianku beralih, saat ada satu orang menunjuk jari. Kalau tidak salah ingat, dia adalah pemuda yang juga menaruh hati pada Ajengku.

“Kau tahu Rumah Sakit HK?” bocah yang kutanya mengangguk. “Tolong bawa Ibu dan Bibiku kesana!”

Aku segera menyerahkan kunci mobil, tanpa menanyakan kesanggupannya. Aku juga tidak merasa takut, kalau mobilku akan dibawa kabur olehnya. Saat ini aku tidak peduli pada apapun, selain bisa cepat membawa Ayah sampai ke Rumah sakit.

Meski sudah berusaha untuk bersikap tenang, tapi aku tetap tidak sanggup jika harus menyetir sambil memikirkan keadaan Ayah. Apalagi harus membawa Ibu dan Bibi sebagai penumpang. Menyetir membutuhkan konsentrasi, dan aku tidak punya itu sekarang.

Makin banyak orang yang membantu, kurasa akan lebih baik. Aku tidak mau mengambil resiko.

“Ibu, Bibi... Tyo dan Paman Agus pergi dulu.”

“Iya, Nak.”

Paman Agus membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Bertahun-tahun menjadi sopir Ayah, membuatku tidak sempat meragukan kemampuannya. Tenang dan halus. Itulah yang dapat aku rasakan, saat harus bertemu dengan jalan tidak rata, atau polisi tidur.

Walaupun jalanannya tidak selebar jalanan yang ada di kota, tapi di sini kita tidak perlu mengkhawatirkan kemacetan yang terlalu parah. Ditambah dengan kemampuan Paman Agus, maka waktu yang dibutuhkan selama perjalanan menjadi semakin singkat.

Tepat di depan IGD, Paman Agus menginjak rem mobil. Aku segera turun, dan meraih tubuh Ayah yang berada di pangkuan Nuri.

“Bertahanlah Ayah… kita sudah sampai di Rumah Sakit,” bisikku pada Ayah yang setia memejamkan mata, sejak meninggalkan halaman rumah Nenek.

-

Setelah brangkar yang membawa Ayah masuk ke dalam IGD, aku membimbing Nuri untuk duduk di kursi tunggu. Kami tidak henti-hentinya berdo’a untuk keselamatan Ayah, yang sedang ditangani oleh dokter.

”Sebenarnya Ayah kenapa, Kak?” Tanya Nuri sembari terisak.

“Kakak tidak tahu, Nuri. Sejak tadi, Ayah tidak mengeluh apa-apa sama Kakak. Cuma tadi saat diperjalanan, kita sempat….”

Keningku berkerut, ketika kilasan perkelahian kami dengan para perampok yang menghadang jalan tadi pagi, kembali terbayang. Aku ingat betul, saat ikut melawan lima laki-laki bertopeng yang hendak merampas milik kami.

Aku, Ayah dan juga Paman Agus, melawan mereka bersama-sama. Tapi aku tidak melihat benda tajam apapun, dalam peristiwa itu.

“Sempat apa, Kak?” Nuri bertanya, dengan mengguncang-guncangkan lenganku.

“Kami sempat dihadang perampok,” jawabku lirih.

“APA?!” pekik Nuri. “Kapan? Dimana? Kenapa bisa terjadi? Jawab Nuri, Kak! Nuri mau tahu semuanya!”

“Nanti akan Kakak ceritakan.”

Aku melihat Ibu dan Bi Mira mendekat. Teman-teman Nuri, yang tadi berkumpul di rumah pun, turut serta. Dan aku segera mengulurkan tangan, untuk menerima kembali kunci mobil.

Dengan tulus, aku mengucapkan banyak terima kasih pada pemuda yang membantu membawa Ibu dan Bi Mira. Aku pernah menganggapnya sebagai saingan, karena dia mengincar Ajengku. Tapi bantuannya barusan, tetap harus dapat pengakuan.

Nuri sudah berada diantara teman-teman perempuannya. Sedangkan yang laki-laki, memilih berdiri agak jauh.

Ajeng memeluk Nuri, untuk sekedar memberi semangat. Dan aku sempat tersenyum, melihat keakraban keduanya.

“Bagaimana keadaan Ayah kalian?” Tanya Ibu yang tidak bisa menyembunyikan keresahan.

Ayah dan Ibu, sudah bercerai. Tapi keduanya tetap saling peduli, satu sama lain. Dan setelah resmi berpisah, Ibu tidak pernah sekali pun mengajarkan padaku atau pun Nuri, untuk membenci Ayah.

“Masih ditangani Dokter, Bu.”

“Sebenarnya apa yang terjadi, Tyo? Kenapa Ayahmu bisa tiba-tiba berdarah seperti itu? Apa selama dijalan, dia tidak mengatakan apapun padamu? Apa dia tidak mengeluhkan keadaanya?”

Aku tidak sanggup menjawab, rentetan pertanyaan dari Ibu. Aku merasa tidak berguna, karena tidak tahu apa-apa tentang luka Ayah.

“Tadi pagi kami dihadang perampok, Nyonya. Tuan Besar membantu Nak Bram dan suami saya melawan perampok itu,” jelas Bi Mira.

“Perampok?!” Ibu menutup mulut, tidak percaya.

“Keluarga pasien atas nama Tuan Broto?” panggilan dari seorang perawat menghentikan Bi Mira yang akan menjawab pertanyaan Ibu.

“Iya, kami keluarga Tuan Broto!” aku berseru, dan lekas mendekat pada perawat.

“Pasien meminta untuk bisa berbicara dengan anak-anaknya.”

.

.

.

Nangis sampe males nulis...

Entah Si_Ro mencet tombol apa, tapi semua file yang tersimpan hilang. Otomasis Si_Ro harus mengingat dan nulis ulang. Hanya bab ini saja, yang sempat tercatat di hp.

Ditambah besok adalah hari ulang tahun anakku. Mau tidak mau, waktunya jadi terbagi-bagi.

Maaf ya…

By Si_Ro

**

Ayo dukung dan berikan POIN sebanyak-banyaknya untuk novel ‘Ha Tan Wa’, dan dapatkan giveaway menarik.

***

Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.

Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.

Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.

Dimanapun kita berada, jaga kesehatan dan ikuti anjuran pemerintah.

RAJIN CUCI TANGAN, JAGA JARAK DAN JUGA PAKAI MASKER

1
Nur Secha
lanjut thor,Q menunggu up nya lg,kpn nih d lnjut ceritanya....makin penasaran,💪💪 trs thor
Rinda_Rey
lanjuutt thor,sehat selalu.
apa anaknya laras bakal jadi jodohnya sekar ya🤔🤔
trus tyo terbebas dari iblis itu saat pembangunan jembatan itu ya thor 😲😲
Rinda_Rey
aku juga😭😭
Bunda Silvia
kalo ajeng alias laras ibunya sekar mengapa bram membenci anaknya
Aishnina(✿ ♥‿♥)
blm smpe ke cerita tentang sekar knp sdh ga lanjut lg thor...
pdahal mampir kesini krna abis baca Serena, ,penasaran sm kisah tentang sekar
Ibuk Kumaiyah
lama gak liat ternyata masih stak di sini belum ending jugak/Smug/
Arieee
meninggal nanti yang hidup Sekar anak ke 2 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Arieee
benang merah mulai terlihat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Sri Yati
aku mampir author 🤗🤗 abis baca Serena lanjut kesini
Rendi
kenapa enggak dilanjutin padahal cerita sangat baguss, saya sangat suka ceritanya....
Komisah Izza
Luar biasa
Bayu Linggau
tulisanya kek gerak2😭
Bayu Linggau
lain kali tulisanya jgn kek gini kak mata ku pusing bacanya😭
Yuniar
kok ga mudeng ya ma alurnya
Rami Martha
Yaaaahhh
terpaksa menunggu deh
udah up nya dikit dikit malah bersambung lagi 🤦
Eline Yulistianti
lama banget gk up²... d lanjut khan cerita nya???
Ni Umayah
ak mampir lg
Rodiah Rodiah
semangat baca ceritanya Thor,seru bangeet
Rodiah Rodiah
semangat dan sehat selalu Thor💪🤲
Raffa&kaifa& Ibrahim
Thor apa kabar, cerita nya kenapa ga dilanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!