NovelToon NovelToon
Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayamgoreng

Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.

Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.

Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.

Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.

"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pria gila.

Setelah menempuh perjalanan emosional yang menguras air mata di sel tahanan Arkan, Ghea berjalan pulang dengan kepala yang terasa pening luar biasa, dan tenggorokannya sekering padang pasir.

Secara refleks, langkah kakinya membawa Ghea masuk ke tempat seperti ini. Ini adalah dunianya dulu—kafe mahal tempat ia dan teman-teman sosialitanya biasa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bergosip dan memamerkan tas ratusan juta.

Aroma biji kopi premium dan kehangatan pendingin ruangan langsung menyambut Ghea begitu ia mendorong pintu kaca sebuah kafe estetik itu.

Ghea memilih meja di sudut yang agak temaram, mencoba menyembunyikan penampilannya yang berantakan. Namun, begitu ia duduk di atas kursi beludru yang empuk, insting masa lalunya langsung bekerja. la melambaikan tangan dengan anggun, memanggil pelayan dengan gaya angkuhnya yang belum sepenuhnya hilang.

"Mbak, saya mau Iced Avocado Latte pakai almond milk, manisnya setengah saja. Sama satu Cake cokelatnya, ya" ucap Ghea lancar, tanpa melihat menu terlebih dahulu karena itu adalah pesanan wajibnya dulu.

Pelayan kafe itu mencatat dengan sopan, lalu meletakkan buku menu di atas meja. "Baik, Kak. Totalnya jadi seratus tiga puluh lima ribu rupiah. Mau langsung dibayar atau didebit, Kak?"

Mendengar nominal itu, tubuh Ghea mendadak kaku. Tangannya yang sudah bersiap merogoh tas langsung membeku di udara.

Seratus tiga puluh lima ribu?

Otak Ghea seolah dihantam palu godam. Realita baru dalam hidupnya mendadak berputar kejam di kepala. Uang seratus tiga puluh lima ribu rupiah saat ini adalah biaya makan yang bisa menyambung hidupnya untuk beberapa hari. Sisa uang tabungan yang dilepas oleh bank atas bantuan Nadia memang cukup untuk modal, tapi setiap rupiahnya kini sangat berarti untuk menyambung hidup selama Arkan di penjara. la bukan lagi simpanan direktur kaya. la hanya simpanan seorang narapidana.

Pipi Ghea mendadak terasa panas karena malu saat menyadari pelayan itu masih menatapnya, menunggu pembayaran.

"E-eh... maaf, Mbak" cicit Ghea, suaranya mendadak bergetar dan kehilangan seluruh keangkuhannya. la buru-buru membuka buku menu, matanya bergerak panik mencari baris paling bawah. "Maaf, pesanannya bisa dibatalkan saja? Ganti... ganti Iced Black Tea reguler satu saja. Nggak usah pakai kue."

Pelayan itu mengernyitkan kening, menatap Ghea dari atas sampai bawah. Melihat kaos oblong longgar dan jins pudar yang dikenakan Ghea, tatapan pelayan itu berubah menjadi sedikit meremehkan. "Oh, baik. Jadi Iced Black Tea saja ya, Kak. Totalnya tiga puluh ribu rupiah."

Ghea menyerahkan dua lembar uang dengan tangan gemetar. Setelah pelayan itu pergi, Ghea meremas jemarinya sendiri di bawah meja. la menggigit bibir bawahnya menahan sesak.

"Gila... bahkan untuk beli kopi kesukaanku saja sekarang aku tidak mampu" batin Ghea menjerit frustrasi. Gaya hidup mewahnya dulu menolak keras kenyataan ini, membuat dadanya terasa begitu sakit karena harus mengemis pada keadaan. la benar-benar tersiksa harus beradaptasi menjadi orang miskin.

"Wow... lihat siapa yang duduk sendirian di sini dengan baju seperti gembel?"

Sebuah suara bariton yang sarat akan nada ejekan tiba-tiba menginterupsi lamunan Ghea. Ghea tersentak, langsung mendongak. Detik itu juga, jantung Ghea serasa berhenti berdetak.

Di hadapannya kini berdiri Dion, salah satu pria kaya dari lingkaran pergaulan elite Arkan dulu. Pria yang dulu sering memuji kecantikan Ghea dan mencoba mendekatinya saat Arkan masih jaya. Dion berdiri tegak dengan setelan kemeja desainer mahal, tangan kanannya dengan sengaja memainkan kunci mobil sport mewah di jarinya.

Tanpa permisi, Dion langsung menarik kursi di hadapan Ghea dan duduk bersilang kaki, menatap Ghea dengan pandangan menghina yang teramat menghantam Ghea.

"D-Dion...?" gumam Ghea gugup, refleks menyembunyikan tangan kasarnya di balik meja.

"Ghea, Ghea... ke mana perginya Ghea Clarissa yang dulu selalu memandang rendah orang lain di club malam?" Dion terkekeh sinis, bersandar santai sambil meneliti penampilan Ghea dengan tatapan jijik. "Berita tentang kebangkrutan Arkan sudah menyebar ke seluruh grup siber kita, tapi aku tidak menyangka kalau kondisimu akan sehancur ini. Kaos oblong oblong murahan? Jins pudar? Dan... ya ampun, apa itu yang kamu minum? Teh manis tiga puluh ribuan?"

Dion memajukan tubuhnya, menatap lekat ke dalam sepasang mata Ghea dengan kilat posesif yang liar. "Kamu tahu, Ghea? Sejak dulu, saat kamu masih berjalan mendongak dengan sombongnya di samping Arkan, aku selalu mengincar milik Arkan yang paling berharga. Yaitu kamu. Kecantikanmu yang berkelas, lekuk tubuhmu, bahkan watak keras kepalamu yang menantang itu... selalu berhasil membuatku gila dan terobsesi" jelas Dion, berkata dengan nada mesum secara terang terangan. "Dan sekarang, saat pelindungmu itu sudah jadi sampah tak berguna di dalam penjara, kamu pikir aku akan melepaskan kesempatan emas ini?" tangan Dion merayap maju ke atas meja, mencoba mencengkeram ujung jemari Ghea yang gemetar.

Kata-kata Dion bagai belati yang menguliti harga diri Ghea yang tersisa. Ghea merasa wajahnya ditampar berkali-kali. Rasa malu, marah, dan terhina bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.

"Kalau kamu ke sini hanya untuk menghinaku, lebih baik kamu pergi, Dion! Aku tidak punya urusan denganmu!" usir Ghea, mencoba meninggikan suaranya agar terdengar tegar, meski matanya sudah berkaca-kaca.

Dion tertawa rendah, suara baritonnya terdengar begitu mengintimidasi di keheningan sudut kafe itu. Bukannya pergi, pria itu malah bangkit berdiri dari kursinya. Dengan langkah tegap yang sarat akan dominasi, ia berjalan memutari meja lalu sengaja duduk tepat di samping Ghea, memangkas jarak hingga tubuh mereka menempel rapat tanpa celah.

Ghea tersentak panik dan mencoba bergeser mundur, namun lengan kokoh Dion dengan cepat merangkul sandaran kursi di belakang leher Ghea, mengukung wanita itu sepenuhnya hingga aroma parfum maskulinnya yang pekat mengunci pergerakan Ghea.

"Pergi?" tanya Dion, lalu terkekeh sinis. "Jangan naif, Sayang. Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang kuinginkan" bisik Dion tepat di depan daun telinga Ghea, membuat bulu kuduk wanita itu meremang ketakutan. Jari Dion dengan berani menyentuh dagu Ghea, mencengkeramnya sedikit kuat untuk memaksanya menatap wajahnya yang dipenuhi gairah kekuasaan.

"Watak angkuhmu ini yang selalu membuatku penasaran setengah mati dari dulu. Semakin kamu memberontak seperti ini, justru semakin membuatku ingin menaklukkanmu sampai bertekuk lutut di bawah kendaliku."

Ghea melepas cengkaram Dion dengan kasar, sekali sentakan tangan Dion langsung terhempas karena memang pria itu tidak mencengkram dagunya dengan kekuatan besar. "Jangan kurang ajar bisa nggak?!" sentak Ghea risih.

"Hahaha! Masih bisa sombong ternyata" kata Dion remeh, memajukan tubuhnya ke arah meja, menatap Ghea dengan senyum licik. "Dengar, Ghea. Jangan belagu. calon suamimu itu sekarang cuma kriminal yang membusuk di sel mapolda. Kamu pikir kamu siapa sekarang tanpa uang Arkan? Kamu itu tidak punya apa-apa lagi! Gaya hidupmu yang tinggi itu tidak akan pernah bisa bertahan di tempat kumuh."

Dion meraih cangkir kopi mahalnya yang baru di antar, meminumnya sedikit lalu menatap Ghea dengan pandangan merendahkan yang teramat pekat.

"Kamu itu terbiasa hidup enak, Ghea. Jangan sok kuat mau hidup melarat demi setia pada narapidana. Gimana kalau aku kasih penawaran menarik?" Dion menurunkan suaranya, berbisik dengan nada mesum yang menjijikkan. "Jadilah wanita simpananku. Aku bisa sewa apartemen mewah untukmu, belikan tas bermerek lagi, dan penuhi gaya hidup sosialitamu yang mahal itu. Tugasmu cuma satu, buat aku senang. Bagaimana? Daripada kamu harus makan nasi keras dengan calon ibu mertuamu yang tua itu?"

Dion semakin merapatkan tubuhnya tanpa memedulikan penolakan Ghea, tangannya beralih turun mencengkeram pinggang Ghea dengan cengkeraman posesif yang kuat, memaksa tubuh mereka hampir bersentuhan sempurna. "Bayangkan kemewahan yang menunggumu, Ghea. Setiap malam kamu hanya perlu melayaniku di atas ranjang empuk, memuaskan hasratku yang sudah bertahun-tahun terpendam hanya untukmu. Aku tahu tubuh manjamu ini merindukan sentuhan pria kaya, bukan dinginnya lantai kontrakan. Menyerahlah padaku, Ghea... jadilah milikku malam ini" bisik Dion dengan napas memburu yang semakin agresif, wajahnya bergerak maju mencoba meraup bibir Ghea dengan paksa.

Plak!

Ghea berdiri dari kursinya dengan napas memburu, tangannya bergetar hebat setelah tanpa sadar menggebrak meja kafe hingga menarik perhatian beberapa pengunjung lain. Air mata kemarahan kini benar-benar luruh membasahi pipinya.

Dulu, ego Ghea mungkin akan goyah demi harta. Namun, bayangan Arkan yang menangis penuh penyesalan di balik jeruji besi tadi, dan ketulusan Nadia yang sudah menyelamatkan masa depannya, mendadak menjelma menjadi kekuatan baru di dalam hatinya.

"Jaga mulutmu, Dion!" gertak Ghea dengan suara bergetar menahan tangis yang mendalam. "Aku memang merindukan hidup mewahku yang dulu! Aku memang masih kesusahan dan tersiksa setengah mati untuk beradaptasi jadi orang miskin! Tapi sumpah demi apa pun... aku tidak akan pernah sudi merendahkan diriku lagi menjadi wanita murahan seperti usul menjijikkanmu itu!"

Dion tertegun sejenak, terkejut melihat penolakan keras dari wanita yang ia kira sudah putus asa karena miskin. Wajah Dion seketika menggelap, merasa egonya terluka. "Sok suci kamu, Ghea. Kita lihat saja seberapa lama kamu bisa bertahan hidup jadi orang kere di kontrakan!"

Ghea berdecit sinis. "Setidaknya lantai kontrakanku jauh lebih terhormat daripada tempat tidurmu yang menjijikkan!" balas Ghea tajam. la langsung menyambar tas kain murahnya, berbalik, dan melangkah lebar meninggalkan kafe tersebut dengan tubuh yang gemetar hebat akibat ketakutan dan luapan emosi.

Begitu keluar menembus pintu kaca, angin malam langsung menerpa wajah Ghea yang basah oleh air mata. la berjalan cepat menyusuri trotoar, menangis tersedu-sedu di bawah temaram lampu jalanan ibu kota. Tamparan realita hari ini teramat kejam menuntutnya untuk berubah, namun di tengah isak tangisnya yang pilu, Ghea memeluk tasnya erat-erat, memantapkan langkah kakinya untuk pulang—memilih menjaga kesetiaannya pada Arkan di atas puing-puing gengsinya yang telah runtuh.

★★★

1
Rita Rita
pokoknya begitu klik langsung lebur,, AQ paling suka gercap,,,
Rita Rita
diri ku mampir, keknya menarik banget alur ceritanya Thor,,
KakLia
canggung bngt yah pak🤭
KakLia: terserah kk aja, kan author adalah penguasa🤣
total 2 replies
Ayamgoreng
wah ad yg komen. oke!! udh ta up satu tuh
Iffanaya 😽
kuy ditunggu lanjutannya kk 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!