Sinopsis:
Kemalangan dan nasib buruk selalu datang di kehidupan Genya, seorang gadis 18 tahun yang tidak memiliki apapun. Selain telah kehilangan kedua orang tuanya, dia juga diwariskan sebuah hutang yang sangat besar oleh ayah nya dan diusir oleh bibinya di hari kelulusan nya.
Tapi kehidupannya berubah 180 derajat setelah ia bertemu dengan seorang laki-laki misterius yang bernama Raphael Gin. Seorang lelaki yang datang ke hidupnya Genya, guna menagih hutang yang di miliki ayahnya Genya kepadanya.
Genre: Romantis, Drama, Psychological, Dewasa, Kekerasan
Jangan lupa like jika suka, beri juga kritik dan saran jika ada kekurangan dalam karya pemula ini! Terimakasih...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayu Mang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Cangkang tanpa jiwa
Tiga bulan telah berlalu sejak Genya menyandang status sebagai miliknya Raphael. Perlakuan kasar Raphael masih tetap sama, keseharian Genya di sibukkan oleh Raphael yang sedang gabut.
Raphael memberikan banyak hal kepada Genya termasuk dari pakaian bagus, perhiasan, uang, makanan melimpah, dan lain sebagainya.
Walau mendapatkan semua itu, Genya merasa dirinya bagaikan boneka robot bagi Raphael, karena si gadis tidak bisa keluar dari rumah terkutuk itu sesuka hatinya.
Makin hari makin banyak pengawal yang bertugas untuk mengawasi Genya, bahkan pelayan di rumah pun bertugas sebagai CCTV berjalan.
Hidupnya terjamin sejahtera, namun jiwanya terkekang disana, kebebasannya berada di genggaman tangannya Raphael.
Tubuhnya bagaikan sebuah cangkang tanpa jiwa, kadang gadis itu bengong dengan tatapan kosong ia memandang keluar, merindukan segarnya angin jalanan di pagi hari.
Tapi, akhir-akhir ini Raphael sering pergi keluar rumah. Karena ada peluncuran produk baru, maka dia sekarang menjadi sangat sibuk untuk mengurus hal itu.
"Tuan, kamu mau kemana?" Tanya Genya mengekori Raphael di belakangnya.
"Kenapa? Apa aku harus memberitahu mu semua jadwal ku hari ini?" Sahut Raphael ketus.
"Tidak, aku hanya ingin tau, kira-kira jam berapa tuan akan pulang?" Tanya Genya melirik Raphael.
"Aku akan pulang larut malam, apa kau akan merindukanku?" Tanya Raphael yang menarik tangan Genya kemudian memeluknya.
"Tentu, saya pasti merindukan mu." Sahut Genya dengan senyuman manis di bibirnya, namun dengan tatapan kosong dia memandang Raphael.
"Baiklah, jika begitu maka aku akan pulang lebih awal nantinya. Aku pergi dulu sayang, cup!" Raphael berpamitan sambil mencium pipi lembutnya Genya.
Genya melambaikan tangannya dengan senyuman di bibirnya. Setelah Raphael pergi, Genya bergegas menuju toilet dan membasuh wajahnya. Terutama di bagian pipi yang di cium oleh Raphael tadi.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa dia harus datang lebih awal? Seharusnya dia pergi, terus ga pulang-pulang selamanya!" Gumam Genya di depan cermin dia menyumpahi Raphael.
Berkali-kali dia menyesal, namun penyesalan tidak bisa merubah apapun. Kehidupannya sudah berubah sekarang, sulit untuk kembali seperti sebelumnya.
Setelah selesai membasuh mukanya, Genya pergi ke rak penyimpanan minuman alkohol di samping dapurnya Raphael yang besar.
Gadis itu ingin mencoba untuk mabuk, karena saat terakhir kali ia mabuk, Genya melakukan kesalahan hingga terlibat dengan Eden.
Dia berjalan ke ruang tamu dengan membawa botol minuman keras di tangannya. Dia mengambil beberapa camilan keripik juga di rak camilan.
Genya bertingkah seperti pemilik rumah jika Raphael pergi keluar. Dia tidak mau menyia-nyiakan status sebagai budak kesayangannya Raphael, jadi dia bisa melakukan apapun kecuali saat di larang oleh Raphael sendiri.
"Nona Genya, anda tidak boleh minum minuman beralkohol seperti itu!" Kata salah satu pengawal yang ditugaskan oleh Raphael, selalu berada di dekat Genya.
Genya hanya menoleh sebentar dan kemudian tidak menghiraukan kata pengawal itu lagi. Dia sibuk mencari film terbaru di TV yang sudah tersambung internet.
Dengan penuh gaya gadis itu membuka tutup botol minuman dengan membakarnya, kemudian menuangkannya ke gelas kecil di dekatnya.
"Kau mau?" Kata Genya menawarkan minuman kepada si pengawal yang bernama Dante itu.
"Tidak Nona Genya, saya tidak boleh mabuk saat sedang bekerja." Sahut Dante yang telaten mengikuti peraturan.
"Tidak apa-apa, lagian kapan lagi kau bisa mencicipi minuman mahal seperti ini kalau bukan sekarang? Sayang sekali sih kalau beneran ga mau." Kata Genya yang membuat Dante merasa tergoda.
Dia juga menyayangkan jika dia tidak menerima tawaran minum bareng dengan Genya saat itu.
Dengan ragu dia duduk di bawah bersama Genya, gadis itu terlihat senang saat Dante terjebak bujukannya.
Para pelayan silih berganti melewati tempat Genya berada saat itu. Mereka hanya bisa melihat kelakuan Genya bersama Dante di rumahnya Raphael, tanpa ada yang berani menegur mereka.
Genya sengaja memberikan minuman itu terus menerus kepada Dante, dia hanya minum sedikit-sedikit. Mereka berdua minum dari siang sampai petang.
Dante sudah oleng hingga tak kuat untuk berdiri lagi, dia terlentang begitu saja di lantai. Dia sudah teler, kesadarannya sudah hilang sepenuhnya.
Sedangkan Genya masih berada dalam kondisi setengah sadar, dia berusaha agar tidak mabuk dengan cara terus memberikan minumannya kepada Dante.
Namun itu tidak sepenuhnya berhasil karena Dante tidak terima jika hanya dia yang minum. Jadi terpaksa Genya juga ikut minum walau sedikit, tapi dia sangat buruk terhadap alkohol.
Padahal cuma sedikit dia minum, tapi rasanya sudah sangat mabuk dan oleng. Dan seperti yang dikatakan oleh Raphael tadi, saat itu Raphael benar-benar datang lebih awal.
Dia melihat Genya tepar di lantai bersama dengan Dante, pengawal yang dia percayai untuk menjaga Genya agar tidak kabur kemana-mana.
Raphael sangat geram, dia marah saat Genya mabuk-mabukan bersama dengan pengawalnya.
Genya yang sadar kalau Raphael sudah berada di dekatnya, berusaha bangun dengan meraih kakinya Raphael.
"Tuan... Kamu pulang?" Tanya Genya.
"Bangun! Apa yang sudah kau lakukan saat ku tinggal sebentar?" Kata Raphael menyuruh Genya untuk berdiri.
Bersusah payah Genya berdiri agar seimbang. Tiba-tiba sebuah tamparan dari Raphael melayang keras dan kemudian mendarat di pipinya Genya.
PLAK!
Genya langsung sempoyongan, dia memegangi pipinya yang terasa berdenyut.
Kesadarannya berangsur-angsur pulih, dia sangat terkejut begitu melihat ekspresi wajah nya Raphael yang terlihat sangat murka itu.
"Bawa tubuh laki-laki ini keluar! Cepat!" Teriak Raphael menyuruh anak buahnya yang lain membawa tubuhnya Dante keluar dari rumahnya.
Dengan sigap Raphael mengangkat tubuhnya Genya dengan posisi terbalik. Genya berontak, tapi pukulan tangannya tidak membuat Raphael bergeming sedikitpun.
Raphael membawa Genya ke kamarnya. Dia melempar tubuh gadis itu ke atas kasur dengan sangat kasar. Genya gemetar ketakutan, dia tidak tau apa yang akan di lakukan oleh Tuannya kali ini.
"Kau sudah membuat kesalahan, jadi bukankah kau harus di hukum sekarang?" Tanya Raphael yang kemudian membuka bajunya.
"Maafkan Genya! Genya salah! Genya minta maaf Tuan!" Kata Genya meminta maaf.
Raphael terlihat tidak perduli dengan Genya yang terus meminta maaf kepadanya. Dia berjalan mendekati gadis yang sedang gemetar di atas ranjangnya.
"Tidak seru kalau melakukannya dengan orang yang mabuk." Kata Raphael yang kemudian menarik tangannya dan mengajak Genya ke kamar mandi.
"Tuan! Maafkan Genya!" Kata Genya yang tak henti-hentinya mengucapkan maaf.
"Diam!" Bentak Raphael.
Dia mendorong tubuh nya Genya ke bawah shower mandi, dan kemudian menghidupkan shower itu. Pakaian Genya menjadi basah semua, dan juga air itu terasa sangat dingin.
Karena katanya, mandi menggunakan air dingin bisa memulihkan efek mabuk dengan cepat.
Genya menggigil kedinginan, dirasa sudah cukup, Raphael menyuruh Genya membuka semua bajunya yang basah sekarang.
Raphael keluar dan kemudian mengambilkan Genya handuk untuknya. Genya membalut tubuhnya dengan handuk yang di berikan oleh Raphael.
buat genya 2 bungga meluncur
maat cuma bisa kasih ini
2 bunga meluncur
1 bunga untuk niken
3 bunga untuk, niken /Rose//Rose//Rose/