"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARIAN MAUT DI LANGIT WADAS PUTIH
Cahaya perak dari Cermin Pencari Jiwa yang menggantung di langit malam bukan lagi sekadar alat pelacak; bagi penduduk Kota Wadas Putih, cahaya itu kini terasa seperti paku-paku es yang menghujam bumi, mengunci satu titik di jalan utama. Han Feng berdiri tepat di pusat pilar cahaya tersebut. Topi bambunya miring tertiup angin kencang, namun tubuhnya tetap tegak, seolah-olah seluruh beban langit tak sanggup membengkokkan pundaknya.
"Di sana dia! Monster kecil itu!"
Sebuah teriakan parau memecah kesunyian. Dari atas atap-atap bangunan yang berjejer, sosok-sosok bayangan bermunculan dengan kecepatan yang menakutkan. Mereka adalah Tentara Bayaran Kalajengking Hitam, kelompok pembunuh profesional yang dikenal karena kekejaman dan efisiensi mereka dalam mengeksekusi buronan.
Di tengah langit, seorang pria bertubuh raksasa dengan baju zirah hitam legam melompat turun dari kereta terbang. Ia mendarat dengan dentuman keras yang meretakkan jalanan batu dalam radius lima meter. Li Kuang, komandan utama pasukan Keluarga Li sekaligus ahli Ranah Pondasi Dasar Level 6, menatap Han Feng dengan mata yang memerah karena dendam.
"Han Feng! Kau telah membunuh tuan muda, melukai pengawal kami, dan menghina nama besar Keluarga Li!" Li Kuang mengangkat sebuah tabung perak kecil ke langit. Syuuut... BLARR! Sebuah suar cahaya meledak di angkasa, membentuk lambang kepala singa emas yang mengaum—tanda bagi seluruh unit Keluarga Li untuk melakukan pengepungan total. "Hari ini, kau tidak akan mati dengan mudah. Aku akan mematahkan setiap tulang di tubuhmu sebelum menyeretmu ke hadapan Leluhur!"
Dalam sekejap, tak kurang dari lima puluh kultivator mengepung Han Feng. Suasana menjadi begitu mencekam hingga udara seolah-olah berhenti mengalir.
"Banyak bicara. Kemarilah dan buktikan apakah kapakmu setajam lidahmu," ucap Han Feng dingin.
"MATI KAU!" Li Kuang meraung. Ia mengayunkan kapak raksasanya yang dialiri energi tanah berwarna cokelat pekat. Teknik "Kapulaga Penghancur Gunung". Ayunan itu menciptakan gelombang tekanan yang menghancurkan bangunan di sisi kiri dan kanan jalan.
Han Feng tidak berkedip. Saat mata kapak itu hanya berjarak beberapa inci dari lehernya, tubuhnya tiba-tiba berpendar keemasan. Langkah Kilat Emas!
Zhap!
Han Feng menghilang, meninggalkan bayangan semu yang hancur terkena kapak Li Kuang. Detik berikutnya, ia sudah berada di tengah-tengah kerumunan Tentara Bayaran Kalajengking Hitam.
"Jurus pertama," bisik Han Feng. Tangannya bergerak seperti tarian maut. Sentuhan Jari Petir Emas!
Setiap patukan jarinya melepaskan percikan listrik emas yang sangat padat. Crak! Crak! Crak! Tiga tentara bayaran yang mencoba menusuknya dari belakang mendadak membeku. Organ dalam mereka meledak seketika akibat aliran listrik yang masuk melalui titik syaraf. Senjata-senjata baja mereka hancur berkeping-keping seolah-olah hanya terbuat dari kaca rapuh.
Han Feng bergerak seperti hantu di antara pedang dan tombak. Ia tidak hanya menghindar; ia menari di atas maut. Setiap gerakannya efisien, mematikan, dan tanpa celah. Dalam hitungan menit, belasan mayat sudah bergelimpangan di sekitarnya, namun jubah pengembara cokelatnya tetap bersih tanpa noda.
"Formasi! Gunakan Formasi Penjara Sembilan Salib!" Li Kuang berteriak panik melihat anak buahnya bertumbangan seperti rumput yang disabit.
Sembilan ahli Pondasi Dasar dari Keluarga Li segera melompat ke posisi strategis, membentuk lingkaran besar yang mengurung Han Feng. Mereka secara serentak menyalurkan Qi mereka ke tanah. Seketika, garis-garis energi merah darah muncul dari bumi, membentuk jaring cahaya yang mengikat udara, membuat gravitasi di dalam lingkaran tersebut meningkat sepuluh kali lipat.
Han Feng merasakan tekanan itu. Bahunya sedikit turun, namun senyum di bibirnya justru makin lebar. "Formasi penjara? Kalian pikir jaring ikan ini bisa menahan naga?"
Petir emas mulai merambat keluar dari pori-pori kulit Han Feng. Rambutnya berdiri, dan matanya kini sepenuhnya berubah menjadi emas murni. Di langit, awan mendung yang tadinya tenang tiba-tiba berputar membentuk pusaran raksasa, seolah-olah merespons energi liar yang meledak dari tubuh pemuda itu.
"Ini bukan lagi teknik manusia..." gumam Lei Zhan dari kejauhan, tangannya gemetar memegang hulu pedangnya. "Dia... dia sedang memanggil kehendak langit!"
Han Feng mengangkat tangan kanannya ke udara. Petir dari awan mendung menyambar turun, menyatu dengan Qi emas di tangannya, membentuk sebuah pedang cahaya tanpa wujud fisik. Pedang Tanpa Wujud: Kehendak Dewa Guntur.
"Hancur," ucap Han Feng pelan.
Ia menebaskan pedang petir itu dalam satu busur horizontal yang sempurna.
BOOOOOOM!
Gelombang energi emas-biru menyapu segalanya. Jaring energi merah dari formasi Sembilan Salib hancur berkeping-keping seperti keramik yang dipukul palu. Sembilan ahli yang membentuk formasi itu terpental mundur dengan dada yang koyak. Li Kuang, yang berada di garis depan, mencoba menangkis dengan kapaknya, namun senjata tingkat Bumi itu meleleh seketika.
"ARGHHHH!" Li Kuang melolong saat tebasan petir itu memotong lengan kanannya hingga bahu. Darah menyembur, namun luka itu langsung hangus terbakar oleh panasnya petir emas.
Dampak tebasan itu tidak berhenti di sana. Deretan bangunan di belakang pasukan Keluarga Li terbelah menjadi dua, menciptakan parit panjang di tanah yang berasap. Seluruh Kota Wadas Putih bergetar seolah-olah gempa bumi baru saja melanda.
Han Feng berdiri di tengah kehancuran, pedang petirnya masih berderit mengeluarkan suara listrik yang mengerikan. Ia melangkah menuju Li Kuang yang terkapar tak berdaya.
"Keluarga Li mengirimmu untuk menangkapku? Kalian terlalu meremehkanku," Han Feng mengangkat pedangnya, bersiap mengirim Li Kuang ke akhirat.
Namun, tepat saat pedang itu hendak diayunkan, langit di atas Kota Wadas Putih seolah-olah terbelah. Awan-awan tersingkir secara paksa oleh sebuah tekanan yang begitu dahsyat hingga membuat para kultivator di bawahnya jatuh berlutut, tak kuat menahan beban aura tersebut.
WUUUUUUSHH!
Sebuah tangan raksasa yang terbentuk dari gumpalan awan dan energi Qi murni muncul dari langit, turun dengan kecepatan kilat untuk menekan Han Feng ke bumi. Tekanan ini beribu kali lebih kuat dari formasi penjara tadi.
"CUKUP! Anak kecil, beraninya kau menyembelih keturunan Keluarga Li di hadapanku!"
Suara itu tua, berat, dan mengandung getaran yang sanggup meretakkan jiwa. Sosok seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang menjuntai hingga ke pinggang muncul dari balik awan. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna emas redup, duduk bersila di atas udara seolah-olah langit adalah singgasana miliknya.
Leluhur Besar Keluarga Li.
Matanya yang cekung menatap Han Feng dengan kebencian yang mendalam. Tekanan dari auranya—Ranah Setengah Inti Sejati—membuat tanah di sekitar Han Feng ambles sedalam satu meter.
Namun, yang membuat semua orang terkesiap adalah reaksi Han Feng. Alih-alih gemetar atau memohon ampun, pemuda itu justru tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar gila dan penuh tantangan di tengah tekanan aura yang mematikan.
Ia menggenggam pedang petir emasnya lebih erat, energi di dalam tubuhnya justru berputar makin kencang, menolak untuk tunduk. Cahaya emas dari tubuhnya membubung tinggi, mencoba menembus tangan awan raksasa tersebut.
"Leluhur tua yang sudah bau tanah akhirnya keluar juga?" Han Feng mendongak, matanya berkilat dengan kegilaan bertarung yang murni. "Bagus! Aku baru saja merasa bosan dengan sampah-sampah ini. Aku butuh batu asahan yang lebih keras untuk menguji ketajaman pedang baruku!"
Leluhur Li mengerutkan kening, tangannya bergerak perlahan untuk menekan lebih keras. "Kau mencari kematian, semut kecil!"
"Kematian?" Han Feng menyeringai, petir emas di tangannya meledak menjadi raksasa cahaya. "Mari kita lihat, siapa yang akan mati duluan: Leluhur yang sudah kadaluarsa, atau naga yang baru saja bangun!"
Dua kekuatan dahsyat itu kini berhadapan di langit Wadas Putih, siap meledakkan apa pun yang tersisa dari kota tersebut. Pertarungan yang sebenarnya, hidup dan mati yang sesungguhnya, baru saja dimulai di ujung tebing keputusasaan.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏