Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22
Sirenee mobil polisi kembali meraung-raung memecah keramaian di tepi jalan raya. Sore itu, area pohon bambu tua yang biasanya sepi telah dipasangi garis polisi berwarna kuning. Beberapa petugas berbaju preman dan tim medis sibuk berjalan masuk ke dalam kerimbunan pohon yang gelap untuk mengevakuasi jasad Mas Ferdi.
Siska duduk di dalam mobil dinas milik Letnan Tian dengan sebuah selimut kain menutupi bahunya yang masih gemetar. Segelas teh hangat yang dibelikan oleh Tian di warung sebelah masih digenggamnya erat, namun air itu sudah mendingin tanpa sempat dia minum. Pandangan mata Siska kosong, menatap butiran air yang tersisa di kaca mobil. Dalam waktu kurang dari seminggu, dia telah kehilangan dua orang yang paling disayanginya dengan cara yang sama-sama tragis.
Letnan Tian membuka pintu kemudi lalu masuk ke dalam mobil. Dia mengembuskan napas panjang, melepaskan topi dinasnya dan meletakkannya di atas dasbor. Wajah polisi muda itu tampak sangat kelelahan, namun sorot matanya tetap memancarkan ketegasan.
"Jasad kakakmu sudah dibawa ke rumah sakit, Neng," kata Letnan Tian dengan nada suara yang sangat pelan dan hati-hati, takut menyinggung perasaan Siska yang sedang hancur. "Teman-teman saya di lapangan mengira ini adalah serangan dari binatang buas yang lepas. Saya terpaksa membiarkan mereka berpikir begitu untuk sementara waktu."
Siska menoleh perlahan, menatap Tian dengan mata yang sembab dan bengkak. "Terima kasih, Pak... Kalau Bapak menceritakan yang sebenarnya, mereka pasti tidak akan percaya."
"Panggil Tian saja, Neng. Di luar tugas, saya hanya seorang manusia biasa yang kebetulan terseret ke dalam masalah ini," sahut Tian sambil menyalakan mesin mobil. "Dan kamu benar. Di dunia kepolisian, segala sesuatu harus didasarkan pada bukti fisik dan logika. Jika saya bilang ada bayi berlendir berkaki patah yang memakan jantung manusia, jabatan saya taruhannya, dan kita berdua bisa berakhir di rumah sakit jiwa."
Tian menjalankan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai macet karena jam pulang kantor. Matahari senja yang berwarna jingga kemerahan mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi, menandakan malam akan segera tiba. Setiap kali melihat kegelapan mulai turun, jantung Siska berdegup lebih kencang. Bayangan wajah keriput bayi Doni yang mendesis di dalam hutan bambu terus membayangi pikirannya.
"Kita mau ke mana, Kak Tian?" tanya Siska lirih.
"Kita ke kantor arsip lama Polres, Siska. Tempatnya agak terpencil di bagian belakang kota," jawab Tian tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. "Setelah kejadian gila di hutan bambu tadi, saya langsung teringat sesuatu. Saat pertama kali ditugaskan memeriksa kasus Mbak Selfi, saya sempat membaca sekilas tentang sejarah rumah nomor 14 itu. Di sana tertulis bahwa tiga puluh tahun lalu pernah terjadi pembunuhan massal di rumah yang sama."
Siska mengangguk pelan. "Iya, Kak. Sebelum Mas Ferdi meninggal, saya sempat mendesak Pak Cahyo, tetangga sebelah rumah kami. Dia cerita kalau pemilik pertama rumah itu namanya Pak Broto. Dia melakukan pesugihan cincin darah karena istrinya mandul. Anak yang lahir dari pesugihan itu ya... berwujud sama seperti Doni semalam."
Tian memukul setir mobilnya dengan pelan. "Tepat sekali. Itu artinya, makhluk yang kita hadapi ini bukanlah hal baru. Dia adalah kutukan lama yang terbangun kembali. Di kantor arsip lama, ada lemari khusus yang menyimpan berkas-berkas kasus yang dianggap 'tidak terpecahkan' atau mengandung unsur mistis pada zaman dulu. Saya yakin, laporan lengkap tentang bagaimana warga desa zaman dulu menghentikan anak Pak Broto ada di dalam berkas itu."
Tiga puluh menit kemudian, mobil Tian berhenti di depan sebuah gedung tua berlantai dua yang catnya sudah mengelupas. Suasana di sekitar gedung itu sangat sepi, dikelilingi oleh pohon-pohon mangga yang rimbun. Tempat ini adalah gudang penyimpanan arsip-arsip hukum yang sudah kedaluwarsa.
Tian membawa Siska masuk lewat pintu samping setelah menunjukkan lencana peraknya kepada petugas penjaga malam yang sedang berjaga. Mereka berjalan menyusuri koridor yang berbau kertas tua dan debu. Cahaya lampu neon di langit-langit yang berkedip-kedip menambah kesan angker di dalam gedung tersebut.
Tian membuka sebuah ruangan besar di ujung koridor. Di dalamnya terdapat puluhan baris lemari besi yang penuh dengan map-map cokelat tebal.
"Kamu tunggu di sini sebentar, ya. Saya cari barisan tahun 1996," kata Tian sambil berjalan menuju deretan lemari di bagian sudut kiri.
Siska duduk di sebuah kursi kayu tua, mendekap selimutnya erat-erat. Hawa di dalam ruangan arsip ini terasa sangat dingin, membuat bulu kuduknya sesekali berdiri. Siska melirik ke arah jendela kaca yang menampilkan kegelapan malam di luar. Di dalam hatinya, dia terus berdoa agar makhluk keriput itu tidak bisa melacak keberadaannya di tempat ini.
Setelah hampir lima belas menit mencari di antara tumpukan debu, Tian akhirnya berjalan kembali mendekati Siska dengan membawa sebuah map cokelat yang sudah sangat usang dan talinya hampir putus. Di bagian depan map itu tertulis sebuah kode: Kasus No. 88/B/1996 - Pembantaian Keluarga Broto.
Tian duduk di kursi sebelah Siska, lalu membuka map tersebut dengan sangat hati-hati agar kertas di dalamnya tidak robek. Kertas-kertas di dalam map itu sudah berwarna kuning kecokelatan. Ada beberapa foto hitam-putih yang memperlihatkan kondisi bagian dalam rumah nomor 14 tiga puluh tahun lalu—kondisinya sangat mirip dengan apa yang dilihat Siska semalam, penuh dengan ceceran darah di lantai ruang tengah.
"Lihat ini, Siska," Tian menunjuk selembar kertas yang berisi laporan interogasi dari saksi-saksi zaman dulu. "Ini adalah catatan dari orang pintar atau dukun kampung yang disewa warga desa setelah pembantaian itu terjadi. Namanya Mbah Moen."
Siska mendekatkan kepalanya, membaca baris demi baris tulisan mesin tik kuno yang sudah agak pudar dengan saksama.
"Makhluk hasil ikatan janji cincin darah tidak dapat dimusnahkan dengan timah panas ataupun bilah besi biasa. Jiwanya adalah ampas sekutu setan yang telah menyatu dengan ari-ari anak yang dikorbankan. Jikalau dia bangkit di malam keseratus dan terlepas ke dunia luar, dia akan terus menuntut darah dari garis keturunan yang sama sampai habis."
Napas Siska tertahan saat membaca kalimat berikutnya.
"Satu-satunya cara untuk melumpuhkan wadah fisiknya yang keriput adalah dengan memutus tali gaibnya. Tali itu berwujud ari-ari asli dari sang bayi yang pertama kali menumpahkan darah pesugihan. Ari-ari itu tidak pernah membusuk dan ditanam di bawah pondasi tempat lemari rias pertama kali diletakkan. Bakar ari-ari itu dengan minyak suci, maka tubuh fisik sang bayi iblis akan meleleh menjadi air."
"Ari-ari..." bisik Siska dengan bibir yang gemetar. "Jadi, ari-ari anak Pak Broto dulu masih tertanam di bawah lantai kamar utama rumah kami?"
"Kelihatannya begitu, Siska," kata Tian dengan wajah yang sangat serius. "Pak Cahyo tempo hari hanya tahu kalau anak itu dikubur hidup-hidup di bawah kolong lemari, tapi dia tidak tahu kalau sumber kekuatan utamanya adalah ari-ari yang ditanam di bawah pondasi lantai semen rumah itu."
Tian menutup map cokelat itu dengan rapat, lalu menatap lurus ke dalam bola mata Siska. "Ini adalah informasi yang kita butuhkan. Makhluk itu menyerangmu di hutan bambu karena dia tahu kamu adalah sisa darah terakhir. Jika kita tidak menghancurkan ari-ari itu, dia tidak akan pernah berhenti memburumu ke mana pun kamu pergi."
"Tapi... rumah itu sekarang disegel polisi, Kak," kata Siska cemas. "Dan bagaimana kalau makhluk itu sudah kembali ke sana untuk menjaga tempatnya?"
Letnan Tian mengepalkan tangannya, meletakkan map arsip itu kembali ke atas meja dengan tegas. "Itulah risikonya. Rumah itu kosong sekarang. Polisi hanya berjaga di siang hari, kalau malam tempat itu ditinggalkan karena warga sekitar terlalu takut untuk mendekat. Kita akan pergi ke sana malam ini juga. Saya yang akan membukakan jalan untukmu."
Siska menatap Tian dengan rasa haru sekaligus takut yang bercampur menjadi satu. Polisi muda di hadapannya ini rela mempertaruhkan nyawa dan kariernya demi membantunya menyelesaikan lingkaran setan yang bukan urusannya.
"Terima kasih banyak, Kak Tian... Saya tidak tahu harus berbuat apa kalau tidak ada Kakak tadi siang," ucap Siska tulus dengan air mata yang kembali mengalir pelan.
"Sama-sama, Siska. Ini sudah menjadi tugas saya untuk melindungi warga, baik dari penjahat manusia... maupun dari hal-hal yang tidak kasat mata seperti ini," jawab Tian dengan senyuman hangat yang menguatkan hati Siska. "Sekarang, siapkan dirimu. Kita harus kembali ke tempat teror itu bermula sebelum jam dua belas malam."
Siska mengangguk dengan mantap. Ketakutannya kini telah sepenuhnya digantikan oleh tekad yang bulat untuk membalas dendam atas kematian Mbak Selfi dan Mas Ferdi. Bersama dengan Letnan Tian, Siska melangkah keluar dari gedung arsip tua itu, bersiap kembali ke rumah nomor 14 untuk menghadapi babak akhir yang akan menentukan hidup atau matinya di bawah bayang-bayang sang bayi iblis.