NovelToon NovelToon
The Killer?

The Killer?

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Misteri / Tamat
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cherry_15

Sebuah kasus pembunuhan berantai terus saja terjadi di tempat yang selalu sama. Menelan banyak nyawa juga membuat banyak hati terluka kehilangan sosok terkasih. Kasus tersebut menarik perhatian untuk diselidiki. Namun si pelaku lenyap tanpa sebab yang jelas dan justru menambah kekhawatiran penyelidik. Kasus ini menjadi semakin rumit dan harus segera dipecahkan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherry_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Kencan?

Deburan badai telah berlalu. Permen kapas putih menemani langit luas berwarna ungu. Itulah pemandangan yang kami berempat lihat seraya melagu.

Malam ini, kami memutuskan untuk mengadakan pesta perayaan kecil-kecilan, atas berhasilnya tertangkap pembunuh berantai lain yang mulai beraksi bulan lalu.

Juga merayakan bertambahnya anggota keluarga sekaligus maskot kami, yaitu Chiya.

Sungguh menyenangkan, meski lengan kiriku masih terasa menyakitkan.

Di saat Leo sibuk membakar daging, dan Julian memamerkan keahlian bergitarnya...

Aku hanya bisa bernyanyi riang ditemani Chiya yang menari gembira, di bawah langit ungu yang mulai bertabur bintik bintang pada halaman rumah Leo.

Namun sepertinya kami kedatangan tamu spesial, yang menghentikan sejenak kegiatan bahagia kami.

Aku dan Leo menatap ke arah wanita tinggi mungil, yang rambutnya kian memanjang— hampir sebahu.

Wanita berparas manis itu berdiri santai pada pagar rumah Leo sambil bersandar.

Julian yang menyadari reaksi aneh kami, sontak ikut melihat ke arah yang kami lihat lalu menatap heran pada kami.

Mungkin ia tak bisa melihatnya.

“Ada apa? Ada apa? Mengapa suasananya menjadi tegang begini? Apa ada penjahat yang datang?” cerca Chiya yang penasaran dengan polosnya.

Ah, anak manis ini juga tak bisa melihatnya ya?

Aku menatap hangat dan tersenyum ramah pada Chiya.

“Chiya, hari sudah mulai malam, sebaiknya kamu tunggu saja di dalam agar tidak masuk angin. Nanti jika dagingnya sudah jadi, kakak akan panggil Chiya untuk makan bersama.”

“Tapi… Chiya masih ingin menari bersama. Suara kak Chyo bagus, dan lantunan gitar kak Ayon juga menyenangkan. Mengapa kalian berhenti bermusik?” tolaknya manja, merengek dan cemberut.

Ekspresinya itu justru sama sekali tidak terlihat seperti sedang ngambek, melainkan membuatnya kian menggemaskan.

“Nurut sama kakak, ya? Sebelum kakak bentak kamu lagi seperti tadi sore, masuk rumah, sekarang!” tegasku ramah, senyuman manis.

Aku berusaha menahan diri untuk tidak membentaknya lagi seperti tadi.

Anak mungil itu hanya menganggukkan kepalanya pelan p, sebelum berlari kecil menuju ruang hangat di dalam rumah Leo.

“Good girl,” pujiku lega.

Aku tak ingin membuat anak polos itu, harus mendengarkan percakapan serius yang mungkin sulit ia mengerti.

“Wow! Jadi seperti itu cara kak Chyo mendidik adiknya?” seru Leo dengan nada menyebalkan, meniru nama panggilan Chiya terhadap ku.

Mengapa pria ini selalu meledek ku!?

“Berisik, kak Yeo! Masih ada hal penting yang harus kita uyus!” balasku, ikut meledeknya dengan pelafalan yang sengaja kubuat seperti anak kecil.

“Kalian ini, kapan dewasanya sih!? Apa yang kalian lihat di pagar sana!? Perempuan itu, hah!?” amuk Julian, geram dengan tingkah kekanakan kami yang selalu bertengkar tak jelas.

“Ampun pak detektif!” seruku dan Leo secara bersamaan, menunjukkan sikap hormat sempurna pada Julian.

...***...

“Mengapa hanya diam di situ, nona?” tanyaku, pada wanita yang sedari tadi hanya mematung bersandar di pagar.

Yang ditanya hanya melambaikan tangan, tanda memanggilku agar menghampirinya.

“Aku sedang kekurangan banyak darah dan terlalu lemas untuk berjalan ke sana,” lanjut ku, menyadari gadis itu tak ingin mendekat entah dengan alasan apa.

“Tak perlu malu, nona manis. Pangeranmu membutuhkan kecupan dari putrinya agar sembuh dari segala luka,” ucap Leo dengan santainya, meneruskan membakar daging.

“Oy!” sentakku, tak terima dengan sebutan ‘pangeran’ dan ‘putri’ yang ia julukan kami.

“Benar kan, kau membutuhkannya?” Leo meledekku, sembari memberikan satu potong daging bakar dengan saus berwarna cokelat di atasnya.

“Nih, pangeran yang sedang terluka. Silahkan makan lebih dulu. Atau perlu disuapi oleh sang putri?” lanjutnya sambil tersenyum jahil.

“Yang luka itu tangan kiriku! Aku masih bisa makan sendiri dengan tangan kanan!” geramku merasa diperlakukan seperti anak kecil.

Leo hanya tertawa kecil sambil mengacak rambutku.

"Bisa dengan tangan kanan, tapi masih gemetar kan?" ledeknya, memahami aku yang dominan di bagian kiri.

Aku hanya tersenyum masam, tak mampu mengelaknya.

“Kemarilah, Taira. Kau bebas memasuki rumahku kapanpun kau mau seperti kau memasuki rumah Picho. Tak perlu sungkan,” ajak Leo, mempersilahkan Taira masuk lebih jauh pada halaman rumahnya.

Wanita dengan baju serba hitam tipisnya, membungkuk sopan lalu mulai melangkah mendekati kami bertiga.

“Ada apa?” tanyaku lembut pada Taira, sesekali menyantap daging bakar buatan Leo.

“Lembut sekali cara bicara pangeran Picho pada putri Taira,” ledek Leo.

“Leo! Bisakah kita serius sedikit sebelum komandan Arron mengamuk untuk yang kedua kalinya!?” sergahku muak dengan setiap olokkan yang terlontar dari mulut Leo.

“Oy!” kali ini Julian yang menyentak.

“Tuh kan, kak Arron murka!” decitku takut padanya.

“Itu gara-gara kau, dasar bodoh!” amuk Leo yang lebih mengerikan dari Julian, menyalahkanku.

“Sudahlah, itu tak penting!” tegasku.

“Taira, ada apa?” ulangku, kembali bertanya pada wanita yang sedari tadi hanya melempar bisu.

“Topeng,” jawabnya singkat.

“Oh, itu? Sudah diamankan kak Arron,” jelasku jujur, menunjuk pada pria yang masih mendekap mesra gitarnya.

“Apa?” tanya Julian yang tak bisa mendengar suara Taira.

“Dia menanyakan letak keberadaan topeng mengerikan itu,” terangku, tenang.

“Apa-apan gadis itu!? Selama sebulan kita pusing mengurus pencuri topeng, kemana saja dia? Mengapa baru datang sekarang setelah semuanya sudah aman? Dasar tak becus!” sungut Julian.

Ia kesal dengan Taira, yang hanya datang sebulan sekali untuk membantu menyelesaikan masalah.

Seketika aku termenung. Benar juga apa yang dikatakan Julian.

Sejak pertama kali aku bertemu dengannya tiga bulan lalu juga, Taira menghilang tanpa jejak dan baru datang bulan lalu dengan alasan dia kesulitan menemukan keberadaan tempat tinggal ku.

Dan setelah rumahku digerebek polisi dia tak pernah menemuiku lagi.

Baru sekarang ia kembali menampakkan wujudnya di hadapanku.

Sebenarnya ada apa dengan Taira? Mengapa dia hanya datang saat kasus sudah hampir terselesaikan?

Apa dia hanya berfungsi sebagai papan penunjuk arah, yang menuntun kami ke jalan berikutnya untuk menyelesaikan masalah?

Atau dia juga sebenarnya mencoba membantu kami dari jarak jauh, namun kesulitan untuk menyelesaikan masalah rumit ini?

Yang paling menyebalkan adalah... jika ia hanya menguji kemampuan kami dalam memecahkan kasus.

Aku menatap cemas pada wanita yang irit bicara itu.

“Kau tidak sedang menguji kemampuan kami dalam menyelesaikan masalah, kan?” raguku, penuh harap pada Taira.

“Aku berkelana di gunung, untuk mencari pohon besar putih berlubang yang kau impikan itu,” terangnya singkat.

“Ketemu?” tanya Leo ikut penasaran dengan percakapan kami.

Pria yang sedari tadi sibuk membakar daging itu, akhirnya memberikan satu porsi daging juga pada Julian, lalu memindahkan atensinya pada Taira.

Taira mengangguk sopan.

“Oleh sebab itu aku membutuhkan topengnya.”

“Jangan tanyakan pada kami, topengnya ada di tangan Arron,” tegas Leo tanpa irama.

“Lagipula, mengapa kau enggan sekali menampakkan rupamu pada kak Arron? Aku malas menyampaikan ulang suaramu padanya,” jujurku.

Taira berancang ingin merasuki tubuhku. Spontan aku terbelalak.

“Eh, jangan rasuki aku lagi! Aku pening dan mual setiap ada yang mengendalikanku!”

Taira menghela napas sejenak, menyentuh lengan kiriku dengan lembut, lalu mengecup luka dalam pada lengan yang ia sentuh.

Perlakuannya cukup membuat degup jantungku tak beraturan, wajahku memerah karena gugup.

Taira mengecup lenganku dengan sangat hangat, sedangkan Leo menutup matanya namun tetap mengintip dari sela-sela jarinya, pura-pura malu melihat adegan aneh aku dan Taira.

“Kyaaah! Yang mulia putri~! Anda sungguhan mengecup pangeran Picho? Manis sekali~!” ledek Leo dengan nada yang mendayu.

“Wo— woy!” sentakku terbata-bata, gugup bercampur malu.

“Hah!? Dikecup!? Di sebelah mananya!?” Julian terkejut bercampur penasaran dengan ucapan Leo tadi.

“Di mana ya? Di leher? Pipi? Ah! Atau di bibir!? Aku tak tahan melihat romansa mereka berdua,” Leo sambil menunjuk beberapa area tubuhnya yang ia sebutkan dengan penuh gairah.

“Fitnah woy!” teriakku dengan lantang, berusaha meluruskan tuduhan Leo padaku.

“Tapi kau ingin kan, dikecup di bagian situ?” goda Leo, menatapku jahil.

“Sudahlah! Taira, untuk apa kau mengecup lengan kiriku?” tanyaku pada Taira dengan nada penuh penekanan pada kalimat ‘lengan kiri’, agar Julian tidak termakan dusta Leo.

“Sembuhkan dulu luka hasil pengorbananmu, lalu temui aku di gunung. Jangan lupa bawa topengnya, akan ku antar kau pada pohon putih itu,” titah Taira berbisik lembut pada telinga kiriku.

Hanya aku yang bisa mendengar suaranya.

Hal itu kian menambah semburan merah pada wajahku yang sedang dilanda gugup.

Tak lama setelah mengatakan itu, Taira menghilang dari hadapan kami.

Aku dan Leo sempat terlonjak kaget, melihat wanita yang melenyap begitu saja layaknya hantu.

Sepertinya Taira mulai menunjukkan kemampuan misteriusnya pada kami, secara terang-terangan.

Membuatku teringat bahwa, yang sedari dulu kulihat ini bukanlah wujud manusianya Taira.

“Apa yang ia katakan?” tanya Leo dan Julian secara bersamaan setelah Taira menghilang.

“Entah, sepertinya dia ingin menemuiku secara khusus setelah tanganku sembuh? Tapi harus bersama topeng,” jawabku yang masih tenggelam dalam rasa gugup.

“Ciye! Pangeran Picho, mendapat undangan kencan dari putri Taira tercinta yang cantik!” seru Leo tak pernah puas meledek ku.

“Leo!” sentakku entah untuk yang keberapa kalinya hari ini.

1
apakah Isekai? atau rute lain?
kayaknya g kedengaran, macam nonton tivi
so sweet~
tergantung perspektif, kalau yang mikir cuan mah gas aja
tak ada yang tau sampai melihatnya langsung, kan?
jadi Taira punya wujud selain manusia?
santai dulu gak sih 🤣
sama Chiya thor
.
.
.
.
.
*ilang ke Isekai*
tapi semua manusia itu punya derajat yg sama, aka player di dunia
sopankah begitu, pak?
kekasih? maksudnya si Taira?
🔥Cherry_15❄️: yup, benar
total 1 replies
mungkin karena si pak polisi itu NPC makanya punya dialog singkat
🔥Cherry_15❄️: benar juga 😂
total 1 replies
agak serem jatohnya malahan 🤣🤣
🔥Cherry_15❄️: perang tawa. 🤣
total 1 replies
cie yg tsundere 🤣
mungkin berkah langit
🔥Cherry_15❄️: bisa jadi 🤣
total 1 replies
semua orang g suka kalah, apalagi kalau ls 5x nyesek itu
bener tuh, jangan gegabah
🔥Cherry_15❄️: yup, betul 😁
total 1 replies
udah ganti profesi kah?
🔥Cherry_15❄️: jadi koki aja di kedai mereka. 🤣
total 1 replies
keren juga tuh 👍
🔥Cherry_15❄️: Keren kan? wkwk 😎
total 1 replies
tapi mati tidak akan menyelesaikan masalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!