Cerita bermula dari seorang gadis penulis yang mendapatkan permintaan dari pembaca untuk membuat cerita tentang percintaan. Gadis itu bernama Larasati seorang penulis amatir yang tak mendapatkan banyak pembaca. Tiba-tiba di beri permintaan untuk membuat kisah percintaan. Apa yang akan ia lakukan? Terlebih lagi ia tak pernah mempunyai kisah percintaan di masa hidupnya. Suatu ide gila muncul dari pikirannya untuk menghubungi teman laki-laki yang bisa dianggap dulu pernah ditaksirnya sewaktu di bangku SMK ia adalah Dika. Larasati sudah mengikuti akun instagramnya dari dulu dan ia pun berniat mengirim pesan bantuan lewat media tersebut. Butuh banyak keberanian untuk mengirim pesan yang terbilang baru pertama kali itu. Jawaban apa yang akan diterimanya? Akankah lelaki tersebut akan membantunya hingga sebuah cinta hadir diantara keduanya. Semua akan terjawab di dalam kisah yang ku tulis ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menang Kalah Sama Hasilnya
2 hari yang lalu.
"Laras, kau katanya punya pacar ya?" Tanya neneknya sambil menciduk nasi untuknya.
"Hah Nenek tahu dari mana?" Larasati sedikit terkejut.
"Siapa lagi kalau bukan dari ibumu dan adikmu," jawab sang nenek sambil memberikan sepiring nasi padanya.
"Ibu, Salma." Larasati langsung melirik ke arah dua orang ini.
"Apa? Bukankah seharusnya nenek mu harus mengetahui itu," kata Bu Jumi sambil memberikan lauk pada Salma.
"Laras, kakek dan nenek mu ini sudah tua saatnya kami berdua lihat kamu menikah," ujar sang nenek.
"Tapi kami belum mau menikah Nek, kami mungkin belum siap," ucap Larasati sedikit kurang yakin.
"Begini saja kau bawa lah si Dika ke rumah Nenek dan Kakek mu untuk bertemu," saran Bu Jumi pada Larasati.
"Iya Kak bawa Mas Dika untuk bertemu Nenek dan Kakek," timpalnya Salma yang setuju.
"Tapi." Larasati masih mikir-mikir.
"Laras!" Bu Jumi menekan Larasati agar setuju.
"Baiklah," ucap Larasati kemudian menyuap nasinya.
Larasati setelah pulang menonton belum bisa memejamkan matanya. Apa iya ia harus membawa Dika untuk bertemu nenek dan kakeknya. Mungkinkah Dika mau diajaknya. Larasati terus saja berpikir dan akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Salma yang masih terjaga.
"Dek, apa iya kakak harus bawa Dika besok ke rumah Kakek dan Nenek?" tanyanya.
Salma melepas earphonenya, "Haruslah Kak, Kakek dan Nenek pasti penasaran dengan mas Dika," jawabnya, "begini saja kakak buat janji saja dengan mas Dika untuk bertemu dan membahas ini, gimana," sarannya.
"Ok lah, kakak tidur dulu," ucap Larasati sambil menarik selimutnya bersiap untuk tidur.
Kakek dan Nenek Larasati tidaklah muda lagi. Mereka berdua selalu berharap agar cucunya bisa menemukan jodohnya. Mereka berdua ingin melihat Larasati menikah sebelum ajal menjemputnya. Dari dulu Larasati selalu menghindar ketika ditanya tentang hubungan oleh kekek dan neneknya. Tapi sekarang akhirnya ia setuju untuk membawa Dika menemui mereka berdua.
Tapi setelah pulang ia malah ragu untuk memberitahu Dika tentang hal ini. Saat mereka menonton bersama kemarin, Larasati malah lupa menanyakan hal ini padanya. Akibatnya setelah pulang ia kembali berpikiran. Sebuah pesan singkat di kirimkan pada Dika sebelum dirinya benar-benar tertidur.
Dika yang masih bermain dengan ponselnya, sedikit penasaran dengan Larasati yang ingin bertemu untuk membahas hal penting dengannya. Jawaban itu akhirnya terjawab ketika mereka sudah bertemu di pagi harinya.
...--------❤️--------...
Di sebuah cafe Larasati dan Dika bertemu. Larasati langsung menjelaskan padanya tujuan mereka bertemu. Dika menebak jika Larasati ingin berkencan dengannya tapi ternyata bukan itu.
"Kalau bukan berkencan terus apa, Ras?" tanya Dika penasaran.
"Begini, Nenek dan Kakek ku ingin melihat mu katanya. Jika bisa, kita ke sana sekarang," jawab Larasati menjelaskan.
"Sekarang Ras?" tanyanya.
Larasati mengangguk. "Tapi jika kau tak mau aku akan bilang padanya untuk bertemu lain waktu saja," ujarnya.
"Tak ada lain waktu, aku siap sekarang," ucap Dika tegap langsung berdiri.
"Hah? Yakin?" Larasati tak percaya.
"Iya ayo kita berangkat," jawabnya. "Gimana penampilan ku sudah ok kan?" tanyanya merapikan bajunya dan rambutnya.
"Kau selalu cakep Dik," kata Larasati padanya membuat Dika menjadi lebih percaya diri.
"Good, ayo kita ke swalayan dulu," ajaknya.
"Untuk apa?" tanya Larasati.
"Ya masa mau ketemu sama nenek dan kakek mu tak bawa apa-apa. Sudah ayolah!" Tarik Dika menuju pintu keluar.
Larasati yang menyangka jika Dika akan menolaknya karena tak siap ternyata ia malah sangat bersemangat. Mereka berdua keluar dari cafe menuju swalayan untuk membeli beberapa buah-buahan.
Sementara di rumah Nenek dan Kakek Larasati. Bu Jumi sedang membantu ibunya memasak. Nenek Larasati sebenarnya tidak tahu akan kedatangan Dika ke rumahnya. Tapi sang kakek berfirasat akan ada seseorang yang berkunjung karena dengan melihat seekor kupu-kupu besar hingga di tembok rumahnya. Maka dari itu sang nenek memanggil anaknya untuk datang membantunya memasak.
"Bu, ibu masak banyak memang siapa yang mau datang?" tanya Bu Jumi terheran-heran.
"Jumi, siapa tahu anakmu yang datang membawa kekasihnya," jawabnya.
"Ah masa sih Bu, Laras bahkan belum bilang ke pacarnya lho." Bu Jumi kurang percaya.
"Lah Larasati gimana toh, tak tahu apa nenek sama kakeknya penasaran sama pasangannya," kata neneknya sambil sibuk mengaduk masakannya.
Tok tok tok. Pintu rumah milik Nenek Larasati diketuk. Nenek Larasati langsung melepaskan celemek nya dan menuju ke depan.
"Tuh ada yang ngetuk, ibu bukain dulu," ucap Nenek Larasati ke Bu Jumi.
"Kek, tamunya sudah datang," panggil sang nenek kepada suaminya yang sedang sibuk di belakang.
"Larasati, eh ini...?" Nenek Larasati bingung melihat siapa yang dibawa cucunya.
"Dika Nek, pacar Laras," jawab Dika mantap sambil memberikan sekantong buah yang sempat dibelinya tadi.
"Wah sangat tampan ya Ras," puji sang nenek sambil menggoda cucunya.
"Nenek!" Larasati jadi sedikit malu karenanya.
"Maaf maaf, mari masuk," ajak sang nenek pada mereka berdua. Larasati dan Dika pun masuk menuju ruang makan yang sudah siap dengan berbagai hidangan di sana.
"Duduk-duduk, nenek dan ibu mu sudah masak banyak," suruh sang nenek pada Larasati dan Dika.
"Eh Nenek kok tahu aku mau kesini bersamanya?" tanya Larasati sedikit penasaran.
"Firasat orang tua," jawab singkat sang nenek sambil memberikan piring padanya.
"Owh." Larasati membulatkan bibirnya mengerti.
"Rumah Nenek mu unik Ras kaya rumah jaman dulu," bisik Dika padanya.
"Nenek dan kakek ku emang orang dulu," jawab Larasati sambil menaruh piring yang sudah berisi nasi ke depan Dika.
Dika mengangguk mengerti.
"Ayo di makan," suruh sang nenek pada semuanya.
"Iya Nek," ucap Larasati dan Dika berbarengan.
"Laras, mana pacar mu? Kakek mau lihat." Suara serak lelaki dewasa muncul sambil memanggil cucunya.
"Ini Kek, pacar Laras, Dika namanya." Larasati memperkenalkan Dika pada kakeknya.
"Bisa main catur?" Tanya Kakek tiba-tiba pada Dika.
Dika terbengong, sepertinya Kakek Larasati mengajaknya untuk bermain catur bersama.
"Sedikit Kek," jawab Dika sambil mengangguk ragu.
"Jika menang kau boleh menikahi cucuku," ujarnya.
"Jika kalah, Dika gak boleh sama Laras gitu kek," sambung Larasati menyimpulkan.
"Belum tentu, kita lihat saja nanti," jawab sang kakek sambil menerima sepiring nasi dari istrinya.
"Laras, aku pasti menang," ucap Dika agar Larasati tak khawatir.
"Emang kamu bisa main catur?" tanyanya pada Dika.
"Percayalah pada pacar mu," jawabnya
Setelah acara makan siang, Dika dan Kakek Larasati sudah siap untuk bertanding permainan catur. Di sini Dika harus bisa menang agar dirinya tak mengecewakan Laras. Larasati sangat khawatir lantaran kakeknya adalah master catur. Ia bahkan tak bisa mengalahkannya apalagi Dika, Larasati benar-benar tak yakin.
"Huh ternyata semuanya di sini, aku pulang rumah sepi tadi," keluh Salma yang baru tiba.
"Salma kau sudah pulang, sini sini." Salma mendekat dengan sedikit bingung. "Ada apa Bu?" tanyanya.
"Dika sama kakekmu mau berlomba," jawabnya sambil menunjuk dua pria yang sudah serius di sana.
Benarkah? Seru pasti," celetuk Salma tak sabar.
"Mas Dika, semangat! Kakek sulit dikalahkan lho," teriak Salma sedikit mendukung namun membuat Dika harus waspada.
Pertandingan sudah dimulai. Kakek Larasati sangat lihai dalam permainan ini. Dika bahkan sedikit dibuat bingung oleh permainannya. Terlihat keringat sudah mulai menetes dari dahinya. Larasati yang melihatnya jadi semakin gugup.
"Kakak, kalau Mas Dika kalah_" Salma membuat Larasati semakin takut.
"Dika pasti menang, kalau kalah kakak pasti bersedih," potong Larasati langsung.
"Ayo Mas, pikirkan baik-baik, fokus!" teriak Salma antusias menyemangati.
"Yah, tunjukkan jika ayah ini master catur," teriak Bu Jumi yang menyemangati ayahnya.
"Ayo Dika!" Larasati ikut mendukung walau terdengar lirih karena lebih ke khawatir.
Dika menghela nafasnya. Kakek Larasati tersenyum senang lantaran Dika pasti tak bisa mengalahkannya. Tapi siapa sangka Dika ternyata punya cara. Raja catur Kakek Larasati langsung kena sekak mat dan membuat Kakek Larasati harus menerima kekalahannya.
"Yee Mas Dika menang," sorak Salma senang.
"Mas Dika menang Kak," ucapnya memberitahu. Larasati hanya mengangguk-angguk.
"Haish, ternyata kakek ada yang mengalahkannya juga," ucap Kakek Larasati sambil berdiri.
"Kau memang, jaga cucuku selalu," pesanannya pada Dika.
"Siap Kek. Dika berdiri langsung mengambil posisi siap sambil tersenyum senang.
"Kalau andai mas Dika kalah, Mas Dika beneran ninggalin Kak Laras dong," kata Salma berpikir.
"Menang kalah sama saja, Dika tetap jadi calonnya Laras," ucap Kakek Larasati yang sudah mulai berjalan.
"Lah kalau gitu ngapain tanding Kek." Salma sedikit kecewa.
"Kakek hanya mengujinya saja," jawabnya. Bu Jumi dan istrinya hanya menggeleng melihat tingkah kakeknya. "Ha-ha-ha, kakek istirahat dulu," pamitnya melanjutkan berjalan disusul Nenek dan Bu Jumi.
Dika dan Larasati saling senyum. Ia benar-benar menang dan tak mengecewakan Larasati. Dengan bermain catur bersama kakek Larasati, itu membuat Dika menjadi terasa akrab dengannya. Semua keluarga Larasati ternyata menyukai Dika, apa Dika akan setuju jika ia diminta untuk menikahi Larasati nantinya. Jika Dika benar-benar cinta tentu saja ia pasti akan menyetujuinya.
Bersambung....❤️❤️❤️
cerita ny snggt menghibur👍👍 🙏🙏🤗🤗🥰🥰
lancarrrr ya
terngiang-ngiang nama dika,,, jadi mangil bagas jadi dika🤭🤭😄