NovelToon NovelToon
CERMIN (Sesuatu Yang Datang Dari Dalam Cermin)

CERMIN (Sesuatu Yang Datang Dari Dalam Cermin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.

Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.

Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.

Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 025 : Orang yang Masih Selamat

Empat puluh lima menit sudah mobil Tuan Antony berkendara menyusuri jalanan asing. Hingga mobil mereka masuk ke dalam sebuah halaman. Di depan sana, terdapat gapura dengan tulisan padepokan.

"Kamu yakin, ini tempatnya? Kenapa kita harus di padepokan?" tanya Tuan Antony sembari memperhatikan gapura di depan sana dari balik kaca mobilnya.

"Yang aku tahu, perihal beritanya. Katanya Mbah Wicaksono di sini, Om! Tapi, aku tidak ingat kalau ada padepokan di sini!" kata Ardin menjawab.

Tuan Antony menganggukkan kepalanya mendengar itu. Sepertinya, turun dan ke sana adalah pilihan yang tepat. Agar masalahnya cepat teratasi.

"Kalau begitu, ayo kita temui Mbah itu!" ajak Tuan Antony, dia membuka pintu mobilnya lalu turun dari dalam mobil.

Hal itu diikuti oleh Ardin dan Nyonya Antony. Mereka meninggalkan mobil mereka di halaman sebelum gapura. Sebab gapuranya di sana jalannya terlihat cukup kecil.

Mereka bertiga berjalan santai namun mantap mendekati gapura. Jalannya saat itu masih tanah, tanah-tanah khas hutan. Padepokan ini berdiri di antara tengah-tengah pohon besar.

"Siapa kalian?" suara berat seorang lelaki yang tiba-tiba saja muncul sontak membuat ketiganya terdiam. Mereka menoleh ke arah sumber suara.

Rupanya itu adalah suara seorang pemuda yang berdiri tepat di samping sebuah gubuk yang ada di kiri jalan mereka.

Ardin memperhatikan lelaki itu dari ujung kaki hingga atas kepala. Dia sedikit lega rasanya ketika melihat kedua kaki lelaki itu masih menapaki tanah. Tandanya dia adalah manusia.

"Kami, mencari Mbah Wicaksono, Mas!" kata Ardin menyampaikan niatnya. Lelaki itu mengernyitkan keningnya.

"Apa kalian sudah buat janji?" tanya Lelaki itu pada mereka. Ardin terdiam sejenak mendengar itu. Dia tahu, kedatangannya kemari tanpa kabar.

"Belum, Mas! Tapi, hal yang menimpa kami ini, sangat berbahaya dan gak bisa disepelekan, Mas!" jelas Ardin pada lelaki itu. Lelaki itu hanya menatap Ardin dengan tatapan biasa. Seakan tak ada hasrat di matanya untuk membantu.

"Semua yang datang kesini bicara begitu! Tapi, yang mereka minta kebanyakan hal gak baik. Itu kenapa, Mbah Wicaksono sudah gak mau Nerima tamu lagi. Beliau itu penganut ilmu putih. Kalau kalian datang ke sini buat minta pesugihan atau apalah itu, pergi saja! Kami gak ada waktu meladeni orang seperti kalian!" jelas lelaki itu, dia kemudian membalikkan badannya.

Kesimpulan yang sepihak itu membuat Tuan Antony yang mendengarnya naik pitam rasanya. Baginya, kesimpulan sepihak itu sama dengan fitnah.

Tuan Antony yang saat ini pikirannya kacau pun menggertakkan giginya, dia mengepalkan tangan kanannya. Mencoba meredam amarahnya sendiri.

"Apa maksud.."

"Sudah!" tahan Nyonya Antony, meletakkan telapak tangan kanannya di dada suaminya. Mengusapnya pelan, mencoba meredam amarah Tuan Antony.

Lelaki itu tersenyum tipis. Dia merasakan amarah ada dalam diri Tuan Antony. Dia bukanlah orang biasa. Orang-orang yang tinggal di padepokan ini, adalah murid dari Mbah Wicaksono.

"Kenapa kamu marah?" tanya Lelaki itu. Sepertinya dia sengaja memancing amarah Tuan Antony semakin keluar.

Ardin yang sadar bahwa Lelaki di depannya itu sedang mempermainkan perasaan mereka pun memilih untuk tidak ikut emosi. Dia mendinginkan kepalanya sejenak. Mengatur nafasnya beberapa kali. Kemudian,

Depppp

Ardin bersimpuh sekarang, tepat di depan lelaki yang kini membelakangi dia. Dia menatap ke arah punggung lelaki itu. Dia ingin memelas rasanya demi Farah.

"Aku tidak tahu, apa sebenarnya yang kamu mau dari kami. Tapi, apa yang kamu sampaikan pada kami. Sungguh, kami datang kemari sebab satu nyawa yang terancam!" jelas Ardin, suaranya melembut, dia memelas.

Lelaki itu hanya diam. Dia tidak memberikan respon apapun.

"Aku Ardin, aku berasal dari desa yang sama dengan Mbah Wicaksono. Aku kemari, dengan harapan semoga beliau masih berumur panjang. Sebab," ucapan Ardin terpotong. Ingatannya tentang Farah kembali berputar di dalam kepalanya.

Hingga pertanyaan terakhir dari Nyonya Antony beberapa jam lalu memenuhi kepalanya. Sebetulnya dia malu mengakui ini. Tapi, jika tidak begini, bagaimana orang lain akan bersimpati?

"Sebab apa?" tanya Lelaki itu, akhirnya dia kembali membalikkan badannya. Lagi-lagi, tanpa ekspresi, dia menatap datar ke arah Ardin yang bersimpuh.

Ardin mendongak, dia menatap lekat ke arah bola mata pemuda itu lalu,

"Orang yang aku sayangi, Farah! Orang pertama yang merebut hatiku. Dia mengalami gangguan mistis tiap bertambah usia. Jawaban dari keanehan itu, adalah belantara terlarang. Sebagaimana aku yakin, kamu pasti tahu ceritanya perihal desa yang dikutuk, bukan? Jika kamu di sini, dan Mbah Wicaksono ada di sini! Maka dia pasti akan bercerita. Gadisku hilang di sana. Aku mohon, aku belum sempat mengatakan perihal perasaanku padanya. Bisakah kamu membantu kami? Kami hanya ingin keselamatannya!" jelas Ardin pada Lelaki itu.

Mendengar itu, Lelaki itu sedikit iba rasanya. Ditambah, Ardin juga bilang bahwa dia berasal dari desa yang sama dengan Mbah Wicaksono.

"Baiklah, aku akan mengantarmu bertemu dengan beliau! Mari ikut aku!" kata Lelaki itu, mendengar itu. Ardin pun segera bangkit dari posisinya. Tak lupa dia mengucapkan banyak terima kasih kepada lelaki itu.

Ketika Lelaki itu mulai mengarahkan mereka ke arah jalannya. Mereka bertiga mengikutinya. Hingga berhenti tepat di sebuah rumah sederhana.

Lelaki itu mengantar rombongan mereka bertiga masuk ke dalam. Mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk di ruang tamu. Selang lima belas menit. Dari arah lorong rumah.

Terdengar suara langkah kaki. Ketika pemilik dari suara langkah kaki itu keluar dari dalam lorong.

Nampaklah seorang kakek tua, dengan udeng di kepalanya serta pakaian berwarna putih. Kedua matanya nampak memutih, itu adalah katarak.

"Mbah, ada anak yang katanya dari desa yang sama seperti, Mbah! Dia mau menemui Mbah!" kata Lelaki itu yang kini berada di samping orang yang dipanggil Mbah. Ya, kakek tua itu adalah Mbah Wicaksono.

"Dandi, dudukkan aku!" perintah Mbah Wicaksono, pada lelaki itu. Lelaki ini bernama Dhani rupanya.

Mendengar perintah dari Mbah Wicaksono. Dhani pun menurutinya. Perlahan dia menuntun orang tua itu dengan hati-hati ke arah kursi lalu mendudukkannya.

"Siapa namamu, nak?" tanya Mbah Wicaksono ketika sudah duduk pada Ardin.

Ardin tersenyum tipis. Dia pun berkata,

"Saya Ardin, Mbah!" jawab Ardin padanya. Terlihat saat itu Mbah Wicaksono tersenyum lebar. Dia mulai meraba-raba udara. Mencoba menjangkau beradanya Ardin.

Ardin yang tahu itu pun memilih mendekatinya. Hingga kedua wajahnya sekarang berada dalam tangkupan tangan Mbah Wicaksono.

Di situ, sambil masih tersenyum, Mbah Wicaksono mencoba mengamati Ardin, mengenalinya dengan rabaan, sebab kedua matanya sudah cukup parah buramnya.

"Aku gak nyangka kamu masih, hidup nak! Karena, belantara terkutuk itu. Sudah banyak memakan korban!" kata Mbah Wicaksono.

Mendengar hal itu, jelas Tuan Antony dan Nyonya Antony makin dibuat ketar-ketir rasanya. Mereka benar-benar takut, sesuatu yang buruk menimpa anak mereka, Farah.

1
Nurul
Zed mampir thor
☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴: loh kak Nurul 🙊🙊🙊
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
ayo Ardin selamat kan mereka
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
cepatlah ardin
Safitri Agus
menari apa si Dhani apakah tarian tradisional Jawa Thor?
Teuing Saha🙃
Akhirnya, mereka bisa bertemu dengan ibunya🤧
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
ayoo bebaskan anak2 Ijah .. semangat terus
Teuing Saha🙃
Apa sih.. Baca yg begini aja air mataku sampe bleberan😭
Teuing Saha🙃
Jangan gegabah lho, jangan sampai perjuangan mereka gagal karena kecerobohan anda!
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
deg degan gak sih ....wih banyak banget rintangan nya 🤭
☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴: hidup memang kudu banyak rintangan kak... wajar 🚶✨ mereka kan kandidat ninja warrior tahun depan
total 1 replies
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
semoga mereka semua berhasil keluar dari hutan itu
Teuing Saha🙃
Semoga kamu, Farah dan saudaranya, semua pulang alam keadaan selamat..
Kang Dhani: aamiin
total 1 replies
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
harga harga pada naik eh ini malah umur yang didiskon
Kᵝ⃟ᴸᏒᎥҽ_ϒαη.POTEK.ѕͣυͣηͪηͪ💋💋
kayaknya gue ketempar deeh🫠
Teuing Saha🙃
Keras kepalamu gak ilang² Hel, yg ada makin menjadi😒
Teuing Saha🙃
Diskonan kok umur, coba kalau minyak sama beras, aku antri paling depan deh/Facepalm/
Teuing Saha🙃: Maklum, pemburu diskon🤭
total 2 replies
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
sebenarnya bukan salahnya sepenuhnya
Teuing Saha🙃
Hallahh... Pagi² dah dibikin mewek🤧
Nyai Aksara 👩‍🦯
Hah, eh waduh, semoga dia terjungkal
SANG
Aku hadir ya Thor, turut meramaikan💪👍
SANG
Aku tidak tau ayah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!