"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."
....
Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.
Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.
Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.
...
apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Indonesia
...
Kegelapan malam masih setia mendekap sel nomor 407, namun di dalam kepala Marysa, peta pelarian yang semula buram kini mulai menemukan titik koordinat yang pasti. Jiwanya yang lelah merayap di antara puing-puing rencana liar, mencari sebuah pelabuhan terakhir tempat dia bisa menyembunyikan diri dari radar hukum Korea Selatan yang terkenal kejam dan tak kenal ampun.
Jika dia berhasil keluar dari dinding beton Cheongju ini, ke mana dia harus pergi?
Tetap berada di Korea Selatan adalah tindakan bodoh. Negeri ini terlalu kecil untuk menyembunyikan seorang mantan kepala klan mafia terbesar yang paling dicari. Setiap sudut jalanan Seoul telah dipasangi kamera pengawas dengan teknologi pengenal wajah yang mutlak. Pelabuhan Incheon, Busan, hingga bandara internasional Incheon pasti akan langsung dijaga ketat oleh unit elit pimpinan Herry begitu alarm pelariannya berbunyi. Dia akan tertangkap bahkan sebelum sempat menghirup udara bebas di luar distrik Gyeonggi.
Marysa memejamkan mata kelamnya erat-erat, membiarkan ingatannya mundur ke belakang, melompati jalinan waktu bertahun-tahun lalu sebelum takhta berdarah Klan Baekje dipaksakan ke atas pundaknya.
Tiba-tiba, sebuah memori lama yang samar merayap masuk ke dalam benaknya. Itu adalah potongan ingatan dari masa-masa mudanya yang singkat, saat dia yang memiliki kemewahan untuk duduk santai di sebuah kedai kopi kecil di kawasan distrik Itaewon yang dipenuhi warga asing.
Malam itu hujan turun rintik-rintik. Marysa duduk di sudut ruangan, mencoba melarikan diri sejenak dari pengawasan ketat para pengawal ayahnya. Seorang turis asing paruh baya duduk di meja sebelahnya karena kedai sedang penuh. Pria asing itu memiliki senyum yang sangat ramah, kulit yang sedikit kecokelatan disengat matahari, dan tatapan mata yang penuh ketenangan sejenis ketenangan yang tidak pernah Marysa temukan pada orang-orang di sekitarnya yang selalu berbau mesiu dan darah.
Mereka sempat berbincang singkat tentang hal-hal tidak penting. Marysa ingat pria itu bercerita dengan mata yang berbinar-binar tentang tanah airnya. Sebuah negara kepulauan yang sangat luas di arah selatan, tempat di mana matahari bersinar sepanjang tahun, di mana lautnya sewarna permata biru, dan masyarakatnya hidup dengan keramahan yang tulus.
"Saya dari Indonesia," kata turis itu dengan aksen bahasa Inggris yang khas dan kental. "Di sana, jika kamu lelah dengan dunia yang terlalu bising, kamu selalu bisa menemukan pulau kecil yang tenang untuk memulai hidup yang baru. Hidup di sana lambat, hangat, dan tidak ada orang yang akan peduli tentang siapa dirimu di masa lalu."
Indonesia.
Kata itu mendadak bergema di dalam dada Marysa malam ini, membawa kehangatan aneh yang mampu mengusir sedikit rasa dingin dari lantai beton penjara. Sebuah negara yang sangat jauh di Asia Tenggara. Negara tropis dengan ribuan pulau, rimba beton yang padat, sekaligus hutan-hutan terpencil yang luas. Tempat yang sempurna untuk menenggelamkan sebuah identitas lama dan melahirkan manusia yang baru.
Sebuah senyuman tipis, kali ini tanpa kegetiran, terukir di bibir Marysa yang membiru. Keputusannya sudah bulat. Dia akan kabur ke Indonesia.
Dia akan mengubah segalanya. Dia akan menyamarkan identitasnya, mewarnai rambutnya, mengubah cara berpakaiannya, dan membuang nama Marysa ke dasar laut terdalam. Dia akan menjadi wanita biasa yang tidak tersentuh oleh bayang-bayang kriminalitas Seoul. Di bawah matahari tropis yang terik, hukum Korea Selatan tidak akan memiliki taji untuk menyentuhnya, dan yang paling penting, dia akan aman dari jangkauan sepasang mata jelaga milik Herry yang selalu menatapnya sebagai musuh masyarakat.
Namun, mengurus pelarian lintas negara membutuhkan jaringan logistik yang matang, uang tunai dalam jumlah besar yang tidak terlacak oleh bank, dan dokumen palsu dengan kualitas tertinggi yang bisa menembus imigrasi internasional. Dan semua itu tidak bisa dia lakukan sendirian dari dalam sel penjara.
Marysa membuka matanya, kilat tajam kembali menguasai manik mata kelamnya. Dia tahu dia masih memiliki kartu as.
Sebelum Klan Baekje diruntuhkan oleh tim elit Herry dua minggu lalu, mendiang ayahnya telah membangun beberapa jalur bisnis bayangan yang tidak pernah tercatat di dalam buku besar organisasi. Ayahnya adalah pria yang penuh paranoia, dia selalu menyiapkan rencana cadangan jika sewaktu-waktu klan mereka dihancurkan oleh negara atau dikhianati oleh musuh.
Salah satu jalur itu berada di luar negeri. Dan Marysa tahu persis bahwa ada satu unit sel kecil dari anak buah setianya yang sengaja ditempatkan di Asia Tenggara termasuk di Indonesia untuk mengelola aset properti dan pencucian uang skala kecil. Mereka adalah orang-orang pilihan yang bergerak dalam senyap, tidak pernah terlibat dalam perang wilayah di Seoul, sehingga identitas mereka sama sekali tidak pernah masuk ke dalam database intelijen kepolisian maupun interpol. Mereka bersih, tidak tertangkap, dan masih aktif beroperasi di bawah bayang-bayang.
Mereka masih di sana. Aku yakin itu, batin Marysa dengan kemantapan seorang pemimpin.
Anak-anak buahnya di sana tidak akan pernah mengkhianatinya. Mereka terikat oleh sumpah darah tradisional klan dan rasa utang budi yang mendalam kepada mendiang ayahnya. Yang perlu Marysa lakukan sekarang adalah menemukan cara untuk keluar dari Cheongju, membangun kontak pertama dengan jaringan luar tersebut, dan memerintahkan mereka untuk menyiapkan proses penyamaran identitas, paspor palsu, serta jalur pelarian laut tersembunyi dari pelabuhan tikus di Gyeonggi menuju perairan internasional.
Marysa menarik napas panjang, menekan rusuknya yang masih terasa nyeri. Proses ini akan berjalan sangat lambat dan membutuhkan tingkat kesabaran yang luar biasa. Dia tidak boleh terburu-buru. Setiap langkah harus dikalkulasi dengan presisi matematika. Jika dia melakukan satu kesalahan kecil saja karena tidak sabar, dia akan berakhir di ruang isolasi bawah tanah, atau lebih buruk lagi, mati tertembak di halaman penjara tanpa pernah bisa melihat Herry untuk terakhir kalinya.
Pikiran tentang Herry kembali membuat dadanya terasa sesak. Rencana kabur ke Indonesia ini bukan berarti dia menyerah dan melarikan diri dari pria itu. Tidak sama sekali. Justru ini adalah bagian dari taktiknya untuk menarik Herry masuk lebih dalam ke dalam labirin hidupnya.
Marysa tahu betul bagaimana karakter Herry. Pria itu adalah detektif idealis yang memiliki obsesi mutlak terhadap keadilan. Jika kepala klan mafia terbesar yang baru saja dia tangkap tiba-tiba berhasil melarikan diri dari penjara paling ketat di negara ini, harga diri Herry sebagai seorang polisi akan hancur lebur. Tugas memburu Marysa akan kembali dijatuhkan ke atas pundaknya.
Herry tidak akan pernah membiarkan buronannya bebas berkeliaran di belahan bumi lain. Pria itu akan mengajukan izin investigasi internasional, mengejarnya hingga ke ujung dunia, dan menghabiskan sisa waktu kerjanya hanya untuk melacak keberadaan Marysa di Indonesia.
Jika kamu pergi ke Indonesia untuk menangkapku, Herry... maka di sanalah kita akan bertemu kembali, pikir Marysa, sebuah senyuman dingin yang penuh emosi kembali terpasang di wajah pucatnya.
...
Di bawah langit Indonesia yang asing, jauh dari intervensi Wakil Komisaris Jenderal Kepolisian Seoul, jauh dari Jessica Hwna won, wanita yang akan menjadi tunangannya dan jauh dari belenggu kaku hukum Korea, Marysa akan membangun panggung baru untuk mereka berdua. Di sana, permainan di antara mereka akan berlanjut tanpa ada dinding pembatas formalitas seragam kepolisian. Herry harus berhadapan dengannya bukan lagi sebagai kapten yang memeriksa berkas tahanan, melainkan sebagai seorang pria yang jiwanya terikat oleh rasa penasaran yang gelap kepada wanita yang terus menghantui tidurnya.
"Aku akan membuatmu melupakan pernikahan sialan itu, Kapten," bisik Marysa ke arah kegelapan sel, suaranya begitu lirih hingga nyaris menyatu dengan desis uap dingin yang keluar dari ventilasi. "Kamu boleh melupakan masa lalu kita di Incheon. Tapi aku bersumpah, aku akan memaksa masa depanmu untuk hanya berisi tentang diriku." terkesan seperti terobsesi namun yang namanya Marysa, sang ratu Mafia sangat suka permainan.
Nasihat mendiang ibunya kembali terngiang, mengingatkannya untuk tidak membiarkan pikiran menumpuk hingga membuatnya sakit. Marysa mematuhi itu dengan mengubah seluruh rasa sakit hatinya menjadi energi dingin untuk menyusun strategi. Dia menutup matanya perlahan, membiarkan tubuhnya yang memar beristirahat di atas lantai beton yang kotor. Pagi hari akan segera datang, membawa rutinitas bimbingan dan siksaan fisik yang baru dari Chae-won.
Namun mulai besok, Marysa tidak akan lagi menjalani hari-harinya sebagai tahanan yang pasrah menanti ajal. Di balik senyuman dingin dan bibirnya yang membiru, sang ratu mafia kini sedang menghitung hari menuju malam di mana dia akan meruntuhkan otoritas penjara Cheongju dan memulai pelarian liarnya menuju tanah tropis.
....