~Disarankan untuk membaca 365 Days Wedding dulu yaa😉~
Tragedi kelam membuat Danu harus menikah dengan bocah yang telah ia anggap adik sendiri, bagaimana lagi? itu ulah nya sendiri.
lebih menyedihkan nya lagi, wanita itu adalah adik dari musuh abadi nya.
"Aku Terima tanggung jawab mu, kak.. tapi, kita menikah kontrak saja seperti kakak ku." ajak bocah yang telah membuat hidup Danu menjadi rumit.
"tak sudi!" tolak Danu.
Ayo mampir😉 jangan lupa Vote yaaa.. agar novel ini bersinar🤩eh iya, jangan lupa follow akuu😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Sesampainya di Mansion keluarga Andika, Danu langsung masuk begitu saja. Ia mencari keberadaan Lovie, malah bertemu dengan Ghea yang sibuk bermain dengan baby Raga.
“Loh, kak Danu?” Ghea terkejut melihat kedatangan Danu yang tiba-tiba saja, seperti maling.
“Ghea, dimana Lovie?” Tanya Danu, ia menggendong baby Raga yang menggemaskan. Ghea membiarkan saja, sekarang ia malah bingung harus menjawab apa. Radit dan Lovie sudah pergi tadi, tidak memberi tahu nya mau kemana.
“Astaga, menggemaskan sekali.. Benar-benar seperti asisten gila wajah nya, pengen gigit.” Danu tertawa melihat baby Raga yang tertawa juga, kelihatan nya mereka satu frekuensi.
“Lovie.. Dia pergi bersama kak Radit, aku tidak tahu kemana.” Jawab Ghea, seketika Danu langsung terduduk di sofa. Mengembalikan baby Raga kepada mama nya, ia yakin pasti Radit akan mengerjai nya sekarang.
“Aku ingin minta saran mu, kau pasti mengerti dengan posisi ku ini.” Ucapan Danu seperti sangat serius, ia mendengarkan dengan baik apa yang akan dikatakan Danu.
“Aku tidak mengerti, kenapa Lovie selalu mengatakan perpisahan setiap masalah yang ada. Tidak perduli itu masalah sepele atau tidak, dia tetap mengatakan perpisahan terus.” Kata Danu.
“Lalu kenapa kakak bermasalah dengan perpisahan yang dikatakan Lovie?” Ghea malah bertanya balik, membuat Danu kesal saja.
“Aku butuh saran, bukan pertanyaan yang aneh seperti itu.” Ucap nya kesal, baby Raga saja tertawa mendengar nya. Seakan-akan sudah mengerti, membuat Danu gemas sekali.
Danu mendengar suara tawa Lovie yang kencang, dan juga suara Radit. Ia langsung menatap ke arah Ghea, yang seperti memberi kode untuk nya.
“Kenapa wajah mu seperti itu?” Tanya Danu, Ghea langsung menepuk jidatnya.
“Langsung jelaskan semua kepada Radit, atau Lovie atau bahkan ibu. Cepat!” Danu mengangguk mengerti.
Tawa Lovie langsung terhenti kala melihat Danu yang menatap penuh padanya, ia bingung harus apa. Tangan Lovie penuh dengan jajanan, yang dibelikan Radit untuknya.
“Siapa yang datang? Aku melihat ada mobil asing masuk ke dalam Mansion.” Kata Radit dengan nada ketus.
“Sayang.. Apa kau baik-baik saja? Kau berdekatan dengan orang tengil yang berhati busuk..” Radit memeriksa keadaan istrinya dan juga anak nya. Membuat Danu kesal, ia tahu tingkat ngeselin Radit kalau sudah seperti ini.
Danu bangkit, ia tidak memperdulikan Radit mau mengatakan apa.
“Ayo ke kamar, tidur kan baby Raga..” Ajak Ghea, tentunya Radit tidak mau. Ia ingin memberikan pelajaran kepada Danu, yang telah berani membuat adiknya menangis.
“Tapi..”
“Ayo, mau jatah ngga nih?” Bisik Ghea, ia bangkit dan berjalan terlebih dahulu. Radit jadi bingung harus apa, keduanya sama sama penting. Tapi, ia tahu kalau tidak memilih bersama Ghea.. Maka pasti jatahnya akan hilang selama satu minggu.
Tentunya Radit tidak mau itu terjadi, dengan terpaksa ia menyusul sang istri tercinta. Dan akan mengerjai Danu nanti, ia sedikit berlari takut kala Ghea akan marah nanti jika dirinya terlambat.
Danu sudah berada di depan Lovie, tatapan matanya penuh kepada gadis kecil itu.
“Aku minta maaf, sudah kasar kepada mu.” Ucap Danu, ia terus memerhatikan Lovie yang menunduk menatap lantai.
“Aku mengerti, kak. Aku tidak menyalahkan soal itu, aku tahu arti kemarahan mu.”
“Kau hanya tahu mengatakan perpisahan saja, Lov. Kau egois, kali ini aku tidak ingin kau mengatakan hal itu lagi.”
Lovie masih menunduk saja, Danu tidak tahu kenapa Lovie lebih suka menatap lantai dari pada dirinya.
“Tatap aku, jika aku sedang bicara tatap aku.” Ucap Danu dengan suara yang tegas, perlahan Lovie mendongakkan kepalanya.
Jantung Danu seakan mau berhenti berdetak kala melihat Lovie yang sangat menyedihkan, matanya masih bengkak.
“Apa surat perceraian nya sudah selesai?” Tanya Lovie, jika membahas perpisahan maka Lovie akan langsung menatap nya intens.
Sebenarnya Danu tidak mengerti dengan Lovie, selalu saja seperti itu.
“Tidak ada perceraian apapun, Lov. Cukup, jangan katakan hal itu lagi.”
“Tapi, memang harus bercerai kak.. Gita membutuhkan mu, kalian saling mencintai.”
“Kau tidak tahu apa-apa soal hatiku, kau tidak berhak mengikuti campuri soal perasaan ku kepada siapapun.” Danu berusaha berbicara dengan lembut, ia tidak ingin membentak Lovie lagi.
“Aku tahu, kau saja yang tidak menyadari perasaan mu. Karna apa? Karna kau tidak peka!” Sentak Lovie, ia menjatuhkan makanan yang di tangannya.
“Aku lelah, aku capek, kak!” Sentak Lovie lagi, ia berjongkok untuk mengambil jajanan nya. Danu meraih tangannya untuk bangkit, memaksa Lovie untuk lebih dekat dengannya.
“Aku tidak mencintai Gita, seperti yang aku katakan.. Kau tidak tahu apa-apa soal perasaan ku, sedikit pun.” Ucap Danu, ia menarik tangan Lovie hingga kini dada mereka saling berdekatan tanpa jarak sedikitpun.
Lovie merasakan napas Danu di sekitar wajahnya, aroma mint tercium di hidung nya.
Lovie tersadar, ia berusaha melepaskan diri dari Danu yang terus saja menggenggam erat tangannya.
“Lepas, kak!” Bentak Lovie, hingga Danu melepaskan tangannya.
“Kau membentak ku?”
“kenapa? Salah?”
Lovie malah bertanya seperti itu, Danu hanya menatap nya tajam. Ia mengambil jajanan yang tergeletak di lantai, lalu melangkah pergi menuju kamarnya tidak menghiraukan Danu yang menatapnya penuh mengintimidasi.
Danu mengikuti langkah Lovie, tentunya Lovie sadar akan itu. Hingga akhirnya mereka sampai di kamar Lovie, pria itu ikut masuk juga.
“Pinjamkan aku baju milik Radit, aku ingin mandi.”
Lovie langsung menatap kearah Danu, pria itu kelihatan lelah sekali. Mungkin sehabis kerja langsung menyusul nya, karna Jake marah atau apa.
Lovie mengangguk saja, ia duduk di sofa sambil menatap Danu yang sibuk melepas kancing kemeja.
“Sekarang, aku mau menggunakan nya sekarang.” Pinta Danu, Lovie bangkit padahal ia baru saja duduk.
“Yang ikhlas kalau disuruh suaminya.” Danu mengatakan itu karna melihat wajah Lovie yang cemberut, kenapa tidak? Lovie sedang asyik makan jajanan malah diganggu oleh pria itu.
“Iya suami ku, ini ikhlas..” Lovie menyahut dengan senyuman yang pastinya dibuat-buat. Danu tertawa kecil melihat nya, karna Lovie sangat menggemaskan.
Karna Danu sudah tidak mengatakan apa-apa lagi, Lovie berlalu pergi untuk menuju kamar kakaknya. Meminjam baju untuk sang suami, yang terkadang buat kesal.