“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.
Semuanya berawal dari ...
Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.
Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.
Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Liontin giok.
“Mas kalung liontin dari Ibu hilang, aku nggak tau harus cari kemana lagi,” ucap Isyana dengan suara parau. Air mata sudah menggenangi wajahnya yang cantik.
Sedari tadi dia berputar-putar di sekitar pantai. Mencari kalung peninggalan ibunya yang entah menghilang dimana. Isyana mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya setengah dari dunia ini runtuh. Satu-satunya kenangan dari sang ibu ialah kalung tersebut.
“Bentar ya, Mas coba tanya ke ruang informasi kali aja ada yang menemukan nya.” Ikbal pun pergi meninggalkan Isyana yang duduk di salah satu bangku taman. Dengan wajahnya yang berantakan dia terus menangis.
“Sya, kamu kenapa nangis?” Elvano datang dan duduk tepat disebelah Isyana. Menatap wanita itu yang menundukan wajahnya. Tangan Elvano bergerak meraih helaian rambut Isyana yang terjuntai menutupi wajahnya.
“El, kalung liontin nya hilang hiks hiks hiks.” Isyana menoleh ke arah Elvano. Menatap pria itu dengan mata sembab serta hidung yang memerah.
“Kok bisa? Memangnya tadi kamu kemana?” Elvano kaget mendengarnya.
“Aku nggak tau El, pas aku balik dari toilet kalungnya udah nggak ada ... padahal sebelum dari toilet masih ada,” jelas Isyana sambil menangis tersedu-sedu.
“Kamu sudah cari di dalam toilet, kali aja jatuh disana,” ucap Elvano seraya mengusap air mata di pipi kanan Isyana.
“Sudah El, tapi nggak ada, hiks hiks ... aku harus cari kemana lagi El,” decak Isyana menatap Elvano dengan raut wajah sendu yang dibanjiri air mata.
“Yasudah kamu jangan nangis lagi, aku bantu kamu cariya,” ucap Elvano lembut sembari menarik Isyana kedalam pelukan nya. Menepuk-nepuk bahu Isyana untuk membuatnya tenang.
Malam hari di dalam kamar. Isyana duduk melamun di kursi santai yang ada di balkon kamarnya. Pandangan nya kosong menatap lautan yang gelap. Kehilangan kalung liontin sang ibu membuat Isyana benar-benar terpukul. Terlebih saat dia mengingat keadaan sang ayah yang sakit.
Isyana menghela nafasnya, merasa panas di kelopak matanya saat dia menutup mata. Lagi-lagi air mata menetes di wajahnya.
“Sya, besok pagi kita pulang aku sudah minta asisten ku menyiapkan Jet Perusahaan.” Ikbal terlihat sibuk memakai arloji ditangan kirinya.
Seketika Isyana menoleh mendengar perkataan Ikbal. Dia beranjak dari kursi santai lalu berjalan masuk mendekati Ikbal.
“Apa? Pulang? Aku nggak salah dengar kan Mas,bagaimana bisa kamu ajak aku pulang ... sedangkan kalung liontin ibu aku aja belum ketemu!” Isyana tidak bisa menahan amarahnya kepada Ikbal. Tatapan nya yang hangat berubah dingin.
“Aku masih banyak kerjaan besok Sya, ada rapat penting,” ucap Ikbal santai seperti tidak punya hati.
Isyana meraih arloji Ikbal yang melingkare di tangan kirinya, lalu menghempaskan nya kelantai. “Kamu malah mikirkan kerjaan, Mas! Kamu tega ya, KALUNG IBU AKU HILANG!!! Kamu paham kata-kataku nggak sih!”
“Kamu apa-apaan sih! Cuman masalah kalung yang kaya gitu aja, kamu sampai sebegininya.” Ikbal memungut arlojinya yang jatuh ke lantai.
“Beli saja yang baru, nggak usah repot-repot cari kalung yang sudah lama itu,” lanjutnya tanpa rasa bersalah.
Isyana mengepalkan tangan nya, nafasnya juga memburu. Dia menahan amarahnya yang hampir meledak. “Kamu nggak punya hati, Mas!”
Isyana pun meninggalkan Ikbal di dalam kamarnya. Dia duduk sendirian di bangku taman hotel. Tangan nya menekan dadanya yang terasa sakit seperti di pukul batu oleh seseorang.
“Sya!” Seseorang memanggilnya. Isyana cepat-cepat mengusap wajahnya dan merapikan keadaan nya. Berusaha terlihat seperti biasa.
“El,” ucap Isyana seraya memaksakan senyuman nya.
“Aku dengar Ikbal sudah menyiapkan kepulangan kalian besok,” tutur Elvano yang di jawab anggukan oleh Isyana.
Elvano pun meraih tangan Isyana, lalu menaruh kotak kecil berbentuk hati ke tangan wanita itu. Isyana mengerutkan dahinya menatap bingung Elvano.
“Ini apa El?” tanya Isyana seraya membuka kotak tersebut. Matanya membulat melihat sebuah kalung liontin berbentuk butiran salju di dalam nya.
Seketika tatapan Isyana berubah menjadi dingin kepada Elvano. Pria itu pun tersenyum dan mengusap pucuk kepala Isyana dengan lembut.
“Jangan marah dulu! Dengerin penjelasan ku.” Elvano mencubit pipi kanan Isyana.
“Kalung ini bukan untuk menggantikan kalung liontin milik ibumu ... tapi aku berharap kalung ini bisa membuat hatimu sedikit tenang, Sya. Jangan sedih lagi, aku nggak bisa lihat kamu netesin air mata,” tutur Elvano dengan tatapan sendu.
“Sama aja kan, kamu suruh aku pulang dan lupain kalung liontin ibu aku,” jawab Isyana ketus. Dia memalingkan wajahnya dari Elvano karena kesal.
“Sya, lihat aku!” Elvano meraih dagu Isyana dan menatapnya dengan intens.
“Aku janji, aku bakal cari kalung itu sampai dapat ... kamu nggak usah khawatir, kalau kalung liontin nya ketemu terserah kamu mau apakan kalung pemberian dariku. Mau menyimpan nya atau membuang nya,” ucap Elvano dengan tulus.
“Benar ya, kamu sudah bilang janji El.”
“Iya aku janji, Sya. Kamu juga janji jangan nangis lagi.” Elvano tersenyum mengusap pipi Isyana.
Isyana juga tersenyum sembari mengangguk.
Keesokan harinya. Sesuai jadwal kepulangan Isyana dan Ikbal. Setelah mereka pulang, Elvano meminta asisten pribadinya mengecek kamera cctv dari setiap sudut hotel.
“Elvano! Kamu ngapain sih sampai segitunya cari kalungnya perempuan itu!” Nabila terus mencerca Elvano yang sedari pagi sibuk sendiri.
“Namanya Isyana!” jawab Elvano ketus.
Nabila berdecak kesal dan tangan nya mengepal karena jengkel. “Nggak penting!!”
Nabila berbalik badan sambil melipat kedua tangan nya di depan dada. “Lagi pula kalung liontin giok seperti itu kuno sekali, untuk apa disimpan terus.”
Elvano mengerutkan dahinya mendengar perkataan Nabila. Dia pun berdiri dan meraih tangan Nabila. Membuat wanita itu tersentak dan menghadap padanya.
“Apasih El, kamu tau tangan aku sakit!” Nabila mengeluh sambil memegangi pergelangan tangannya.
“Kamu tahu dari mana kalung liontin Isyana itu giok, Isyana tidak pernah mengatakan nya ke siapa-siapa,” ucap Elvano menatap Nabila dengan penuh curiga.
Nabila menarik nafasnya dan membalikan badan nya membelakangi Elvano. Telapak tangan nya seketika menjadi basah karena gugup.
“A-aku hanya menebaknya saja ... lagipula kalung itu dipakainya setiap hari, semua orang juga bisa melihatnya,” jawab Nabila dengan terbata-bata.
Elvano menggelengkan kepalanya. Pandangan nya berkeliling mencari sesuatu. Saat dilihatnya tas Nabila yang tergeletak diatas tempat tidur. Elvano langsung meraih tas tersebut. Lalu menghamburkan isinya ke atas tempat tidur.
“Kamu ngapain sih El, itu tasku!” Nabila berusaha meraih tasnya yang dengan cepat dilempar kelantai oleh Elvano.
“Ini apa?” Elvano meraih kalung liontin giok milik Isyana di antara barang-barang milik Nabila.
“Itu punya ku!” Nabila hendak merampas nya dari tangan Elvano. Tapi pria itu cepat sekali menghindarnya.
“Ini punya Isyana! Ternyata kamu yang ambil, Nabila! Buat apa? Kamu nggak kasian lihat Isyana sampai nangis karena kehilangan kalung ini?” ucap Elvano dengan tatapan nya yang kecewa.
“Untuk apa aku peduli padanya? Aku sengaja mengambil kalung itu, biar dia sadar!”
“Sadar apa Nabila? Isyana nggak pernah jahat ke kamu!”
“Ya sadar diri jangan dekat-dekat suami orang! Aku nggak suka!”
Elvano pun terkekeh sambil mengusap wajahnya.
“Untuk apa dia melakukan itu? Aku sama Isyana membahas masalah pekerjaan! Nggak seperti kamu dengan Ikbal, kamu juga harus sadar ... aku bukan anak kecil yang gampang dibodohi!” Elvano menunjuk dada nabila dengan tatapan yang tajam.
“Aku ada kerjaan, kamu pulang sendiri saja!”
Elvano pun berlalu pergi meninggalkan nabila sendirian di dalam kamar.
“SIALAN KAMU ISYANA!” Nabila menghempaskan ponselnya kelantai dan berteriak murka sekencang-kencangnya.
.
.
.
To be continued.