"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Dia... Rahmat?
Semakin ia membaca, semakin sulit baginya bernapas dengan tenang malam itu, sendirian di kamar.
Wenny tidak langsung menggulir lagi.
Jarinya berhenti di atas layar laptop. Lampu meja memantulkan warna pucat pada kuku-kukunya, sementara di samping laptop, amplop hitam berisi tiket VIP konser REYN masih terbuka sedikit. Benda itu tampak terlalu rapi, terlalu nyata, seolah baru beberapa menit lalu REYN berdiri di depannya dan berkata, "Kalau ingin pergi dari sesuatu tentang aku, tanya aku sekali dulu."
Saat itu Wenny hanya mengira kalimat itu aneh.
Sekarang, setelah membaca lirik yang tersimpan di arsip @bunga.pagi, kalimat itu terdengar seperti pintu yang sudah lama ia lewati tanpa sadar.
Ia menarik napas pelan, lalu mengambil buku catatan kecil dari tas kosmetiknya. Buku itu biasanya dipakai untuk menulis jadwal syuting, nomor produk skincare, atau dialog pendek yang ingin ia hafal. Malam ini, di halaman kosong paling belakang, ia menulis satu kata dengan tangan yang sedikit bergetar.
Rahmat.
Ujung pena berhenti di akhir huruf terakhir.
Nama itu tidak datang sebagai pengetahuan baru. Ia datang seperti suara lama yang selama ini terkunci di lorong ingatan, lalu tiba-tiba ada seseorang membuka pintunya dari sisi lain.
Wenny kembali menatap layar.
Lirik pertama yang ia salin bukan bagian reff yang dulu sering dinyanyikan fans. Bukan bagian yang romantis, bukan bagian yang selalu dipakai di video edit dengan slow motion. Bagian itu pendek, nyaris seperti gumaman di awal lagu.
Di sudut set yang berdebu, ada kotak kuning yang kaubuka untukku.
Wenny membaca kalimat itu tiga kali.
Kotak kuning.
Bukan sekadar kotak bekal. Bukan sekadar benda lucu yang bisa dipakai siapa saja dalam lagu cinta. Kotak itu kuning.
Dadanya langsung terasa sesak.
Di kepalanya, lampu studio lama menyala lagi. Panasnya lampu sorot. Bau properti kayu yang baru dicat. Suara kru yang memanggil "Bintang Kecil, standby!" dari kejauhan. Lantai belakang set yang sedikit berdebu, tempat seorang anak laki-laki duduk memegang piring plastik kecil.
Wenny menutup mata.
Ia melihat dirinya yang berusia tujuh tahun berjongkok di depan anak itu. Rambutnya dikepang dua, kostumnya masih belum diganti, dan di tangannya ada kotak bekal kuning dengan stiker matahari kecil di bagian dalam tutup.
Stiker matahari.
Ia membuka mata cepat-cepat.
Tidak mungkin.
Ia menekan ikon pencarian di dokumen lirik, mengetik kata matahari dengan jari yang makin dingin. Satu hasil muncul di bagian bridge.
Di dalam tutupnya, matahari kecil menertawakan lapar yang lupa pulang.
Pena di tangan Wenny jatuh ke lantai.
Suaranya kecil, tetapi di kamar yang sunyi, bunyi itu seperti benda pecah.
"Enggak..." bisiknya.
Ia tidak pernah menceritakan stiker itu kepada media. Tidak kepada fans. Tidak kepada teman satu lokasi. Bahkan ia sendiri hampir melupakannya. Yang ia ingat selama ini hanya samar-samar, ada anak laki-laki kurus, ada makanan pedas, ada ruangan rumah sakit, ada nama yang ia berikan karena nama lama anak itu terdengar terlalu jahat untuk ditanggung anak sekecil itu.
Tapi lagu ini tahu warna kotak bekalnya.
Lagu ini tahu stiker matahari di dalam tutupnya.
Wenny memungut pena, lalu menulis di bawah kata Rahmat.
Kotak bekal kuning.
Stiker matahari.
Set sinetron.
Tiga garis.
Tiga paku kecil menancap di kepalanya.
Ia menggulir ke bait berikutnya.
Kau menukar nasi hangatmu dengan piring dingin di tanganku.
Wenny menggigit bagian dalam pipinya. Ada rasa asin yang tiba-tiba muncul, entah dari darah kecil atau air mata yang belum jatuh.
Ia ingat piring plastik itu.
Nasi dingin. Sambal. Potongan mi yang menggumpal. Saat kecil, ia tidak tahu kata gluten. Ia hanya tahu anak laki-laki itu makan sesuatu yang buruk, sementara bekalnya sendiri penuh telur gulung, sayur, dan buah potong. Ia menganggap pertukaran itu adil karena ia ingin berbagi.
Ia tidak tahu setelah itu tenggorokannya akan menyempit.
Ia tidak tahu anak laki-laki itu akan memegang kotak bekal kuningnya seperti memegang benda suci.
Wenny menekan pangkal hidung. Napasnya mulai patah-patah.
REYN tahu alerginya sejak awal.
REYN selalu tahu ia tidak boleh gluten.
REYN mengganti makanan yang berisiko di Bali. REYN tahu ia panik kalau tangan orang asing menariknya terlalu kasar. REYN tahu ia takut sendirian saat tubuhnya melemah. Ia pikir itu semua karena REYN terlalu teliti, terlalu protektif, terlalu misterius.
Ternyata mungkin bukan karena ia baru mempelajari Wenny Santoso.
Mungkin karena ia pernah melihat Bintang Kecil sulit bernapas di belakang mobil produksi, dengan wajah pucat dan tangan mencari ibunya.
Wenny menulis lagi.
Dia tahu alergiku karena dia ada di sana.
Pena itu menekan kertas terlalu kuat sampai hampir merobek halaman.
Ia menggulir lagi.
Bagian reff sudah ia hafal sejak bertahun-tahun lalu.
Dua lesung pipi, dua pintu kecil, tempat dunia belajar pulang.
Dulu ia menangis saat pertama kali mendengar kalimat itu karena merasa lagu itu lembut. Fans lain berkata REYN pasti menulisnya untuk cinta pertama. Wenny, dengan akun @bunga.pagi yang tidak dikenal siapa pun, pernah membuat boneka kecil bermotif lesung pipi untuk merayakan perilisan lagu itu.
Ia pernah bercanda di caption lama, "Andai aku gadis lesung pipi di lagu ini."
Wenny menatap kalimat itu sampai matanya panas.
Kalau lagu itu benar ditulis untuknya, berarti selama ini ia bukan fans yang kebetulan merasa dekat dengan lagu idolanya.
Ia adalah orang yang sedang dicari dalam lagu itu.
Ia menggeser layar lebih jauh.
Di bawah reff, ada bagian yang jarang dibahas fans karena melodinya rendah dan REYN sering menyanyikannya sambil memejamkan mata.
Benang warna-warni di pergelangan kiri, simpul kecil yang tidak pernah kubiarkan kalah oleh waktu.
Wenny membeku.
Semuanya di kamar berhenti.
Suara pendingin ruangan. Kedip kecil lampu laptop. Detak jam dinding. Semuanya seperti menjauh sampai yang tersisa hanya kalimat itu.
Pergelangan kiri.
Simpul kecil.
Benang warna-warni.
Ia tiba-tiba melihat kamar rumah sakit. Selimut putih. Gulungan benang yang dibawa Mama untuk membuatnya tidak bosan. Tangannya yang kecil bergerak lambat karena tubuhnya masih lemah. Anak laki-laki itu berdiri di dekat kursi tamu, takut mendekat, takut mengambil, takut percaya bahwa sesuatu memang boleh diberikan kepadanya.
"Untuk teman," suara kecilnya sendiri muncul dari ingatan.
Wenny menutup mulut dengan punggung tangan.
Ia ingat pergelangan tangan kiri yang disodorkan dengan ragu. Kulit anak itu penuh bekas gores kecil. Benang warna-warni tampak terlalu cerah di sana. Ia menarik simpul sekali, memastikan gelang itu tidak mudah lepas.
Di hari-hari setelahnya, ingatan itu retak. Ia pulang, syuting berlanjut, anak itu hilang dari lokasi, orang dewasa sibuk dengan jadwal, dan hidupnya bergerak terlalu cepat. Ia menjadi Wenny Santoso, aktris muda, putri nasional, perempuan yang diajarkan untuk tersenyum di depan kamera bahkan ketika tubuhnya lelah.
Tetapi anak itu...
Anak itu tidak melupakan simpul kecil itu.
Wenny meraih ponselnya dengan terburu-buru. Ia membuka folder tangkapan layar dari episode-episode sebelumnya, foto-foto REYN yang ia simpan diam-diam dari akun fans, potongan video ketika lengan REYN terangkat saat permainan di Bali, ketika ia mengulurkan tangan, ketika manset bajunya tersingkap.
Di beberapa gambar, pergelangan tangannya tertutup jam.
Di beberapa gambar lain, ada sesuatu seperti garis warna pudar.
Wenny memperbesar sampai gambar pecah.
Tidak jelas.
Tapi cukup untuk membuat tulang punggungnya dingin.
Ia pernah melihat garis itu. Ia hanya tidak pernah berani memikirkannya lama-lama karena siapa yang masih memakai gelang persahabatan dari masa kecil selama lima belas tahun?
Siapa yang bisa setia sejauh itu?
Wenny menelan ludah.
Jawabannya ada di layar, di suara REYN yang selama ini selalu terdengar dingin bagi dunia, tetapi pecah sedikit setiap kali memanggilnya Wen-Wen.
Ia kembali ke lirik.
Aku mencarimu di panggung yang terlalu terang, di kota yang terlalu asing, di semua nama yang berubah supaya aku bisa berdiri di hadapanmu.
Wenny membaca kalimat itu tanpa berkedip.
Semua nama yang berubah.
Nama lama.
Nama baru.
Nama panggung.
Laknat.
Rahmat.
REYN.
Tangannya gemetar begitu hebat sampai laptop ikut bergeser sedikit di atas meja. Ia cepat menahan tepinya, lalu tertawa kecil tanpa suara. Bukan karena lucu. Karena tubuhnya tidak tahu harus menangis atau runtuh.
Di halaman catatan, ia menulis:
REYN \= ?
Tanda tanya itu tampak bodoh.
Semua jawaban sudah berbaris di depannya.
REYN tahu alerginya. REYN tahu kebiasaannya. REYN memanggilnya Wen-Wen seolah nama itu sudah lama tinggal di mulutnya. REYN punya tahi lalat kecil di belakang telinga kiri, persis bayangan samar anak laki-laki di pintu kamar rumah sakit. REYN menulis lagu tentang kotak bekal kuning, stiker matahari, piring dingin, lesung pipi, benang warna-warni, simpul di pergelangan kiri.
Dan tadi malam, REYN menyuruhnya bertanya sebelum pergi.
Bukan karena ia ingin menang dalam permainan cinta.
Karena mungkin ia takut ditinggalkan lagi sebelum sempat mengatakan, "Aku orang itu."
Wenny meremas ujung kaus tidurnya. Air mata pertama jatuh ke halaman catatan, tepat di samping kata Rahmat. Tinta hitam melebar sedikit.
Ia tidak menghapusnya.
Ia membuka lagi arsip komentar lama dari @bunga.pagi. Di sana ada unggahannya sendiri dari empat tahun lalu, saat `Lesung Pipi` baru keluar. Ia menulis dengan antusias, "Lagu ini seperti surat untuk seseorang yang hilang."
Wenny menatap kalimat dari dirinya sendiri yang lebih muda.
Ternyata benar.
Lagu itu memang surat.
Hanya saja surat itu dikirim kepada dirinya, dan ia baru membukanya malam ini.
Ia menggulir ke bagian akhir.
Jika suatu hari kau mendengar lagu ini, jangan lari dulu. Tanyakan padaku, karena aku masih mencari jalan pulang.
Wenny mengangkat kepala.
Kalimat REYN di teras kembali memukul dadanya.
Tanya aku sekali dulu.
Ia memegang tiket VIP itu. Kertasnya tebal, dingin, mahal. Nama konser tercetak jelas di sana, tetapi yang membuat matanya kabur bukan jadwal konser, bukan akses khusus, bukan kemewahan seorang bintang. Yang membuat tangannya lemas adalah kemungkinan bahwa semua itu bukan undangan dari idolanya kepada seorang aktris yang sedang dekat dengannya.
Itu mungkin undangan dari Rahmat.
Anak laki-laki yang pernah ia beri kotak bekal, nama, dan gelang.
Anak laki-laki yang pernah berjanji akan menoleh pada nama yang tidak melukainya.
Wenny menekan tiket itu ke dada. Bahunya mulai bergetar.
"Kenapa kamu enggak bilang?" suaranya keluar sangat pelan. "Kenapa selama ini diam?"
Pertanyaan itu tidak punya lawan bicara. REYN tidak ada di kamar. Kamera reality show tidak merekam sudut pribadinya malam ini. Tidak ada Lilian, tidak ada kru, tidak ada fans yang berteriak di layar.
Hanya Wenny, laptop, tiket, catatan basah oleh air mata, dan lagu yang selama empat tahun ia putar tanpa pernah tahu bahwa setiap baitnya memanggil masa kecilnya sendiri.
Ia mencoba menyusun alasan.
Mungkin REYN takut ia lupa.
Mungkin REYN takut ia hanya kasihan.
Mungkin REYN takut, jika ia tahu anak laki-laki itu tumbuh menjadi bintang paling dingin di Indonesia, Wenny akan melihatnya bukan sebagai REYN, melainkan sebagai luka lama yang perlu diselamatkan.
Tetapi di balik semua alasan itu, ada satu hal yang membuat dadanya nyaris pecah.
Dia mencariku.
Selama lima belas tahun, dia mencariku.
Dan aku duduk di barisan fans, memanggil namanya dari jauh, tanpa tahu orang yang kucari juga sedang berdiri di panggung yang sama.
Wenny menulis lagi, kali ini bukan dengan rapi.
Dia Rahmat.
Ia berhenti.
Lalu di bawahnya, dengan tangan yang semakin gemetar, ia menulis:
REYN adalah Rahmat.
Begitu kalimat itu selesai, sesuatu di dalam dirinya runtuh.
Ia tidak lagi berusaha bernapas teratur. Air mata jatuh satu per satu, lalu makin cepat, membasahi pipi, dagu, dan kertas catatan. Ia menutup mulut dengan kedua tangan agar tidak mengeluarkan suara terlalu keras. Bukan karena takut didengar orang lain, tetapi karena kalau ia mulai menangis, ia tidak yakin bisa berhenti.
Semua potongan yang selama ini membuatnya gelisah akhirnya menjadi bentuk utuh.
Tahi lalat di belakang telinga.
Kotak bekal kuning.
Stiker matahari.
Alergi pertama.
Gelang persahabatan.
Nama yang ia berikan.
Lagu yang ia sukai sebagai fans.
Tatapan REYN setiap kali ia berkata ingin pergi.
Wenny menatap layar yang buram oleh air mata. Di sana, judul lagu itu masih bersinar kecil.
Lesung Pipi.
Ia dulu berpikir itu lagu tentang gadis yang dicintai seorang penyanyi.
Ternyata itu lagu tentang seorang anak laki-laki yang tidak pernah berhenti mencari jalan pulang kepada gadis kecil yang memberinya nama.
Wenny menutup mulut lebih rapat. Air mata mengalir lewat sela-sela jarinya.
"Ya Tuhan..." bisiknya dengan suara hancur. "REYN adalah Rahmat."
Napasnya tersangkut.
Ia menunduk ke halaman catatan, melihat nama itu sekali lagi, lalu berbisik lebih pelan, seolah takut kalau dunia mendengarnya terlalu cepat.
"Dia anak itu. Anak laki-laki yang kucari selama lima belas tahun."