Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027
Adegan yang Membungkam Studio
Ia berdiri di depannya, menahan napas, menunggu apakah ia akan lari.
Kiara tidak lari.
Namun ia juga tidak segera mengulurkan tangan.
Di belakang Rayhan, ruang rapat masih penuh orang. Chandra Kurniawan berdiri dengan wajah runtuh, perempuan kandidat memegang gelas dengan jari gemetar, dan layar besar masih menunjukkan foto Kiara berdampingan dengan foto perempuan itu. Semua bukti menjelaskan sesuatu yang menjijikkan dengan sangat rapi.
Rayhan melihat arah pandang Kiara, lalu menutup layar dengan satu perintah pendek kepada Adi.
Layar hitam.
Tapi yang sudah dilihat Kiara tidak ikut hilang.
"Perempuan itu aman?" tanyanya pelan.
Rayhan menjawab seketika. "Aman. Dia punya pengacara, kompensasi, dan perlindungan. Tidak ada prosedur apa pun yang akan dilakukan."
Kiara mengangguk.
Setelah itu baru ia menatap Rayhan.
"Koko mau menghancurkan Chandra sampai sejauh apa?"
Ruangan terasa menahan napas. Bahkan Chandra yang tadi hendak bicara pun terdiam, seolah ia ikut menunggu jawaban.
Rayhan tidak melihat Chandra. Matanya hanya pada Kiara.
"Sampai dia tidak bisa mendekatimu."
Jawaban itu jujur. Terlalu jujur.
Kiara merasakan jantungnya berdetak lebih berat. Bukan karena penyakitnya, melainkan karena ada dua perasaan yang saling bertabrakan di dalam dada. Ia ngeri pada cara Rayhan menutup semua jalan keluar Chandra. Ia juga tidak bisa pura-pura tidak lega karena Chandra tidak akan menyentuh perempuan lain demi meniru wajahnya.
Itu yang membuatnya bingung.
Dunia tidak hitam putih saat monster itu berdiri di depanmu, menunggu dengan mata takut kehilangan.
Kiara menarik napas.
"Aku takut melihat caramu," katanya akhirnya. "Tapi aku tidak takut pada Koko."
Jari Rayhan bergerak sedikit.
Seperti ia ingin memeluknya, tapi tidak berani.
Kiara melihatnya, lalu dengan pelan menyentuh ujung lengan kemejanya. Sentuhan kecil, sebentar, tetapi cukup untuk membuat mata Rayhan berubah.
"Aku perlu waktu untuk mengerti," lanjut Kiara. "Jangan sembunyikan semuanya dariku, tapi jangan paksa aku menelan semuanya sekaligus."
Rayhan menunduk. Suaranya rendah ketika menjawab, "Baik."
Hanya satu kata.
Namun untuk Rayhan Purnawan, itu sudah seperti menyerahkan pisau dari tangannya.
Santi yang berdiri di samping akhirnya berani bernapas lagi.
Adi membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. Chandra masih berdiri di belakang, wajahnya kaku. Kiara tidak menatapnya. Ia tidak punya tenaga untuk memberi ruang pada orang seperti itu.
"Aku mau ke studio," kata Kiara.
Rayhan langsung mengerutkan kening. "Hari ini?"
"Aku sudah terlanjur bawa map karakter."
"Itu bukan alasan medis."
"Tapi alasan emosional." Kiara mengangkat map di dadanya. "Kalau aku pulang sekarang, kepalaku akan terus mengulang ruang rapat ini. Aku butuh bekerja."
Rayhan menatapnya lama.
Akhirnya, ia berkata pada Santi, "Kalau dia pucat, langsung telepon aku."
Kiara mengangkat alis. "Aku berdiri di sini."
"Aku tahu."
"Koko terlalu diktator."
"Untuk urusan kesehatanmu, iya."
Nada itu terlalu datar untuk disebut bercanda, tapi Kiara tetap hampir tersenyum. Ketegangan di dadanya tidak hilang sepenuhnya. Namun setidaknya, ia bisa bernapas.
***
Sore itu, studio Gerbang Majapahit terasa seperti dunia lain.
Lampu sorot panas. Lantai kayu set istana memantulkan warna emas kusam. Kain tirai merah tua bergantung tinggi di belakang singgasana. Hari ini bukan lagi fitting ringan. Gunawan memutuskan mencoba satu adegan inti karena semua pemeran utama sudah hadir.
"Kalau Kiara kuat, kita ambil blocking dulu. Kalau tidak kuat, kita bubar," kata Gunawan. "Aku tidak mau mati muda dimarahi Rayhan."
Beberapa kru tertawa.
Kiara sudah memakai kostum Putri Mahkota. Lehernya tegak, rambutnya ditata berat, dan tusuk konde emas imitasi menusuk kulit kepala sedikit setiap kali ia bergerak. Rasa sakit kecil itu justru membuatnya fokus.
Kevin Wibowo berdiri beberapa meter di depannya dengan kostum jenderal muda. Armor ringan di bahunya membuat tubuhnya tampak lebih tegas. Saat melihat wajah Kiara, ia sempat terdiam.
"Kamu yakin bisa take?" tanyanya.
"Kalau tidak yakin, aku tidak akan berdiri di sini."
Kevin tersenyum tipis. "Masih galak."
"Itu bukan galak. Itu hemat energi."
Kevin tertawa, tapi matanya tidak lepas dari Kiara. Ada kekaguman yang terlalu jelas di sana. Kiara melihatnya, tetapi memilih tidak menanggapi.
Dari belakang monitor, Rayhan berdiri diam bersama Adi.
Ia datang dengan alasan menjemput Kiara. Semua orang tahu itu hanya alasan. Tapi karena ia tidak mengganggu kerja set, Gunawan membiarkannya berdiri di sana, meski sesekali melirik seperti takut sponsor lain tiba-tiba jatuh dari langit.
"Adegan tiga puluh tujuh," seru asisten sutradara. "Putri Mahkota mengetahui keluarga istana mengorbankannya demi perjanjian musuh. Jenderal muda datang untuk membawanya pergi, tapi dia menolak."
Gunawan mengangkat tangan. "Kiara, ingat. Bukan menangis keras. Dia sudah terlalu lama disakiti. Air mata justru datang belakangan. Yang pertama keluar adalah keputusan."
Kiara mengangguk.
Keputusan.
Kata itu masuk ke tulangnya.
Keluarga Tanuwijaya. Wenny. Chandra. Rayhan di balik pintu kaca. Semua hal itu berdiri di belakang Kiara seperti bayangan panjang, menunggu apakah ia akan roboh.
Kamera mulai bergerak.
"Action!"
Kevin masuk lebih dulu. Langkahnya cepat, suaranya ditahan. "Putri, kita harus pergi malam ini. Mereka sudah menandatangani perjanjian. Istana tidak lagi aman untukmu."
Kiara berdiri membelakangi kamera, menatap singgasana kosong.
Ia tidak langsung menjawab.
Kesunyian itu membuat kru di belakang monitor ikut diam.
Lalu ia berbalik.
Tidak ada air mata di wajahnya. Hanya mata yang terlalu tenang, terlalu lelah, dan karena itu justru lebih menyakitkan.
"Sejak kapan istana ini pernah aman untukku?"
Kevin tertegun sepersekian detik.
Itu bukan sekadar dialog. Cara Kiara mengucapkannya membuat kalimat itu seperti luka yang sudah lama mengering, disentuh kembali dengan ujung pisau.
Kevin hampir terlambat masuk, lalu cepat menyambung, "Aku bisa melindungimu."
Kiara berjalan mendekat. Kain kostumnya bergeser pelan di lantai.
"Melindungiku?" Ia menatap Kevin sebagai Putri Mahkota menatap jenderal terakhir yang setia. "Kalau kau melindungiku dengan pedangmu, siapa yang akan melindungiku dari hatiku sendiri?"
Kevin benar-benar lupa bernapas.
Di belakang monitor, Gunawan tidak bergerak.
Kiara mengangkat tangan, menyentuh lambang kerajaan di dada Kevin. Sentuhan itu sesuai blocking, hanya dua jari di atas armor. Tapi di kamera, jaraknya terlihat intim, penuh luka dan kepercayaan yang hampir hancur.
"Aku tidak pergi karena takut," katanya. "Aku tinggal karena mulai hari ini, mereka tidak boleh lagi menentukan siapa yang pantas kusebut rumah."
Setelah kalimat itu, matanya baru basah.
Satu tetes jatuh. Tidak lebih.
"Cut!"
Suara Gunawan pecah seperti orang baru sadar dari hipnosis.
Studio hening satu detik.
Lalu seseorang bertepuk tangan. Disusul yang lain. Dalam beberapa detik, tepuk tangan memenuhi set istana.
Gunawan melepas headset. "Itu dia. Itu Putri Mahkota."
Kiara berkedip, keluar dari karakter dengan napas agak gemetar. Kevin masih berdiri di depannya, mata menatapnya seolah ia belum sepenuhnya kembali dari adegan.
"Kiara," ucapnya pelan. "Kamu luar biasa."
Sebelum Kiara bisa menjawab, suara Rayhan terdengar dari belakang monitor.
"Adegan bagus."
Semua orang menoleh.
Rayhan berjalan mendekat dengan segelas air hangat di tangan. Wajahnya tenang, tetapi mata yang jatuh pada dua jari Kiara di armor Kevin tadi masih menyimpan bayangan tipis.
Ia tidak mengatakan apa-apa tentang Kevin.
Ia hanya menyerahkan gelas kepada Kiara.
"Minum, Sayang."
Satu panggilan itu membuat beberapa kru pura-pura sibuk sekaligus.
Kiara menerima gelas, pipinya panas. "Koko, ini lokasi kerja."
"Aku tahu."
"Jangan panggil begitu keras."
"Aku sudah pelan."
Gunawan di belakang monitor berbisik cukup keras untuk didengar separuh set, "Kalau ini masuk behind the scene, penonton bisa lupa judul filmnya."
Tawa kecil menyebar. Ketegangan Kiara akhirnya turun sedikit.
Namun di sudut lain, seorang staf promosi sudah memeriksa cuplikan pendek dari kamera belakang layar. Frame itu memperlihatkan Putri Mahkota menyentuh dada jenderal muda, mata mereka terkunci, suasana penuh luka.
Ia mengunggahnya ke grup internal promosi dengan caption singkat.
Chemistry Putri Mahkota dan Jenderal Muda gila.
Lima menit kemudian, potongan itu sudah berpindah ke akun gosip hiburan.
Rayhan melihat notifikasi di ponsel Adi sebelum Kiara sempat menyadarinya.
Di layar kecil itu, wajah Kevin dan Kiara berdampingan, dibekukan tepat pada momen paling menyakitkan dan paling indah.
Ibu jari Rayhan berhenti di tepi ponsel.