4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Topeng Ethan
"Adik ipar," kata Ethan. "Darren memintaku memastikan kau tidak lupa minum vitamin."
Naomi menatap nampan di tangannya, lalu menatap wajah Ethan.
Air hangat itu terlihat biasa. Obat di piring kecil juga tampak seperti vitamin yang diberikan dokter pada Natalia, bukan pada Naomi. Justru karena semuanya terlihat biasa, peringatan Darren berdiri jelas di kepalanya.
Jangan menerima minuman darinya.
Naomi tersenyum sopan. "Terima kasih. Tapi aku tidak minum vitamin malam ini."
Ethan menunduk sedikit, melihat piring kecil itu. "Benarkah? Mungkin Darren terlalu khawatir sampai salah menyampaikan."
"Mungkin."
Naomi mengeluarkan ponsel dari saku cardigan dan mengetik pesan singkat di depan Ethan.
Naomi: Kamu minta Ethan bawakan vitamin?
Jawaban Darren datang kurang dari sepuluh detik.
Darren: Tidak. Jangan minum apa pun. Masuk kamar sekarang. Aku telepon.
Naomi mengangkat wajah.
Senyum Ethan tetap ada. Tidak melebar, tidak menghilang. Seolah ia sudah menebak Naomi akan mengecek.
"Darren bilang apa?" tanyanya.
"Dia bilang rapatnya sudah selesai," jawab Naomi. "Aku harus masuk."
"Tentu."
Ethan menepi, memberi jalan.
Naomi melewatinya dengan punggung lurus. Ia bisa merasakan tatapan Ethan mengikuti sampai ia masuk kamar dan mengunci pintu. Begitu pintu tertutup, ponselnya bergetar.
Darren muncul di layar video call dengan wajah gelap.
"Kamu tidak menyentuh apa pun?"
"Tidak."
"Bagus. Kunci pintu."
"Sudah."
"Aku pulang besok pagi."
"Kontrakmu?"
"Biar Jason yang tanda tangani kalau perlu."
"Darren."
"Nao, dia berbohong memakai namaku."
Naomi tidak bisa membantah. Di belakang kemarahan Darren, ia sendiri merasakan sesuatu yang lebih dingin: Ethan tidak tampak panik saat ketahuan. Itu bukan kesalahan spontan. Itu tes.
"Aku baik-baik saja," katanya.
"Aku tidak."
Kalimat itu membuat Naomi melembut. "Aku tahu. Tapi kalau kamu pulang tanpa menyelesaikan pekerjaan, orang-orang akan bertanya. Aku akan lebih hati-hati sampai kamu kembali."
Darren menatapnya lama. "Delapan langkah."
"Delapan langkah."
Keesokan siangnya, Naomi pergi ke perpustakaan kecil di sayap barat untuk mencari buku pola bordir lama yang disebut Natalia. Arman, pengawal yang ditugaskan Darren, berdiri delapan langkah di belakangnya seperti patung hidup.
Di lorong menuju perpustakaan, Felicia tiba-tiba muncul dari pintu samping.
"Naomi, Tante Helena mencarimu di ruang teh," katanya, nada suaranya datar.
Naomi berhenti. "Tante Helena?"
"Ya. Katanya tentang menu makan malam."
Arman ikut berhenti.
Felicia melirik pengawal itu. "Masa bicara menu saja harus bawa bodyguard? Di rumah sendiri?"
Naomi tersenyum tipis. "Ini rumah keluarga besar, kan? Saya masih belajar aturan."
Felicia mendengus, lalu berjalan pergi tanpa menunggu.
Naomi tidak mengikuti langsung. Ia mengirim pesan pada pelayan yang tadi pagi mengantar teh.
Naomi: Tante Helena ada di ruang teh?
Jawabannya datang cepat.
Pelayan: Tidak, Nyonya. Tante Helena sedang keluar ke salon.
Naomi menatap layar.
Saat ia berbalik untuk memanggil Arman, lampu koridor berkedip sebentar. Bukan mati total, hanya cukup untuk membuat perhatian Arman teralihkan ke panel listrik di ujung lorong. Pada saat yang sama, suara vas jatuh terdengar dari arah tangga samping.
Arman bergerak refleks. "Nyonya, tunggu di sini."
"Arman..."
Namun ia sudah berlari dua langkah untuk memeriksa.
Naomi baru hendak menekan tombol darurat ketika pintu tangga di sebelahnya terbuka.
Ethan berdiri di sana.
"Kebetulan sekali," katanya lembut.
Naomi menggenggam ponsel lebih erat. "Tidak ada kebetulan sebanyak ini."
Senyum Ethan muncul. "Kau memang lebih menarik dari yang kuduga."
Ia tidak menyentuh Naomi. Tidak menghalangi dengan kasar. Namun posisinya membuat Naomi harus melewatinya jika ingin keluar dari area tangga.
"Apa maumu?" tanya Naomi.
"Bicara."
"Kita bisa bicara di lorong, dengan Arman."
"Kalau dengan pengawal, kau akan menjawab sebagai istri Darren." Ethan menutup pintu tangga pelan. "Aku ingin mendengar jawabanmu sebagai Naomi."
Naomi menekan tombol samping ponsel sekali. Belum lima kali. Ia tidak ingin panik terlalu cepat, tetapi jarinya siap.
"Aku tetap istri Darren di mana pun."
Mata Ethan berkilat tipis.
"Kau tidak lelah?" tanyanya. "Darren mencintaimu dengan cara yang membuat semua orang di sekitarmu sesak. Pengawal, aturan, laporan, panggilan video. Dia bilang melindungi, tapi perlindungan seperti itu kadang hanya bentuk lain dari kurungan."
Naomi menatapnya. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami."
"Aku tahu Darren." Ethan melangkah satu anak tangga turun, masih menjaga jarak sopan. "Dia selalu begitu. Kalau menyukai sesuatu, ia ingin memilikinya sepenuhnya."
"Aku bukan sesuatu."
"Justru itu." Suara Ethan melembut. "Kau manusia. Kau pantas dilihat tanpa bayangan Darren."
Naomi akhirnya mengerti.
Ini bukan pernyataan cinta. Bukan juga godaan biasa. Ethan sedang memegang cermin palsu, berharap Naomi melihat ketakutannya sendiri di sana.
"Kalau ini caramu berpura-pura menyukaiku, kamu buruk sekali," kata Naomi.
Ethan terdiam sesaat, lalu tertawa pelan.
"Berpura-pura?"
"Kamu tidak tertarik padaku. Kamu tertarik melihat apakah aku bisa dibuat meragukan Darren."
Senyum Ethan menipis.
Naomi melanjutkan, "Semalam kamu membawa minuman memakai nama Darren. Hari ini Felicia memancingku keluar, lampu berkedip, Arman dialihkan, lalu kamu muncul. Kamu ingin aku takut, atau merasa kamu satu-satunya orang yang bisa menjelaskan rumah ini."
Untuk pertama kalinya, kehangatan di mata Ethan hilang sedikit.
"Darren memilih istri yang cerdas," katanya.
"Darren memilih perempuan yang tidak suka dipermainkan."
Naomi menekan tombol samping ponselnya lima kali.
Suara getar pendek muncul.
Ethan melihat tangannya, lalu kembali tersenyum. Namun sekarang Naomi tahu senyum itu tidak sehangat tampilannya.
"Tidak perlu sejauh itu, adik ipar."
"Aku pikir perlu."
Pintu tangga terbuka keras dari luar. Arman muncul dengan wajah tegang, disusul dua pengawal lain.
"Nyonya."
Naomi tidak menoleh dari Ethan. "Saya mau kembali ke kamar."
Arman langsung berdiri di sampingnya.
Ethan menyingkir dengan sangat sopan, seolah dialah tuan rumah yang memberi jalan.
Saat Naomi melewatinya, ia berkata pelan, hanya cukup untuk didengar Naomi.
"Rumah ini lebih dalam daripada yang kau kira."
Naomi berhenti setengah detik, lalu melanjutkan langkah.
Begitu kembali ke kamar, ia mengunci pintu dan langsung mengangkat video call Darren yang sudah berdering tanpa henti. Wajah Darren muncul dengan latar ruang rapat, beberapa orang di belakangnya tampak membeku karena CEO mereka jelas tidak peduli lagi pada presentasi.
"Aku aman," kata Naomi sebelum Darren bicara.
"Apa yang dia lakukan?"
Naomi menceritakan semuanya tanpa menambah atau mengurangi: air vitamin, pesan palsu, Felicia, lampu, Arman yang dialihkan, dan kalimat Ethan di tangga. Ia melihat wajah Darren makin dingin setiap detik.
"Aku pulang malam ini," katanya.
"Jangan. Kalau kamu pulang karena setiap jebakan kecil, Ethan tahu dia bisa mengendalikan langkahmu."
"Itu bukan jebakan kecil."
"Aku tahu." Naomi menarik napas. "Tapi aku sudah memanggil pengawal. Aku tidak menyembunyikannya darimu. Sekarang selesaikan urusanmu, lalu pulang dengan kepala jernih."
Darren menatapnya lama. "Kamu membuatku ingin bangga dan marah bersamaan."
"Pilih bangga dulu. Marahnya simpan untuk nanti."
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu Ethan masih tersenyum.
Topengnya tetap di tempat.
Namun sekarang Naomi sudah melihat retakan pertama.