Gadis cantik yang biasa di panggil Arra itu harus hidup tanpa ayah dan ibunya, ia hanya gadis biasa yang hidup bersama bibinya sejak kecil. Namun suatu hari Arra harus menghadapi masalah besar menyelamatkan restauran kecil milik bibinya tersebut dengan jaminan dirinya yang harus menikahi pria yang baru saja dikenalnya. Akankah Arra menerima tawaran tersebut? Ikuti terus cerita ini untuk mengetahui keputusannya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Air mata ini seperti tak mau berhenti, kenapa akhir-akhir ini cobaan silih berganti berdatangan menerpa rumah tangga ku dengan mas Daniel. Rasanya aku tidak ingin lagi menemuinya, tuan Nathan memberikan sapu tangannya untuk menyeka air mataku.
"Terimakasih tuan"
"Sama-sama"
Sepertinya baru siang tadi mas Daniel mengirim bunga untukku dengan maksud berbaikan, namun dalam waktu beberapa jam saja perselingkuhannya selama ini malah membuahkan hasil. Apa dia sengaja mengirim bunga itu untuk meminta maaf atas kekhilafan sekaligus maksud untuk memadu aku, sungguh aku tak habis fikir laki-laki seperti dia bisa berfikir sampai ke arah situ.
Tak terasa mobil berhti tepat di depan lobby kantor, kak Vero yang baru saja kembali dari makan siangnya melihatku turun dari mobil tuan Nathan.
"Ra are you okay? "
Aku hanya tersenyum lalu masuk ke lift, sementara tuan Nathan masih berada di lobby bersama kak Vero dan pak Dika
*POV NATHAN
"Vero kamu bali ke apartemen dan tolong siapkan beberapa kebutuhan dan pakaian Arra untuk satu minggu ke depan"
"Buat apa tuan"
"Udahlah Ver kerjakan saja" sahut pak Dika
"Baik tuan, saya permisi"
"Dan kamu Dika sudah atur apa yang saya chat tadi? "
"Sudah tuan, semua akan siap tiga jam lagi"
"Good, pastikan bahwa saat suami Arra dan pacarnya menikah dia tidak tahu"
"Baik tuan"
"Dan satu lagi tolong kamu terus awasin keluarga mereka dan laporkan semuanya kepada saya"
"Baik tuan"
"Kalau begitu saya pulang dulu, tiga jam lagi kita akan bertemu di bandara"
"Siap tuan"
*POV RAINARRA
Aku kembali menangis saat tiba di ruangan, mataku kembali tertuju pada bucket bunga yang masih tertata rapi di meja kerjaku. Aku sahut bunga yang tadi ku tata cantik di dalam vas lalu membuangnya ke dalam sampah, semua perasaanku sudah hancur terhadap mas Daniel. Aku benar-benar harus menerima kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan menikahi perempuan itu, namun sebelumnya aku harus lebih dulu mengajukan perceraian kepadanya karena sampai kapanpun aku tidak akan sudi diriku di madu oleh perempuan itu.
Tok tok tok
Aku mengusap air mataku sebelum membuka pintu, nampak pak Dika menghampiri ruangan ku yang sunyi ini
"Pak Dika ada yang bisa saya bantu? "
"Arra, saya ada tugas untuk kamu"
"Tugas apa pak? "
"Sore ini kamu akan menemani tuan Nathan meeting bersama klien"
"Baik Pak, atas nama siapa biar saya siapkan dokumennya"
"Tidak perlu, semuanya sudah saya siapkan. Kamu hanya perlu menyiapkan diri, dan ini kamu nanti pakai baju ini" ucap pak Dika sambil menyerahkan papper bag berisi setelan baju santai dan sepatu berwarna putih
"Bukannya outfit ini terlalu santai untuk menemui seorang klien pak? "
"Klien kita akan mengajak bermain biliyard jadi tidak mungkin kamu menemani tuan Nathan dengan pakaian kantor ke tempat seperti itu"
"Baik Pak terimakasih"
"Okay kalau begitu, pukul 15.00 kita ketemu di lobby"
"Baik Pak"
Setelah Pak Dika keluar aku jadi makin penasaran ngapain harus ke tempat Biliyard ah sudahlah aku tidak bisa memikirkan itu sementara aku masih ada banyak pekerjaan terutama mencari pengacara untuk membantuku mengurus perceraian dengan mas Daniel.
Tepat pukul 14.50 aku selesai bersiap dan menemui pak Dika di lobby, sesampainya disana mobil sudah tersedia dan siap mengantarkan kami
"Pak Dika"
"Silahkan Ra, tuan Nathan sudah menunggu"
"Baik Pak"
Tumben sekali pak Dika ikut bersamaku menemui klien, tapi kenapa dia masih pakai setelan jas bukannya kami akan menemui klien di tempat Bili yard? Setelah setengah jam perjalanan mobil berhenti di lapangan terbang aku makin penasaran apakah kami akan menjemput klien terlebih dahulu
"Ayo Ra"
Aku hanya mengikuti pak Dika dari belakang setelah sampai di halaman lapangan terbang sebuah jet pribadi terparkir di sana, beberapa orang menyapa kami
"Oh ya Ra saya antar kamu sampai disini"
"Loh tuan Nathan? "
"Beliau sudah menunggu di dalam"
Aku tersenyum kecil kepada pak Dika lalu menaiki tangga masuk ke dalam jet pribadi, tuan Nathan sudah duduk disana menatapku dengan senyum di sudut bibirnya. Seorang pramugari menyuruhku duduk di hadapan tuan Nathan
"Maaf tuan, sebenarnya kita akan kemana? "
"Nanti kamu juga tahu, pasang shitbelt kamu"
Setelah aba-aba dari pilot selesai pesawat segera mengudara kurang lebih hampir dua jam perjalanan dan kami sampai di lapang khusus pendaratan jet pribadi di samping bandara Ngurah Rai bahkan bandara itu menghadap ke pantai, aku terkejut karena ternyata kami sedang berada di Bali. Begitu turun dari pesawat sebuah pemandangan sekitar begitu menakjubkan, aku berlari ke
tepi pantai melihat matahari yang siap tenggelam di tengah deburan ombak.
Ini adalah salah satu mimpiku, menikmati sunset di tepi pantai dengan orang yang special namun sayangnya kali ini aku datang ke tempat ini bersama dengan atasan ku bukan suami ataupun kekasih hati.
"Indah" ucap tuan Nathan mengejutkan ku
"Maaf tuan, saya begitu takjub dengan pemandangan sekitar sampai lupa kalau saya kemari bersama dengan anda"
"Its okay, nikmatin saja"
Kami menikmati sunset selama beberapa menit setelah itu kembali melanjutkan perjalanan darat menuju entah kemana, tak berapa lama mobil berhenti di halaman sebuah resort mewah dan private tempatnya nyaman dan jauh dari keramaian bahkan letak kamar antar satu pengunjung dan pengunjung lain cukup jauh.
Kami di antar ke kamar masing-masing oleh supervisor resort, antara kamarku dan tuan Nathan memiliki jarak sekitar lima puluh meter. Benar-benar kita bisa memiliki privasi di sini, bahkan kita mau teriak sekeras apapun tak akan terdengar oleh orang lain, setelah pelayan resort pergi aku menikmati sejuknya udara petang ini. Hanya ada suara hewan malam yang menemani kesunyian ini, tiba-tiba air mataku kembali menggenang di antara pelupuk mata.
Rasanya dadaku kembali sesak mengingat kejadian tadi siang, aku masih tidak percaya kalau mas Daniel akan setega ini kepadaku. Rasa cinta yang ku bangun dengan susah payah harus hancur dengan masa lalunya, aku sudah tidak bisa mempertahankan rumah tangga kami.
Aku juga sudah memutuskan sekembalinya dari sini aku akan segera mengurus surat perceraian kami, untuk apalagi aku menunda-nunda bahkan aku lebih rela menyandang status janda dari pada harus memiliki madu yang tak lain adalah perempuan yang selama ini memang suamiku dambakan untuk menjadi istrinya. Sungguh nasibku harus merasakan jatuh cinta dan kepahitan dalam satu waktu, andai saja ayah masih ada semua ini pasti tidak akan pernah terjadi. Ayah aku rindu, aku kuat namun hatiku rapuh untuk menghadapi semua ini. Cinta pertama yang aku impikan akan menjadi cinta sejati justru malah cinta yang membuatku hancur sehancur hancurnya.
kenapa sita sejahat itu
& jgn biarkan dia ada di tengah2 Edgar & Arra
kasian Arra