JURU SELAMAT
Sirrul Asror yang di sampaikan oleh Mbah Jena membuat Asrul menghadapi sebuah dilema. Betapa tidak, Asrul telah menjalani kehidupan di dunia selama dua puluh tahun, tiba-tiba di kejutkan dengan sebuah pernyataan bahwa yang telah di lakukannya selama ini sebenarnya bukan dia yang melakukan, melainkan selain dirinya.
Kini Asrul telah menerima sebuah kitab dari Mbah Jena, yaitu kitab Al-Hikam. Ternyata Kitab ini sedang di perebutkan oleh banyak orang, terutama dari kelompok padepokan-padepokan perguruan beladiri dan tenaga dalam. Diyakini dengan memiliki kitab ini, dapat mengendalikan seluruh manusia, bahkan dapat menguasai dunia.
Asrul sedang mengemban sebuah misi dari gurunya yaitu Mbah Jena, untuk menyelamatkan Kitab Al-Hikam dari incaran para pendaki spiritual.
Bagaimana cara Asrul merahasiakan pesan dari Mbah Jena? Dapatkah Asrul menyelamatkan dunia dari tangan kotor fihak yang memusuhinya? Ikuti perjalanan Asrul bersama sang guru yang menjadi sumber inspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendro Palembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi
Sehingga meskipun awalnya mereka bergerak dalam formasi yang cukup rapat sekarang terbentuk jarak antara satu orang dengan lainnya.
Asrul tersenyum ketika melihat situasi tersebut, dia kemudian berhenti menghindar dan justru berlari ke arah para anggota kelompok Kapak Merah yang mengejarnya.
Sebelum para anggota kelompok Kapak Merah sempat bereaksi, Asrul telah melewati para anggota kelompok Kapak Merah yang memiliki kemampuan pendekar kelas satu. Asrul sadar dengan kemampuannya sekarang tidak mudah untuk menghabisi pesilat kelas satu dalam waktu cepat.
Asrul mengincar para anggota kelompok Kapak Merah yang memiliki kemampuan pesilat kelas dua dan tiga, terutama mereka yang setara pesilat kelas tiga tidak ada yang mampu bertahan dari satu serangan Asrul.
Asrul susah dihadapi, belum lagi pola serangannya yang sulit dibaca.
Gus Mukhlas menaikkan alisnya ketika melihat cara bertarung Asrul, ini pertama kali Gus Mukhlas melihatnya secara langsung.
"Bagaimana Asrul mampu berpikir melakukan gerakan-gerakan seperti itu?" Gus Mukhlas merasa begitu kebingungan.
Pola serangan dan gerakan Asrul begitu sulit dibaca oleh Gus Mukhlas sekalipun. Sejauh yang Gus Mukhlas ketahui seorang pesilat yang mampu melakukan variasi serangan yang dilakukan oleh Asrul seharusnya seorang pesilat yang telah melewati banyak pertarungan.
Pada kehidupan sebelumnya Asrul dipaksa menjadi musafir, dia telah melewati sangat banyak pertarungan hidup dan mati bahkan suatu waktu harus hidup diantara para siluman berbahaya.
"Pedang Elang Putih ini sungguh bagus, aku tidak perlu khawatir pedang ini menjadi tumpul setelah membunuh beberapa orang..." Asrul tersenyum puas melihat ketajaman pedang yang didapatkannya dari Zeus.
Pedang Elang Putih begitu tajam jika dibandingkan pedang biasa, dengan mudah pedang tersebut menembus baju pelindung para anggota kelompok Kapak Merah saat Asrul mengarahkan pedang tersebut pada jantung lawannya.
"Hentikan pemuda itu!" Pemimpin rombongan kelompok Kapak Merah menjadi panik ketika satu persatu anggotanya terbunuh oleh pedang Asrul.
Semua bisa mendengar perintah tersebut dengan jelas namun melihat keganasan Asrul, tidak satupun dari mereka yang memiliki keberanian untuk mendekatinya. Aura pembunuh Asrul cukup untuk membuat mereka berkeringat dingin, belum lagi dia melompat-lompat secara acak yang membuat Asrul sulit didekati.
"Kemampuan tubuhku ternyata lebih baik daripada yang kuduga..." Asrul merasa kagum karena dirinya masih dapat bernafas dengan stabil setelah melakukan gerakan serumit ini hanya mengandalkan kekuatan fisiknya.
Asrul yakin selama dirinya tidak dikepung serta diserang dari segala arah sekaligus, dia bisa menghabisi semua musuh yang berjumlah puluhan orang ini.
Para anggota kelompok Kapak Merah memilih menjauh dari Asrul, beberapa bahkan memilih berlari meninggalkan tempat tersebut. Mereka semua berpikir andaikan pemuda seperti Asrul begitu menyeramkan kemampuannya apalagi pria bersorban yang sedang memandang kejadian ini dari jauh.
Asrul tidak berhenti memberikan tebasan pada leher atau menusuk jantung para musuh, bukan hanya dia tidak memiliki keraguan tetapi dirinya tersenyum saat melakukannya.
"Asrul, cukup." Gus Mukhlas mendadak berada di samping Asrul dan menangkap pergelangan tangannya.
Gus Mukhlas tidak sanggup melihat lebih jauh pembunuhan yang dilakukan oleh Asrul jadi dia turun tangan untuk menghentikan muridnya tersebut melakukan lebih jauh.
Para anggota kelompok Kapak Merah menggunakan kesempatan tersebut untuk kabur, mereka yakin jika tetap tinggal maka nyawa mereka tidak akan tertolong.
Para anggota kelompok Kapak Merah ini bahkan tidak berpikir untuk menggunakan kuda, mereka memilih lari mengandalkan sepasang kaki yang mereka miliki lagipula kuda-kuda mereka sudah terlalu lelah untuk membawa mereka pergi dalam lebatnya hujan ini.
"Asrul, bukankah kau sudah berjanji untuk tidak membunuh mereka semua?" Gus Mukhlas tidak terlihat peduli dengan para anggota kelompok Kapak Merah yang berusaha meninggalkan lokasi tersebut.
Asrul memandang para anggota kelompok Kapak Merah dengan perasaan cemas namun tidak berusaha melepaskan diri dari genggaman Gus Mukhlas.
"Guru pasti mengerti alasan murid melakukan demikian..." Asrul menjawab pelan, "Guru, Jika mereka semua dibiarkan lolos maka penduduk kota ini akan celaka."
Gus Mukhlas mengerutkan dahinya, dia sungguh diterpa dilema karena kejadian ini.
Gus Mukhlas akhirnya membebaskan pergelangan tangan Asrul, seketika itu juga Asrul bergerak cepat menuju salah satu anggota kelompok Kapak Merah yang memiliki kemampuan pesilat kelas satu.
"Sial! Kenapa pemuda setan ini mengincar ku!" jerit pimpinan kelompok Kapak Merah yang kini dikejar Asrul.
Tanpa kesulitan berarti Asrul berhasil melumpuhkan pimpinan kelompok tersebut dengan beberapa gerakan sederhana. Perbedaan kekuatan dan kecepatan keduanya yang begitu jauh membuat anggota kelompok Kapak Merah tersebut tidak dapat memberikan perlawanan.
"Apa yang kau ing-!" Asrul memberikan satu pukulan di perut, membuat anggota kelompok Kapak Merah itu kehilangan kesadarannya.
Asrul memandang puluhan anggota kelompok Kapak Merah yang berlarian ke berbagai arah kemudian menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala, "Andaikan Guru tidak menghentikan aku, setidaknya aku bisa menghabisi lebih banyak dari mereka...
Gus Mukhlas tersenyum pahit karena dia mengetahui konsekuensi dari tindakannya, andaikan sekarang dirinya dan Asrul mengejar para anggota Kapak Merah ini pun pasti hanya mampu menangkap sebagian dari mereka saja.
"Guru, kita bisa mendapatkan informasi dari kelompok Kapak Merah ini, kurasa dia pimpinan dari kelompok Kapak Merah yang datang kali ini." Asrul menyeret anggota kelompok Kapak Merah yang dilumpuhkannya pada Gus Mukhlas.
Gus Mukhlas mengangguk pelan kemudian mengangkut anggota kelompok Kapak Merah tersebut sementara Asrul mengumpulkan pisau-pisau kecil yang dia lempar sebelumnya. Menurut Asrul senjata rahasia ini cukup berguna pada kondisinya sekarang jadi dia ingin menyimpannya.
Ketika keduanya kembali ke kota kecil bersama satu tawanan, sambutan yang didapatkan keduanya tidaklah hangat.
Para warga sama sekali tidak merasa senang dengan semua yang terjadi, mereka berpikir dengan Gus Mukhlas melepaskan para anggota kelompok Kapak Merah yang tersisa maka dalam waktu dekat akan datang rombongan dalam jumlah lebih besar daripada sekarang dan saat itu terjadi belum tentu Gus Mukhlas mampu mengatasinya.
Tidak ada kata terima kasih yang didapatkan oleh Gus Mukhlas maupun Asrul, penduduk setempat hanya memandang mereka dengan tatapan sinis.
Gus Mukhlas menggelengkan kepala pelan sebelum mengajak Asrul menuju penginapan bersama tahanan mereka.
"Asrul, Guru ingin kau mengerti bahwa situasi ini..." Gus Mukhlas khawatir Asrul menjadi kecil hati karena sikap para penduduk kepadanya.
Gus Mukhlas tidak ingin Asrul berpikir bahwa niat baik bisa mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan, apalagi Asrul masih sangat muda sehingga pola pikirnya belum matang, setidaknya itu yang Gus Mukhlas pikirkan.
"Guru tidak perlu khawatir, murid mengerti." Asrul tentu memahami alasan dibalik sikap para penduduk tersebut, dia lebih memikirkan hal lain, "Guru lebih baik kita memusatkan perhatian untuk mendapatkan informasi dari orang ini."
ini cerita berada di Jaman Modern apa masa lampau ?