NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Darah yang Mengalir

​​Pagi itu, matahari bersinar cerah. Arkana sudah bersiap berangkat bekerja. Seperti biasa, ia bangun lebih awal untuk memasak.

​Di atas meja makan telah tersaji sayur bening, telur dadar, dan tumis tahu. Hanifah tersenyum melihat semua itu.

​"Mas..." sapa Hanifah lembut.

​"Iya, Dek?" sahut Arkana sambil menoleh.

​"Terima kasih ya, Mas."

​Arkana mengusap pelan kepala istrinya. "Mas cuma ingin kamu banyak istirahat."

​"Iya, Mas," jawab Hanifah penurut.

​Sebelum mengenakan helm, Arkana kembali mengingatkan. "Ingat ya. Jangan angkat barang. Jangan berdiri lama. Kalau perut terasa sakit sedikit saja, langsung telepon Mas."

​Hanifah tersenyum kecil. "Iya, Mas. Aku ingat kok."

Hanifah mencium punggung tangan suaminya sebelum akhirnya melaju berangkat bekerja.

​Tak lama kemudian, Bibi Ratna keluar dari kamar untuk bersiap ke kantor. Sebelum pergi, matanya tertuju pada beberapa kardus di sudut ruangan.

​"Hanifah," panggil Bibi Ratna.

​"Iya, Bi?" sahut Hanifah berbalik.

​"Kalau sempat, kardus-kardus itu dirapikan saja. Jalan untuk ke kamar jadi sempit," ujar Bibi Ratna datar.

​Hanifah menoleh ke arah kardus tersebut. "Iya, Bi. Nanti saya rapikan."

​"Ya sudah. Bibi berangkat dulu," pamit Bibi Ratna singkat.

​Rumah kembali sunyi. Hanifah melangkah masuk ke kamar. Tatapannya tertuju pada tiga keranjang bayi yang berjajar rapi. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

​Ia mengambil salah satu baju bayi berwarna biru muda. "Kecil sekali..." bisiknya gembira. "Lihat nanti kalau Eka pakai ini," lanjutnya sambil terkekeh.

​Kemudian ia mengambil baju berwarna kuning. "Kalau ini buat Dwi," gumamnya.

​Lalu sebuah baju putih bergambar awan kecil. "Ini punya Tri," ucapnya gembira.

​Hanifah tersenyum sendiri membayangkan ketiga bayinya. Ia melipat pakaian itu satu per satu dan menatanya ke dalam lemari. Sesekali tangannya mengusap perut.

​"Ibu tidak sabar bertemu kalian..." bisik Hanifah penuh kasih.

​Selesai menata baju, pandangannya tertuju pada sebuah kardus besar dekat pintu.

​"Kalau dipindah sedikit, jalannya jadi lebih lega," gumam Hanifah pada diri sendiri.

​Hanifah berjongkok perlahan. Ia memegang kedua sisi kardus itu. "Geser pelan-pelan saja..." ucapnya lirih.

​Ia mengangkatnya sedikit. Baru saja dua langkah kakinya, perutnya mendadak terasa sangat kencang dan nyeri.

​"Ah..." Hanifah memekik pelan sambil melepaskan kardus itu. Napasnya memburu. "Astaghfirullah..."

​Rasa nyeri itu bertahan beberapa detik sebelum perlahan menghilang. Hanifah mengembuskan napas panjang. "Mungkin aku terlalu cepat berdiri..." gumamnya menenangkan diri.

​Saat hendak melangkah ke tempat tidur, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di sela kakinya.

​"Hm?" Hanifah mengernyit heran, melirik ke bawah. "Masa... ngompol?" bisiknya canggung.

​Ia menggeleng pelan. "Dasar... ternyata hamil memang begini ya," ucapnya tertawa kecil.

​Ia pun berjalan perlahan menuju kamar mandi. Namun baru dua langkah, cairan hangat itu kembali mengalir. Kali ini jauh lebih banyak.

​Hanifah berhenti mendadak. Matanya mengikuti tetesan yang jatuh ke lantai.

​Setetes... dua tetes... lalu semakin banyak.

​Bukan bening, melainkan merah pekat.

​Wajah Hanifah langsung kehilangan warna. "Darah..." desisnya dengan suara bergetar. "Ya Allah..."

​Tangannya mulai gemetar hebat. Ia buru-buru berbalik. "Ponsel... aku harus telepon Mas..." bisiknya panik.

​Ponselnya ada di atas tempat tidur. Hanifah memaksakan langkah. Namun pandangannya mulai kabur. Kepalanya terasa sangat ringan.

​"Mas..." panggil Hanifah lirih.

​Belum sempat mencapai pintu kamar, tubuhnya limbung.

​Bruk!

​Hanifah jatuh terjerambap di ruang utama. Kepalanya membentur lantai. Darah terus mengalir membasahi gamisnya. Tangannya sempat menggapai ke arah kamar, sebelum perlahan kesadarannya hilang sepenuhnya.

​Beberapa menit kemudian...

​"Assalamu'alaikum!" seru Bu Sulastri dari luar pagar. Di tangannya ada rantang berisi sup hangat. Pak Hadi berdiri setia di sampingnya.

​"Kok sepi ya, Bu?" tanya Pak Hadi heran.

​"Iya, biasanya Hanifah cepat membukakan pintu," sahut Bu Sulastri. Ia mengetuk pintu beberapa kali. "Hanifah... Nak..." panggilnya.

​Tidak ada jawaban. Bu Sulastri mencoba mengintip melalui jendela ruang tamu. Seketika napasnya tercekat. Rantang di tangannya jatuh ke tanah.

​Prang!

​"Pak! Pak Hadi!" jerit Bu Sulastri histeris.

​Pak Hadi segera mendekat. "Ada apa, Bu?" tanyanya kaget.

​Dengan tangan gemetar, Bu Sulastri menunjuk ke dalam rumah. "Itu... Hanifah, Pak!" teriaknya panik.

​Pak Hadi ikut mengintip. Wajahnya langsung pucat pasi. Di lantai ruang utama, Hanifah terbaring tak sadarkan diri dalam genangan darah.

​"Innalillahi!" pekik Pak Hadi.

​Ia tidak berpikir panjang. Pak Hadi mundur dua langkah, lalu mendobrak pintu dengan bahunya.

​Brak!

​Sekali.

​Brak!

​Dua kali. Pintu akhirnya terbuka lebar.

​Bu Sulastri langsung berlari menghampiri dan memangku kepala Hanifah. "Hanifah! Nak! Bangun..." tangis Bu Sulastri pecah. "Jangan bikin Ibu takut..." panggilnya terisak.

​Namun Hanifah tidak merespons sama sekali. Pak Hadi segera mengangkat tubuh Hanifah dengan hati-hati.

​"Bu! Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Pak Hadi tegas.

​Bu Sulastri mengangguk panik sambil menyambar ponsel Hanifah yang tergeletak. Ia mencoba menghubungi Arkana.

​Tut... Tut... Tut...

​Telepon berdering, tapi tidak kunjung diangkat.

​"Bagaimana, Bu? Diangkat?" tanya Pak Hadi tegang sambil membawa Hanifah ke mobil pikap.

​"Tidak diangkat, Pak!" tangis Bu Sulastri makin menjadi-jadi.

​"Sudah, masuk mobil dulu!" perintah Pak Hadi cepat.

​Pak Hadi membaringkan Hanifah di jok depan. Bu Sulastri memangku kepala Hanifah sambil menggenggam tangannya yang mulai dingin.

​Mobil pikap itu melaju secepat mungkin membelah jalanan. Di dalam mobil, Bu Sulastri terus menangis dan meratap.

​"Ya Allah... selamatkan Hanifah... selamatkan cucu-cucu kami..." doa Bu Sulastri dalam tangisnya.

​Sementara mobil melaju kencang, tak seorang pun tahu kabar buruk apa yang sedang menunggu mereka di rumah sakit.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!