bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
greet hall sorting
Tempat itu sangat mengagumkan, tidak salah jika mereka memperindah kastil menjadi lebih indah.
.
.
.
.
Takemichi dan Izana berdiri di dekat jendela kamar sementara yang disediakan Hogwarts untuk mereka.
Besok mereka akan mengikuti penyortiran di Great Hall dan resmi menjadi murid sekolah sihir itu.
Saat ini, mereka hanya bisa menikmati pemandangan kastel yang menjulang tinggi di bawah cahaya bulan.
Jujur saja...
Takemichi merasa seperti seorang putri yang dikurung di menara.
Sementara Izana merasa mereka sedang berada di Disneyland versi dunia sihir.
"Menurutmu kita akan mendapatkan tongkat sihir seperti apa, Michi?"
tanya Izana sambil memandang langit malam.
Takemichi mengerutkan alis.
"Aku tidak tahu, Za."
"Tapi kita akan tahu besok saat pergi ke Diagon..."
Ia berhenti berpikir.
"Diagon apa ya?"
Izana langsung menghela napas.
"Diagon Alley, Michi."
"Besok kita akan berbelanja di sana."
"Oh iya!"
Takemichi menepuk dahinya sendiri.
Izana hanya menggeleng pelan.
Mereka lalu duduk di atas tempat tidur yang sebelumnya hanyalah sebuah lemari sebelum diubah dengan sihir.
"Ayo tidur."
"Besok mungkin hari terakhir kita bisa bebas."
ucap Izana sambil merebahkan diri.
Takemichi mengangguk.
Namun sebelum keduanya sempat benar-benar beristirahat—
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu terdengar.
Mereka saling berpandangan.
Izana menghela napas panjang.
Sudah malam.
Bukankah ini waktunya tidur?
Dengan langkah malas, ia bangkit dan membuka pintu.
Di balik pintu berdiri seorang pria tua berjubah panjang.
Kepala Sekolah Hogwarts.
Albus Dumbledore.
"Apakah aku boleh masuk, anak-anak?"
tanya Albus dengan senyum ramah.
Izana menyingkir dari ambang pintu.
"Tentu."
Albus masuk ke dalam kamar.
Takemichi langsung duduk tegak.
"Ada apa Anda datang malam-malam seperti ini, Kepala Sekolah?"
tanyanya.
"Oh, tidak ada hal penting."
"Aku hanya ingin memberi tahu bahwa besok kalian akan ditemani wakil kepala sekolahku."
"Profesor Minerva McGonagall."
jelas Albus.
Takemichi tersenyum manis.
"Terima kasih, Kepala Sekolah."
"Kami akan bersiap."
Albus tertawa kecil.
"Ah..."
"Betapa menyenangkannya melihat dua gadis muda yang begitu bersemangat."
"Aku merasa sangat beruntung memiliki kalian di Hogwarts."
Takemichi dan Izana hanya saling pandang.
Beberapa saat kemudian Albus berpamitan dan meninggalkan kamar mereka.
Setelah pintu tertutup kembali, suasana menjadi sunyi.
Izana duduk di tepi ranjang.
Tatapannya sedikit menyipit.
"Michi."
"Hm?"
"Waspadalah pada semua orang di sini."
Takemichi menoleh.
"Aku yakin mereka penasaran dengan asal-usul kita."
ucap Izana.
Takemichi mengangguk pelan.
"Aku juga merasakan hal yang sama."
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Great Hall.
Ting.
Ting.
Ting.
Suara dentingan menarik perhatian seluruh siswa yang sedang makan.
Perlahan suasana aula menjadi hening.
Ratusan pasang mata mengarah ke meja para profesor.
Di depan aula, Profesor McGonagall meletakkan sebuah bangku kayu dan Topi Seleksi.
Para murid mulai berbisik penasaran.
Tidak biasanya ada acara seperti ini di tengah tahun ajaran.
Dumbledore berdiri dari kursinya.
"Anak-anak."
"Maaf mengganggu waktu makan kalian."
"Tetapi hari ini kita memiliki dua murid pindahan dari Jepang."
Senyum ramah menghiasi wajahnya.
"Silakan masuk."
Pintu aula terbuka.
Takemichi dan Izana berjalan masuk.
Ruang besar itu langsung dipenuhi bisikan.
Banyak siswa yang memandang kagum kepada mereka.
"Eh?"
"Bukankah itu kakak malaikat?"
gumam Harry.
Draco yang duduk di sebelahnya ikut menoleh.
"Kakak yang kemarin itu."
"Aku kira mereka sudah pergi."
Pansy Parkinson yang duduk tidak jauh dari Draco ikut memperhatikan.
"Mereka cantik sekali." ucapnya.
Draco langsung mengangguk bangga.
"Benar, kan?"
Sementara itu, Takemichi dan Izana berjalan menuju depan aula.
"Kalian berdua kemarilah."
ucap McGonagall.
"Lalu siapa yang akan lebih dulu?"
Takemichi langsung memandang Izana.
"Iza~"
rengeknya.
Izana hanya menghela napas.
"Biarkan aku dulu."
"Baik."
"Aikawa Izanami."
"Silakan duduk."
Izana duduk di atas bangku.
Topi Seleksi langsung diletakkan di kepalanya.
Beberapa detik kemudian suara topi itu terdengar.
"Hmm..."
"Menarik."
"Kau memiliki sifat yang dingin terhadap orang asing."
"Namun sangat menyayangi orang-orang yang kau anggap berharga."
Topi itu terkekeh.
"Kau juga cerdas."
"Licik."
"Penuh strategi."
"Oh?"
"Kau bahkan menyimpan banyak dendam dalam hatimu."
Izana hanya diam.
"Tenang saja, gadis muda."
"Fokuslah pada masa depan."
"Hmm..."
"Aku tahu tempat yang cocok untukmu."
"SLYTHERIN!!"
Sorak tepuk tangan langsung terdengar dari meja Slytherin.
Izana bangkit dan berjalan ke sana dengan tenang.
Karena sebelumnya Severus sudah mengajari mereka selama beberapa waktu, Izana berhasil mengikuti ujian penyetaraan dan diterima sebagai murid tahun kelima.
Kini giliran Takemichi.
"Hanaga Michiko."
"Silakan maju."
Takemichi duduk di atas bangku dengan gugup.
Topi itu langsung berbicara.
"Oh?"
"Kau menarik."
"Kau sangat berani."
"Terlalu berani bahkan."
Takemichi berkedip.
"Eh?"
"Kau selalu maju melawan musuh yang jauh lebih kuat darimu."
Topi itu tertawa kecil.
"Kau memiliki keberanian luar biasa."
"Ketekunan."
"Dan hati yang tidak mudah menyerah."
Beberapa saat kemudian suara topi itu berubah lebih lembut.
"Aku juga bisa melihat begitu banyak penderitaan yang telah kau lalui."
Takemichi menunduk.
"Apakah aku tidak bisa bersama Izana?"
tanyanya pelan.
Topi itu tertawa geli.
"Tidak."
"Kau akan lebih cocok di Gryffindor."
Takemichi menghela napas.
"Baiklah."
Topi itu langsung berteriak.
"GRYFFINDOR!!"
Sorak sorai meledak dari meja Gryffindor.
Takemichi langsung berjalan menuju meja tersebut.
"Selamat datang!"
ucap beberapa siswa dengan ramah.
Ia membalas dengan senyum hangat.
Di sisi lain, seorang siswa laki-laki di Slytherin menyapa Izana.
"Hai."
"Siapa namamu?"
Izana menoleh.
"Bukankah tadi sudah disebutkan?"
jawabnya datar.
Murid itu langsung terdiam.
Tiba-tiba Draco berdiri dari tempat duduknya.
"Kakak!"
Ia melambaikan tangan kepada Izana.
Izana membalas dengan senyum lembut.
Dan seperti biasa...
Beberapa siswa langsung membeku karena senyum itu.
"Hai, si pirang."
"Apa yang kau lakukan?"
tanya Izana.
Draco langsung mendengus.
"Aku punya nama."
"Draco Malfoy."
"Panggil aku Draco."
"Hmm."
jawab Izana singkat sebelum kembali fokus pada makanannya.
.
.
.
.
Di meja Gryffindor.
"Selamat datang."
Seorang siswi tahun kelima menyapa Takemichi.
"Siapa namamu?"
"Hanaga Michiko."
"Aku berasal dari Jepang."
jawab Takemichi sambil tersenyum.
"Kau Muggle?"
tanya siswi itu.
Takemichi mengangkat bahu.
"Entahlah."
"Aku tinggal sendiri."
Siswi itu tampak sedikit bingung.
Namun sebelum sempat bertanya lagi—
"Kak Michi!"
Harry tiba-tiba muncul.
Takemichi langsung melambaikan tangan kecil.
"Hai."
Harry duduk di sampingnya dengan senyum cerah.
"Bagaimana sekolahmu, Harry Potter?"
"Apakah menyenangkan?"
tanya Takemichi.
Harry tertawa.
"Panggil aku Harry saja."
"Kalau begitu panggil aku Michiko."
Takemichi tersenyum lembut.
Harry mengangguk dengan antusias.
Tanpa mereka sadari, meja Slytherin memperhatikan interaksi tersebut.
Izana yang melihatnya hanya mengangkat sudut bibirnya tipis.
"Apakah itu adikmu?"
tanya seorang siswa di sebelahnya.
"Ya."
"Itu adikku."
jawab Izana singkat.
Siswa itu langsung menunjuk ke arah Harry.
"Kau tahu siapa dia?"
Izana menoleh.
"Tidak."
Draco yang kebetulan mendengar langsung menyela.
"Kau tidak tahu Harry Potter?"
Ia terlihat terkejut.
Izana menggeleng.
Draco langsung menjelaskan dengan semangat.
"Dia adalah anak yang selamat dari penyihir hitam paling berbahaya."
"Semua orang mengenalnya."
"Dia dianggap pahlawan dunia sihir."
Izana menatap Harry yang sedang berbicara dengan Takemichi.
Kemudian kembali menatap Draco.
"Begitu."
jawabnya datar.
"Aikawa."
"Kau tidak akan ikut petualangan bodoh mereka, kan?"
tanya Draco.
"Tidak."
"Aku mungkin hanya akan menjaga mereka dari jauh."
jawab Izana tenang.
Draco tampak puas.
"Bagus."
"Lihat saja mereka."
"Berisik sekali seperti singa."
Ia mulai memakan bacon di piringnya.
Sementara Izana kembali memperhatikan meja Gryffindor.
Harry Potter.
Pahlawan dunia sihir.
Dan Takemichi.
Pahlawan yang berkali-kali menyelamatkan masa depan.
Sudut bibir Izana terangkat tipis.
"Pahlawan dunia sihir, ya..."
batinnya.
"Lalu pahlawan penjelajah waktu."
"Bagaimana bisa keduanya memiliki julukan yang hampir sama?"
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak