WARNING!!! Harap bijak membaca ya karena bikin panas dingin juga, hehehe
Hans seorang pria biasa yang masih memiliki seorang istri, terpaksa menerima tawaran seorang CEO cantik untuk menjadi suami kontraknya. Ia membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan putri kecilnya yang menderita penyakit kanker, sekaligus untuk memenuhi gaya hidup istrinya yang hedon.
Lantas, bagaimana Hans akan menjalani semua ini? Lalu kenapa sang Nona Ceo memilih Hans sebagai suami kontraknya? Padahal di luar sana banyak pria yang lebih hebat dari Hans.
Yukkkkk ikuti kisahnya yang nano-nano, hehehehe
IG @dydyailee536
FB Dydy Ailee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Pak Malik sedari tadi mondar-mandir di depan kamar tempat cucunya dirawat. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan karena Citra tak kunjung pulang. Hingga akhirnya sosok yang Pak Malik tunggu datang juga.
"Darimana saja kamu Citra? Kenapa baru pulang?" suara Pak Malik terdengar berat, berusaha menahan marahnya.
"Ayah, aku kerja. Memangnya darimana lagi?"
"Lalu kenapa kamu tidak bisa dihubungi? Hans bahkan tidak bisa meneleponmu."
"Maaf Ayah, batreku lowbat. Dan chargernya tertinggal di rumah.
" Ucap Citra yang menunjukkan wajah lelahnya. Lanjut Citra, "Ayah, lagi pula aku ini bukan anak gadis lagi. Sikap Ayah ini berlebihan."
"Ayah berlebihan bukan untuk diri Ayah tapi untuk cucu Ayah. Kamu tidak kasihan pada Mika apa? Bukannya merawat anak malah kerja sampai larut malam."
"Ayah, aku kerja juga untuk membantu Mas Hans."
"Hans kan sudah bilang kalau semua biaya Mika mendapat bantuan dari perusahaan. Seharusnya kamu bisa jaga Mika sesuai permintaan Hans. Dan tadi pihak perusahaan sudah datang untuk mengurus pengobatan Mika ke Jerman."
"Ap-apa? Ke Jerman?" Citra terkejut karena Hans benar-benar melakukan yang terbaik untuk putri mereka.
"Iya Citra. Minggu depan, Mika akan dibawa ke Jerman. Setidaknya butuh waktu enam bulan untuk melakukan perawatan intensif. Mulai dari operasi pengangkatan kanker dan kemoterapi lanjutan. Suami kamu sangat bertanggung jawab, Citra. Berhenti menyepelekannya lagi. Dan Hans pun berpesan pada Ayah, supaya kamu fokus menjaga Mika, jangan kerja lagi. Mika mendapat perawatan terbaik disini juga karena Hans."
"Iya baiklah," Citra pasrah. Citra dan Pak Malik kemudian masuk ke dalam ruangan. Tampak Mikayla sudah terlelap. Sementara Bu Muti tertidur di sofa. Citra mengelus kepala putrinya lalu mengecup keningnya. Citra lalu mengaktifkan ponselnya. Citra sebenarnya sengaja tidak mau menerima telpon ataupun pesan dari Hans. Karena perasaannya pada Hans perlahan memudar. Ruang hatinya kembali terisi oleh nama Andra. Andra yang mampu membahagiakannya lahir dan batin.
"Terima kasih Mas. Maaf kalau aku harus membagi perasaan dan tubuhku untuk pria lain. Kalau kamu kedepannya jauh lebih baik, aku akan meninggalkan Andra tapi kalau sama saja, aku akan mundur." Gumam Citra dalam hati dengan segala kebimbangan dan sikap plin-plannya.
Keesokan harinya, sepasang tubuh polos yang masih saling berpelukan diatas tempat tidur. Sinar mentari bagi menelesup dibalik tirai menyapu setiap sudut ruangan. Hans, perlahan mengerjapkan matanya. Ia melihat dirinya sendiri yang tampak polos tanpa busana. Dan seorang wanita yang polos juga memeluknya dengan erat dan manja. Ya, Raina. Hans mengingat kembali betapa gilanya permainan mereka semalam. Membuat kamar begitu berantakan seperti kapal pecah. Hans memandang Raina yang masih tertidur pulas. Lagi-lagi wajah tanpa make up itu terlihat sangat imut. Raina berubah menjadi singa betina yang garang saat berada di kantor, namun saat seperti ini Raina seperti kucing yang begitu lucu dan menggemaskan.
"Sepertinya aku mulai memiliki perasaan pada Raina." Batin Hans tanpa melepaskan pandangannya. Hans perlahan menurunkan tangan Raina dari dada bidangnya. Hans tidak tega membangunkan Raina yang masih tampak terlelap. Hans perlahan beranjak dari tempat tidur. Diselimutinya tubuh polos Raina dengan selimut. Setelah itu Hans bergegas menuju kamar mandi. Hans mendesah, merasakan segarnya guyuran air shower. Seusai mandi, Hans masih melihat Raina tertidur pulas. Ia pun segera berpakaian. Hans kemudian menuju pantry, melihat apakah ada bahan makanan di dalam kulkas. Hans ingin membuat sarapan untuk Raina. Hans menemukan telur, sosis dan wortel disana. Omlete! Itulah yang langsung ada di kepala Hans. Tangan berototnya begitu piawai membuat makanan. Dari kamar, Raina mencium aroma yang lezat. Perlahan ia membuka matanya dan melihat Hans sudah tidak berada dissampingnya. Raina lalu memakai piyama kimononya dan keluar kamar. Raina tersenyum, melihat pria bayaran yang kini telah menjadi suaminya tengah sibuk di pantry. Raina berjalan mendekat lalu memeluk Hans dari belakang. Membuat Hans terperanjat kaget.
"Raina, kamu mengagetkan saja." Seru Hans sampai membuat pundaknya terangkat.
"Maaf. Kamu sedang membuat apa Hans? Kita kan bisa memesan makanan."
"Aku membuat omlete untukmu, Raina. Aku tidak tahu cara memesan makanannya bagaimana jadi aku buat saja." Ucap Hans apa adanya.
"Kamu ini memang apa adanya Hans. Kenapa kamu tidak membangunkan ku Hans?" tanya Raina yang masih menempel pada punggung Hans, mengikuti kemana Hans bergerak.
"Aku tidak tega membangunkanmu, Raina. Kamu terlihat lelah."
"Bagaimana tidak lelah? Kita semalam menggila," Raina terkekeh mengingat betapa liarnya pergulatan mereka semalam.
"Kamu yang membuatku menggila." Akhirnya selesai juga. Dua porsi omlete. Hans mencuci tangannya lalu melepaskan tangan Raina yang sedari tadi mengunci tubuhnya. Hans kemudian memutar tubuh Raina untuk menghadapnya.
"Baiklah, sekarang ayo kita sarapan. Kamu kita makan dimana?"
"Di gazebo saja. Aku akan mengambil wine."
"NO! Aku sudah menyiapkan dua gelas susu untuk kita, okay?" sikap natural Hans sebagai seorang suami muncul begitu saja.
"Kamu berani melarangku Hans?" Raina langsung mengultimatum. Hans terhenyak, ia lupa kalau dirinya hanyalah seorang tawanan.
"M-maaf Raina. Iya tidak apa. Maaf kalau aku melarangmu, aku lupa." Hans gugup, segera meralat ucapannya. Hans kemudian berlalu membawa dua piring berisis omelete menuju gazebo. Sementara Raina berusaha menahan senyumnya, melihat ekspresi wajah Hans. Kini keduanya menikmati sarapan pagi penuh dengan keheningan. Hans, tidak lagi berbicara asal. Ia hanya boleh hilang kendali saat Raina sedang menginginkannya.
"Hans, berhenti bersikap seperti suami. Kamu hanyalah tawanannya. Kamu tidak boleh melebihi batasanmu tanpa perintahnya atau anakmu tidak terselamatkan." Gumam Hans dalam hati. Raina terus memperhatikan Hans, membuat Hans sama sekali tidak bernai menatap Raina. Raina pun tetap minum dengan wine. Raina hanya ingin menunjukkan bahwa dialah yang memegang kuasa dan kendali, sekalipun Raina menggunakan perasaannya pada Hans.
"Hans, satu jam lagi aku ada meeting. Kamu temani aku ya?"
"Ak-aku?'
"Ya, ini bagian dari tugasmu. Dan jangan lupa untuk bersikap formal."
"Iya Raina."
"Baiklah, aku mandi dulu ya." Raina kemudian turun dari gazebo, lalu menuju kamar mandi.
Hans menghela. "Suasana kembali mencekam. Aku lupa kalau rutinitas bercinta itu adalah sebuah pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku harus tetap tunduk pada perintah Raina. Kendalikan perasaanmu, Hans." Batin Hans bergumam.
Raina sudah rapi dengan mini dress hitam tanpa lengan berhana rajut yang ia padukan dengan blazer pocket long warna mocca. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan lipstik warna merah marun, favoritnya. Sementara Hans masih bingung di kamar memilih baju apa.
"Hans, masih lama?" tanya Raina saat masuk ke dalam kamar.
"Maaf aku bingung harus memakai apa." Jawab Hans dengan koper yang tergeletak di atas kasur. Raina menghela, ia lalu melihat isi dalam koper Hans. Raina merasa iba, karena Hans hampir tidak punya setelan jas. Kemeja dan celana jeansnya pun tampak warnanya sudah memudar.
"Kamu tidak pernah membeli pakaian apa Hans?"
"Ti-tidak pernah. Maaf." Hans merasa malu pada Raina. Merasa insecure dengan dirinya sendiri. Di jaman sekarang, masih ada manusia udik semacam dirinya. Hans merutuki dirinya sendiri. Melihat ekspresi sedih Hans, membuat Raina merasa bersalah. Mengingat kehidupan Hans sangatlah pahit. Sudah pasti Hans tidak pernah membeli baju, semua uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup.
"Ya sudah, pakai ini saja dulu." Raina memilihkan kemeja warna biru dengan celana warna hitam. Raina lalu membantu Hans memakai kemeja, serta memakaikan dasi untuk Hans. Hans hanya diam dan menurut dengan semua yang di lakukan Raina. Termasuk saat Raina merapikan rambutnya.
"Duduklah." Perintah Raina. Hans lalu duduk di bibir ranjang. Raina menyemportkan hairspray ke rambut Hans. Setelah itu Raina memberikan serum dan skincare ke wajah Hans. Hans tidak bisa berkutik, hanya bisa diam. Karena ini adalah hal pertama kali yang dirasakan oleh Hans. Sebelumnya pun, Citra tidak pernah mengurusnya seperti Raina mengurusnya saat ini.
"Hmmm perfect!" seru Raina sambil menolehkan kekanan dan kekiri kepala Hans.
"Ada parfum Hans?"
"Ad-ada. Di dalam koper." Ucap Hans. Raina mengangguk lalu mengambilnya di koper Hans.
"Ini parfummu?" Raina terkejut melihat parfum Hans.
"I-iya. Itu murah Raina tidak sampai 20 ribu," aku Hans apa adanya.
"Mmmm tapi aromanya sangat enak, Hans. Aku pikir parfummu mahal. Karena wanginya nempel sepanjang hari." Raina lalu menyemprotkan pafum itu ke seluruh tubuh Hans. Terakhir ia menyemperotlan kepergelangan tangan Hans.
"Gosok Hans, lalu usapkan pada lehermu." Hans pun mengikuti apa yang Raina perintahkan.
"Sekarang becerminlah." Pinta Raina. Hans mengangguk dan berdiri di hadapan cermin. Hans pangling dengan dirinya sendiri. Penampilannya seperti kemarin, saat ia hendak melangsungkan pernikahan.
"Kamu memang hebat, Raina. Aku sampai pangling dengan diriku sendiri."
"Baiklah ayo kita berangkat."
"I-iya."