Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 ~ Apa Kamu Sakit?
Suara klakson itu memecah ketegangan yang sedemikian padatnya. Garra dan Hezlin sontak menoleh bersamaan, melihat sebuah mobil sedan berwarna abu-abu melaju perlahan, lalu berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Pintu mobil terbuka, dan Rachel langsung turun dengan langkah cepat. Begitu melihat pemandangan di depannya, raut wajahnya langsung berubah tegang.
"Hezlin?!" serunya kaget sekaligus marah.
Mendengar suara sahabatnya, Hezlin segera mengerahkan tenaganya, lalu mendorong keras dada Garra untuk menjauhkan tubuh pria itu darinya.
Sebelum Garra sempat bereaksi, Rachel sudah melangkah mendekat dan menarik tangan Hezlin keluar dari kurungan itu, lalu berdiri membelakangi sahabatnya seolah melindungi. Ia menatap Garra dengan tatapan tajam dan nada bicara yang penuh peringatan.
"Mau apa kamu datang ke sini?!" bentak Rachel tegas. "Aku peringatkan kamu, Garra! Jangan pernah mengganggu Hezlin lagi! Urus saja wanitamu yang lain itu, jangan cari masalah di sini!"
Ia segera memegang lengan Hezlin erat-erat, lalu berbalik sambil menariknya perlahan menjauh.
"Ayo, Hezlin. Kita pergi dari tempat ini," ajaknya lembut namun tetap tegas, berusaha membantu sahabatnya yang terlihat sangat lemah itu melangkah.
Keduanya segera melangkah menuju mobil Rachel, masuk ke dalamnya dengan cepat, dan tak lama kemudian mesin pun menyala. Kendaraan itu melaju perlahan terlebih dahulu, lalu makin menjauh meninggalkan tempat itu, membawa Hezlin menjauh dari kehadiran Garra.
Garra hanya bisa berdiri mematung, menatap punggung mobil itu sampai menghilang di tikungan jalan, tak terlihat lagi dari pandangannya. Wajahnya masih terasa perih bekas tamparan tadi, dan rasa kesal bercampur marah meluap di dadanya.
Begitu mobil itu benar-benar hilang dari pandangan, ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat sampai urat-urat di lengannya terlihat menonjol. Dengan emosi yang meledak, ia mengantamkan tinjunya ke bodi mobilnya sendiri dengan kekuatan penuh.
BRAKK!!
Suara benturan itu terdengar keras. Napasnya memburu, matanya menyala penuh amarah dan rasa frustasi yang tak bisa ia luapkan pada siapa pun selain dirinya sendiri.
Sementara di dalam mobil suasana masih terasa sedikit tegang. Rachel melirik sekilas ke arah Hezlin yang duduk di sampingnya, lalu menghela napas panjang untuk menenangkan diri.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Dia tidak menyakitimu?" tanyanya dengan nada khawatir, meski matanya tetap fokus mengemudi.
Hezlin menggeleng pelan, lalu mengusap pelan pergelangan tangannya yang tadi sempat tergenggam kuat. Wajahnya tetap datar, namun ada ketegangan yang perlahan mulai mereda.
"Aku tidak apa-apa." jawabnya tenang, suaranya kembali stabil seperti biasa.
Rachel mengangguk paham, lalu menatap jalan di depan dengan tatapan yang lebih tegas.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran Garra! Dia seolah sedang mempermainkanmu. Tidak mau melepaskan, tapi juga tidak menolak kehadiran wanita itu kembali."
Hezlin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan seolah ingin mengusir segala rasa sesak yang mengganjal di dadanya. Tatapannya lurus menatap jalan raya yang berlalu-lalang di luar jendela, suaranya terdengar datar namun tegas.
"Lebih baik aku segera mengakhirinya, agar tidak ada lagi alasan baginya untuk terus menggangguku."
Rachel hanya menatap sahabatnya dengan perasaan iba yang mendalam. Hatinya terasa perih melihat keadaan Hezlin selama ini—selalu mengesampingkan kebahagiaannya sendiri, menahan segalanya demi orang lain, sampai harus terjebak dalam situasi yang menyakitkan ini.
"Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemanimu sampai proses perceraian ini selesai," ucapnya dengan nada mantap dan meyakinkan.
Hezlin menoleh sekilas, seulas senyum tipis terukir di bibirnya, tulus meski masih terasa getir.
"Terima kasih, Rachel..."
••
••
Sementara itu, di dalam gedung perkantoran Xabiru...
Kael sudah duduk di balik meja kerjanya sejak pagi. Ia menatap berkas-berkas di depannya, namun pikirannya melayang terus memikirkan Hezlin. Sudah lewat jam masuk kerja, tapi wanita itu belum terlihat memberi kabar apa pun. Beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor ponselnya, namun hanya mendengar pemberitahuan bahwa nomornya belum bisa dihubungi.
"Kemana dia?" gumamnya pelan, rasa khawatir perlahan mulai menyelimuti hatinya. Ia takut jika setelah kejadian semalam, Hezlin benar-benar sakit.
Tidak ingin terus menebak-nebak, ia segera menekan tombol interkom di mejanya.
"Bu Rina, bisa masuk keruanganku sebentar."
Tak lama kemudian, Bu Rina masuk dan berdiri di depan meja dengan sikap sopan.
"Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah Hezlin sudah datang?" tanya Kael langsung.
Bu Rina menggeleng pelan, lalu menjawab dengan tenang.
"Hezlin belum ada di ruang kerjanya, Tuan. Tadi pagi dia sudah mengirim pesan izin untuk masuk agak siang hari ini."
Mendengar penjelasan itu, Kael menghela napas lega meski rasa khawatirnya belum sepenuhnya hilang. Ia mengangguk pelan.
"Baiklah. Terima kasih, Bu Rina."
"Sama-sama, Tuan."
Setelah Bu Rina keluar, Kael kembali bersandar di kursi kerjanya. Ia berusaha menenangkan diri, berharap apa pun yang sedang dikerjakan Hezlin hari ini berjalan lancar dan tanpa gangguan.
••
••
Setelah selesai menyerahkan berkas dan surat permohonan perceraian ke meja pendaftaran, serta menerima tanda terima resmi dari petugas, Hezlin dan Rachel keluar dari gedung pengadilan.
"Hezlin... Wajahmu sangat pucat sejak tadi. Aku antar pulang ke apartemen? Atau... kamu mau istirahat di rumahku dulu?"
Hezlin menggeleng. "Tidak apa-apa, Chel. Mungkin aku hanya sedikit lelah... Aku masih harus ke kantor hari ini."
"Kamu yakin?"
Hezlin mengangguk. "Aku tidak enak jika meminta izin untuk tidak masuk, aku masih karyawan baru."
"Baiklah... Kalau begitu aku antar."
Mereka masuk ke dalam mobil, dan Rachel segera melajukan kendaraan menuju kawasan perkantoran sambil sesekali menatap ke arah sahabatnya. Rachel tahu Hezlin pasti sedang tidak enak badan, tapi dia juga tahu betapa keras kepalanya Hezlin. Dia tidak akan mau dibujuk jika bukan karena keinginannya sendiri.
Sesampainya di area parkir gedung Xabiru, Rachel mematikan mesin dan menoleh ke arah sahabatnya.
"Kamu yakin mau masuk hari ini? Kalau lelah, kita bisa pulang saja."
Hezlin menggeleng mantap sambil merapikan sedikit bajunya.
"Tidak apa-apa. Lebih baik sibuk bekerja daripada memikirkan hal lain. Lagipula aku sudah memberi tahu kalau akan datang siang."
"Baiklah, kalau begitu hati-hati. Kabari aku jika terjadi sesuatu."
Hezlin mengangguk, lalu turun dari mobil dan berjalan menuju lobi, melangkah masuk ke dalam gedung.
Begitu sampai di depan ruang kerjanya, Kael yang baru saja keluar dari ruang rapat melihat sosoknya. Wajahnya yang sempat terlihat cemas seketika berubah sedikit lega.
"Hezlin?" panggilnya, lalu segera berjalan mendekat.
Hezlin menghentikan langkahnya, menundukkan kepala sedikit memberi hormat.
"Tuan Kael."
Kael menatapnya dari atas ke bawah, memperhatikan raut wajahnya yang terlihat kurang segar, lalu bertanya dengan nada khawatir namun tetap sopan:
"Kamu dari mana saja? Kenapa baru datang? Apa kamu sakit?"
•
•
❤️