Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Terusiknya Para Raksasa
Sementara itu, di belahan dunia yang berbeda yang jauh dari rencana absurd Budiman tentang mi instan seharga tiga puluh ribu rupiah, ternyata nama e-commerce NagariShop dan Budiman Mart tengah menjadi buah bibir yang panas di tingkat nasional.
Video kolaborasi dadakan antara dua pengusaha muda, Vilmey dan Budiman yang viral ketika detik-detik server nyaris meledak, ternyata tak hanya memancing perhatian raksasa teknologi sekelas AWS.
Di Jakarta, di dalam ruang rapat kedap suara milik salah satu konglomerat e-commerce multinasional yang menguasai pasar Asia Tenggara, suasananya tidak kalah tegang dari markas komando perang.
Seorang direktur eksekutif membanting berkas laporan di atas meja kaca panjang.
"Ini sungguh aneh! Trafik organik melonjak delapan ribu persen dalam tiga menit di wilayah Sumatra Barat? Dan sekarang mereka malah disubsidi langsung oleh pusat data super-komputer AWS?!" suara pria itu meninggi, menatap tim analis pasarnya yang hanya bisa tertunduk dalam ketegangan.
"Selama ini kita membakar uang triliunan rupiah lewat iklan televisi dan artis papan atas untuk menguasai pasar luar Jawa, tapi startup lokal sekecil NagariShop bisa mendapatkan eksposur se-ekstrem ini hanya dalam satu malam?!"
"B-bukan hanya itu, Pak," salah satu analis memberanikan diri angkat bicara sambil mengklik layar proyektor, menampilkan foto profil Budiman yang sedang memegang kepalanya dengan ekspresi frustrasi.
"Dia lah orangnya. Dia yang menjadi otak di balik pergerakan ini. Namanya Budiman. Dia sengaja menggunakan taktik psikologi terbalik dengan membuang subsidi tiga miliar tanpa kuota untuk mengunci loyalitas emak-emak se-Sumatra Barat, sehingga membuat AWS turun tangan."
"Pengusaha online shop nasional dan multinasional di pusat sekarang mulai panik. Mereka merasa jalur logistik dan pasar Sumatra Barat akan segera dimonopoli total oleh aliansi Budiman dan Vilmey ini!"
Sang direktur mengepalkan tangannya, menatap tajam foto Budiman di layar proyektor.
"Pria kaos oblong ini ... dia bukan pedagang biasa. Dia sengaja menargetkan daerah yang jenuh dengan menyamar menjadi toko kelontong, padahal targetnya adalah ekosistem digital nasional."
Sejenak, sang pemimpin terdiam memikirkan sesuatu yang mendesak.
"Sekarang, perintahkan tim! Amati setiap jengkal langkah ekspansi Budiman Mart setelah ini. Jika mereka mulai bergerak membuka cabang baru, kita harus siap menghadangnya sebelum mereka mengubur bisnis kita di Pulau Sumatra!"
.
.
.
Di kantor pusat NagariShop di kawasan Pondok, Vilmey sendiri sedang membaca ratusan email penawaran kerja sama dan investasi dari berbagai brand kosmetik, elektronik, hingga fesyen multinasional yang mengantre ingin masuk ke aplikasinya.
Vilmey menyandarkan punggungnya, menatap layar tablet dengan napas tertahan.
"Baru satu hari kerja sama denganmu, Budiman ... dan kamu sudah berhasil membuat para raksasa multinasional itu gemetar ketakutan."
Gadis itu tersenyum tipis, matanya berbinar dengan tekad yang kuat.
"Aku tidak akan membiarkan langkah jeniusmu sia-sia. Apa pun cabang sepi atau strategi ekstrem yang sedang kamu persiapkan di luar sana, aku akan pastikan NagariShop mendukung penuh pasokan logistiknya!" Entah kenapa, Vilmey seolah menyadari rencana aneh pria itu, mulai rencana bunuh dirinya dengan melempar tiga miliar secara percuma pada e-commerce yang ia kembangkan.
.
.
.
Kembali ke jalanan pesisir Padang Budiman sedang mengendarai pikap rongsokannya yang memiliki mesin barunya.
"Haciiiiuh!" Lalu ia menggosok hidungnya dengan kasar.
"Siapa pula yang mengutuk awak siang-siang bolong begini?"
Ia sama sekali tidak sadar kalau saat ini dirinya sedang dianggap sebagai "Monster Bisnis" yang siap menghancurkan konglomerat kelas multinasional, di Jakarta.
[ bersambung ]