Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahat
Ceklek ....
Pintu ruangan tiba-tiba saja di buka, membuat David dan juga Anggi seketika menoleh ke arah pintu. David pun akhirnya bisa bernapas lega, karena Bara sang asisten berdiri tepat di depan pintu kini.
"Maaf, Pak Bos. Saya masuk tidak ketuk pintu dulu." Ucap Bara merasa tidak enak lalu hendak kembali menutup pintu.
"Untung kamu ke sini, antar'kan saya ke rumah. Hari ini saya mau pulang cepat. Heuh ... Rasanya saya sudah tidak sabar ingin ketemu sama istri saya. Tau 'lah pengantin baru, lagi hangat-hangatnya." Ucap David kemudian.
"Ish, dasar sombong. Kamu sama sekali gak mikirin perasaan aku, Dav. Kamu itu jahat tau." Celetuk Anggi seketika langsung turun dan berdiri tegak. Dia pun menatap wajah David dengan perasaan kesal.
"Anggi, ingat pesat saya tadi. Pokoknya kalau kamu masih belum mendapatkan pengganti kamu, saya gak akan pernah ACC surat pengunduran diri kamu itu, juga saya akan tangguhkan uang gaji kamu bulan ini. Oke?" Tegas David lalu hendak keluar dari dalam ruangan.
"Daaaav ..." Rengek Anggi so manja.
"Apa lagi? Anggita, saya sudah menganggap kamu sebagai sahabat saya. Saya juga selalu memisahkan urusan pribadi kita dengan urusan pekerjaan, jadi saya harap kamu juga bisa seperti itu. Saya tidak akan menahan kamu jika kamu memang mau resign dari perusahaan saya tapi, ada tapinya. Tapinya udah saya sebutin tadi, cape saya kalau harus mengulang berkali-kali.'' Ucapan terakhir sebelum David benar-benar keluar dari dalam ruangan.
Anggita pun hanya bisa menarik napas berat. Dia sudah benar-benar malas bekerja sebagai Sekertaris dari laki-laki bernama David itu. Bagaimana dia bisa melupakan David jika dia masih bekerja di sana? sementara rasa cintanya kepada laki-laki itu sama sekali masih terasa begitu membara di dalam lubuk hati seorang Anggita.
'Kamu benar-benar jahat, Dav. Setidaknya kamu hargai perasaan aku sedikit saja,' (batin Anggi.)
♥️♥️
Sesampainya di rumah.
"Sayang? Teresia Anindya Putri istriku tercinta. Kamu dimana, sayang?" Teriak David, masuk ke dalam rumah.
Si kembar yang saat ini sedang duduk santai pun seketika terkekeh melihat kebucinan sang Kaka.
"Kaka lebay, biasa aja kali. Gak usah teriak-teriak kayak gitu. Istri tercinta Kaka ada di belakang sama Mommy," celetuk Bintang.
"Iya ikh, berisik tau." Ledek bulan kemudian.
"Kalian apaan si? Iri ya liat Kaka udah nikah? Iri ya, karena kalian tidak diizinkan buat pacaran? Hayo ngaku," jawab David dengan nada suara santai.
"Dih, iri? Maaf ya, aku udah punya pacar ko" Ups ....''
"Hah? Jadi kamu udah punya pacar, Bintang? Kaka bilangin sama Daddy ya."
"Eu ... Nggak ko, Kak. Aku salah ngomong tadi, maksud aku, aku juga pengen punya pacar sebenernya. Ikh ..." Rengek Bintang kemudian.
"Alah, alasan. Pokoknya, sekarang juga Kaka bakalan bilang sama Daddy kalau kamu udah berani pacaran. DAD ... DADDY, SI KEMBAR UDAH BERANI PACARAN NIH," teriak David.
Buk ....
Bintang pun seketika melempar wajah sang Kaka dengan bantal kursi benar-benar merasa kesal.
"Kalian apaan si? Udah gede masih aja suka ribut. Dav, kamu itu udah nikah lho. Masa masih godain adik-adik kamu si? Malu dong sama istri kamu ini.'' Ucap sang Ibu berjalan memasuki ruangan bersama Teresia sang istri.
"Mereka yang duluan ledekin aku, Mom. Huuh ... Dasar, awas aja ya kalian. Kaka bakalan potong uang jajan kalian berdua." Jawab David dengan nada suara manja, membuat Tere yang juga ada di sana seketika terkekeh.
"Ikh ... Kaka ko gitu, masa cuma diledekin gitu aja langsung potong uang jajan? Gak adil, dasar baperan." Ledek Bulan.
"Sudah cukup, kalian ini. Dav, lebih baik kamu mandi dan istirahat. Kamu pasti capek 'kan?"
"Iya, Mom. Saya capek banget ini. Saya mandi dulu ya. Sayang ... Temani saya mandi ya.'' Celetuk David langsung menutup mulut merasa malu sebenarnya.
"Hah?''
Si kembar dan sang ibu seketika termenung dengan tatapan bingung.
"Eu ... Maksud saya, temani saya istirahat, salah ngomong saya tadi." Ralat David kemudian.
"Cie-Cie, udah gede masih ditemenin mandi. Mentang-mentang pengantin baru hahahaha ...'' Celetuk Bintang lagi-lagi meledek sang kaka.
"Awas ya kalian."
Tere hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah, dia pun berjalan bersama sang suami masuk ke dalam kamar.
Ceklek ....
Pintu kamar pun di buka, David dan Tere masuk ke dalam kamar dengan tangan yang saling bergandengan mesra.
"Temani saya mandi ya, sayang." Rengek David dengan nada suara manja.
"Dih, tadi katanya salah ngomong?" Jawab Tere tersenyum menertawakan.
"Alasan itu. Badan Mas ini pegal-pegal semua, pekerjaan di kantor banyak sekali tadi, seharian saya duduk terus. Kayaknya kalau berendam di air hangat lelah Mas bakalan hilang, tapi--'' David tidak meneruskan ucapannya, lalu tersenyum menggoda.
"Tapi apa?"
"Tapi kalau ditemani sama kamu tentu saja. Hahahaha ..." Ucap David tertawa renyah.
"Dih, dasar."
"Kenapa? Kamu gak mau?"
"Bukannya gitu, sayang. Aku baru saja mandi, masa sekarang mandi lagi?"
"Ya gak apa-apa, mandi tadi sama mandi sekarang beda lho. Tadi mandi biasa, kalau sekarang mandi plus-plus."
"Hahahaha ... Bisa aja kamu, Mas."
Tanpa basa-basi dan aba-aba lagi, David pun menggendong tubuh sang istri lalu benar-benar membawanya masu ke dalam kamar mandi.
"Sabar, Mas. Gak usah di gendong segala. Aku bisa jalan sendiri."
"Gak apa-apa, biar romantis dikit gitu."
Ceklek ....
Blug ....
Pintu kamar mandi pun di buka dan kembali di tutup rapat lalu di kunci dari dalam.
♥️♥️
Sementara itu, Louis nampak sedang berbincang dengan Jodi adik iparnya. Dia akan meminta bantuan mantan asistennya itu untuk mencari keberadaan ibu dari menantunya yang bernama Bunda Annisa.
"Abang serius tidak punya petunjuk lainya lagi, seperti Poto Bunda Annisa mungkin?" Tanya Jodi yang sudah terbiasa memanggil mantan Tuannya itu dengan panggilan Abang sekarang.
"Tidak ada sama sekali, Tere sama sekali tidak punya Poto ibunya.'' Jawab Louis.
"Wah, kalau begitu akan sedikit sulit menemukan Bunda Annisa jika hanya berbekal namanya saja. Itu artinya, kita harus mencari semua wanita yang bernama Bunda Annisa di negara ini."
"Hmm ... Benar juga ya."
Keduanya pun seketika terdiam seraya berfikir keras. Apa yang akan mereka lakukan sekarang. Bagaimana caranya mereka bisa menemukan wanita bernama Annisa sementara pasti ada ribuan wanita yang memiliki nama yang sama.
"Saya punya ide, bang." Ucap Jodi kemudian.
"Ide apa?"
"Bagiamana kalau kita memasang iklan di internet, Abang tanya dulu sama Tere seperti apa ciri-ciri Bunda Annisa, atau Bunda Annisa punya ciri khusus mungkin?''
"Ciri khusus apa maksud kamu, kalau ngomong yang jelas dong."
"Maksud saya, bunda Annisa punya tanda lahir. Contohnya tahi lalat di bagian tubuh. Dengan begitu kita akan lebih mudah untuk menemukan beliau." Jelas Jodi panjang lebar dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Louis Gabriel.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Promosi lagi ya Reader.