bukan hanya di khianati tapi juga di banding banding kan dengan perempuan lain yang baru di kenal oleh suami nya, membuat Rasti memilih untuk pergi dan meninggalkan Irwan dan juga kedua anak nya yang berusia 12 tahun dan enam tahun.
" ya Tuhan kirimkan aku seorang pria yang mensyukuri keberadaan Ku di sisi nya, bukan hanya aku yang mensyukuri keberadaan nya..."
"aku memilih untuk pergi dan membawa kepingan hati ku yang terluka..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siluet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepingan hati bab 30.
Rasti merebahkan tubuhnya di ranjang, lelah dan letih serta mengantuk, pagi pagi sekali ia sudah terbangun dari tidurnya untuk membuat kue, apa lagi sekarang ada pesanan dari teman nya Wildan di PT.
Rasti menoleh ke arah nakas dimana benda pemberian Jaka tergolek begitu saja, Rasti meraih benda tersebut lalu membuka isi nya, sebuah cincin cantik bermata satu.
kemarin Jaka sempat menghubungi dan menanyakan kabar nya, tentu saja Rasti tidak menceritakan apa yang terjadi baru baru ini.
Rasti tidak ingin Jaka merasa khawatir dan tak tenang berada di negeri orang.
Rasti pikir ia masih bisa mengatasi masalah ini sendiri.
Rasti menguap lalu memejamkan mata yang lelah, esok ia harus bangun pagi untuk membuat pesanan. cincin cantik tersebut tetap dalam genggaman masih berpikir ulang untuk memakai nya.
berbeda dengan Irwan, ia tengah tertidur sendiri karena regina tengah menginap di rumah orang tua nya, beberapa kali absen dari kantor karena kondisi kesehatan regina yang sedikit terganggu.
"aku mau berhenti kerja bang, boleh enggak ?"
tanya regina sebelum mereka berangkat ke rumah orang tua regina.
"hm...ya sudah kalau mau berhenti, ya berhenti saja !"
jawab Irwan tak ingin memberatkan regina.
Irwan juga bertanya tanya sebenarnya apa yang tengah di rasakan oleh istrinya itu, beberapa kali selalu mengeluh keram perut.
dan lagi regina selalu menolak jika Irwan mengajak nya untuk periksa.
saat ini ia sendirian di rumah, entah kenapa tiba-tiba ia mengingat Rasti dan juga anak anak.
rindu kebersamaan, rindu rumah yang selalu gaduh karena adik kakak itu selalu bercanda terkadang bertengkar merebut kan sesuatu, kini keduanya sudah besar, Wildan sudah kerja dan kaila juga sudah pintar membantu Mama nya, Irwan memikirkan perkataan kaila bahwa akhir akhir ini Laundry nya sepi pelanggan, padahal sebelum nya mereka hampir kewalahan menghadapi pelanggan, apa karena sekarang Jaka sudah pergi?
Irwan mengetahui hal itu dari seseorang kalau Jaka di pindahkan ke Jepang untuk beberapa waktu.
tapi seharusnya Rasti tidak kehilangan pelanggan meski tak ada Jaka karena pelayanan laundry tersebut cukup memuaskan.
apa ada seseorang yang membuat image laundry tersebut menjadi buruk...? tapi siapa ?
Irwan teringat regina yang marah marah saat mengambil pakaian dari laundry milik Rasti, regina sempat bersitegang dengan kaila.
Irwan menggeleng kan kepala nya lalu memejamkan mata, ia jadi terus menerus memikirkan Rasti dan anak anak?
rasa nya ingin seperti dulu, tapi apa mungkin ia bisa kembali seperti dulu bersama Rasti ? lalu bagaimana dengan regina ? jenuh dan terasa monoton karena tak ada perubahan atau pun kemajuan, dari dulu mereka selalu seperti ini...
Irwan menghela nafas lalu tertidur pulas mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya.
**
pagi.....
Wildan dan kaila membantu untuk membungkus kue kue yang sudah masak, keduanya tampak semangat, kaila juga senang karena dagangan nya selalu habis terjual, begitu juga dengan Rasti tak berapa lama memajang dagangan nya dengan cepat laku dan habis terjual.
"ini pesanan punya bang Wildan, dan ini punya kaila ..."
ujar Rasti menata kue kue tersebut.
Wildan memperhatikan wajah sang Mama tampak pucat.
"mah, sakit....?"
tanya Wildan memindai wajah sang Mama.
"hm... enggak, mama cuma ngantuk, tidur sebentar juga nanti seger lagi...kalian bereskan ya bawaan nya !"
keduanya mengangguk memperhatikan Rasti yang beranjak namun sempoyongan.
"mah....!"
gegas Wildan beranjak menopang tubuh Rasti yang hendak jatuh.
"mah, sakit... badan nya panas, Mama demam loh !"
ujar Wildan mengajak Rasti untuk masuk ke dalam kamar, tak lama Lisna dan Nadia datang ke rumah itu dan melihat Wildan mengajak Rasti ke kamar.
"kenapa Mama mu ?"
tanya Lisna menghampiri Rasti yang duduk di ranjang.
"cuma pusing kak!"
"Mama tuh demam !"
ujar Kaila segera mengambil obat Dan air putih.
Rasti tertegun menatap wajah kaila tampak cemas, namun begitu siaga.
""terimakasih nak...!"
ujar Rasti menerima obat tersebut lalu meminum nya.
"kamu harus banyak istirahat, jangan terus memikirkan tentang mencari uang, kesehatan yang utama, sekarang kamu istirahat saja, laundry ada kakak, biarkan nanti Nadia yang jual kue di depan."
Rasti mengangguk lalu memejamkan matanya, istirahat seperti perintah kakak nya.
air mata meluncur bebas dari mata yang terpejam, teringat seseorang yang dulu begitu sigap merawat nya saat sakit, itu dulu....
Rasti teringat akan kebahagiaan nya bersama Irwan, mereka memang kekurangan namun dalam rumah itu berlimpah kasih sayang, saling menjaga dan merawat satu sama lain, tapi semua berubah saat tuhan merubah kehidupan mereka lebih baik, namun tak ada kebahagiaan seperti dulu.
Irwan yang banyak berubah dan tak lagi penuh kasih, lima tahun berlalu masih terasa nyeri jika mengingat semua pengkhianatan yang Irwan lakukan, masih seperti mimpi Rasti tak pernah menyangka keadaan ini, dulu pernah berbincang tentang hari tua seperti apa yang ingin di lalui bersama ?
pergi umroh, memiliki banyak waktu bersama, bersama melihat anak anak tumbuh besar, dan itu semua hanya menjadi angan-angan semu karena kenyataannya kini mereka telah berpisah tak sampai usia separuh abad.
berpisah dari berbagai mimpi dan keinginan yang hanya sekedar wacana tanpa perwujudan yang nyata.
sekuat apapun wanita, setegar apapun ia berdiri pada akhirnya tangisan selalu menjadi tempat pelarian terakhir nya, mencoba meraih kekuatan lewat air mata yang tersalurkan.
pagi itu Irwan mendatangi kediaman Rasti, ia sengaja hendak mengantar kaila ke sekolah, ia datang bertepatan dengan kaila yang hendak berangkat.
"ayah....!"
seru kaila senyum sembari membawa dagangan nya.
"pas banget, kaila mau berangkat !"
tambah kaila senyum, lalu kaila masuk ke dalam mobil.
Irwan memperhatikan Nadia yang tengah melayani pembeli kue, pagi ini Rasti tidak terlihat padahal Rasti tengah meringkuk sendiri di ranjang karena sakit, Wildan sendiri sudah berangkat kerja.
"kemana Mama mu ?"
tanya Irwan melajukan mobilnya menuju sekolah kaila.
"mama tuh sakit yah, kasihan tadi pagi hampir jatuh kalau enggak ada kak Wildan !"
"sakit apa ?"
tanya Irwan sedikit menoleh ke arah kaila.
"bukannya bilang tadi kita ajak berobat ke klinik key....!"
"HM, emang ayah mau ?"
tanya kaila membuat Irwan tertegun, entah kenapa ia merasa khawatir meski mungkin tak sepantasnya lagi bersikap seperti itu tapi saat ini Rasti sendiri dan butuh kan seseorang untuk mengantar nya berobat.
"kaila rasa mama enggak akan mau, sekarang kan ayah sama mama udah enggak seperti dulu lagi, meski kaila sangat berharap kita bisa seperti dulu yah !"
ujar kaila membuat Irwan tertegun mencerna ucapan putri nya itu namun ia sendiri tidak yakin Rasti mau kembali bersama nya setelah apa yang terjadi membuat luka hati yang berkepanjangan, masih kah ada ruang untuk nya ?
bersambung...