Mencintai adalah hal yang harus dilakukan oleh semua insan di muka bumi ini. Namun tak semua orang boleh dicintai, tapi boleh disayangi. Salah satu contoh kisah seorang pemuda dan pemudi yang dipisahkan jauh oleh takdir karena sebuah kecelakaan yang tidak diinginkan. Namun ketika mereka sudah dewasa, takdir mempertemukan mereka kembali. Pertemuan ini adalah pertemuan yang tidak diinginkan oleh orang mana pun. Namun bukan Aqila namanya jika ia tidak hidup bersama kakaknya yang sudah ia rindu selama hidupnya. Ia pun memilih untuk menyusul sang kakak demi kebahagiaan hidupnya yang sudah pudar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirtyth
Aqila bersandar lemah di batu nisan sang ibunda. Mengelus-elus tanah kuburan yang masih basah dengan di iringi doa dan perkataan ibunya yang masih melekat jelas di memorinya.
Dia terus mengusap batu nisan sang ibu yang di lihati oleh kawan-kawannya.
Zahra yang memaksa Aqila untuk pulang di anggurkan begitu saja seolah tak ada yang mengajaknya bicara.
Semua pasrah dengan keadaan Aqila yang sangat terpuruk.
Dia benar-benar tak bisa mengerti dengan dunianya yang sudah sendiri.
Alfid yang tak kalah sedihnya pun berusaha membujuk Aqila untuk pulang.
"Qila. Lo harus ikhlas, ini semua jalan Allah," ucap Alfid mengelus pundak Aqila.
"Mama kangen sama papa dan kakak ya? Mama jadi ninggalin Qila sendiri. Katanya mama janji mau temenin terus Qila, tapi mana? Mama malah nyusul kakak dan papa," ucap Aqila.
"Mama kalau misalnya mau nyusul ajak Qila dong! Kan kesepian jadinya Qila!" sentak Aqila. Alfid menunduk.
"Aqila kita bakal jadi keluarga lo!" Alfid sedikit menentak.
"Kita bakal ada selalu di sisi lo Qil, nemenin lo," sambung Zahra.
Aqila menatap teman temannya yang di balas senyuman plus anggukan.
"Benar?"
Nayla langsung memeluk sahabatnya begitu pun Zahra dan Gisell.
"Kita bakal selalu ada di samping lo Qil!" seru Gisell.
Para lelaki pun berpelukan. Enggak sama cewek nya! Dan telah berhasil meyakinkan Aqila bahwa dia tidak sendiri.
**
Aqila di biarkan masuk ke ruangan Vaisal untuk sekedar menjenguknya, karena terdapat banyak darah Aqila yang mengalir disana.
Dia menatap Vaisal tersenyum sambil sesekali terkekeh dengan tingkah lakunya nya yang entah sedang apa.
"Kak, eh--kok gua manggil kak, solow aja kali ya Sal," ucap Aqila tanpa balasan.
"Hm, gue kaget pas dokter bilang kalau lo itu adalah penerus dari rumah sakit ini. Emang gila ya kekayaan lo tujuh turunan enggak abis apa? Eh lo mau jadi dokter? Sama dong sama gue! Gue juga dari kecil suka main dokter-dokteran sama kakak gue. Dan kakak gue itu pengen jadi polisi, jadi gue selalu kerja sama dalam mengurus kecelakaan. Misalnya ada kecelakaan motor, gue yang menangani korban, dan kakak gue yang menguntit asal usul tabrakan. Ya walau cuman bohongan, tapi gue benar-benar seru banget bisa main itu sama kakak gue dan teman-teman komplek dulu. Tapi ya, karena kakak gue, papa gue, mama gue udah ninggalin gue, jadinya gue enggak bisa main itu lagi deh. Eh btw kan lo mau jadi dokter ya? Bisa lah entar bantuin gue buat jadi dokter juga. Itung-itung bales budi, hehe."
Aqila terdiam sebentar.
"Ya ampun kayak orang gila banget gue ngomong sendiri, kagak waras emang," ucap Aqila.
"Oh iya Sal. Lo kata dokter mempunyai 99% kemungkinan hidup, jadi pasti dong lo bisa bangun... Lo cuman koma beberapa hari kok enggak lebih. Dan, yap. Thanks buat semuanya."
Aqila menarik pelan-pelan nafasnya.
"Gue tau ini semua salah gue Sal. Gue enggak ngangkat telepon lo yang buat lo tambah panik ngasih pesan enggak jelas 'gue ada di laut' sumpah gue pikir lo bakal cari tau dulu gitu malah langsung mangkat aja. Gue juga enggak kebayang sih lo bisa kayak gitu, gue juga kemaren malam di ceritain kalau lo juga pernah ngasih darah ke gue, makasih Sal. Makasih banyak. Gue yakin, kebaikan lo bakal di buahi hasil yang enggak kalah hebat sama Allah, parcaya itu Sal."
"Qil," sapa seseorang membuat Aqila menoleh.
"Udah kali lama amat giliran gue lah!" sentak Angga.
Aqila terkekeh lalu bangkit dari duduk nya dan pergi keluar ruangan.
Alfid langsung bangun dari duduk nya begitu melihat Aqila.
"Yang lain kemana?" tanya Aqila.
"Semuanya istirahat di hotel. Yuk, lo juga harus istirahat," ucap Alfid menarik tangan Aqila.
Drrrt drrrt
Aqila langsung mengambil telepon nya dan melirik layarnya yang menunjukan profil 'Dimas'.
"Ck, mana sih tuh anak!" decak Dimas.
"Udah 5 hari enggak ngasih kabar! Temen-temennya juga enggak pada ngebales! Apa mereka merencanakan sesuatu?" tegas Dimas.
"Jangan di angkat Qil," Alfid langsung mematikan ponsel Aqila dan menyimpannya ke saku.
Aqila tersenyum kecut dan melanjutkan perjalanannya.
"Lo pasti belum makan kan? Kita makan dulu oke?" tawar Alfid yang di balas anggukan oleh Aqila.
Mereka pun pergi ke kantin rumah sakit dan memesan beberapa makanan.
Setelah selesai memesan mereka menempati meja yang khusus untuk dua orang.
"Vaisal itu orang nya gimana kak?" tanya Aqila tiba-tiba.
Alfid mengangkat bahunya acuh.
"Lah masa enggak tau?" tanya ulang Aqila.
"Lo suka ya?" goda Alfid.
Lah kok malah nuduh gue suka ke Vaisal. Lo udah cium gua woy! batin Aqila.
"Ini pesanannya," ucap pelayan menyimpan dua mangkuk bakso dan dua teh hangat.
Tanpa bicara mereka menyantap makanannya dengan tenang.
btw mampir yuk ke novelku yang berjudul Athariz, kalau suka vote ya, btuh kritik dan saran juga,makasih hehe:)