NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Lebih Tenang

Aturan baru Zhen berlaku tanpa masa percobaan.

Pagi, ia mengantar Yu ke Fasilkom.

Sore, ia menjemput.

Kalau jadwalnya bentrok dengan meeting, Fajar yang menunggu di lobby fakultas sambil membawa laptop dan wajah sabar. Kalau Fajar tidak bisa, Zhen mengirim driver keluarga Sim tanpa penjelasan panjang. Yu protes hari pertama, protes hari kedua, lalu hari ketiga ia kehabisan energi untuk berpura-pura tidak lega.

Yang paling menyebalkan, sistem Zhen memang rapi.

Semua pesan dari nomor tidak dikenal disimpan dalam folder khusus. Screenshot diberi tanggal. Foto dari belakang, ancaman "jangan sembunyi di belakang Sim", nomor pengirim, jam masuk, semua dicatat. Zhen bahkan membuat satu file PDF berjudul Bukti Gangguan, lalu mengirimkannya ke Yu.

Yu menatap file itu di laptop.

"Kamu membuat laporan seperti tugas akhir."

"Tugas akhir harus lebih rapi."

"Ini sudah rapi sekali."

"Bagus."

Mereka duduk di meja makan. Yu dengan laptop, Zhen dengan kopi hitam, Burger tidur di bawah meja. Di luar, hujan sore mengetuk kaca apartemen. Suasana itu anehnya terasa domestik, seperti dua orang yang sudah lama membagi hidup, bukan dua penyewa yang baru saling mengenal beberapa minggu.

Zhen menunjuk baris terakhir. "Besok kita lapor ke keamanan fakultas. Bukan polisi dulu, kecuali mereka lanjut."

"Kalau Kevin bilang aku lebay?"

"Dia tidak punya hak menentukan rasa takutmu valid atau tidak."

Yu diam.

Kalimat itu membuat sesuatu di dadanya yang sejak lama menegang perlahan melonggar. Ia tidak sadar selama ini ia menunggu seseorang berkata seperti itu.

Keesokan harinya, Zhen benar-benar membawa Yu ke ruang keamanan fakultas. Lily ikut, tentu saja, karena katanya saksi galak lebih efektif daripada saksi biasa. Petugas keamanan mendengar, mencatat nomor, dan berjanji mengawasi area gedung serta menghubungi pihak kampus jika orang yang sama muncul lagi.

Ketika teman Kevin terlihat di dekat kantin siang itu, satpam mendekatinya lebih dulu.

Laki-laki itu pergi tanpa menoleh.

Sore harinya, tidak ada pesan baru.

Malamnya, juga tidak ada.

Hari berikutnya, tetap tidak ada.

Yu tidak menyadari tubuhnya ikut berubah sampai Jumat.

Ia berdiri di lift apartemen yang cukup penuh setelah kelas. Biasanya, ruang sempit dengan orang asing akan membuat kulitnya siaga. Hari itu, Zhen berdiri di sisi luar, memegang tas laptop dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggantung di dekat pergelangan Yu tanpa menyentuh.

Lift berhenti di lantai sepuluh. Seorang penghuni masuk, hampir menyenggol bahu Yu.

Zhen bergeser sedikit, menjadi batas di antara mereka.

Tangannya menyentuh punggung tangan Yu sekilas.

Satu detik.

Yu menarik napas.

Tenang.

Bukan hanya karena sentuhan itu. Karena ia tahu kalau sesuatu terjadi, Zhen akan melihat. Akan bergerak. Akan bertanya dengan cara menyebalkan, lalu menyelesaikannya.

Di depan pintu unit, Yu tiba-tiba berkata, "Sudah tiga hari."

Zhen menoleh. "Apa?"

"Aku nggak kambuh parah."

Ia menyesal begitu kalimat itu keluar. Ini terlalu dekat dengan rahasia. Terlalu jujur.

Namun Zhen tidak tampak terkejut.

"Bagus."

Hanya itu.

Bagus.

Tidak ada pertanyaan mengorek. Tidak ada kasihan. Tidak ada ekspresi seolah Yu barang pecah belah.

Yu menunduk, mencari kartu akses di tas. "Mungkin karena ancamannya berhenti."

"Mungkin."

"Atau karena aku tidur lebih baik."

"Mungkin."

"Atau karena..."

Karena kamu.

Kalimat itu berhenti di tenggorokan.

Zhen membuka pintu dengan kartu aksesnya. "Karena banyak hal."

Yu menatap punggungnya.

Ia tidak tahu apakah Zhen sengaja menyelamatkannya dari kalimat yang belum siap ia ucapkan. Tapi itu terasa seperti sesuatu yang akan ia lakukan.

Malam itu, Lily datang untuk memastikan Yu masih hidup, membawa boba dan satu kotak donat. Ia menemukan Zhen sedang memotong apel di dapur, Yu duduk di meja makan mengerjakan tugas, dan Burger tidur di dekat kaki Yu.

Lily berhenti di pintu.

"Oke," katanya pelan. "Ini sudah bukan roommate biasa."

Yu mengangkat kepala. "Apa?"

Lily menunjuk Zhen, apel, Yu, dan Burger bergantian. "Ini keluarga kecil starter pack."

Yu hampir melempar pulpen.

Zhen meletakkan potongan apel di piring, lalu mendorongnya ke tengah meja. "Kalau mau makan, cuci tangan."

Lily menatap Yu dengan mata melebar. "Dia bahkan ngatur gue. Aura pacarnya kuat banget."

"Lily!"

"Apa? Gue cuma observasi."

Zhen tidak menanggapi. Namun Yu melihat sudut bibirnya bergerak sedikit sebelum ia berbalik mencuci pisau.

Lily duduk di sebelah Yu dan berbisik, "Serius, Yu. Lo lebih tenang."

Yu ingin membantah, tapi tidak bisa.

Karena benar.

Kulitnya tidak sepenuhnya sembuh. Tubuhnya masih punya alarm. Tapi alarm itu tidak lagi meraung sepanjang hari. Kadang cukup dengan tahu Zhen akan menunggu di lobby, cukup dengan mendengar langkahnya di ruang tengah, cukup dengan satu sentuhan singkat saat ia hampir tersenggol, dan dunia tidak runtuh.

Lily menggigit donat, lalu memandang ponselnya yang bergetar.

Ekspresinya berubah setengah detik.

Yu menangkapnya. "Kenapa?"

"Nggak."

"Jawaban cepat."

Lily memelototinya. "Jangan pinjam gaya roommate lo."

Ponsel Lily bergetar lagi. Kali ini layar menyala di atas meja.

Nama pengirimnya terlihat jelas.

Ko Yan.

Yu menatap nama itu, lalu menatap Lily.

Lily langsung mengambil ponselnya terlalu cepat.

"Cuma teman keluarga," katanya.

Zhen, dari dapur, berkomentar tanpa menoleh, "Jawaban cepat."

Wajah Lily memerah.

Yu tiba-tiba merasa, untuk pertama kalinya minggu itu, bukan hanya dirinya yang menyimpan sesuatu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!