Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Mencekam Pagi Ini
Kring! Kring!
Alarm HP bunyi nyaring. Rara refleks nekan tombol off asal-asalan.
Begitu nyawanya ngumpul, matanya langsung melotot. Ingatan semalam mendadak muter lagi di kepalanya: koper hitam, pistol, sama penculikan.
Rara ngusap muka, terus ngacak-ngacak rambutnya frustrasi. "Sialan, gue beneran diculik!"
Dia buru-buru ngecek HP.
"Mampus! Jam delapan ada kuis Pak Baskoro!" Rara ngebanting HP-nya ke kasur. "Kalau absen gue kosong, bisa-bisa gue gagal UTS!"
Lagi panik mikirin nilai, wangi kopi sama sosis kecium dari luar kamar. Rara nelen ludah. Dia baru ingat belum makan apa pun dari kemarin siang.
Cacing di perutnya udah demo parah, bikin rasa takutnya agak luntur. Toh kalo gue dibunuh hari ini, seenggaknya gue mati dalam keadaan kenyang, batinnya pasrah. Dia nekat keluar nyari sumber wangi itu.
Rara nyusurin lorong sampai nemu ruang makan yang luas banget. Dia langsung berhenti di ambang pintu. Di ujung meja, Arka lagi duduk santai baca koran, dikawal dua bodyguard berjas rapi, Bara dan Dino, yang berdiri siaga di belakangnya.
Wangi sosis panggang di atas meja bikin Rara ngiler saking laparnya, tapi ngelihat sosok Arka, kakinya malah kaku nggak berani maju.
Seolah sadar ada yang datang, Arka melirik sekilas dari balik korannya. "Duduk," perintahnya datar.
Rara nelan ludah. Daripada ditembak, dia milih jalan mendekat, narik kursi di seberang Arka perlahan, lalu duduk dengan tangan gemetar di atas paha.
Di tengah suasana hening dan canggung, Rara ngeberaniin diri buka suara walau kepalanya tetap nunduk natap meja.
"Harusnya jam segini gue lagi kuis Manajemen Keuangan..." cicit Rara pelan, nyaris kayak orang ngedumel sendiri. "Gara-gara diculik, absen gue kosong. Kalau nilai gue E gimana..."
Arka nurunin korannya perlahan. Cowok itu natap Rara dingin, bersiap mau jawab omongan itu.
Tapi pas suasana lagi tegang-tegangnya, perut Rara malah bunyi kenceng. Suara perut keroncongan itu kedengaran jelas di tengah ruangan yang sepi.
Rara langsung kicep. Mukanya merah padam nahan malu. Dia makin nunduk, ngeremas ujung kemejanya erat. Niatnya mau ngeluh, eh malah jadi lawak gara-gara perut nggak mau diajak kompromi.
Bara di belakang sana langsung kaku buang muka, berusaha keras jaga wibawa. Tapi Dino, bodyguard yang berdiri di sebelahnya, malah keceplosan ketawa beneran.
"Pfft—bwahaha!"
Tawa Dino langsung putus saat itu juga karena Arka melirik tajam ke arahnya. Dino pura-pura batuk dan nutup mulut rapat, kembali berdiri tegap kayak orang mau dihukum mati.
Arka ngelipat korannya tenang, naruh di meja, lalu kembali natap Rara, seolah insiden memalukan barusan nggak pernah ada.
"Dapat nilai E jauh lebih mending," balas Arka datar, nadanya kaku dan berwibawa. "Daripada peluru bersarang di kepala kau kalau nekat kabur dari sini."
Rara nelan ludah. Dia narik piring tanpa berani balas tatapan Arka, lalu numpuk sosis panggang buat ngalihin salah tingkah.
"Lagian ngapain sih culik gue?" rutuk Rara pelan sambil ngunyah sosisnya buat ngusir gugup. "Kalau mau minta tebusan, lo salah sasaran. Utang fotokopi gue aja numpuk."
"Kau melihat apa yang tidak seharusnya kau lihat," balas Arka tanpa ekspresi.
"Gue bisa pura-pura amnesia kok," sahut Rara, masih nunduk. "Eh, boleh minta baju ganti nggak? Ini udah lecek banget. Terus, kalau boleh, suruh orang kasih makan Oyen di kosan. Kucing gue belum makan."
Arka natap dia lurus. "Kau pikir saya pengasuh?"
"Y-ya nggak..." Rara makin ciut, suaranya nyaris hilang. "Tapi kan kasihan kucingnya kalo mati kelaparan."
Bara udah mendengus pelan lihat sandera ini banyak maunya. Tapi di luar dugaan, Arka cuma muter cangkir kopinya tenang.
"Bar, urus permintaannya," perintah Arka datar.
Belum sempat Rara napas lega, pintu ruang makan didobrak kasar dari luar. Salah satu anak buah Arka masuk dengan napas ngos-ngosan.
"Bos, Naga Hitam nyerang gudang utara!"
Suasana di ruangan itu langsung berubah drastis. Arka naruh cangkir kopinya ke tatakan. Bunyinya pelan, tapi entah kenapa bikin merinding.
"Siapkan tim Alpha dan Bravo. Bawa amunisi penuh," desis Arka. Sorot matanya kini murni tatapan seorang pembunuh. "Bantai habis semuanya."
Arka bangkit berdiri, ngerapiin lengan kemejanya sekilas. Sebelum melangkah pergi, dia nengok natap Rara.
"Dan kau," suaranya pelan, tapi sukses bikin napas Rara tercekat. "Satu langkah aja kau keluar dari gerbang, penjaga saya bakal tembak di tempat. Jangan pernah uji kesabaran saya."
Rara menelan ludah susah payah, mengangguk kaku. "M-mengerti."
Arka langsung berlalu pergi. Ruangan itu perlahan senyap. Rara otomatis narik kakinya ke atas kursi, meluk lututnya erat sambil gemetaran. Gila, nyawa orang berasa nggak ada harganya sama sekali di mata dia.
"Fokus, Ra, fokus," bisiknya gemetar. "Gue cuma harus bertahan... sampe lulus sidang."