NovelToon NovelToon
Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Status: tamat
Genre:Mafia / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:40k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat di Lembah Bambu Hitam

Udara di Lembah Bambu Hijau terasa lembap dan dingin, bahkan di bawah terik matahari. Rimbunnya rumpun bambu raksasa, yang warnanya tampak gelap dan nyaris hitam di antara bayangan, menciptakan lorong-lorong sunyi yang hanya dihiasi bunyi gesekan bilah-bilah bambu yang tertiup angin. Tempat ini selalu diselimuti misteri, menjadi lokasi pertemuan rahasia yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Erik, seorang kaki tangan kepercayaan Izam, berdiri di depan sebuah pondok kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Wajahnya yang tegang terlihat sedikit lega setelah tugasnya selesai. Ia baru saja bertemu dengan seorang kurir yang tak banyak bicara.

Di tangannya, ia memegang selembar surat tebal yang disegel dengan lilin hitam yang elegan. Ia tidak tahu isinya, tetapi bungkusnya saja sudah terasa penting dan berbahaya.

Dalam langkah cepatnya menuruni lembah, Erik tak bisa menahan gejolak di hatinya.

"Sebenarnya apa isi surat ini?" batin Erik, jari-jarinya tanpa sadar menyentuh segel lilin yang dingin. Surat ini datang dari tempat terpencil, dengan kurir yang tampak seperti bayangan. Pasti isinya bukan sekadar kabar kawan lama. Rasa penasaran yang bercampur kecemasan membuatnya melangkah semakin cepat.

Kantor Izam terletak di lantai atas gedung tinggi, sebuah ruangan yang didominasi oleh perabotan kayu gelap dan jendela besar yang menghadap ke langit kelabu. Suasananya selalu dingin dan teratur, seperti pikirannya.

Erik tiba di depan pintu kayu berukir dan mengetuk tiga kali, pelan tapi pasti. "Masuk," terdengar suara Izam dari dalam, datar dan tanpa emosi.

Erik membuka pintu dan melangkah masuk. Ia melihat Izam berdiri di dekat jendela, memunggungi cahaya, yang membuat siluetnya terlihat besar dan mengancam.

"Apa kamu bertemu dengan dia?" tanya Izam tanpa berbalik, nadanya menuntut jawaban cepat.

"Iya, Tuan. Dia memberikan ini untuk Anda," kata Erik, melangkah maju dan menyodorkan surat itu dengan dua tangan.

Izam berbalik, mengambil surat itu, dan matanya langsung meneliti segelnya. Ia tahu betul arti lambang di segel itu.

Melihat Izam akan membuka surat itu, keberanian yang dipupuk oleh rasa penasaran yang memuncak membuat Erik berbicara tanpa sadar.

"Maaf, Tuan... sebenarnya apa isi surat itu?"

Izam mengangkat pandangannya dari kertas, sorot matanya yang tajam menusuk Erik. Ia mengangkat surat itu di udara, seolah itu adalah kertas biasa.

"Surat ini?" ucap Izam, dengan senyum tipis yang tak mencapai matanya.

"Iya, Tuan. Jika Tuan tidak keberatan memberitahu saya," kata Erik, mencoba mempertahankan kontak mata, meskipun lututnya sedikit gemetar.

Izam menurunkan tangannya. "Ini adalah surat dari teman jauhku yang belum kembali dari perjalanan panjang. Hanya kabar biasa."

Kebohongan itu keluar dengan lancar, begitu meyakinkan sehingga Erik, meskipun curiga, tidak bisa membantah. Ia hanya terdiam, memahami batasan posisinya.

"Saya permisi, Tuan," kata Erik, membungkuk dan berjalan mundur keluar ruangan, membawa serta rasa penasaran yang terpendam.

Begitu pintu tertutup, ekspresi Izam berubah total. Wajahnya mengeras, dan aura ketegangan mutlak menyelimuti ruangan. Ia tidak terburu-buru membuka segel. Ia menikmati momen sebelum rahasia itu terungkap.

Izam merobek segel dan membaca isinya dengan mata yang bergerak cepat. Setiap kalimat yang ia baca membuat garis rahangnya semakin mengeras.

Surat itu mengonfirmasi dugaannya: mereka ingin mendapatkan Pulau K. Pulau misterius yang akan dilelang pada hari bulan sabit tiba tiga bulan dari sekarang. Surat itu juga mencantumkan daftar peserta lelang gelap: Organisasi Hitam, Organisasi Rose Black, dan organisasi tersembunyi.

"Akan menjadi hari yang panjang untuk tiga bulan lagi," gumam Izam, suaranya pelan dan berbahaya.

Ia berjalan ke perapian kecil di sudut ruangan dan melemparkan surat itu. Api menjilat kertas dengan cepat, mengubahnya menjadi abu hitam dalam hitungan detik.

"Tiga kekuatan besar akan berkumpul pada satu tempat yang sama hanya untuk satu pulau," katanya, menatap api yang melahap sisa-sisa rahasia.

Pikirannya berputar cepat. "Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari pulau yang sudah tidak bisa menghasilkan uang lagi? Apa rahasia di Pulau K begitu berharga?"

Lalu, sebuah nama baru menarik perhatiannya. "Organisasi tersembunyi... Aku baru saja mendengarnya. Siapa mereka?"

Izam berjalan ke jendela besar. Ia menatap langit, tempat matahari sudah mulai condong. Saat itulah, ponselnya berdering di meja.

Layar menunjukkan nama: Roki.

Izam menatap ponsel itu, membiarkannya berdering, dan bergetar berulang kali di atas meja kayu. Ia tidak mengangkatnya.

"Maaf, Roki... aku harus menghindar dari kamu untuk sementara waktu," ucap hati Izam, sebuah rasa sakit dan pengkhianatan yang terpaksa muncul membebani jiwanya. Ia tahu, untuk melindungi Roki, ia harus menjaga jarak.

Di tempat lain, di sebuah ruang pertemuan mewah di markas Organisasi Tersembunyi, Roki sedang diliputi kekesalan yang nyata. Ia melempar ponselnya ke sofa setelah panggilan kesekian kalinya tak dijawab.

"Kenapa dia tidak mau mengangkat teleponku?!" Roki berseru, frustrasi itu menumpuk di wajahnya.

Terko, yang duduk santai di sofa berlawanan, menyilangkan kakinya. "Ada apa dengan kamu? Baru kali ini Tuan Muda terlihat semarah ini karena telepon tidak dijawab."

"Bos kamu menyebalkan!" jawab Roki ketus.

"Pasti Izam tidak diangkat teleponnya," tebak Sekretaris Kim yang masuk ke ruangan dengan langkah tergesa-gesa, mengabaikan ketegangan yang ada.

"Ada apa lagi?" ucap Roki dengan nada yang makin kesal.

"Apa Anda sudah lupa kalau hari ini ada rapat yang harus Anda hadiri?" tanya Sekretaris Kim.

Rendi bangkit dari duduknya. "Kurasa sampai di sini pertemuan kita, Roki."

"Lain kali kita akan bertemu lagi, tapi tidak dalam waktu dekat ini," tambah Mizuki dengan pandangan yang penuh arti.

"Aku tahu," ucap Roki, bangkit. Ke profesionalan segera mengambil alih emosinya. Ia kembali menjadi pemimpin yang disegani. "Kalian berlima jaga kesehatan. Jika ada apa-apa, kalian bisa menghubungiku lewat sekretarisku."

"Kami mengerti," kata Rendi, dan bersama keempat orang lainnya mereka berjalan keluar, meninggalkan Roki untuk tugasnya yang lebih besar.

Roki segera bergeser ke ruang sebelah, tempat rapat antar anggota pimpinan Organisasi Tersembunyi berlangsung. Ruangan itu lebih kecil, lebih intim, dan diselimuti suasana tegas dan serius. Anggota kepercayaan Roki sudah berkumpul.

"Kenapa kamu lama sekali datangnya?" protes Alex, nadanya tak sabar.

"Ada urusan yang harus aku selesaikan," kata Roki singkat, duduk di sofa.

"Kurasa sudah berkumpul semua," ucap Sandra.

"Belum semua, ya," sela Ali.

"Siapa yang belum datang?" tanya Momo.

"Siapa lagi kalau bukan Putra," jawab Alex, mendengus.

Roki, yang tetap tenang, menikmati teh yang disiapkan Sekretaris Kim. Tiba-tiba, jendela terbuka dengan suara keras, dan Putra melompat masuk dengan senyum lebar.

"Kenapa kita harus berkumpul pada hari ini?" kata Putra, mengabaikan mata semua orang yang menatapnya.

Roki tersenyum geli. "Apa jendela itu tempat untuk kamu masuk?"

"Ayolah, hanya sekali juga aku masuk lewat jendela," kata Putra.

"Hanya sekali," sindir Momo.

"Kenapa? Apa ada masalah dengan aku lewat mana masuknya?" balas Putra.

"Sudah," ucap Alex, menengahi.

"Mau bahas apa kita di sini sekarang?" ucap Sandra.

Roki meletakkan cangkir tehnya, matanya menjadi gelap. Suasana santai langsung hilang, digantikan oleh ketegasan seorang pemimpin.

"Apa persiapan kalian sudah siap semua untuk pelelangan?" tanya Roki.

"Untuk pelelangan sudah siap semua, tinggal menunggu saja," kata Ali.

"Apa mereka akan datang?" ucap Sandra, suaranya sedikit ragu.

Roki mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyiratkan ancaman tersembunyi. "Mereka akan datang dengan persiapan yang matang. Dapatkan pulau itu, bagaimanapun caranya. Apa kalian mengerti?"

Kedinginan menyelimuti ruangan. "Jangan sampai rencana kita gagal. Apa kalian mengerti?" kata Roki, suaranya penuh tekanan.

"Kami tahu, Bos," ucap mereka semua serentak.

"Untuk sekarang hanya itu saja, kalian boleh kembali," kata Roki.

"Tunggu dulu," ucap Momo.

"Ada apa, Momo?" kata Sandra.

"Aku hanya memberitahukan kalau mafia Rusia sudah sampai di negara M, dan beberapa hari yang lalu mereka bertemu dengan preman selatan," kata Momo.

"Apa yang mereka bahas?" ucap Roki, dahinya berkerut.

"Mereka membahas penjualan senjata yang akan beredar di kalangan preman dan beberapa obat baru. Tidak hanya itu saja, mereka juga menjalin kerja sama untuk mendapatkan pulau secara ilegal," kata Momo.

"Martin..." ucap Roki dengan suara sangat kecil, seolah nama itu adalah rahasia yang terlepas. "Apa yang ingin kamu lakukan?"

"Tidak hanya itu saja, baru saja mafia Australia juga baru saja memberi informasi kepada Geng SaNaHa soal siapa saja yang ingin membeli pulau," kata Ali.

"Aku tidak tahu apa yang mereka ingin lakukan dengan merebutkan pulau itu," ucap Roki, memijat pelipisnya.

"Bukannya kamu sudah tahu apa yang ada di pulau itu?" ucap Alex, menantang.

"Bukannya kamu juga tahu kenapa aku menginginkan pulau itu, bukan?" balas Roki, tatapannya tajam dan menusuk, mengakhiri perdebatan itu.

"Sudahlah, kenapa kalian masih membahas itu lagi," kata Putra. "Daripada membahas yang begitu menegangkan, kenapa kalian tidak mencari tahu apa yang dilakukan Temon? Kenapa sampai sekarang dia belum kembali dari pulau?"

"Itu benar," ucap Momo.

"Apa sampai sekarang dia belum mengabari kalian kemana dia berada?" tanya Roki, nadanya sedikit melunak karena kekhawatiran. Mereka semua menggelengkan kepala.

"Kenapa banyak sekali urusan yang belum selesai, ya," ucap Roki, menghela napas.

"Ayolah, kenapa kamu cemberut begitu," kata Sandra, berusaha menghibur.

"Tenang saja, soal Temon akan baik-baik saja," ucap Ali.

"Itu benar, dia kan suka sekali datang tiba-tiba," kata Momo.

Putra menghampiri Roki dan menepuk bahunya. "Kapan kamu akan kembali ke negara M?"

"Setelah pelelangan selesai," kata Roki.

"Apa kita akan dapat tugas lagi?" ucap Alex.

"Iya," ucap Roki dengan tersenyum licik.

Mereka semua hanya menghela napas, mengerti bahwa hidup mereka akan selalu penuh risiko, dan pergi keluar satu per satu.Setelah pertemuan, Roki menyempatkan diri menghubungi Martin, menggunakan saluran rahasia.

"Halo, Roki. Ada apa kamu menghubungiku?" sapa Martin dari seberang telepon.

"Akhirnya ada yang mau mengangkat teleponku," ucap Roki dengan suara kecil, tidak bisa menyembunyikan rasa lega.

"Apa dia tidak mau mengangkat telepon kamu?" kata Martin, nadanya terdengar sedikit lelah.

"Iya. Apa kalian berselisih lagi?" tanya Roki yang gelisah.

"Tidak, jadi berselisih karena ada tamu di tempat aku," kata Martin.

"Tamu siapa?" tanya Roki, berpura-pura tidak tahu Izam baru saja mengirim kurir.

Terdengar helaan napas berat dari Martin.

"Kenapa kamu?" ucap Roki, khawatir.

"Tidak ada. Bagaimana kabar kamu di negara J?" tanya Martin balik.

"Aku baik-baik saja.... Tunggu! Kamu tahu aku di negara J dari siapa? Aku belum bilang kepadamu soal aku di negara J," kata Roki, nadanya mendadak curiga.

"Dari Tante," ucap Martin.

"Apa dari Mama?" tanya Roki.

"Iya. Kenapa kamu tidak bilang waktu itu kalau kamu akan pergi ke negara J?" kata Martin, nada kecewa tersirat.

"Aku minta maaf tidak bilang kepadamu, karena aku sedang terburu-buru," kata Roki dengan suara kecil, penuh penyesalan.

"Apa terjadi masalah di perusahaan?" kata Martin, terdengar santai, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Tidak ada, hanya ingin menjalankan studi dan mengurus perusahaan bersamaan saja," kata Roki.

Tiba-tiba, Roki mendengar suara ketukan meja dari sisi Martin, seperti isyarat.

"Aku ada urusan lain. Lain kali kita berhubungan lagi, ya," kata Martin yang menutup telepon dengan cepat.

"Dari suaranya, dia baik-baik saja," kata Roki, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Namun, tanpa disadari oleh Roki, Martin sedang mengalami cedera parah karena kecelakaan setelah kembali dari perselisihan dengan Izam yang gagal total.

Pintu kamar Martin terbuka. Lili masuk dan melihat kondisi Martin yang terbaring, penuh balutan perban.

"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu sedang terluka?" kata Lili, matanya memancarkan kemarahan dan kepedihan.

Martin menoleh dengan wajah pucat. "Bukannya kamu sudah sepakat untuk tidak ikut urusanku?"

"Aku di sini hanya menjalankan tugasku saja. Tenang saja, aku tidak akan bilang kepada Roki soal kamu terluka," kata Lili, meskipun suaranya bergetar, penuh empati dan kepedulian yang dalam. Ia mengesampingkan emosinya untuk tugasnya.

1
anggita
up trus..
anggita
organisasi kegelapan jiwa...
anggita
klo mau promo novel, bisa ketempat kami.. bebas👌
anggita
authornya kurang promo. padahal cukup rajin update. 🙄
Herwanti: gx pintar promo. terima kasih untuk kunjungannya ya
total 1 replies
anggita
pelabuhan X
anggita
👍👍👌👌👏👏,,
anggita
sastra ilmu bela diri 🙄
anggita
organisasi rose black.
anggita
👌👌,,,
anggita
mizuki.
anggita
remon.. roki..
anggita
mampir ,👍saja..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!