Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Pengakuan Afkha.
Malam ini Afkha mengajak Shanum duduk berdua di balkon kamar mereka. Kamar yang dulu menjadi kamar ayah dan ibunya. Setelah Afkha mampu berjalan dengan kruk penyangga. Mereka kembali menempati kamar tersebut.
"Cinta, seandainya aku melakukan kesalahan Karena sudah tidak jujur padamu, apa kamu akan memaafkan aku?" tanya Afkha sembari menggenggam tangan istrinya.
Shanum menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta. Lalu ia tersenyum. "Albie, 'kan tidak ada satu kesalahan-pun yang tidak dapat dimaafkan. Bukankah Allah saja selalu memaafkan kesalahan Hamba-Nya, selama ia mau mengakuinya dan bertaubat." Jawaban yang menyejukkan dan Afkha kini merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Cinta ...." ucap Afkha begitu lembut dan terdengar merdu.
"Ia Albie, Sayang."
"Aku minta maaf. Aku sudah bersalah padamu," ucap Afkha dengan menatap manik Shanum yang berwarna coklat terang itu.
"Maaf untuk apa? memangnya Albie melakukan kesalahan apa terhadapku? rasanya tidak!" ujar Shanum.
"Sebetulnya ...." Afkha menghela napas pelan, Shanum masih menatapnya dengan tatapan lembut.
"Ya, Bie?" kali ini Shanum memicingkan matanya.
"Aku telah menjadi penyebab orang lain mengalami kerugian, baik jiwa raga ataupun materi." Akhirnya Afkha berbicara jujur.
Wajah Shanum nampak tenang. Ia tidak menunjukkan ekspresi apapun saat ini. "Maksud Albie apa? coba dijelaskan lebih detail lagi?" tanya Shanum kemudian.
"Aku jelaskan di kamar ya. Udaranya semakin dingin kalau di sini, aku takut kamu flu nantinya." ujar Afkha.
Shanum mengangguk dengan tersenyum dan kini ia mengikuti langkah suaminya menuju ke dalam kamar, duduk berdua di atas sofa saling bersebelahan. Untuk beberapa saat hening, Shanum pun tidak ingin memaksa kepada suaminya mengenai sesuatu hal yang hendak dia bicarakan.
Maka dari itu shanum lebih memilih menunggu, sedangkan di posisi Afkha ia sedang mengumpulkan keberanian karena telah menyimpan rahasia yang begitu besar dari istrinya. Akhirnya setelah sekian menit hening, Afkha menghadap ke arah Shanum dan ia menggenggam tangan istrinya.
"Maafkan aku, karena aku telah menyembunyikan hal yang amat besar darimu. Mengenai kecelakaan yang aku alami. Bahwa yang sebetulnya terjadi kecelakaan yang terjadi padaku, melibatkan orang lain, tepatnya seorang gadis yang terkena hantaman mobilku dan kini ia mengalami koma di Rumah Sakit." Jujur Afkha pada akhirnya.
Shanum menghela napas dalam. Ia memejamkan matanya sebentar. Sedikit terkejut, hatinya agak bergemuruh. Beruntung ia sudah tahu sebelumnya. kalau tidak mungkin saat ini ia shock dan bisa saja jatuh pingsan.
Afkha menelan ludahnya sejenak, lidahnya mendadak kelu saat ia hendak berbicara kembali. Shanum yang sudah tahu semuanya nampak menenangkan perasaanya dan kini ia hanya diam menyimak, ia tidak mau menghardik suaminya terlebih dahulu. Mungkin jalan terbaik mendengarkan apa yang hendak diucapkan oleh suaminya.
"Bie ... lalu?" tanya Shanum pada akhirnya. Hanya ingin Afkha segera menjelaskan semuanya agar. segera clear permasalahannya.
"Ya, jadi gadis itu koma di Rumah Sakit dan baru siuman beberapa hari yang lalu. Waktu kami ke Rumah Sakit bersama Biyya dan Mimma, memang kami menjenguk gadis itu, namanya Zethasa Umaiza. Dia seorang model dan setelah kecelakaan itu terjadi, seakan semuanya berakhir untuknya, karier dan juga pekerjaannya hancur. Terlebih setelah ia sadar dari koma, kini masalah baru muncul. Nona itu buta dan juga lumpuh." Terang Afkha dengan sendu. Shanum dapat merasakan rasa bersalah dari nada suara suaminya.
Shanum menunduk sejenak, menyeka air mata yang tanpa permisi menetes begitu saja, setelah suaminya selesai berbicara. Lalu Shanum mendongak dan menatap wajah suaminya dengan sendu.
"Mengapa Albie tidak bercerita dari awal?" tanya Shanum, sembari mengelus lembut pipi sang suami dan menatapnya lembut pula.
"Maaf, Albie telah menutupi ini darimu bukan maksud apapun. Keadaan kita waktu itu yang sedang dalam keadaan berduka karena kehilangan calon anak kita. Di saat yang sama, aku kecelakaan dan aku pun baru tahu setelah aku sadar keesokan harinya, bahwa ada orang lain yang terlibat kecelakaan denganku dan setelah dua puluh empat jam menunggu, dia tidak sadar. Ternyata orang itu dinyatakan koma. Lalu aku punya daya apa, memberitahukan padamu saat Kamu sendiri sedang terpuruk, karena kita kehilangan calon anak, melihat suaminya kecelakaan dan divonis lumpuh, bagaimana dengan perasaanmu, kalau sampai aku mengatakan ada orang lain yang terbaring koma, karena aku." Afkha tergugu dalam isak tangis pelan.
Penyesalan akan rahasia yang selama hampir setengah tahun ini ia simpan dan sekaligus lega karena istrinya sudah tahu semuanya. Shanum masih diam. "Tolong jangan menyalahkan orang tuaku, karena dari awal mereka sudah tahu. Namun, akulah yang patut disalahkan. Karena aku yang melarang mereka memberitahukannya kepadamu. Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat, untuk mengatakan semuanya kepadamu, saat kondisimu pun sudah pulih. Aku pikir nona itu akan sadar dalam beberapa minggu saja, ternyata dia membutuhkan waktu hampir enam bulan untuk bisa sadar. Dengan semua aset sudah di jual oleh Asistennya untuk biaya rumah sakit dan juga pengembalian dana dari kontrak yang terputus begitu saja. Karena tak pekerjaan yang tak dapat di penuhi." Terang Afkha.
"Memangnya tidak ada asuransi? koq perawatannya tidak di cover pihak asuransi?" tanya Shanum.
"Sepertinya tidak dan aku pun sudah mengeluarkan uang untuk ikut membayar rumah sakitnya. Aku belum menghitung semua biaya rumah sakitnya, niatnya nanti semuanya akan aku ganti." Papar Afkha.
"Ya memang sudah seharusnya, Albie bertanggung jawab akan perawatan nona itu."
"Maaf! tolong jangan marah dan membenciku," ucap Afkha sekali lagi dengan menatap istrinya penuh kesungguhan dan kembali menggenggam tangan istrinya dengan erat.
Shanum mengembus napas pelan. "Mana mungkin aku marah pada suamiku yang sudah berkata jujur, aku hanya ingin Albie, bertanggung jawab saja padanya," ucap Shanum dengan tersenyum dan sikap yang tenang.
"Alhamdulillah, terima kasih Cinta." Afkha bernafas lega dan bersyukur lalu ia memeluk Shanum dan Shanum membalas pelukan suaminya.
"Sebetulnya, Aku sudah tahu," bisik Shanum.
Afkha menjengitkan kepalanya karena kaget. Lalu ia mengurai pelukan dari istrinya dan kini menatap Shanum penuh selidik "Sudah tahu? maksudnya?"
tanya Afkha.
"Ya sudah tahu, kalau Albie menyembunyikan sebuah rahasia dariku dan aku sudah tahu rahasia itu, yaitu ada seorang gadis yang terlibat kecelakaan dengan Albie tapi Albie tidak memberitahuku."
Duar!
Afkha diam mematung. Sungguh kini ia yang terkejut. Sejak kapan istrinya tahu. Mengapa ia tak protes atau bertanya. Bahkan Shanum tidak marah padanya. Afkha sungguh di buat bingung.
ah coba Afka dengar