NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH

Kalimat "Barang milik saya" yang diucapkan Arka di dalam mobil kemarin sore sukses membuat otak Naya korsleting seharian. Sampai-sampai, saat jam istirahat kedua di hari Rabu ini, Naya hanya mengaduk-aduk es teh manisnya di kantin tanpa selera, sementara pikiran kelamnya terus memutar ulang nada suara Arka yang rendah dan berbahaya itu.

"Nay, es teh lo lama-lama berubah jadi air biasa tuh kalau diaduk terus," tegur Saskia sambil mengunyah siomaynya.

"Ah... iya," sahut Naya pelan, menghentikan sedotannya.

"Lo kenapa sih dari kemarin aneh banget?" Saskia menyipitkan mata. "Kemarin gegara pulpen, sekarang ngelamun terus. Ada masalah sama Reno? Perasaan kemarin kalian asyik-asyik aja ngerjain tugas kelompok."

"Bukan soal Reno kok," gumam Naya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang riuh.

Pandangannya tiba-tiba terhenti pada meja panjang di sudut kantin dekat tangga—meja yang biasa ditempati oleh jajaran pengurus inti OSIS. Di sana, Arka duduk bersama Dito dan Melisa. Arka terlihat mendengarkan sesuatu yang dibicarakan Melisa dengan raut tenang seperti biasa.

Namun yang membuat dada Naya mendadak terasa tertusuk adalah interaksi di antara mereka berdua. Melisa menyerahkan sebuah wadah bekal transparan berisi kue bolu pandan ke hadapan Arka. Gadis cantik dan pintar itu tersenyum manis, memiringkan kepalanya sambil mengucapkan sesuatu yang membuat Arka mengangguk pelan. Arka bahkan mengambil sepotong kue itu dan memakannya.

Tidak berhenti di situ. Saat ada sisa remahan kue di sudut bibir Arka, Melisa secara alami menyodorkan selembar tisu bersih, dan Arka menerimanya dengan gumaman terima kasih yang lembut.

Naya membeku di tempatnya. Garpu plastik di tangannya tanpa sadar ia remas kuat-kuat hingga hampir patah.

Ada gumpalan aneh yang tiba-tiba berdesakan memnuhi dadanya. Rasa panas, sesak, dan tidak nyaman yang meletup-letup secara bersamaan. Mengapa Arka bisa tersenyum senormal itu pada Melisa? Mengapa di depan Melisa laki-laki itu tampak begitu manis dan penurut, sedangkan jika berhadapan dengan Naya, Arka selalu memasang raut galak, penuh sindiran, dan kaku seperti papan?

Katanya dilarang mencampuri urusan lawan jenis di sekolah! jerit Naya dalam hati dengan emosi yang membumbung tinggi. Tapi dia sendiri mesra-mesraan sama Melisa di kantin! Dasar ketua OSIS standar ganda!

"Nay? Kok melotot gitu ngeliat ke meja OSIS?" tanya Saskia penuh curiga, ikut menoleh ke arah yang sama. "Ooh... ngeliat Melisa sama Arka ya? Mereka emang cocok banget sih ya. Udah kayak pangeran sama putri sekolah. Dengar-dengar Melisa emang sering dibawain bekal sama mamanya khusus buat Arka."

"Biasa aja," desis Naya tajam, membuang mukanya dengan kasar. "Gue nggak peduli. Mau mereka makan bolu pandan kek, makan batu kek, bukan urusan gue."

"Lha, kok nada suara lo jadi galak gitu?" Saskia tertawa heran. "Lo kenapa sih? Jangan bilang lo cemburu ngeliat Arka dekat sama Melisa?"

"Cemburu?!" Naya hampir menyemburkan es teh di mulutnya. "Gue? Cemburu sama si robot kaku itu?! Halu lo, Sas! Mending gue cemburu sama tiang listrik!"

Naya berdiri dari kursinya dengan hentakan keras, menyambar tasnya. "Gue mau ke toilet!"

Sepanjang sisa hari, Naya berubah menjadi sangat pendiam. Saat jam pelajaran berakhir dan bel pulang berbunyi, Naya berjalan menyusuri jalan raya dua blok dari sekolah menuju tempat biasa mobil Arka terparkir.

Ia membuka pintu mobil penumpang, masuk, lalu membanting pintunya agak keras—namun tidak terlalu keras hingga merusak engsel. Naya melempar tas sekolahnya ke jok belakang, menyilangkan tangan di dada, lalu menatap lurus ke luar jendela tanpa menyapa Arka sedikit pun.

Arka yang sudah duduk di kursi pengemudi menghentikan jarinya yang sedang mengetik pesan di ponsel. Ia melirik Naya dari sudut matanya.

Atmosfer di dalam mobil kali ini berbalik seratus delapan puluh derajat. Jika kemarin Arka yang menyebarkan aura dingin penuh kecemburuan, sore ini Naya-lah yang memancarkan energi permusuhan luar biasa pekat.

Arka tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, lalu menoleh memutar tubuhnya sedikit menghadap Naya.

"Kamu kenapa?" tanya Arka pelan.

"Nggak kenapa-kenapa," sahut Naya singkat, jujur, dan teramat dingin.

Arka menghela napas pendek. "Pintu mobil dibanting, tas dilempar, terus dari tadi nggak mau lihat ke arah saya. Itu namanya 'nggak kenapa-kenapa'?"

"Terserah gue mau ngeliat ke mana. Mata-mata gue," balas Naya tanpa memindahkan pandangannya dari kaca jendela.

Keheningan kembali melingkupi kabin mobil selama beberapa detik. Arka menyandarkan tangannya di kemudi, mengamati profil samping wajah Naya yang ditekuk tajam.

"Biasanya kalau kamu diam begini..." suara Arka merendah, bernada lebih lembut dari biasanya, "...berarti ada masalah besar. Atau ada hal yang bikin kamu kesal."

Naya memutar kepalanya dengan cepat. Matanya yang bulat menatap Arka dengan pandangan menusuk, penuh luka dan kejengkelan yang bertumpuk.

"Memangnya kamu peduli?" sembur Naya tajam.

Arka terpaku. Pertanyaan retoris yang dilontarkan Naya dengan nada bergetar itu memukul kesadaran Arka dengan cukup telak. Manik mata hitam Arka bertabrakan dengan mata Naya yang berkaca-kaca menahan emosi.

Laki-laki itu terdiam beberapa saat. Bibirnya yang biasa cepat melontarkan pasal-pasal aturan kini terkunci rapat. Arka tidak langsung menjawab dengan argumen logis atau kalimat sarkasme yang biasa ia gunakan untuk memenangkan perdebatan.

"Memangnya kamu peduli kalau gue kesal?!" ulang Naya dengan suara sedikit serak. "Kamu kan cuma peduli sama aturan! Cuma peduli sama citra kamu! Cuma peduli sama Melisa yang selalu bawain kamu kue enak di kantin!"

Kata-kata itu meluncur bebas begitu saja dari bibir Naya sebelum otaknya sempat menyaringnya. Begitu kalimat tentang Melisa keluar, Naya merutuki dirinya sendiri setengah mati. Bego! Kenapa gue malah bawa-bawa Melisa coba?!

Arka menaikkan sebelah alisnya. Sebuah pemahaman mendadak terbit di matanya yang jernih. Raut wajah Arka yang tadinya tegang perlahan melunak.

"Melisa?" gumam Arka pelan. "Jadi... kamu diam seharian ini gara-gara liat Melisa ngasih kue di kantin tadi siang?"

Wajah Naya seketika merona merah padam gara-gara malu yang membumbung tinggi. "N—nggak! Siapa yang ngurusin Melisa?! Gue cuma contoh! Jangan kegeeran ya, Arka!"

Arka menatap Naya dalam-dalam. Keheningan yang tercipta kali ini tidak lagi terasa mencekam, melainkan dipenuhi oleh desiran asing yang membuat ritme napas mereka berdua berubah.

"Entahlah," jawab Arka pelan, membalas pertanyaan 'Memangnya kamu peduli?' milik Naya tadi.

Naya menahan napasnya. "Maksud kamu 'entahlah' apa?"

Arka mengalihkan pandangannya ke depan, menyalakan mesin mobil dengan putaran kunci yang pelan.

"Maksud saya... saya sendiri tidak tahu sejak kapan, tapi melihat kamu diam dan cemberut begini..." Arka jeda sejenak, memegang kemudi dengan erat, "...ternyata rasanya jauh lebih tidak menyenangkan daripada mendengar kamu teriak-teriak marah."

Deg.

Jantung Naya seperti dijatuhkan dari lantai sepuluh. Kalimat polos tanpa selubung dari Arka itu menghantam dadanya hingga seluruh argumen dan amarah yang disiapkannya meleleh tak berbekas.

Arka menekan pedal gas, membawa mobil melaju perlahan membelah kemacetan sore kota. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, tidak ada lagi kata-kata yang terucap di antara mereka.

Namun malam itu, di dalam kamar tidur mereka yang sunyi—saat keduanya berbaring saling memunggungi di atas tempat tidur dengan garis imajiner yang memisahkan mereka—baik Naya maupun Arka sama-sama terjaga hingga larut malam.

Untuk pertama kalinya sejak surat perjanjian itu ditandatangani, mereka berdua diam-diam mempertanyakan hal yang sama: apakah rasa cemburu, amarah, dan rasa takut kehilangan ini masih murni bagian dari kebencian... atau justru benteng pertahanan mereka sudah mulai runtuh tanpa mereka sadari?

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!