NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:364.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Sandrila Patilima

"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"


Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.

Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.

Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.



Genre : Romantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Rumah Mewah

Mobil mas Hafizh melaju kencang membelah keramaian ibu kota. Di dalam mobil, nyanyian nasyid masih setia menghibur perjalanan aku dan mas Hafizh. Ditambah suara mas Hafizh yang ikut-ikutan menyanyi, menjadikan perjalanan ini terasa sangat romantis bagiku. Sebab lelakiku menyanyi sambil terus menggenggam bahkan menautkan kedua jari tangan kami.

Semoga saja keromantisan mas Hafizh tidak akan pernah pudar seiring bertambahnya usia pernikahan kami. Sebab kebanyakan pria hanya romantis di awal pernikahan, setelahnya mereka akan berubah cuek dan tidak perhatian lagi. Dan aku bukan tipe wanita yang ingin diabaikan suamiku. Bagiku keromantisan merupakan kunci kelanggengan setiap hubungan suami istri.

Mas Hafizh masih terus bernyanyi, namun pandangannya tetap fokus di jalanan, meski sesekali ia menengokku. Sementara aku memilih memandang keluar jendela, menikmati hembusan angin siang yang terasa sedikit segar.

Sedikit lagi kita akan sampai ke rumah tujuan. Rumah mas Hafizh yang terhubung dengan kliniknya. Namun tepat melewati kliniknya, mas Hafizh tak jua berhenti. Ia masih terus memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Sayang, rumahmu...."

Mas Hafizh memotong perkataanku. "Kita tidak tinggal disana sayang. Rumah itu terlalu kecil untuk anak-anak."

Terlalu kecil? Padahal jika aku bandingkan rumahnya lebih besar dari rumahku.

"Lantas, kemana kita akan tinggal sayang?" Tanyaku sangat penasaran.

"Ada deh sayang." Ia mengedipkan mata padaku sambil mencubit mesra daguku.

"Apa sih Mas. Pake main rahasia-rahasiaan."

Mas Hafizh tertawa melihat tingkahku yang sedikit merajuk. Sebab rasa penasaranku yang tak terjawab.

"Sabar sayang. Nanti kamu akan tau." Mas Hafizh membelai lembut kepalaku yang tertutup hijab.

"Jangan monyong gitu dong. Mana senyumnya?"

Aku pun tertawa saat mas Hafizh menyunggingkan senyumnya, sampai barisan gigi putihnya terlihat jelas.

"Nah gitu dong. Kan cantik banget kalo lagi ketawa."

"Ihh, gombal!" Ujarku kemudian.

"Nggak gombal sayang. Tapi emang kamu cantik kalo lagi ketawa."

"Ada-ada saja kamu Mas." Aku menyandarkan kepala pada bahu mas Hafizh.

Rasanya sangat nyaman sekali. Ingin sekali aku menempel terus pada mas Hafizh. Aroma tubuhnya selalu membuatku rindu jika ia tidak sedang berada di dekatku. Apalagi bau mulutnya, aku sangat suka mengendusnya saat-saat kami menghabiskan malam dengan terus bercinta.

Mobil mas Hafizh masih terus melaju. Aku dan mas Hafizh sama-sama terdiam. Pikiranku melayang, mengingat lagi bagaimana dulu kami bertemu pertama kali.

Yah, waktu itu aku sedang hamil besar, datang ke kliniknya dengan kram di perut yang terus menjadi. Kemudian selanjutnya rentetan demi rentetan peristiwa bersama mas Hafizh terputar kembali dalam otakku.

Seulas senyum terkembang dari bibirku. Rasa bahagia seketika menyeruak. Tak disangka-sangka jodohku masih tetap berlanjut. Kupikir aku tidak akan menikah lagi sampai keriput membabat habis kulit-kulitku.

Aku semakin mempererat pelukanku pada lengannya, dan terus membenamkan kepalaku pada bahu nyamannya. Bersamaan dengan debaran cinta yang semakin hari semakin bertambah dengan segala perlakuannya padaku.

"Kamu bahagia sayang?" Tutur mas Hafizh seraya mencium lama puncak kepalaku.

"Aku bahagia. Sangat bahagia sayang." Aku menatapnya dengan penuh cinta. Tersenyum dan membalas ciumannya pada bibir seksinya.

"Wah, kau mau menggodaku sayang?" Ia menepikan mobilnya sejenak. Kemudian menarik kepalaku untuk diciumnya.

Aku segera mengelak. "Mas, itu mang Koko dan anak buahnya juga ikutan berhenti loh."

"Sedikit saja sayang." Ia terus memaksaku dengan menarik pelan daguku.

Tut... Tut... Tut

Suara klakson terdengar dari arah belakang mobil kami. Terlihat mang Koko turun dan hendak melangkah menuju kearah mobil kami. Segera aku menarik diri dari mas Hafizh, yang sudah berhasil ******* bibirku.

"Sayang ihh," ucapku manja.

"Hehe, kamu sih menggodaku."

Mas Hafizh kemudian membuka kaca jendela mobilnya. Mendongakkan kepalanya dan berteriak pelan pada mang Koko. "Nggak apa-apa Mang. Ayo lanjutkan perjalanan."

"Oh, saya pikir kenapa pak dokter," teriak mang Koko. Ia kemudian berbalik lagi dan masuk ke dalam mobilnya.

Mas Hafizh kembali menutup kaca jendelanya. Memasang perseneling mobil dan menginjak gas mobilnya. Senyum kemenangan muncul dari kedua pipinya. Bahkan ia sedikit terkekeh sekarang.

***

Mobil yang aku tumpangi mulai memelan saat kami memasuki kawasan rumah-rumah elit. Aku sedikit terkejut, sebab komplek ini cukup terkenal dengan sebutan rumahnya para horang kaya. Entahlah, aku bahkan tak berani untuk berpikir bahwa rumah yang mas Hafizh maksud ada disini.

Tepat memasuki gerbang, mas Hafizh membuka sedikit kaca mobilnya. Dan kemudian mengambil kartu berwarna abu-abu yang aku tidak tau apa fungsinya.

"Selamat siang pak Hafizh," sapa seorang pria yang berpakaian satpam lengkap. Ia pun menyempatkan diri untuk memberikan hormat pada suamiku.

"Siang juga pak David," balas lelakiku yang kini mulai memberikan kartu abu-abu tersebut pada satpam yang terlihat cukup mengenal suamiku.

Dengan cepat pak satpam tersebut menempelkan kartu itu pada alat yang berbentuk persegi empat dengan di tengahnya seperti ada alat pemindai kartu. Entahlah, aku tak terlalu paham. Sebab baru kali ini aku masuk dalam kawasan ini.

Klik...

Terdengar suara saat kartu itu di tempelkan pada alat tersebut. Dan tak menunggu waktu lama secara otomatis palang yang menutupi gerbang terangkat dengan sendirinya. Aku hanya bisa mengucapkan rasa kekagumanku di dalam hati. Sebab malu juga jika terlihat mas Hafizh.

"Terima kasih pak David," sahut mas Hafizh pada pak satpam yang kini sudah berdiri kembali di dekat jendela mobil kami. Ia hendak mengembalikan kartu abu-abu yang tadi diberikan suamiku.

"Sama-sama pak Hafizh," balas pak satpam dengan rasa hormat.

"Kalau begitu saya masuk dulu pak." Mas Hafizh kemudian memacu kembali mobilnya memasuki gerbang rumah kawasan elit tersebut. Di belakang kami, mang Koko dan anak buahnya yang ikut berhenti juga, terlihat mulai mengikuti mas Hafizh kembali.

Kekagumanku bertambah saat mobil kami melewati jalanan kawasan elit ini. Di setiap jalan terdapat beberapa pohon Cemara indah yang menghiasi setiap pinggiran jalan. Bahkan disana juga terdapat taman bunga yang cukup luas dengan pemandangan indah yang bisa dijadikan tempat untuk bersantai atau untuk sekedar berolahraga.

"Mas, kita mau kemana?" Ujarku penuh rasa penasaran. Karena sedari tadi pikiranku bertanya-tanya untuk apa kita masuk kawasan ini.

"Ke rumah kita sayang," jawabnya sambil menautkan kembali kedua jari tangan kami. Dan sejurus kemudian ia menciumnya.

"A-apa Mas? Nggak salah nih," tanyaku tergagap karena kaget akan jawaban mas Hafizh. Sungguh aku tidak pernah berpikir bahwa mas Hafizh sekaya itu sehingga mampu membeli rumah di kawasan ini.

"Tidak sayang." Ia tersenyum dan kembali fokus mengemudi.

Di samping aku hanya bisa meneguk saliva yang sedari tadi tak berhenti berproduksi karena melihat rumah-rumah mewah yang berdiri kokoh pada kawasan ini.

Tak berapa lama, mas Hafizh berhenti di depan gerbang rumah mewah yang sangat besar. Mengambil sebuah remote dan menekan tombolnya. Secara bersamaan pintu gerbangnya terbuka dengan sendirinya. Aku kembali ternganga melihat hal itu.

Mas Hafizh kembali memacu mobilnya memasuki rumah mewah tersebut. Mataku membulat sempurna saat mobil kami sudah berada di halaman rumah tersebut. Halaman dengan desain yang sangat indah. Disana terdapat beberapa pohon palem jenis botol yang memiliki batang yang unik dan cantik jika dijadikan sebagai hiasan taman.

Mataku terkesima saat melihat tanaman pohon berjenis Tabebuya berwarna kuning cerah yang tumbuh tinggi dan rindang di halaman rumah. Di bawahnya terdapat dua pasang kursi taman berbahan besi yang di cat warna kuning kecoklatan mengikuti warna indah dari pohon Tabebuya tersebut.

"Mas, rumah ini sangat indah." Aku tak dapat lagi menyembunyikan rasa kekagumanku.

"Apa kamu suka Istriku?" Mas Hafizh mendekatiku yang sudah berdiri mematung di tengah-tengah halaman rumahnya.

"Suka. Sangat suka." Aku beralih memeluknya.

"Baguslah jika kamu suka sayang. Rumah ini memang sengaja kubeli untukmu dan anak-anak."

"Bolehkah aku bertanya soal harganya sayang?"

"Hahaha, harga rumah ini bahkan tak sebanding dengan kebahagiaan kalian sayang. Karena bagiku hal termahal yang harus aku tebus selamanya adalah kebahagiaan kamu dan anak-anak." Ia menatapku penuh cinta. Kemudian mengecup keningku.

Sungguh tak ada kata yang mampu mendeskripsikan tentang kebahagiaanku saat ini. Bukan karena baru diberikan rumah dengan harga jual termahal. Akan tetapi perlakuan mas Hafizh yang seperti menghargaiku sebagai istrinya yang membuat hatiku bahagia. Bahkan kata-katanya sangat menyentuh hati.

"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu!" Aku mengeratkan pelukanku padanya. Tidak peduli jika terlihat mang Koko dan anak buahnya yang saat ini sedang sibuk mengangkat barang-barang yang kubawa dari rumah lamaku.

"Aku pun sangat mencintaimu sayang."

"Tetaplah menjadi istri terbaik dalam hidupku Rianti Anandita. Tetaplah memegang tanganku dan terus menjadi pelipur lara hatiku."

Aku menganggukkan kepalaku. "Aku akan terus mendampingimu hingga kematian memisahkan dunia kita sayang." Sembari mencium mesra punggung tangannya.

Tidak terasa bulir bening lolos begitu saja dari kedua netraku. Haru bertambah bahagia, saat ini perasaan itu yang mendominasi di dalam hati.

"Sudah jangan nangis lagi. Ayo kita ke dalam," ajak mas Hafizh dengan gerakan tangannya menghapus air mataku.

Aku tidak menjawabnya. Hanya langkah kakiku yang mengisyaratkan bahwa aku menerima ajakannya. Kami pun berjalan beriringan dengan kedua tangan yang saling bertautan.

***

Saat ini kami sudah berada dalam rumah baru kami. Rumah dengan perpaduan warna putih dan abu Lilaq yang membuat suasana dalam rumah terlihat lebih elegan dan ceria. Rumah ini bahkan sudah lengkap dengan ornamen-ornamen yang bernilai cukup mahal, seperti kursi, guci, hiasan dinding, lampu dan juga beberapa tanaman hias yang tertata rapi di setiap sudut ruangan.

"Mas, rumah ini kamu beli cash apa kredit?" Tuturku.

"Cash sayang. Aku bukan tipe orang yang membeli barang dengan cara kredit. Aku tidak ingin berhutang. Berat hukumannya di akhirat jika aku meninggal tanpa melunasi hutangku," jelas mas Hafizh panjang lebar.

"Cash? Apakah rumah ini harganya bisa mencapai miliaran? Ataukah mungkin sampai bernilai triliunan?" Gumamku.

"Kamu lagi bicara sendiri sayang? Hehehe." Mas Hafizh terkekeh saat melihat aku bergumam sendiri.

"Tidak sayang. Hanya saja aku penasaran sama harga rumah ini."

"Sudah aku bilang. Harga rumah ini tak sebanding dengan kebahagiaan kamu dan anak-anak." Ia menarikku kembali dalam pelukannya.

"Jadi kapan kita bisa tinggal disini?"

"Terserah kamu sayang. Kamu ratu dalam istanah ini." Ia tersenyum dan membelai kepalaku.

"Aku mau, kita adakan pengajian dulu sebelum menempatinya. Gimana, kamu setuju?"

"Setuju sayang," jawab mas Hafizh singkat, karena sekarang ia malah fokus memanjakan tubuhnya dengan memelukku erat. Matanya bahkan terpejam seperti sedang menikmati keindahan hidup dengan memelukku.

Hening mengambil alih. Tak ada kata-kata yang terlontar dariku dan mas Hafizh. Kami sibuk dengan perasaan masing-masing. Jika mas Hafizh fokus pada rasanya memelukku. Maka aku lebih fokus dari Budget yang dikeluarkan mas Hafizh untuk membeli rumah dan segala ornamen yang sudah tertata rapi pada tempatnya.

"Sayang, apa kau tidak ingin melihat kamar kita?" Bisiknya lembut. Kemudian menarikku mengikuti langkahnya.

Aku berhasil membelalakkan mataku saat kami memasuki kamar utama di rumah ini. Kamar dengan nuansa serba putih. Catnya, tempat tidurnya, lemarinya, kursi sofa yang terdapat di depan ranjang, semua berwarna putih bersih. Ini sangat indah dan mewah!

Karena rasa kagum teramat dalam, tak sadar aku sudah meninggalkan mas Hafizh di ambang pintu. Berjalan memasuki kamar dan menyentuh setiap perabot yang terdapat di dalamnya. Bahkan sebutir debu pun tidak kudapati disana.

"Mas, aku jadi takut naik ke tempat tidur, jika warna sprei-nya putih begini. Takut kotor," sahutku dengan menduduki bagian tepi ranjangnya.

"Haha. Kalau kotor tinggal ganti sayang." Mas Hafizh mendekati tempatku. Sebelumnya ia menutup pintunya. Ia kemudian duduk tepat di belakangku. Memelukku dengan mesranya.

"Mas, apakah ini tidak terlalu berlebihan?"

"Sayang. Tugas suami adalah membuat istri dan anak-anaknya bahagia sesuai kemampuannya. Dan aku merasa memiliki kemampuan yang cukup untuk memberikan rumah ini padamu dan anak-anak."

"Kamu prioritasku setelah bunda meninggal. Tak ada yang lebih berhak atas hartaku selain dirimu. Semua milikku adalah milikmu," lanjutnya.

Ia membalikkan badanku sampai menghadapnya. Memegang kedua pipiku. Lalu berkata, "Aku bekerja banting tulang agar kau dan anak-anak tidak serba kekurangan. Sungguh aku merasa gagal jika aku tak dapat membahagiakanmu dengan apa yang kupunya."

"Dengar sayang, ini semua belum ada apa-apanya. Apapun yang kau dan anak-anak minta akan aku turuti. Asalkan kau tetap setia mendampingiku di saat senang dan susahku."

"Dan satu lagi." Ia membalikkan badan, membuka laci meja kecil yang terletak di samping tempat tidur.

"Ini untukmu sayang." Ia menyerahkan map dokumen yang entah apa isinya.

Dengan gemetaran aku menerimanya dan kemudian membukanya. Sungguh betapa terkejutnya aku saat membongkar satu per satu dokumen yang terdapat di dalamnya. Disana ada sertifikat rumah mewah ini yang mengatasnamakan namanya, sebuah BPKB mobil mewah yang juga atas namanya, rekening dari beberapa bank negara yang memiliki saldo berbeda-beda serta daftar usaha beserta penghasilan atas nama lelaki yang berstatus sebagai suamiku ini. Aku tak pernah menyangka bahwa mas Hafizh memiliki banyak penghasilan setiap bulannya.

"Sayang, ini semua milikmu. Tinggal kita mengurusi untuk balik nama atas kepemilikannya."

"Untuk rekening tidak perlu lagi untuk membuatkan rekening baru. Itu semua kau pegang."

"Dan...." Mas Hafizh diam sesaat dengan tangan sibuk mengambil dompet dari saku celananya. "Ini semua kartu ATM-nya. Kamu yang pegang."

"Oh yah, mobilnya masih di dealer. Sebentar mereka akan langsung antarkan ke rumah," sambungnya lagi.

Air mata kembali menetes dari kedua netraku. Sungguh kata-kata mas Hafizh membuatku terharu. Ia sangat menghargaiku sebagai istrinya, meski aku tidak ada di sampingnya saat-saat ia menapaki setiap tangga kesuksesannya. Ini sangat beda dengan apa yang aku dapatkan dari mas Galih. Sangat berbeda! Sertifikat rumah saja aku bisa memegangnya hanya pada saat pembagian harta gono-gini setelah kami bercerai.

"Terima kasih Mas. Aku bahkan merasa tidak berhak untuk menerimanya." Kepalaku tertunduk, isakkan tangis mulai terdengar dari mulutku.

"Jangan menangis sayang. Kamu berhak atas semua hartaku." Ia menenangkanku dengan memelukku kembali. Kecupan juga menyertai pelukannya.

"Sayang, apa kau tidak ingin mencoba keempukkan ranjang tidur kita." Mas Hafizh menyeringai, seraya menjatuhkan tubuh kami pada pembaringan.

"Apa sih Mas. Nanti ahh kalau kita sudah tinggal di rumah ini. Di luar juga masih ada mang Koko dan anak buahnya."

"Kan mereka tidak tau sayang kalau kita sedang, hmmm." Tangan mulai beraksi dengan menyentuh bagian tubuh sensitifku.

"Jangan Mas. Nanti kalau tiba-tiba mereka manggil, terus kita sedang bugil, gimana?" Aku menyentuh kedua pipi suamiku dengan tanganku.

"Hehe, iya juga yah," ucapnya tanpa menghentikan aktivitas tangannya.

Aku biarkan ia dengan aktivitasnya. Bahkan tangan itu telah berganti mulut. Biarlah, setidaknya ia tidak melucuti semua pakaianku.

Aku ikut terhanyut dalam permainan mas Hafizh. Deru nafas semakin tak beraturan. Mas Hafizh bertambah ganas saat mendengar desahan nafasku. Bahkan sekarang jilbabku sudah terlepas dari kepalaku.

Tok... Tok... Tok

Bunyi ketukan di pintu seketika menghentikan aksi mas Hafizh. Ia sampai langsung bangun dari pembaringan karena saking kagetnya.

"Pak, pak dokter," sahutan mang Koko dari luar kamar. Beruntung ia tidak langsung membuka pintunya. Kalau tidak, betapa malunya kami jika kedapatan sedang memulai untuk bercinta.

"Iya Mang. Sebentar!" Dengan cepat aku dan mas Hafizh merapikan kembali pakaian kami, dan menuju pintu secara bersamaan untuk menemui mang Koko.

Cekrek...

Pintu sudah terbuka lebar, terlihat pria paruh baya itu sedikit menyender di dinding depan pintu kamar kami.

"Ada apa Mang?" Tanya mas Hafizh.

Mang Koko segera berdiri tegap. "Maaf pak dokter, semua barang sudah selesai di turunkan. Saya dan anak buah mau ijin pulang," pamit mang Koko pada kami.

"Oh iya Mang. Terima kasih!"

"Eh ini ada sedikit bonus untuk mang Koko dan anak buah, sebab sudah bekerja keras untuk membantu kami." Mas Hafizh menyodorkan beberapa lembaran uang berwarna merah pada mang Koko.

"Ini terlalu banyak pak dokter. Kan bapak juga sudah membayar upah kami," tolak mang Koko sopan.

"Sudah ambil saja Mang. Anggap ini sedekah dari kami untuk anak dan istri kalian di rumah," timpalku sambil memberikan kembali uang itu pada mang Koko.

"Terima kasih Pak Buk. Semoga rejekinya semakin bertambah."

Aku dan mas Hafizh mengucapkan Aamiin dengan kompak. Kemudian mengantar kepergian mang Koko dan anak buahnya sampai di depan teras rumah baru kami.

"Sayang, lanjut yuk," bisik mas Hafizh saat mang Koko dan anak buah benar-benar hilang dari pandangan. Aku hanya tersenyum kecil, dan meninggalkan mas Hafizh di teras depan menuju tempat peraduan.

"Yes," ujarnya dengan kegirangan.

Bersambung 😁 😁

Hay Hay readers, jangan lupa mampir juga ke karya Author lainnya yang tidak kalah seru. Pokoknya nggak bakalan bikin kalian bosan dan pastinya menghibur kalian.

Back To The Previous Dynasty- Laura v

Menikahlah Denganku- Nafasal

CEO Tampan Itu Jodohku- Eka Pradita

1
Maritza Hanan
asik gerah juga akunya🙊🙊
Nuraini Nuraini
ayo lanjut ko lama
Senja🌻
semangat ❤️ ditunggu feedback nya kk ♥️
Senja🌻
semangat ❤️
Ishiba Aoi
semangat thor!
Khai Rudin
gila parah banget aku nangis dan meleleh terus air mataku
Ishiba Aoi
semangat thor! next
Ishiba Aoi
semangat thor!
vi
knp ga ada lanjutannya ???
Baca Aja
kenapa thor ngga lanjut?
Baca Aja
ini pindah atau bagaimana ?
Baca Aja
seprrtinya kira harus kasih vote rame rame biar lanjut
Baca Aja
smg semua sehat ya thor ..bisa lanjut ceritanya... suka nih ma novel beda dari y lain. sarat makna..
Baca Aja
seneng ni novel banyak hikmah.. ingin belajar mrnulis tlg di bimbing ya
Baca Aja
puaa bisa, nampar galih....
Endang Purwati
wweeuuhhh.....26 M itu tas harganya...
Endang Purwati
sungguh...rahasia Alloh memang tidak ada yg pernah bisa menebak...

dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...

karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....

banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...

keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...

lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
Endang Purwati
dan terima kasih author...sudah menghibur kami para readers dengn cerita indah ini...

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
A͙y͙u͙💖DA
kok g d lanjut kan kk
Endang Purwati
gak mau komentar...lagi osi saya sama suami Rianti...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!