NovelToon NovelToon
LUNA & THE ALPHA

LUNA & THE ALPHA

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Manusia Serigala / Vampir / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan di Tengah Dinginnya Tatapan

Yudha tidak langsung menjawab. Pria itu menatap jemari kecil Luna yang masih meremas ujung jaket kulitnya, lalu beralih menatap sepasang mata bulat yang tampak begitu rapuh. Perlahan, Yudha duduk di tepi ranjang. Kasur yang empuk itu sedikit ambles karena berat tubuhnya yang tegap.

"Aku Yudha," jawabnya, suaranya kini melunak, kehilangan nada menggeram yang sempat membuat bulu kuduk Luna berdiri di aula bawah tadi.

"Dan tempat ini adalah rumahku. Kamu aman di sini, Luna."

"Tapi... mereka semua membenciku," bisik Luna lirih. Ingatan tentang tatapan-tatapan tajam penuh kilat kemarahan di aula batu tadi membuat tubuhnya kembali bergetar kecil.

"Mereka bilang aku manusia... mereka bilang aku ancaman dan beban."

Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Luna, rahang Yudha kembali mengeras seketika. Ada kilatan emas yang samar di matanya, pertanda serigala di dalam dirinya ikut murka mendengar belahan jiwanya merasa terintimidasi. Namun, dengan cepat Yudha meredam emosinya agar tidak membuat gadis di depannya semakin ketakutan.

Yudha mengulurkan tangannya yang besar, lalu dengan ragu-ragu namun lembut, dia menangkup punggung tangan Luna yang dingin. Rasa hangat yang menjalar dari telapak tangan Yudha seketika membuat debaran panik di dada Luna sedikit mereda.

"Apa yang mereka katakan tidak ada artinya," ucap Yudha dengan nada menuntut yang mutlak, seolah kata-katanya adalah hukum yang tidak bisa diganggu gugat.

"Aku adalah Alpha di sini. Pemimpin tertinggi mereka. Di tempat ini, perintahku adalah mutlak, dan aku sudah memilih untuk melindungimu. Jadi, jangan pikirkan mereka."

Luna tertegun. Istilah 'Alpha' terasa asing di telinganya, namun cara Yudha mengucapkannya penuh keyakinan dan kekuatan yang begitu besar membuat Luna sadar bahwa pria tampan di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan. Di balik wajahnya yang muda dan dingin, Yudha memiliki otoritas yang ditakuti oleh orang-orang bertubuh besar di bawah sana.

"Kenapa?" tanya Luna perlahan, matanya mulai berkaca-kaca lagi.

"Kenapa kamu mau melindungiku? Kita bahkan baru pertama kali bertemu di hutan tadi. Aku hanya manusia biasa yang tidak punya apa-apa lagi..."

Suara Luna bergetar di akhir kalimat, mengingat bagaimana dunia manusia telah menghancurkan hidupnya hingga dia harus berlari ketakutan setengah mati ke dalam hutan terlarang ini.

Yudha menatap lekat-lekat wajah pucat Luna. Dia bisa mencium aroma kesedihan dan trauma yang mendalam dari tubuh gadis itu, berbaur dengan wangi lavender manis yang terus memikat insting serigalanya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya, menghapus semua air mata itu, dan memastikan tidak ada satu pun makhluk yang bisa menyakitinya lagi.

"Karena takdir," jawab Yudha pendek, namun sarat akan makna yang mendalam. Dia ibu jari kekarnya mengusap lembut punggung tangan Luna.

"Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia, Luna. Dan ikatan itu menuntutku untuk selalu berada di sisimu."

Luna terdiam, mencoba mencerna perkataan Yudha yang terdengar begitu puitis namun penuh misteri. Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, perutnya tiba-tiba berbunyi kecil, memecah keheningan kamar luas itu.

Seketika, rona merah muda langsung menjalar di pipi Luna yang pucat karena malu. Dia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Yudha dan menunduk dalam-dalam.

Melihat tingkah menggemaskan gadis manusia itu, sudut bibir Yudha berkedut tipis, membentuk senyuman hangat yang jarang sekali dia tunjukkan kepada siapa pun di kawanannya. Pria itu berdiri dari tepi ranjang.

"Istirahatlah dulu. Aku akan meminta seseorang membawakan makanan hangat untukmu," kata Yudha sambil memperbaiki selimut tebal berbulu di atas tubuh Luna, memastikannya tetap hangat di tengah udara malam kastil yang dingin.

Yudha melangkah menuju pintu besar kamar tersebut. Namun sebelum dia benar-benar keluar, dia membalikkan badannya sedikit, menatap Luna yang masih memperhatikan gerak-geriknya dari balik selimut.

"Jangan mengunci pintunya dari dalam, dan jangan pernah berpikir untuk kabur ke luar kastil sendirian, Luna," peringat Yudha dengan nada protektif yang tegas.

"Dunia di luar sana jauh lebih berbahaya dari yang bisa dibayangkan oleh pikiran manusiamu. Tetaplah di kamar ini sampai aku kembali."

Dengan kata-kata terakhir itu, Yudha melangkah keluar dan menutup pintu kayu yang tebal tersebut, menyisakan Luna sendirian di dalam kamar yang luas, hangat, dan dipenuhi oleh aroma maskulin sang Alpha muda yang entah mengapa mulai terasa menenangkan baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!