NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:71.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 29

...Retak yang Menunggu Hancur...

Molly melangkah dengan ceria dengan surat dalam genggamannya. Kata Cariss, selain harus dapat izin dari orang tua, ia juga harus mengantongi tanda tangan dari kepala sekolah. Tapi, sebelum itu yang pasti harus ketemu sama wali kelas dulu -Pak Heru. Ia sudah membayangkan hari- harinya yang padat menjelang festival yang akan diadakan tiga bulan lagi.

Pintu kantor Pak Heru terbuka sedikit waktu Molly sampai. Dari luar ia bisa mendengar kalau ada orang lain yang sedang bicara sama Pak Heru. Berniat menunggu, Molly berdiri di sana sebelum ia sadar kalau yang menemui Pak Heru adalah Bu Sandra. Mereka kedengaran ngomongin sesuatu yang serius.

"Ini masalah besar," kata Bu Sandra, suaranya tinggi. "Sebenarnya masalah ini udah lama, tapi kenapa kamu seolah melindungi?"

"Sekolah nggak berhak memvonis siswa hanya dari latar belakang.

Selama di sekolah siswa itu nggak bermasalah, apa salahnya?" suara Pak Heru terdengar ketus.

Tawa Bu Sandra terdengar. "Nggak bermasalah?" balasnya. "Dia tinggal kelas. Belum lama ini berkelahi sampai memukul anak lain. Kamu pikir itu bukan masalah?"

"Itu bukan masalah yang bisa dihubung-hubungkan dengan latar belakang keluarga," kata Pak Heru. "Bagi remaja itu wajar. Berselisih, berkelahi, atau tinggal kelas. Itu mendefinisikan mereka. Kamu pasti lebih tahu itu karena rata-rata anak di sini memang bermasalah."

Entah siapa yang mereka maksud. Tapi, mengapa mereka harus berdebat?

"Ini sudah jadi berita santer belakangan, Heru. Kalau sampai didengar oleh wali murid, kamu bisa menjelaskannya sama mereka?" kata Bu Sandra. "Kamu harus keluarin Lara dari sini. Dia bisa merusak anak-anak lain"

Molly tersentak. Apa ia nggak salah dengar? Lara?

"Apa buktinya?" tantang Pak Heru.

"Bukti itu jelas bagi siapa pun terkecuali kamu," tandas Bu Sandra.

"Karena ada semacam perasaan pribadi yang kamu libatkan di sini"

"Apa maksud kamu?" suara Pak Heru terdengar terkejut.

"Ya, sepandai-pandainya mengubur bangkai di dalam tanah, baunya juga pasti akan tercium, Heru. . .," kata Bu Sandra, suaranya terdengar seperti berdesis namun menusuk. "Sebelum posisi kamu juga terancam, ada baiknya kamu menyingkirkan anak itu sebelum ketahuan kalau kamu memacari dia. . ."

Nggak lama, Bu Sandra keluar dan menemukan Molly terpaku di depan pintu. Molly berusaha tersenyum menyapanya walaupun ia deg-degan. Tapi, Bu Sandra berlalu dengan angkuhnya melewati Molly -apa dia benar-benar seorang guru?

Molly berusaha menenangkan diri sebelum ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan masuk.

Pak Heru sedang duduk di kursinya. Terlihat lelah, ia cukup kaget melihat Molly sudah ada di depannya.

Dan segera ia menyembunyikan kegelisahannya dengan tersenyum ramah."Ada apa, Molly?" tanya dia, lalu berdehem, menormalkan suaranya yang nyaris kedengaran gemetar.

Molly memperlihatkan surat itu. Ia berusaha terlihat tenang sekalipun mustahil karena yang didengarnya barusan terlalu mengejutkan. Ia nggak cukup bodoh untuk mengerti soal hubungan terlarang antara guru favoritnya dengan salah seorang teman sekelasnya. Lebih-lebih wajah Cariss muncul di benaknya sebagai perbandingan.

"Kamu mau ikut audisi musik?" Pak Heru bertanya, lalu tersenyum. Kegelisahannya tampak sedikit berkurang.

Molly mengangguk. "Sebelum audisi saya harus latihan di tempat les. Tapi, tempat les minta persetujuan dari orang tua dan sekolah. . .," jelasnya.

"Jadi orang tua kamu sudah mengizinkan?" tanya dia melihat selembar surat pernyataan yang sudah ditandatangan oleh orang tua Molly di antara kertas-kertas itu.

Molly mengangguk.

Pak Heru mengamati lembaran-lembaran itu penuh perhatian. Lalu berhenti pada lembaran formulir yang di pojok kiri atasnya mempunyai logo bertuliskan Maretha Music. Ia cukup terkejut dan kembali menatap Molly. "Kamu mau les di sini?" tanya dia.

"Iya, Pak," jawab Molly. "Kemarin Kak Richard bawa aku ke sana dan dikenalin ke Kak Cariss"

"Oh," Pak Heru tampak mengerti, dan tersenyum lagi. Ia mengambil pulpennya dan langsung membubuhkan tanda tangannya.

Molly semakin kelihatan senang. Ia tersenyum saat menerima surat-surat itu dikembalikan. "Makasih, Pak," ucapnya sumringah.

Pak Heru hanya membalasnya dengan santai dan membiarkan Molly berdiri dari kursinya lalu pergi. Namun, masih ada satu hal yang sedikit mengganggunya. "Molly," panggilnya tiba-tiba saat Molly baru menarik gagang pintunya.

"Ya, Pak?" sahut Molly sambil menoleh dan membalikan badan.

Pak Heru terlihat bingung. "Apa kamu. . .dengar pembicaraan saya dan Bu

Sandra barusan?" tanya dia, harap-harap cemas.

Molly diam. Ia ikut terlihat cemas. Ekspresinya itu meyakinkan Pak Heru kalau Molly cukup lama di sana untuk mendengar semuanya. "Saya nggak akan bilang siapa-siapa kok, Pak. . .," ujar Molly padanya.

Guru itu hanya memandangnya terpana. Ini pertama kalinya Molly melihat Pak Heru gelisah. Tapi, ia harus segera pergi karena jam istirahat siang hampir berakhir.

****

Lara terlihat dongkol di kursinya. Lagi-lagi ia memandang keluar jendela dengan kosong sambil bertopang dagu. Seolah nggak punya firasat kalau bahaya mengintainya.Anak-anak tengah menunggu bel masuk dibunyikan dan pelajaran membosankan pun dimulai. Begitu Molly kembali dari ruangan Pak Heru dengan kebingungan yang berkelebat di otaknya, guru Biologi -Pak Sanadi langsung datang.

Getta terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi karena Pak Sanadi sudah berdiri di depan kelas ia bahkan nggak punya kesempatan cuma untuk menyapa hai. Ia membiarkan Molly melewatinya dan duduk di kursi belakang.

Pak Sanadi mulai menjelaskan tentang rumus golongan darah yang terlihat rumit di papan tulis. Suaranya keras dan lantang, matanya stereo ke kiri dan ke kanan sehingga nggak ada yang lolos dari pengamatannya. Jika ada anak yang ketahuan main-main, ia akan menghukumnya dengan berdiri di luar kelas plus PR yang lebih banyak.

Tapi, di siang yang hujan itu, seseorang mengetuk pintu kelas. Mengganggu pelajaran sebentar, Bu Yanti guru BK memasuki ruangan kelas yang hening. "Maaf mengganggu sebentar, Pak Sanadi," katanya dengan sopan, lalu memandang ke depan, menghadap murid-murid yang memperhatikannya dengan tanda tanya yang bermunculan di atas kepala mereka. "Mana Lara Sophia?"

Lara tampak tersentak. Semua mata kini memandang ke arahnya dengan bingung. Ragu-ragu, ia mengacungkan tangan dengan ekspresi syok.

"Kamu ikut saya ke ruang konseling," kata Bu Yanti tegas.

"Ada apa ya, Bu?" tanya Pak Sanadi, setengah berbisik.

"Ada masalah sedikit, Pak. . .," jawab Bu Yanti pelan, sambil tetap memandangi Lara yang belum mau berdiri dari kursinya. "Ayo, Lara"

Lara memandangi sekitarnya, anak-anak itu tampak menunggunya berdiri untuk melepaskan rasa penasaran -kenapa ia sampai dipanggil guru BK? Dengan sangat nggak yakin, ia berdiri juga dan langkahnya pun gontai karena takut.

Bu Yanti keluar lebih dulu diikuti Lara yang kelihatan bingung. Begitu juga anak-anak lain yang ingin tahu. Mungkin begitu Lara keluar dari kelas dan Pak Sanadi melanjutkan pelajaran, banyak yang nggak bisa berkonsentrasi lagi.

Apalagi Molly. Pasti ini semua ada hubungannya sama pembicaraan Pak Heru dan Bu Sandra tadi. Kasihan Lara.

****

Tiang gantungan seolah berada di balik pintu ruangan konseling. Lara nggak menyangka di sana ia sudah ditunggu oleh Pak Kepala Sekolah, Bu Sandra, dan Pak Heru. Saat memasuki ruangan itu, ia seakan ingin meleleh karena ketakutan. Terlebih ekspresi Pak Heru mungkin nggak kelihatan jauh berbeda dari ekspresinya sekarang.

"Silakan duduk," kata Pak Kepala Sekolah yang duduk dengan angkuhnya di meja yang biasa diduduki Bu Yanti saat menginterogasi anak-anak nakal.

Lara dengan ragu-ragu, menarik kursi di depan meja, memandangi satu- persatu ekspresi guru yang ada di sana. Seperti terdakwa yang akan dihukum mati, tangannya nggak bisa berhenti gemetaran. Hari yang ditakutkan itu datang juga.

"Sudah berapa lama kamu mengenal Pak Heru?" pertanyaan pertama Pak Kepala Sekolah terdengar dingin dan wajahnya tanpa ekspresi seolah nggak punya perasaan.

Lara nggak langsung menjawab. Masih bingung, ia memandang wajah

Pak Heru yang masih terlihat cemas. "Sejak sekolah di sini, Pak," jawabnya berusaha tenang, menelan ludah.

***

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
🐤
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!